Menyikapi Isu Dan Fitnah Pernikahan Dini Siti Aisyah

FITNAH

Sejarah memaparkan bahwa Muhammad Saw mempunyai seorang istri yang bernama Aisyah, dikabarkan bahwa Aisyah merupakan satu-satunya istri yang dinikahi oleh Muhammad Saw di dalam keadaan yang masih perawan. Perlu diingat bahwa seluruh istri Nabi dinikahi di dalam keadaan sudah menjanda.

Mengenai Aisyah ini, terdapat suatu hal yang amat krusial yang harus dialami umat Muslim di seluruh Dunia, yaitu adanya gempuran, hujatan dan fitnah dari kaum anti-salam (anti-Islam) bahwa Muhammad Saw menikahi Aisyah ketika wanita ini masih kanak-kanak. Dengan kata lain, kaum antisalam telah mempunyai peluru terdahsyat untuk menuduh Muhammad Saw sebagai pelaku pedofilia, suatu kejahatan yang tidak terampunkan sama sekali, baik secara kriminal mau pun moral.

Menanggapi gempuran tersebut, tentunya umat Muslim menjadi gamang. Tidak ada yang dapat dikatakan umat Muslim untuk menanggapi gempuran dan tuduhan kaum antisalam ini, bahwa Muhammad Saw adalah seorang pedofilia, sehingga dengan demikian harus dikatakan bahwa Muhammad Saw bukanlah seorang Nabi, karena tidak mungkin seorang Nabi mempunyai moralitas yang menjijikkan.

Berkenaan hal tersebut pun, sudah terdapat (beberapa) sanggahan yang dapat dikatakan jitu untuk membuktikan bahwa Aisyah dinikahi pada usia yang cukup alias bukan masih kanak-kanak. Namun sungguh pun demikian, tetap saja terdapat kontroversi antara berbagai pihak. Terlebih, kaum antisalam, khususnya bangsa karoSetan, begitu ngotot dan gencar untuk memastikan bahwa Muhammad Saw adalah seorang pedofilia. Dengan segala cara bangsa karoSetan ingin tetap memastikan bahwa Aisyah adalah masih anak-anak ketika dinikahi Muhammad Saw. Dan dengan demikian karoSetan menuntut Muslim untuk meninggalkan Islam, supaya Islam itu menjadi gembos ……

Terdapat dua sikap yang dapat diambil dari pihak Muslim untuk dijadikan apologia berkenaan isu ini, yang mana kedua apologia ini akan dapat membungkam kenyinyiran kaum antisalam terhadap keabsahan Muhammad Saw sebagai Nabi Tuhan. Kedua apologia itu berupa: pertama, pendirian yang membuktikan bahwa Aisyah dinikahi Muhammad Saw pada usia yang cukup. Kedua, pendirian bahwa Aisyah memang masih anak-anak ketika dinikahi Muhammad Saw.

Pendirian pertama.

Aisyah dinikahi pada usia cukup.

Islamthis mengutip berikut dari situs lain:

Sembilan Bukti Nabi Muhammad TIDAK Menikahi Aisyah Di Bawah Umur.

Saya percaya, tanpa bukti yang solid pun selain perhormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis berumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyam ibnu Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun

BUKTI #1: PENGUJIAN TERHADAP SUMBER

Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn Urwah, yang mencatat atas otoritas dari Bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, di mana Hisham ibn Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, di samping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal di sana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat: ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l-tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ”Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al- asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

Mizanu’l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” (Mizanu’l-ai`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.

KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:

pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu.

610 M: turun wahyu pertama Abu Bakar menerima Islam.

613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat.

615 M: Hijrah ke Abyssinia.

616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.

620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah.

622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Madinah.

623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

BUKTI #2: MEMINANG

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623 / 624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).

Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Kabah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).

Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.

BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’.

Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992).

Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau bebrapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 atau 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).

Menurut sebagian besar ahli sejarah, Asma, saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).

Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun dimana Aisyah berumah tangga.

Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18?

KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut perang Uhud dan Badr.

Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tersebut”.

Berdasarkan riwayat di atas, (a) anak-anak berusia di bawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud.

KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Di samping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surah tersebut diturunkan pada tahun 614 M. Jika Aisyah memulai rumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M atau 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat di atas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

KESIMPULAN: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab

Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, yaitu Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi. Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr di sisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

BUKTI #8. Text Qur’an

Seluruh Muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun Muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak yatim juga valid diaplikasikan pada anak kita sendiri. Ayat tersebut mengatakan:

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5)

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah.. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka terhadap kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

Di sini, ayat Qur’an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

Dalam ayat yang sangat jelas di atas, tidak ada seorangpun dari Muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, gadis tersebut tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar, seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 tahun dengan Nabi yang berusia 50 tahun. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.

Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan, ”berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?”. Jawabannya adalah nol besar. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

Abu Bakar merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua. Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, beliau akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.

Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan

Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi sah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi sahnya sebuah pernikahan.

Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.

Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena tidak akan memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan Islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

SUMMARY

Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun. Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang Arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.

Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan berkontradiksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami kontradiksi internal dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tersebut dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab

Sumber,

http://www.kaskus.co.id/thread/50e577012d75b4f352000007/9-bukti-nabi-muhammad-tidak-menikahi-aisyah-dibawah-umurIslamthis mengucapkan terima kasih kepada portal ini atas artikelnya yang berbobot ini.

Tambahan untuk pendirian pertama ini:

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al Laits, dari ‘Uqail berkata, Ibnu Syihab maka dia mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa:

‘Aisyah ra isteri Nabi saw berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam”. Dan berkata, Abu Shalih telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah ra berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam dan tidak berlalu satu haripun melainkan Rasulullah saw datang menemui kami di sepanjang hari baik pagi ataupun petang. Ketika Kaum Muslimin mendapat ujian, Abu Bakar keluar berhijrah menuju Habasyah (Ethiopia) hingga ketika sampai di Barkal Ghomad dia didatangi oleh Ibnu Ad-Daghinah seorang kepala suku seraya berkata; “Kamu hendak kemana, wahai Abu Bakar?” Maka Abu Bakar menjawab: “Kaumku telah mengusirku maka aku ingin keliling dunia agar aku bisa beribadah kepada Tuhanku”. Ibnu Ad-Daghinah berkata: “Seharusnya orang seperti anda tidak patut keluar dan tidap patut pula diusir karena anda termasuk orang yang bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran”.

Perhatikan tulisan yang dicetak tebal, pada hadits di atas.

‘Aisyah ra berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam

Hal ini bermakna ketika Abu Bakar ra. masuk Islam, Aisyah ra. sudah lahir.

Berdasarkan catatan sejarah, Abu Bakar ra. masuk Islam pada tahun-1 Kenabian (tahun ke-10 Sebelum Hijriah). Dan jika pada saat itu Aisyah ra. telah berusia 7-8 tahun, maka saat beliau berumah tangga dengan Rasulullah, Aisyah ra. telah berusia 19-20 tahun.

Dari,

http://kanzunqalam.com/2010/06/15/siti-aisyah-ra-menikah-di-usia-19-tahun/Islamthis mengucapkan terima kasih kepada portal ini atas artikelnya yang berbobot ini.

Islamthis,

Melalui pendirian ini, termasuk pada bagian Tambahan di atas, seharusnya seluruh manusia sepakat bahwa Aisyah dinikahi Muhammad Saw pada usia cukup, bukan sebagai anak kecil. Dan karena itu, Muhammad Saw bukanlah seorang pedofilia.

Pada bagian tambahan, pun sudah jelas saat Aisyah berkata bahwa ketika ayahnya memeluk Islam, Aisyah belum baligh. Ini merupakan bukti indikator tegas bahwa saat menikah, Aisha sudah mencapai umur yang cukup. Dan bagaimana point ini dapat dibantah hanya untuk bisa sampai pada tuduhan bahwa Muhammad Saw adalah seorang pedofilia?

Pendirian kedua

Aisyah masih anak-anak ketika dinikahi Muhammad Saw.

Islamthis mengutip berikut dari situs lain:

Mengapa Rasulullah Menikahi Aisyah yang Masih di bawah Umur?

Tanya:

Ustad, saya ada pertanyaan yang selama ini jawaban yang kurang puas. Saya mau menanyakan kenapa Rasulullah Muhammad SAW menikahi Aisyah yang pada saat itu berumur 9 tahun? Mengapa harus Aisyah yang masih di bawah umur? Karena itu selalu menjadi bahan celaan dari agama lain terhadap Rasulullah. Sebagai umat muslim kami harus bisa menjawabnya ‘kan ustad? Mohon pencerahan dari ustad. Terima kasih ustad.

Jawab:

Kalau Anda sudah pernah mendapat jawaban atas pertanyaan ini dan Anda merasa kurang puas, jawaban saya berikut ini pun sangat mungkin belum membuat Anda puas. Memuaskan diri sendiri saja sering sekali saya gagal, apalagi memuaskan orang lain.

Namun begitu, saya ingin memberi catatan di sini. Bagi kita, umat Islam, beragama bukan semata-mata untuk mencari kepuasan. Beragama adalah berserah diri, sesuai makna asal kata “islam” itu sendiri. Selain itu, “agama” dalam bahasa Arab disebut dîn (دِين), seakar dengan kata dain (دَيْن) yang salah satu artinya adalah ‘utang’ atau ‘pembalasan’. Karena Allah sudah memberikan teramat banyak karunia kepada kita sehingga kita tidak mungkin membayar pemberian-pemberian (‘utang’) itu dengan apa pun, maka sebagai bentuk pembayarannya kita serahkan diri kita sepenuhnya kepada Dia. Itulah antara lain makna beragama.

Kalau kita tidak bisa mengerti mengapa dalam ibadah haji ada ritual mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali, misalnya, itu tidak menjadi alasan untuk tidak melaksanakan haji. Kalau kita tidak mengerti mengapa laki-laki boleh beristri empat sedangkan perempuan tidak boleh bersuami kecuali satu, itu tidak menjadi alasan kita untuk tidak taat kepada agama. Kalau kita tidak bisa memahami bagaimana mungkin Nabi saw bisa bolak-balik ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh kemudian kembali lagi ke bumi dalam waktu hanya beberapa saat pada suatu malam, itu tidak menjadi alasan untuk tidak percaya pada peristiwa Isra’ Mikraj.

Mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh sebagian orang non-Muslim tentang pernikahan Nabi Muhammad saw. dengan Aisyah ra. yang dianggap masih di bawah umur, itu pun termasuk persoalan yang terkadang sulit kita pahami. Tetapi, yang cukup mengherankan, pertanyaan serupa tidak pernah terdengar dari musuh-musuh Nabi saw. pada masa beliau masih hidup. Ini artinya apa? Artinya, pernikahan Nabi saw. dengan Aisyah ra. itu bukan suatu persoalan pada masa itu! Kritik orang terhadap pernikahan Nabi saw. dengan Aisyah ra. yang dinilai masih di bawah umur, itu pada umumnya karena orang-orang itu menggunakan standar zaman sekarang untuk menilai sesuatu yang terjadi 14 abad yang lalu.

M. Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi saw. dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (Cet. I, Juni 2011), mengemukakan “keheranan”-nya terkait kritik orang-orang terhadap pernikahan Nabi saw. dengan Aisyah ra. Katanya, “Ada kritik yang ditujukan kepada Nabi saw. oleh sementara orang yang hidup ratusan tahun setelah pernikahan tersebut, namun tidak terdengar kritik apa pun, apalagi cemoohan, dari mereka yang semasa dengan Nabi saw. walau dari lawan-lawan beliau yang selalu berusaha mendiskreditkan beliau.” (hlm 530). Lebih lanjut, Quraish mengatakan, “Ini karena pada masa lampau, sebelum dan pada masa Rasul, bahkan beberapa generasi sesudahnya, menikahi perempuan yang seusia dengan anak kandung merupakan sesuatu yang lumrah dalam masyarakat umat manusia. Terbaca dalam uraian yang lalu tentang perkawinan ayah Nabi, Abdullah, bagaimana ayahnya, yakni Abdu Muththalib, menikahi juga perempuan yang sebaya dengan istri anaknya, yakni Halah, anak paman Aminah.” (hlm 530).

Di halaman yang sama buku itu, Prof. Quraish Shihab juga memaparkan fakta sejarah bahwa Umar bin Khaththab ra. menawarkan anaknya yang muda belia, Hafshah, yang sebaya dengan Aisyah, untuk dinikahi Utsman ra. Juga Umar bin al-Khaththab menikahi putri Ali bin Abi Thalib yang dapat dinilai sebagai semacam pernikahan antara “kakek dengan cucu”. Demikian juga halnya pernikahan Zaid ibn Haritsah, bekas anak angkat Rasul saw., dengan Ummu Aiman yang mengasuh Nabi sewaktu kecil. Ini serupa juga dengan pernikahan “nenek” dengan cucunya. Demikian kurang lebih uraian Quraish Shihab.

Jadi, dapat kita katakan bahwa pernikahan seorang lelaki tua dengan perempuan yang relatif masih sangat muda adalah hal yang biasa pada masyarakat masa itu. Bukan sesuatu yang aneh, apalagi aib. Dan itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Arab, tetapi juga pada masyarakat lain.

Raja Hendri Kelima, leluhur Ratu Elizabeth, Ratu Inggris, sekitar 500 tahun yang lalu menikah dengan enam orang gadis yang muda-muda. Bahkan hingga beberapa tahun yang lalu di Spanyol dan Portugis, juga di beberapa pegunungan di Amerika Serikat, perkawinan dengan gadis-gadis muda masih berlaku. Sastrawan dan filosof Mesir kontemporer, Anis Manshur (lahir Agustus 1924), dalam bukunya Min Awwal Nazhrah, mengutip uraian Nena Beton dalam bukunya yang menguraikan “Cinta dan Orang-orang Spanyol”, bahwa telah menjadi kebiasaan pada abad ke-12 dan ke-13 bahwa masyarakat mengawinkan anak-anak lelaki mereka pada usia sangat muda. Ini disebabkan karena para tuan tanah merampas anak-anak kecil dan mempekerjakan mereka tanpa imbalan. Demikian Anis Mansur yang dikutip oleh Quraish Shihab.

Agaknya, seperti disimpulkan oleh Quraish Shihab dari uraian di atas, kebiasaan masyarakat Arab masa lalu itu untuk mengawinkan putri-putri mereka yang masih kecil disebabkan karena khawatir anak perempuannya terlantar atau diperkosa akibat perang antar-suku. Dengan mengawinkan mereka sejak kecil, maka akan bertambah perlindungan atas mereka dari suami dan suku suaminya.

Di sisi lain, perempuan yang tinggal di daerah tropis sering kali lebih cepat dewasa dibandingkan dengan mereka yang bermukim di daerah-daerah dingin. Tidak jarang dalam usia delapan tahun gadis-gadis di sana telah mengalami menstruasi. Dalam kasus Aisyah, “kesiapannya untuk dinikahi” ini dapat dibuktikan dengan telah dilamarnya ia –sebelum dilamar Nabi saw.– oleh Jubair bin Muth’im bin ‘Adi. Tetapi proses pernikahan mereka tertunda-tunda karena kedua orangtua Jubair khawatir jangan sampai anaknya memeluk agama Islam. Karena berlarutnya penangguhan itu, maka Abu Bakar ra., ayah kandung Aisyah ra., secara baik-baik mendatangi keluarga Jubair, lalu mereka sepakat membatalkan lamaran tersebut.

Itulah standar nilai yang berlaku pada masa itu. Kita tentu tidak ingin dinilai oleh generasi masa lalu dengan standar nilai yang mereka anut. Oleh karenanya, kita pun semestinya tidak menilai mereka yang hidup pada masa lalu itu dengan standar nilai yang kita anut.

Kesimpulan ini juga menggiring kita untuk tidak menjadikan semua pengalaman Nabi saw., dalam bidang non-ibadah murni (bukan ibadah mahdhah), sebagai sesuatu yang baik untuk diteladani. Bukan saja karena beliau adalah Nabi yang memiliki hak dan kewajiban yang berbeda dengan kita, tetapi juga karena adanya perkembangan masyarakat yang menjadikan masa kita tidak sepenuhnya sama dengan masa Nabi saw. Ada nilai-nilai yang bergeser.

Secara sedikit “vulgar” dapat kita katakan bahwa menikahi anak perempuan usia 9 tahun pada masa kita sekarang bukanlah suatu sikap meneladani Rasul saw. walaupun beliau menikahi Aisyah ra. ketika ia berusia 9 tahun.

Sumber,

http://alifmagz.com/?p=21842Islamthis mengucapkan terima kasih kepada portal ini atas artikelnya yang berbobot ini.

Islamthis,

Melalui pendirian kedua ini, ternyata adalah tidak tercela bagi Muhammad Saw dan seluruh manusia pada masanya untuk menikahi gadis yang masih di bawah umur. Adalah benar apa yang dikemukakan oleh sang ustadz di dalam pendirian kedua ini, bahwa mengutuk atau menghujat Muhammad Saw sebagai seorang pedofilia hanyalah merupakan ekses dari perubahan jaman semata. Artinya, isu ini hanya berdasarkan pada subjektivisme dan merupakan suatu hal yang relatif. Sebagai perbandingan, pada masa purba, membunuh manusia merupakan suatu kebanggaan dan kebenaran. Namun pada masa sekarang? Apakah dapat dibenarkan membunuh orang? Membunuh diri saja jaman sekarang dianggap suatu kesalahan, apalagi membunuh orang lain? Namun pada masa purba, bunuh diri bukan merupakan tindakan yang dicela.

Singkat kata, dengan adanya penjelasan ini semua, adalah tidak mungkin memfatwakan Muhammad Saw sebagai pelaku suatu kejahatan moral, dan atau menyatakan bahwa Muhammad Saw merupakan manusia terkutuk dan harus dikutuk oleh seluruh umat beragama.

Tinjauan Pedofilia Muhammad Berdasarkan Alquran

Lebih dari itu, banyak kaum antisalam yang menggenjot pandangan bahwa Muhammad adalah pedofilia dengan menggunakan dasar yang mereka dapat / comot dari Alquran. Demikian seorang antisalam berkata,

” ……… Baca QS 65:4 dan juga tafsirnya dari ulama-ulama berbobot seperti Ibnu Abass, al Jalalani, Ibnu Katir dll. Jelas Quran sejalan dengan Alhadis bahkan melegalkan Muslim mengawini anak kecil bahkan yang belum mens (haid) seperti Aisyah………”.

Tentunya kita sebagai Muslim jadi terheran-heran mengapa ada manusia-manusia antisalam yang tiba-tiba memfatwakan bahwa ada ayat dalam Alquran yang mendukung pernikahan dini. Dan kali ini, yang menjadi sasaran kaum antisalam / karoSetan adalah QS 65:4 yang bunyinya adalah sebagai berikut:

Perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Pada frasa pertama disebutkan “….. perempuan-perempuan yang tidak haid …..”. Manusia-manusia antisalam menisbatkan frasa ini dengan wanita-wanita yang belum memasuki usia mens alias anak-anak kecil. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa ayat ini berbicara di dalam konteks perceraian yang berimbas pada faktor iddah. Nah kalau frasa pertama pada ayat tersebut berarti anak-anak kecil – karena anak kecil memang tidak mens, apakah itu mungkin dan masuk akal? Apakah anak-anak kecil sudah mengalami perceraian yang kemudian harus ditunggu iddahnya? Pernikahannya saja tidak ada, lantas mengapa ada perceraian?

Dan untuk mengakhiri pandangan mereka ini yang mengabsahkan pedofilitas Muhammad yang terutamanya didukung oleh ayat Alquran – menurut pandangan mereka, mereka berujar:

” …….. Muhammad PEDOFIL lagi disiksa di neraka bro ………. Biang teroris , tukang perkosa dan Pedofil kayak Muhammad tempatnya memang di neraka. hehehe ……..”.

Benarkah demikian, bahwa karena Alquran “mengkonfirmasi” bahwa Muhammad Saw adalah seorang pedofilia, maka sekarang Muhammad Saw sudah direbus di dalam neraka oleh karenanya?

Menurut suatu perhitungan yang logis, pendapat kaum antisalam yang memvonis Muhammad Saw sebagai sedang dipanggang di Neraka berdasarkan ayat Alquran ini, tentunya justru menunjukkan kebodohan dan kepandiran kaum karoSetan. Betapa tidak???

Pertama, anggaplah memang benar bahwa ayat Alquran 65:4 tersebut memang merupakan dasar bagi Muhammad Saw untuk melakukan gaya hidup pedofilia. Namun ada hal lain yang justru luput dari pengamatan kaum karoSetan.

Dengan menggunakan ayat Alquran sebagai dasar dalil mereka bahwa Muhammad Saw melakukan pedofilia, secara otomatis ini berarti kaum antisalam / karoSetan mengakui bahwa Alquran benar merupakan ayat yang turun dari Tuhan semesta alam, dan kemudian, ini berarti secara alamiah mereka mengakui bahwa Muhammad Saw memang seorang Rasul Tuhan, karena buktinya Muhammad Saw didukung oleh ayat suci yang berasal dari Tuhan pencipta alam.

Nah kalau memang benar bahwa Muhammad Saw merupakan Rasul Tuhan, kalau memang benar bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan oleh Tuhan semesta alam, maka kemudian pertanyaannya adalah, BAGAIMANA MUNGKIN MUHAMMAD DISIKSA DALAM NERAKA, KALAU BENAR BAHWA MUHAMMAD MERUPAKAN RASUL TUHAN?????

Dan lagi, dengan menggunakan ayat Alquran 65:4 sebagai dasar tuduhan mereka bahwa Muhammad Saw adalah seorang pedofilia, maka mau tidak mau mereka juga (harus) mengakui bahwa keseluruhan AYAT LAIN dalam Alquran juga suci, benar turun dari Tuhan pencipta alam.

Dari sini, itu berarti AYAT LAIN yang mengkonfirmasikan bahwa Muhammad Saw dijamin masuk Surga, haruslah berarti bahwa Muhammad TIDAK SEDANG DISIKSA DAN DIPANGGANG DALAM Neraka, karena ada ayat di dalam Alquran yang menjelaskan bahwa Muhammad Saw dan seluruh Nabi lainnya berada di dalam keselamatan Allah. Adalah tidak mungkin kaum kafir itu, menerima ayat Alquran 65:4 ini saja, dan MENOLAK ayat Alquran lainnya. Seharusnya itulah yang ada dalam fikiran kaum antisalam. Namun apakah mereka bisa secerdas itu????

Melalui dua pendirian ini, sekarang kaum antisalam ingin memilih yang mana? Kalau tetap ingin menghujat Muhammad sebagai pedofilia, maka ambillah pendirian yang kedua. Namun ingat, pendirian pertama pun juga mempunyai kekuatan logika.

Akhir kata, Islam sama sekali tidak dapat dijungkalkan dari kebajikan logika. Artinya, Islam tetaplah benar merupakan agama Tuhan, bukan agama karoSetan mau pun agama lainnya. Dan benarlah Muhammad Saw sebagai Rasul Tuhan.

Satu fenomena yang patut dicermati yang ditunjukkan kaum antisalam mengenai isu Aisyah ini adalah, bahwa dari tajamnya perselisihan mengenai usia Aisyah saat menikah (anggaplah demikian), justru kaum antisalam begitu gencar memilih HANYA point-point yang menyudutkan posisi Muhammad Saw mau pun umat Muslim, yaitu point-point yang mengarahkan Aisyah dinikahi saat masih kecil. Ini tidaklah mengherankan, sementara banyak point yang menguatkan bahwa Aisyah dinikahi pada usia yang cukup, tetap saja kaum antisalam menggenjot dan MEMAKSA Muslim untuk HANYA MELIHAT KEPADA POINT bahwa Aisyah dinikahi pada usia anak-anak.

Sebagai contoh,

Dari pihak Muslim,

“……. Menurut Tabari, keempat anak Abu Bakar (termasuk Aisyah) dilahirkan oleh istrinya pada zaman Jahiliyah, artinya sebelum 610 M. Apabila Aisyah dinikahkan sebelum 620 M, maka ia dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami-istri dengan Muhammad dalam umur di atas 13 tahun…….”.

Paragraf ini membuktikan bahwa Aisyah dinikahi pada usia yang cukup. Namun demikian kaum antisalam justru berkata seperti demikian,

“ ……….. Tabari ga pernah menyebutkan ke 4 anak Abu Bakar lahir di masa jahiliyah, malah dia dengan jelas mengatakan Aisyah diembat Muhammad umur 9 thn. …..”.

Padahal dalam artikel mengenai perkataan Tabari ini, sudah jelas disebutkan / dianalisakan bahwa Tabari pun tidak konsisten dengan pendapatnya sendiri. Hal ini jelas tercantum di dalam butir “Bukti #2 Meminang”.

Sudah jelas bahwa antisalam ingin mempersulit diri mereka sendiri, dan kemudian ingin pula mengajak seluruh Muslim untuk merasakan kesulitan tersebut. Sudah jelas bahwa Tabari mengalami kontradiksi dengan periwayatannya sendiri, antara:

  1. Lahir pada masa jahiiliyah, dan,
  2. Lahir pada masa setelah Islam.

Namun tiba-tiba kaum antisalam tetap ngotot bahwa dalil Tabari yang (b) saja yang harus dipegang oleh seluruh Muslim, agar dengan demikian dapat terbuktikan bahwa Aisha adalah anak kecil saat dinikah. Namun kemudian, kalau begitu point (a) mau dikemanakan? Bukankah point (a) juga merupakan fakta sejarah yang sama kuatnya dengan point (b)?

Itu pun juga masih banyak Alhadis lain yang mendukung pandangan bahwa Aisha dinikahkan pada usia yang cukup. Toh faktanya tetap saja kaum antisalam menggenjot dan memaksa Muslim hanya untuk melihat kepada point (b).

Ini mengherankan, walau pun Alquran sudah menulis bahwa kaum kapirit tidak akan senang kepada umat Muslim sampai Muslim ikut jalan mereka yaitu kekafiran, alias mengingkari kenabian Muhammad Saw.

Wallahu a’lam bishawab.

15 Responses

  1. Secara sedikit “vulgar” dapat kita katakan bahwa menikahi anak perempuan usia 9 tahun pada masa kita sekarang bukanlah suatu sikap meneladani Rasul saw. walaupun beliau menikahi Aisyah ra. ketika ia berusia 9 tahun.

    Pernyataan kesimpulan ini, ngaco, artinya menetapkan Rasul SAW menikah aisyah yang usianya 9 tahun. Ngomong panjang lebar cerita sana sini, muji-muji. Akhirnya kembali pada awal, nikah 9 tahun.

    Kesimpulan yang parah.
    Terong
    ===============

    Islamthis,
    dasar anda apa bisa bicara spt itu???

    terima kasih.

  2. Eh bung..diskusi lagi nyok…hehey

  3. bro..walau nabi nikahi aisyah umur 9 tahun..setitik pun aku gak minder..so..apa masalah nya menikah sah?

    saya sajikan kekuatan logika jika nabi menikahi aisyah umur 9 tahun

    http://mizanuladyan.wordpress.com/2013/02/02/menjawab-fitnah-pernikahan-rasulullah-dengan-aisyah/

  4. pertama,tidak smua yg mempertanyakan ke sah an Alquran itu,hendak menghujat.smua tentang aisyah yg dinikahi Nabi Muhammad ditulis oleh pengikut Nabi sendiri.jadi yg menghujat dan fitnah adalah pengikut Nabi Muhammad sendiri.kami hanya konfirmasi saja,apakah benar demikian?anda sdh menulis jawaban2 anda,biarlah pembaca yg menilainya.

    kedua,sy ingin bertanya,kita memiliki 6 agama dgn Tokoh pendirinya,saya tambahkan 1 agama Toisme.
    disini kita membahas 5 tokoh pendiri agama Lao Tse,Kong Fu Tse,Yesus,Nabi Muhammad dan Budha.
    Nah,byk org muslim yg meng klaim bhw Nabi Muhammad paling mulia.sy ingin org muslim sportif thd klaim2nya dan membuktikan bahwa moralitas Nabi Muhammad lebih dari Tokoh2 yg lain.
    kita smua sedang mencari kebenaran,moralitas,kasih,kemanusiaan,kebaikan,perdamaian.
    Tlg berikan bukti2 bahwa perbuatan Nabi Muhammad melebihi Tokoh2 tsb.

    Terima kasih.

    ================

    Islamthis,

    pertama,

    sudah kelumrahan, kalo ada seseorang mempetanyakan kesahihn alquran, maka orang itu sedang menghujat alquran.

    kedua.
    anda kata bahwa pengikut muhsaw sendiri yg tulis bhw muhsaw menikahi anak kecil.

    saya jelaskan kepada anda.

    ini bukan pengikut nabi ato bukan. ini adl masalah KESAHIHAN alhadis, apakah suatu alhadis itu bonafid, logis, tidak bertentangan dg alquran dan hadis lainnya.

    anggaplah ada seseorang yg dihitung sbg pengikut muhsaw, nanum apakah tulisannya berbobot???? ingat, periwayatan hadis tidak melibatkan satu sahabat nabi saja, tapi juga melibatkan beberapa jalur penyampaian sampi ke bawahnya ….

    jadi kalo ada hadis / paragraf yg kata bhw muhsaw menikahi gadis kecil, maka hadis tsb ada masalah pada jalur penyampaiannya. ingat, ini bukan masalah pengikut muhsaw semata.

    ketiga, anda kata soal kemuliaan muhsaw dibanding pendiri agama lainnya.

    baik akan saya jelaskan.

    muhsaw memang yg paling mulia: muhsaw dkk mengajarkan anti-bugil massal. muhsaw mengajarkan anti-judi. muhsaw dkk mengajarkan anti-judi, muhsaw dkk mengajarkan anti-riba. muhsaw dkk mengajarkan anti-makan-bangke, muhsaw dkk mengajarkan penghormatan kepada wanita, muhsaw mengajarkn anti-budak, muhsaw dkk mengajarkan anti-berkhalwat ….

    nah apakah 5 tokoh lainnya mengajarkan hal yg sama??

    di balik itu, kalo anda membaca pargraf2 di internet yg menghujat kemuliaan muhsaw dkk, maka anda sebaiknya tidak ambil paragraf itu, dan ada baiknya anda bicarakan hal itu dg lembaga2 islam utk memperoleh jawaban, saya pun bersedia memberi penjelasan kepada anda seputar kemuliaan muhsaw ini. insya allah.

    terima kasih.

    • apapun kepercayaan anda,anda hrs mengaplikasikan ke dlm perbuatan anda sehari hari.krn itu yg di lihat masyarakat.berbuatlah apa yg baik di mata anda dan di mata orang lain.itu lbh baik dr pada adu mulut.
      ukuran yg kamu ukurkan kpd orang lain,akan di ukurkan pula kepadamu.

  5. menurut saya Pattimura itu kristen,
    membicarakan Pahlawan yang mati di medan perang adalah perbuatan Laknat… karena berujung pada deislamisasi.
    Ulama zaman dahulu di ternate berasal dari arab,,, dan sudah jelas peLafal-an alquran membuat mereka menyebut nama Thomas Matulessy dengan AHMAT.
    Banyak bukti , bahwa anggota yang dipimpin Pattimura *(thomas matulessy) majoritas kriten….

  6. Artikel ini jelas2 mnyestakan, nih baca :

    Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah
    بسم الله الرحمن الرحيم
    Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (al-Hujuraat:6)
    Setelah meneliti syubhat (argument lemah) yang dipaparkan penulis dan melihat langsung buku asli yang dijadikan rujukan, kami menyimpulkan bahwa argument yang ia sebutkan berlandaskan beberapa factor:
    1- Sengaja melencengkan kandungan buku-buku turas Islam sesuai hawa nafsunya.
    2- Atau ia salah faham dengan maksud para ulama dalm buku-buku mereka (jahlun murakkab).
    3- Tidak akurat dalam menukil perkataan ulama, dan cuma menukil apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.
    4- Mengklaim sesuatu tampa dasar/bukti.
    Ini adalah metode yang digunakan oleh orang-orang orentalis, Islam liberal, dan ahli bid’ah dalam menguatkan pendapatnya yang melenceng/sesat untuk merusak Islam.
    Kalau tidak percaya,… periksa sendiri !!!!!!
    BUKTI #1: PENGUJIAN TERHADAP SUMBER
    Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq!!!!
    Jawaban:
    Riwayat Hisyam bin Urwah terdapat dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim, sunan Abu daud, An-nas’I, dan Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan banyak lagi yang lain.
    Hisyam meriwayatkan dari bapaknya (Urwah bin Az-zubair) dari Aisyah, Rasulullah mengawini (akad nikah) nya ketika berumur 6 tahun, mulai hidup bersama ketika berumur 9 tahun, dan mendampingi Rasulullah selama 9 tahun. (Ini salah satu lafadz dari Imam Al-Bukhari).
    Dan salah satu lafadz dari Imam Muslim : “Rasulullah wafat ketika Aisyah berumur 18 tahun”.
    Memang kebanyakan perawi yang meriwayatkan hadits ini dari Hisyam adalah orang ‘Iraq; akan tetapi dalam Musnad Imam Ahmad, At-Thabaqat Ibnu Sa’ad, dan Mu’jam Al-Kabir At-Tabrany menyebutkan bahwa Abdul Rahman bin Abi Az-Zinad Al-Madany (orang Madinah) juga meriwayatkan hadits ini dari Hisyam.
    Dalam Musnad Al-Humaedy, Sufyan Ats-Tsaury Al-Kufy (salah seorang yang meriwayatkan dari Hisyam) mengatakan: Hadits ini adalah salah satu hadits terbaik yang diriwayatkan Hisyam dari Bapaknya.
    Ingatan Hisham sangatlah jelek dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya!!!!
    Jawaban:
    Selain Ya’qub bin Syaibah dan satu riwayat dari Imam Malik, sebagian besar ulama sepakat bahwa Hisyam adalah tsiqah (haditsnya kuat) tanpa pengecualian. Diantara ulama yang menerima periwayatan Hisyam secara mutlak adalah Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Al-‘Ijly, Abu Hatim, Wahb, Ibnu Hibban, Al-Aswad, Ibnu Hajar dan Az-Zahaby. (Lihat Tahdzib At-Tahdzib)
    Imam Az-Zahabi dalam “Mizanu al-I`tidal” dan “Siyar A’lam” sangat memuji riwayat Hisyam dan membantah pendapat Ya’qub dan riwayat dari Imam Malik.
    Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib mengatakan: Alasan Ya’qub menolak riwayat Hisyam sewaktu di Iraq, karena Hisyam ketika ke Irak untuk yang ke tiga kalinya, Ia terkadang menjatuhkan (tidak menyebutkan) gurunya ketika meriwayatkan hadits yang tidak secara langsung ia peroleh dari bapaknya.
    Oleh karena itu Ibnu Hajar dalam kitabnya “At-Taqrib” (ringkasan dan kesimpulan dari Tahdzib At-Tahdzib) mengklaim bahwa Hisyam adalah tsiqah, faqih (ahli fiqh) dan terkadang melakukan tadlis (menjatuhkan perantara antara dia dengan gurunya ketika meriwayatkan hadis yang tidak ia terima langsung dari gurunya)
    Imam Az-Zahabi dalam “Mizanu al-I`tidal” memang mengakui adanya sedikit penurunan pada hafalan Hisyam di akhir usianya. Akan tetapi beliau mengganggap bahwa perubahan itu wajar saja dan tidak mempengaruhi periwayatannya. Olehnya itu di awal biografi hisyam beliau mengatakan bahwa Hisyam adalah salah satu ulama besar (al-A’lam), hujjah (rujukan ketika ada perselisihan dlm riwayat), dan seorang Imam (dalam periwayatan). Bahkan Az-Zahabi menggelarinya syek Islam.
    Kesimpulan: Riwayat Hisyam tidak jelek. Penulis tidak amanah dan tdak bisa dipercaya ketika menukil dari Ibnu Hajar dan Az-Zahabi !!!!.
    Seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga!!!!
    Jawaban:
    Untuk menerima suatu hadits, ulama tidak menyaratkan perawinya harus lebih dari satu orang. Selama ia tsiqah, apapun yang ia riwayatkan akan diterima selama tidak menyalahi riwayat orang yang lebih kuat dan tsiqah.
    Akan tetapi dalam hadits ini Hisyam tidak sendiri meriwayatkan dari bapaknya (Urwah bin Az-Zubair); Imam Az-Zuhry (dalam shahih Muslim, Musnad Ahmad, Mushannaf Abdul Razaq, Sunan Al-Kubra An-Nasa’I, Mu’jam Al-Kabir At-Thabrany, dan Syarh As-Sunnah Al-Bagawy) juga meriwayatkan dari Urwah.
    Dan yang meriwayatkan dari Aisyah bukan cuma Urwah saja; Al-Aswad bin Yazid An-Nakha’I (dalam shahih Muslim), Abu Salamah bin Abdul Rahman (dalam Sunan An-Nasa’i), Ibnu Abi Mulaikah (dalam Sunan Al-Kubra An-Nasai dan Mu’jam Al-Aushat At-Thabarany), Al-Qasim bin Muhammad dan Abdul Malik bin Umaer (dalam Mu’jam Al-Kabir At-Thabarany), dan Yahya bin Abdul Rahman (dalam Musnad Abu Ya’la), mereka juga meriyatkan hadits ini dari Aisyah.
    Dan bukan cuma Aisyah yang menceritakan kisah ini; Abdullah bin Mas’ud (dalam Sunan Al-Kubra An-Nasai dan Mu’jam Al-Kabir At-Thabarany) juga meriwayatkannya.
    Kesimpulan: Hisyam tidak sendiri meriwayatkan kisah ini !!!!!
    BUKTI #2: MEMINANG
    Menurut Thabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.
    Jawaban:
    Dalam shahih Muslim memang disebutkan riwayat bahwa Aisyah dipinang pada usia 7 tahun.
    Imam An-Nawawy mengatakan: Riwayat yang paling banyak adalah 6 tahun, dan untuk meyatukan kedua riwayat itu; bahwa umur Aisyah pada waktu itu 6 tahun beberapa bulan, memasuki umur 7 tahun. [Syarh Sahih Muslim 9/207]
    At-Thabari mengatakan: ”Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya”
    Jawaban:
    Penulis tidak akurat dalam menulik dari At-Thabary !!! ; Imam At-Thabary mengatakan :
    حدث علي بن محمد عمن حدثه ومن ذكرت من شيوخه قال : تزوج أبو بكر في الجاهلية قتيلة (ووافقه على ذلك الواقدي والكلبي قالوا : وهي قتيلة ابنة عبدالعزى بن عبد بن أسعد بن جابر بن مالك بن حسل بن عامر بن لؤي)، فولدت له عبد الله وأسماء . وتزوج أيضا في الجاهلية أم رومان بنت عامر بن عميرة بن ذهل بن دهمان بن الحارث بن غنم بن مالك بن كنانة (وقال بعضهم : هي أم رومان بنت عامر بن عويمر بن عبد شمس بن عتاب بن أذينة بن سبيع بن دهمان بن الحارث بن غنم بن مالك بن كنانة)، فولدت له عبدالرحمن وعائشة . فكل هؤلاء الأربعة من أولاده ولدوا من زوجتيه اللتين سميناهما في الجاهلية [تاريخ الطبري (2/ 351)]
    Ali bin Muhammad meriwayatkan dari para gurunya bahwa Abu Bakr kawin dengan Qutailah bint Abdul Uzza pada masa Jahiliyah, dari rahimnya lahir Abdullah dan Asma. Dan pada masa jahiliah, juga kawin dengan Ummu Rumman bint Amir, melahirkan Abdul Rahman dan Aisyah. Jadi keempat anak Abu Bakr lahir dari kedua istrinya yang dinikahi pada masa Jahiliyah. (demikian secara ringkas)
    Jadi riwayat Imam At-Thabary tidak menunjukkan kalau Aisyah lahir di masa Jahiliyah. Dan penulis tidak paham atau sengaja tidak paham !!!!!
    Buktinya, Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al-Ishabah” mengatakan Aisya lahir 4 atau 5 tahun setelah Rasulullah diutus (setelah era jahiliyah).
    Imam Al-Baehaqi dalam kitabnya “Sunan Al-Kubra” menukil perkataan Imam Ahmad bahwasanya Aisya lahir setelah ayahnya masuk Islam. Demikian pula pendapat Az-Zahaby dalam kitanya “Siyar A’lam An-Nubala”.
    BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah
    Menurut Ibn Hajar, ”Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah”
    Jawaban:
    Penulis tidak akurat dalam menukil perkataan Ibnu Hajar!!!
    Ibnu Hajar mengatakan:
    اختلف في سنة مولدها ؛ فروى الواقدي عن طريق أبي جعفر الباقر قال : قال العباس : ولدت فاطمة والكعبة تبنى والنبي صلى الله عليه وسلم ابن خمس وثلاثين سنة . وبهذا جزم المدائني .
    ونقل أبو عمر عن عبيد الله بن محمد بن سليمان بن جعفر الهاشمي ؛ أنها ولدت سنة إحدى وأربعين من مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان مولدها قبل البعثة بقليل نحو سنة أو أكثر . وهي أسن من عائشة بنحو خمس سنين . [الإصابة في تمييز الصحابة (8/ 54)]
    “Kelahiran Fatimah diperselisihkan, menurut Al-Abbas; ”Fatimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berusia 35 tahun”.
    Sedangkan menurut Ubaedillah bin Muhammad Al-Hasyimy; “Fatimah lahir ketika Rasulullah berumur 41 tahun, kelahiran Fatimah setahun atau lebih sebelum Rasulullah diutus, dan Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah”.
    (Demikian secara ringkas kutipan dari Al-Ishabah).
    Kesimpulan: Sesuai pendapat Ubaedillah, Rasulullah diutus ketika berumur kurang lebih 42 tahun; 13 tahun kemudian hijrah ke madinah ketika berumur 55 tahun; 2 tahun sebelum hijrah Rasulullah melamar Aisyah yg berumur 6 tahun dan Rasulullah berumur 53 tahun. Aisyah lahir ketika Rasulullah berumur kurang lebih 47 tahun. Jadi perbedaan umur Aisyah dan Fatimah sekitar 5 tahun.
    BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’
    Menurut Abdur Rahman ibn Abi Zannad: ”Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah”
    Menurut Ibn Kathir: ”Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]”
    Jawaban:
    Pendapat kedua ulama di atas tidak bisa dibandingkan dengan riwayat Imam Bukahri dan Muslim yang kesahihannya disepakati oleh ummat khususnya ahli Hadits.
    Oleh karena itu Imam Az-Zahabi mengatakan:
    كانت أسن من عائشة ببضع عشرة سنة . [سير أعلام النبلاء (2/ 288)]
    “Asma lebih tua dari Aisya 13-19 tahun (bidh’I ‘asyarah).”
    Kata bidh’I artinya 3-9. Jadi Imam Az-Zahabi tidak memastikan selisih umur Asma dan Aisya.
    BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD
    Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.
    Jawaban:
    Kisah yang disebutkan dalam shahih Muslim tidak terjadi di medan perang Badar, tapi terjadi saat Rasulullah beserta pasukan hendak meninggalkan Madinah menuju Badar. Ini bisa dipahami dari dalam kisah tersebut dimana seseorang meminta izin kepada Rasulullah untuk diikutsertakan dalam perang Badr. [Sahih Muslim 5/200 no. 4803]
    Oleh karena itu Imam An-Nawawy ketika mensyarah hadits tersebut mengatkan: perkataan Aisyah: حتى إذا كنا بالشجرة ”ketika kita mencapai Syajarah”, kemungkinan Aisyah hadir bersama orang-orang yang mengantar keberangkatan Rasulullah, atau kata “kita” maksudnya orang muslim yang hadir waktu itu. [Syarh sahih Muslim 12/199]
    ”Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”
    Jawaban:
    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab sahihnya 4/33 no. 2880.
    Anas bin Malik wafat tahun 92H atau 93H di usianya yang ke 103 (lihat Tahdzib At-Tahdzib). Berarti waktu hijrah Anas berusia 10 tahun, ini menunjukkan bahwa Anas pun tidak mengikuti perang Uhud karena umurnya baru 13 tahun.
    Ibnu Hajar ketika mensyarah hadts ini mengatakan: Saya tidak melihat (dari hadts ini) penyebutan secara jelas kalau para wanita ikut berperang (mengangkat senjata). Oleh karena itu Ibnu Al-Munir mengatakan: kemungkinan maksudnya (Imam Al-Bukahri dengan باب غزو النساء وقتالهن مع الرجال “bab peperangan wanita bersama laki-laki”) adalah mereka membantu mereka secara tidak langsung (yang sedang perang dgn mengambilkan anak panah dan lain-lain), atau mereka itu sekedar memberi minum kepada perajurit yang terluka dan membalas serangan jika terdesak. [Fathul Bary 6/78]
    Pendapat ini juga didukung oleh Al-‘Aeny dlm Umdatul Qari (syarah shahih Al-Bukahry)
    Jadi menurut saya, kejadian yang disaksikan Anas terjadi setelah perajurit kembali ke Madinah. Atau Anas ikut ibunya (Ummu Sulaim) dalam perang Uhud sekalipun tidak cukup umur seperti Aisyah karena mereka cuma membantu saja dan tidak ikut perang secara langsung.
    Beda halnya dengan Ibnu Umar, tidak diizinkan oleh Rasulullah karena ia ingin ikut secara langsung di medan perang mengangkat senjata melawan orang musyrik. Sedangkan untuk kartegori ini tidak diizinkan kecuali yang berusia 15 tahun ke atas.
    Atau, keikutsertaan Aisya pada perang Uhud untuk mendampingi Rasulullah. Dan kita ketahui kebiasaan Rasulullah mengundi para istrinya yang akan mendampingi ketika bepegian. Dan ternyata undian Aisyah yang naik, dan berhak mendampingi Rasulullah pada perang Uhud sekalipun tidak cukup usia.
    Wallahu a’lam !!!
    BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)
    Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985)
    Jawaban:
    Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy (mantan syekh azhar) dalam tafsirnya “Al-Wasith” mengatakan: bahwa kejadian terbelahnya bulan terjadi sekitar 5 tahun sebelum hijrah.
    Demikian pula pendapat As’ad Humad dalam kitabnya “Aesar At-Tafasiir”. Ini adalah pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 6/632 kitab المناقب bab 27 ” سؤال المشركين …” .
    Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya mengatakan: ayat pertama surah Al-Qamar turun sebagai saksi terjadinya pembelahan bulan dimasa Rasulullah mu’jizat yang diminta oleh orang Musyrik.
    Kemudian mengatakan: kebanyakan ahli tafsir yang terdahulu atau yang belakangan mengatakan bahwa kejadian pembelahan bulan terjadi setelah awal surah al-Qamar turun, atau beberapa waktu sebelum ayat tersebut turun.
    Kesimpulan: Surah 54 (al-Qamar) turun sekitar 5 tahun sebelum hijrah dan bukan 8 tahun. Berarti umur Aisya pada waktu itu 3 tahun.
    Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi).
    Jawaban:
    Dalam kamus Kontemporer Arab Indonesia oleh Atabik Ali menejemahkan kata جارية “jariyah” sebagai berikut:
    Jariyah: Amah : budak perempuan
    Jariyah: Khadimah: pelayan perempuan
    Jariyah: Imra-atun zinjiyah: wanita negro
    Jariyah= Shabiyah= Gadis kecil.
    Dan dalam kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.H. Mahmud Yunus, menerjemahkan kata صبية “Shabiyah” = kanak-kanak yang belum cukup umur.
    Kesimpulan: Anak yang berumur 3 tahun bisa disebut “jariyah” atau “sibyah” dalam bahasa Arab. [Lihat lisan Al-‘Arab 14/449]
    BUKTI #7: Terminologi Bahasa Arab
    Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun.
    Jawaban:
    Dalam kamus Kontemporer Arab Indonesia oleh Atabik Ali menejemahkan kata بكر “bikr” = wanita yang hamil pertama kali.
    Bikr = ‘Adzraa’ = perawan, gadis.
    Dan dalam kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.H. Mahmud Yunus, menerjemahkan kata “bikr”: anak dara, perawan, gadis.
    Kesimpulan: Selama perempuan itu masih perawan berapun umurnya (anak-anak atau dewasa, sudah baliq atau belum) sah saja disebut “bikr” dalam bahasa Arab . [Lihat Taaj Al-‘Aruus 10/239]
    BUKTI #8. Teks Qur’an
    Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu !!!
    Jawaban:
    Allah berfirman yagn artinya: “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid …”. (Ath-Thalaq:4)
    Dari ayat diatas ulama berkesimpulan, bolehnya menikahi perempuan yang belum haid. (mafhum mukhalafah dari ayat tersebut).
    Ibnu Hajar berkata:
    قول الله تعالى {واللائي لم يحضن} فجعل عدتها ثلاثة اشهر قبل البلوغ أي فدل على أن نكاحها قبل البلوغ جائز [فتح الباري لابن حجر – دار المعرفة (9/ 190) باب انكاح الرجل ولده الصغار]
    Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri !!!
    Jawaban:
    Pada ayat sebelumnya Allah berfirman yang artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (QS.4: 3)
    Ayat ini menunjukkan bolehnya kawin dengan perempuan anak yatim yang balig maupun yang belum. Bahkan kata yatim lebih cocok untuk yang belum balig.
    BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan
    Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665)
    Jawaban:
    Ibnu Rusdy dalam kitabnya “bidayah al-mujtahid” mengatakan: Jumhur ulama –kecuali yang melenceng- sepakat bahwa seorang ayah boleh memaksa (tidak meminta persetujuan) anak gadisnya yang belum balig untuk dinikahkan. Dengan dalil hadits pernikana Aisyah.
    Imam An-Nawawy ketika mensyarah hadits “umur perkawinan Aisyah” mengatakan: Hadits ini jelas menunjukkan bolehnya seorang ayah mengawinkan anak gadisnya yang masih kecil tampa seizinnya; karena anak kecil tidak bisa dimintai izin, dan kakek sama hukumnya dengan ayah, … dan umat Islam sepakat akan hal ini. Apabila anak itu sudah baliq, ia tidak bisa membatalkan perkawinan tersebut menurut Imam Malik, Asy-Syafi’I, dan semua Fuqaha Al-Hijaz …
    Dan ketahuilah bahwasanya Imam Asy-Syafi’I dan para sahabatnya mengatakan: Dianjurkan agar ayah dan kakek tidak mengawinkan anak perawannya sampai ia balig dan hendaknya dimintai izin, agar tidak menyerahkannya kepada suaminya sementara ia tidak senang.
    Adapun yang mereka katakan ini tidak menyalahi hadits Aisyah, karena maksud mereka; tidak mengawinkannya sebelum balig jika tidak ada keuntungan jelas yang dikhawatikan tdak tercapai jika perkawinannya ditunda seperti kisah Aisyah. Jika demikian, maka dianjurkan untuk melaksanakan perkawinan tersebut (sebelum balig) karena seorang ayah diperintahkan untuk mengambil keuntungan untuk anaknya jangan sampai kehilangan. [lihat syarah sahih Muslim 9/206]
    Ibnu hajar mengatakan, Al-Mahlab mengatakan: Ulama sepakat bahwa seorang ayah boleh menikahkan anak gadisnya yang masih kecil perawan sekalipun belum bisa disetubuhi. (lihat fathul bari dan Nailul Authar oleh Asy-Syaukani)
    Adapun hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Tidk boleh menikahkan perawan kecuali dimintai persetujuan”. (shahih Al-Bukhary)
    Jumhur mengatakan yang dimaksud perawan dalam hadits tersebut adalah khusus yang sudah balig.
    Kemudian, persetujuan seorang perawan ketika mau dinikahkan cukup dengan cara diam. (shahih bukahri, muslim dan yang lainnya; lanjutan hadits Abu Hurairah di atas)
    Akan tetapi, menikahkan anak gadis dengan pasangannya yang sesuai umur sangat dianjurkan kecuali ada manfaat lain. Dalilnya:
    Hadits Buraidah, Abu Bakr dan Umar melamar Fatimah, Rasulullah mengatakan: Ia masih kecil. Kemudian dilamar oleh Ali, maka Rasulullah menikahkannya. (Sunan An-Nasai: dengan sanad yang hasan)
    Ulama mengatakan: dari hadits di atas ada 2 kemungkinan:

    Ketika dilamar Abu Bakr dan Umar, Fatimah masih kecil belum mampu berhubungan badan, dan ketika dilamar Ali, Fatimah sudah mampu.
    Rasulullah melihat perselisihan umur Abu Bakr dan Umar dengan Fatimah sangat jauh berbeda.

    Kesimpulan:
    – Seorang bapak boleh menikahkan anak gadisnya yang masih kecil (sekalipun masih bayi)
    ===============

    Islamthis,
    loe tulis,
    Kesimpulan:
    – Seorang bapak boleh menikahkan anak gadisnya yang masih kecil (sekalipun masih bayi)

    HAHA HHA HAHAHA HAHAHA HAHAHA HAHAHA HAHAHA ….

    makan deh tuh kesimpulan loe sendirik HAHAHA HAHAHA HAHAHA ….

  7. Xxxxxxxxxxxx
    BUKTI #8. Teks Qur’an
    Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu !!!
    .
    Jawaban:
    Allah berfirman yagn artinya: “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid …”. (Ath-Thalaq:4)
    .
    Dari ayat diatas ulama berkesimpulan, bolehnya menikahi perempuan yang belum haid. (mafhum mukhalafah dari ayat tersebut).
    .
    Jawaban Islamthis,
    HAHAHAHA HAHAHAHA HAHAHA ….. nyong!! Emang otak loe KOPPPPPPLAK nyong!!!
    .
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-ZINA.
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-BUGILMASSAL.
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-RIBA.
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-MABUKMABUKAN.
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-JUDI.
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-PERBUDAKAN.
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-BUTAHURUF.
    Muhammad Saw ngajarin loe ANTI-MAKAN-BANGKE ….dlllllll.
    .
    Dan sekarang loe BEGITTTTTUUUUUU BHUWWWWENCCIIIIIINYA kepada Muhammad??????? Hahahahahaha ….. apa salah Muhammad Saw ama loe, nyong!!!!!
    .
    Di dalam ayat itu ditulis,
    dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid

    Sekarang loe liyat, NYONG!!!

    Itu katanya adalah “perempuan yang TIDAK haidh”. Apakah ayat itu tertulils “perempuan yang BELUM haidh”?

    Apakah loe ga bisa bedain antara “TIDAK” dengan “BELUMMMMM”?????? Apakah DAPAT DISAMAKAN antara “BELUM” dengan “TIDAK”?

    Hahahahahahaaa …… TIDAK ADA ajaran di dalam Alquran bahwa boleh menikahi wanita yang belum haidh. Artinya, adalah DOSA MENIKAHI WANITA YANG BELUM HAIDH …..

    Nyooooooonggg ….. nyooooooongggg …. apa ssseeeeehhhhh salah Muhammad ama loe? Kok loe nafsu bhuwwwwaaannggeettttttt pphhhhuuuwwwweeennnggggennnnn ngancurin Muhammad?

    Mang Jesus loe bisa apa?
    Jesus loe ngajarin apa?
    Jesus loe bilang apa?
    Bahkan Jesus loe ga ngajarin betapa pentingnya nikah.
    Bahkan Jesus loe ga ngajarin pentingnya ilmu pengetahuan.
    Bahkan Jesus loe ga ngajarin penghormatan kepada wanita.
    Bahkan Jesus loe ga ngajarin tata niaga.
    Bahkan Jesus loe ga ngajarin bernegara.

    Itu semua diajarin ama Muhammad kepada loe, NYOOONGGGG!!!!!
    KOK loe sekarang begitu BBBBHHHHUUUUUWWWWEEEENNNNCIIIIINYA Kkepada Muhammad?

    Bukannya seharusnya loe begitu BBBBHHHHUUUUUWWWWEEEENNNNCIIIIINYA Kkepada Jesus?

    Xxxxxxxxxxxxx
    Tulisan kayak gini, bikin loe merasa hebat ein benar???? Hahahaaha hahahaha ….

    Loe tuh KOPPPPPLAAAKKKQQQ abis, nyong!!!!

  8. Bantahan apaan tuh, kayak anak kecil baru belajar nulis aja jawabannya.

    Ente emang salah satu contoh TRUE ISLAM , bodoh, ngeyel, bebal.

    Hehehehe … Lawan gw aja dah koit, sok-sokan bikin blog.
    ===============

    Islamthis,
    bantahan apaan tuh??? loe tuh yg ga pas!!!! teks gampang beginian, loe ga ngerti???? hahahaha ….

    ude dijelasin, bhw alquran MELARANG pernikahan atas wanita yg belum haid, kok loe masih ngeyel????

    habis loh di sini saya banteeee!!!!

    udhe saya tulis, bhw muhammad adl uswatun hasanah, jadi ga mungkin muhammad berbuat yg tidak logis. artinya kalo ada hadis yg berlawanan dg alquran, maka hadis tsb adl PALSU ….

    KAyak beginian aja loe ga ngerti???? soalnya, loe emang udeh HABIS SAYA BANTEEEE!!!!! hahahahaha …..

  9. Artikel BODOH bin Fitnah ini sudah DIBANTAI sama posting ane diatas, semua dalilnya HABIS DIBANTAI.

    hehehehe ..
    =================

    Islamthis,

    kate SAPE??

    justru LOE YG GA BISA NGEBALIKIN bantahan sayahahaahahaha …

    bacha dooong bantahan saya di atas, soal ayat menikahi wanita yg belum haid. dan juga baca dooong bantahan saya bhw muhamad adl uswatun hasanah ….. dan juga baca doong logika en bantahan saya bhw kalo ada hadis ein alquran yg bertentangan, maka alquran lah yg menang …

    loe ga bisa balikin, kan??

    berarti loe YG UDHE DIBANTAI HABIS DI SINI hahahahahaa ….!!!!
    makan tuh karosetan!!!!

  10. Allah berfirman yagn artinya: “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid”. (Ath-Thalaq:4)

    Ayat tsb diatas adalah ayat yang mengatur hukum BATAS WAKTU MASA IDDAH! ayat tsb tidak membahas pernikahan terhadap batasan umur perempuan yang BOLEH DINIKAHI atau TIDAK,

    tetapi MAKSUD Ayat tsb di atas adalah :

    MEMBERI BATAS WAKTU MASA IDDAH PEREMPUAN yg ditinggal suami (cerai/meninggal) adalah :

    Selama TIGA BULAN, berlaku untuk perempuan YANG HAID atau YANG TIDAK HAID (menapouse).

    jika ada yang berasumsi Ath-Thalaq:4 ditujukan untuk mengatur BOLEH atau TIDAK NYA MENIKAHI WANITA BELUM HAID adalah KELIRU..!!
    ================

    Islamthis,

    terima kasih atas penjelasannya.

    intinya, netter yg bernama AISHA telah tewas, telah ngacir entah kemana setalah saya bantai habis semua argumentasinya. skg dia sudah tidak lagi berani menunjukkan batang hidungnya di weblog ini.

    netter AISHA adl salah satu KAPIRIT KAROSETAN yg akhirnya terjungkal di weblog saya ini, itu semua BERKAT KEBENARAN ISLAM yg agung dan logis.

    tapi sampai skg saya masih menunggu kehadiran netter AISHA – kalo2 dia masih ingin mencoba peruntungan semu utk melawan islam.

    intinya, netter AISHA tidak bisa menjawab argumen saya:
    1. alquran tegaskan bhw muhammad mempunyai mentalitas yg agung, maka dari itu tidak mungkin muhammad berbuat sesuatu yg konyol.

    2. alquran telah menegaskan bhw menikahi gadis yg belum haid merupakan kezaliman.

    3. kalo ada pertentangan antara alquran dan alhadis, maka alquran lah yg menang, dan alhadis tsb harus dibuang.

    4. alhadis sendiri menyatakan bhw dinikahi gadis karena persetujuannya. itu artinya islam mengajarkan nikahi lah gadis yg sudah cukup umur shg bisa diminta persetujuannya. gadis kecil tidak mungkin bisa diminta persetujuannya utk berbuat apa pun.

    point2 tsb di atas, NETTER AISHA tidak bisa mementahkannya, tapi TETAP DIA NGOTOT BHW MUHAMMAD ADL PEDOFILE…..

    begitulah kekafiran, bhw iblis telah bersarang dalam otak dan jiwa netter AISHA …. dan akhirnya dia sendiri yg skg tewas dibantai oleh keagungan islam, alhammdulillah.

    welll AISHA……! Saya tunggu anda kalo masih penasaran dg islam …. insya allah saya layani anda ….

    • si @aisa itu = si nikita juga = si raja COPAS argumennya ga muncul, paling-paling cuma copasan doang, setelah selesai copas terus kabur ga pamit.

      rupanya karosetan ini adalah para karosetan PEJUANG KEMUSYRIKAN , dia sangat berharap SEMOGA dengan banyaknya copasan-copasan mudahan2an di blok ini pangkat yesus naik mendapat pengakuan jadi tuhan.

      Dia kaget hilang argumen, yang terjadi malahan sebaliknya PANGKAT YESUS SEMAKIN TURUN di obok-obok.

      weleh…weleh…!!!

  11. sudah jelas bahwa muhammad menikahi aisyah umur 6 tahun dan mengawini aisyah di umur 9 tahun
    ===========

    Islamthis,
    sudah jelas bahwa muhammad menikahi aisyah saat cukup umur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: