Pesan Di Balik Mencium Batu Hitam

Pesan Di Balik Mencium Batu Hitam

PAPUA MERDEKA, on September 14, 2013 at 12:18 pm said,

Kalau bicara pakai otak bung jangan bawa-bawa Gereja, faktanya sekarang untuk apa BATU HITAM dipajang di Kaabah? Kenapa tidak dibuang ke laut saja?? Batu pagan Quraish kok disembah?

Islamthis,

“Siapapun bisa menghormati Baitullah dengan menciumku, maka takkan pernah kutinggalkan mereka kecuali dalam keadaan masuk surga”

Setiap Muslim yang menciumi Hajarel Aswad pada saat mereka berada di Kabah, maka mereka melakukannya atas dasar teladan dan sunnah Rasul Muhammad Saw. Begitu juga dengan sahabat Umar bin Khattab, beliau menciumi Hajarel Aswad sebagai bagian dari ibadah hanya karena sang sahabat melihat Muhammad Saw melakukan hal tersebut. Ini perkataan Umar mengenai seremoni menciumi Hajarel Aswad yang untuk meniru perbuatan Muhammad Saw:

“Umar mendekati Batu Hitam dan menciumnya serta mengatakan, ‘Tidak diragukan lagi, aku tahu kau hanyalah sebuah batu yang tidak berfaedah maupun tidak dapat mencelakakan siapa pun. Jika saya tidak melihat Utusan Allah mencium kau, aku tidak akan menciummu” (Sahih al-Bukhari, Volume 2, Buku 26, Nomor 680).

Maka dengan demikian kita tidak dapat memprotes seremoni menciumi Hajarel Aswad tersebut, karena seremoni itu berpulang ke Nabi Muhammad Saw, sang pendiri dan pembawa Islam. Kalau kita memprotes perbuatan Muhammad Saw yang menciumi Hajarel Aswad, maka sama saja halnya seorang Kristen memprotes Jesus mengapa Hukum matinya di kayu salib, bukan dimutilasi, atau seorang Hindu memprotes mengapa agama Hindu lahirnya lebih dulu, bukan lahir pada masa PD kedua. Itu adalah hak prerogatif seorang pendiri agama. Dan kita tidak mempunyai hak untuk  mempertanyakan apalagi memprotes perbuatan sang pendiri / pembawa agama.

Sampai di sini, tentunya kita ingin bertanya mengapa Muhammad Saw melakukan hal tersebut yaitu menciumi Hajarel Aswad?

Jawabannya adalah karena Allah sudah memberikan ‘penglihatan’ kepada Muhammad Saw di mana Muhammad Saw ‘melihat’ Nabi Adam menciumi Hajarel Aswad tersebut pada kali yang pertama.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa Nabi Adam menciumi Hajarel Aswad tersebut? Inilah sejarahnya.

Menurut tradisi Islam, Batu ini jatuh dari Surga. Tujuannya, menunjukkan kepada Adam dan Hawa tempat untuk membangun Kabah, yaitu tempat shalat pertama di bumi. Batu ini semula berwarna putih.

Ketika Adam berada di dalam Surga, Adam merasakan ketenangan dan kedamaian, karena Allah Swt, Tuhan sang Adam selalu berada di sisinya. Kalau Adam ingin bertemu dan ber-audiensi dengan Allah, maka Adam akan melakukan sesuatu hal di dalam Surga itu terlebih dahulu.

Tawaf di dalam Surga.

Kabah yang ada di Mekah, sebenarnya adalah duplikat dari Kabah asli yang berada di dalam Surga. Diriwayatkan di dalam suatu Alhadis, bahwa cara masuk Surganya para jemaah haji ke dalam Surga berbeda dari cara masuk Surganya kaum mukmin lainnya. Caranya yaitu bahwa mereka para jemaah haji itu berjalan masuk Surga, sedang mereka menandu Kabah Dunia di pundak mereka, mereka menandunya bersama-sama. Jadi, Kabah Dunia (yaitu yang ada di Mekah) Allah Swt letakkan di atas para-para (atau semacam tandu raksasa). Dan para-para itulah yang ditandu bersama-sama oleh para calon Surgawan yang berlatar belakang jemaah haji mabrur.

Mereka menandu para-para Kabah Dunia (yaitu Kabah duplikat) itu di atas pundak mereka masuk ke dalam Surga. Dan sesampainya di dalam Surga maka Kabah Dunia itu akan disandingkan di sisi Kabah asli, yaitu Kabah yang selamanya selalu berada di dalam Surga. Jadi kelak di dalam Surga itu akan ada dua Kabah, yaitu Kabah asli dan Kabah duplikat, yang sekarang berada di Mekah. Suatu Alhadis menyebutkan bahwa Kabah di Mekah merupakan satu-satunya hal di Dunia ini yang tidak akan hancur pada saat kiamat. Kabah di Mekah itu akan diselamatkan Allah Swt pada hari kiamat dari kehancuran. Mengapa? Karena Kabah Mekah ini akan disandingkan dengan Kabah asli di dalam Surga.

Kembali ke Adam. Kalau Adam ingin bertemu dan ber-audiensi dengan Allah di dalam Surga, maka Adam akan mengelilingi (dengan kata lain, thawaf) Kabah asli yang ada di dalam Surga sebanyak 7 kali. Kalau Adam sudah mengelilingi Kabah asli itu tujuh kali, maka niscaya Allah akan menampakkan diri untuk Adam.

Singkat kata, Kabah Surgawi merupakan kunci bagi Adam untuk dapat bertemu dan bertatap muka dengan Allah. Kalau begitu, maka dapat dikatakan bahwa Kabah Surgawi adalah wajah Allah, karena kalau Adam ingin melihat Allah maka Adam harus mentawafi Kabah terlebih dahulu.

Ketika Adam (dan juga siti hawa) terdampar di bumi, Adam mulai merasa bahwa ia tidak lagi dapat melihat Allah. Tentunya hal ini membuat Adam bersedih.

Adam terus menangis karena kesedihannya berpisah dari Allah Swt. Akhirnya Allah merespon tangisan Adam. Allah faham bahwa Adam menangis karena Adam tidak lagi dapat bertemu muka dengan Allah, dan kalau Adam sudah bertemu dengan Allah seperti halnya ketika di Surga, maka Adam akan dapat berhenti dari tangisannya. Jika Adam ingin bertemu dengan Allah lagi, maka Allah memerintahkan Adam untuk membangun suatu bangunan yang mirip di Surga yaitu Kabah dan kemudian mentawafinya, tepat seperti di dalam Surga.

Adam pun menaruh harap yang amat besar bahwa ia akan kembali dapat bertemu dengan Allah. Adam pun segera bangkit berdiri dari kesedihannya untuk membangun Kabah. Namun toh Adam tercenung, hendak dibangun di manakah Kabah itu? Bukankah bumi ini terlalu luas?

Allah berfirman bahwa Allah akan melontarkan batu dari Surga menuju tempat Adam berdiri. Allah berkata, bahwa di mana kelak batu itu mendarat, maka di sanalah Adam akan membangun Kabah.

Adam faham maksud dari titah Allah tersebut. Sejurus kemudian Adam memandang ke langit dan tampaklah sebutir batu terang benderang melesat di langit membelah angkasa, dan itulah batu Surga yang dimaksud oleh Allah, berupa batu penunjuk Adam untuk menentukan di mana Kabah duplikat akan dibangun.

Batu itu berwarna putih, lebih putih dari susu, dan bersinar terang. Tempat di mana batu itu berada akan menjadi tempat Adam akan membangun Kabah.

Bagaimana sikap Adam terhadap batu itu yang kelak disebut dengan Hajarel Aswad? Tentu saja Adam begitu gembira, seperti seorang bocah yang mendapati sereceh uang karena sereceh uang itulah yang akan membawanya ke warung untuk membeli permen kesukaannya! Adam menciumi batu tersebut! Menciuminya berkali-kali, karena batu itulah yang akan membuat Adam kembali dapat bertemu muka dengan Allah.

Urut-urutannya,

Batu Surga > tempat membangun Kabah > Kabah > tawaf > bertemu dengan Allah.

Jadi, batu Surga itu akan menjadi langkah awal bagi Adam untuk dapat bertemu kembali dengan Allah. Maka tidak dapat tepermanai betapa Adam sangat bersuka cita dengan batu tersebut sehingga menciumi batu tersebut berkali-kali.

Adam akhirnya membangun Kabah di tempat batu Surga itu mendarat. Dan setelah selesai Kabah dibangun, Adam meletakkan batu Surga itu di sisi Kabah.

Itulah awal mula mengapa Muslim menciumi Hajarel Aswad yang berada di sisi Kabah.

Urut-urutannya,

Muslim menciumi Hajarel Aswad > Muhammad menciumi Hajarel Aswad > Adam menciumi Hajarel Aswad > Hajarel Aswad penunjuk tempat Kabah > Kabah adalah kunci untuk bertemu dengan Allah.

Melambai-lambaikan tangan ke Hajarel Aswad

Setiap jemaah haji mau pun umrah, mengusahakan untuk dapat menyentuh apalagi menciumi Hajarel Aswad ini. Namun kalau keadaan tidak memungkinkan misalnya karena terlalu jauh, maka jemaah cukup dengan melambaikan tangan saja ke arah Hajarel Aswad. Mengapa demikian?

Kisahnya kembali ke Adam. Ketika Adam melihat ke langit dan tampaklah batu Surga melesat di langit sedang dilontarkan Allah, Adam pun segera berlari mengikuti batu tersebut, keadaannya / pemandangannya tepat seperti anak kecil yang sedang mengejar layangan putus. Adam terus berlari mengejar sang batu yang masih melesat. Ketika berlari itulah, Adam terus melambai-lambaikan tangannya ke arah sang batu seolah ingin memanggil sang batu supaya jangan jatuh jauh-jauh.

Dari kisah inilah berasalnya seremoni jemaah haji melambai-lambaikan tangannya ke Hajarel Aswad kalau mereka terlalu jauh dari Hajarel Aswad sehingga tidak dapat menciuminya.

Semua kisah yang dilalui Adam bersama Tuhan, diwariskan kepada seluruh umat Tuhan, yaitu kaum Muslim, mulai dari haji, umrah, menciumi Hajarel Aswad, tawaf Kabah, dan lain lain. Kisah Ibrahim pun juga diwariskan kepada seluruh umat Tuhan yaitu Muslim, seperti melontar jumrah, meminum air Zamzam, menyembelih hewan qurban, sai dan lain lain.

Di dalam kekristenan, tidak ada yang diwariskan Nabi Adam mau pun Nabi lainnya kepada umat manusia, selain Adam mewariskan dosa. Tidak ada kebaikan yang diwariskan para Nabi untuk umat manusia, kecuali kejahatan yaitu dosa yang disebut DOSA WARIS. Bejatnya Kristen.

7 Responses

  1. Dasar otak udang…..
    Lu klo uda yakin ma agama lu, yauda jalani saja
    Emangnya lu siapa, uda kayak manusia pertama aja yg menyaksikan dari awal manusia ada sampai skarang!
    Ckckckckckckckk……….
    Lu ngerasa kitab lu paling benar, agama lain pasti uda pasti gtu, mereka jg uda pasti memegang teguh keyakinan mereka, dasar bego’ amat se lu!
    Lu mau jelasin bagaimana pun to jg cuma di kitab lu, dan pemahaman lu! Mending lu skarang mati aja syukur-syukur masuk surga n ketemu Allah trus lu minta izin Allah balik ke bumi meluruskan keyakinan n kitab didunia ini!
    Lagian lu siapa se, “lu kaga ada hak Menghakimi keyakinan orang lain, lom tentu keyakinan lu yang benar, tahu-tahunya paling salah lg”
    Goblok….. Goblokk…..
    Uda dulu goblok……
    ===============

    Islamthis,
    hhhhhhhhhhh hhhhhhhhh …….

    dasar karosetan!

  2. inilah salah satu peninggalan penyembahan berhala yg masihdi junjung org muslim(mistis) ALLAH ITU MAHA…
    KABBAH, LEMPAR JUMROH, BATU HITAM/ ajar aswad adalah ritual penyembawan berhala…

    • Tuhan kami jelas bung, “Dan tidak ada sesuatu pun yang serupa / setara dengan Dia” (Al Ikhlas 112 :4). Jadi kabah dan hajar aswad hanyalah benda/bangunan yang dihormati dan dijadikan kiblat, seperti umat Kristen menghormati salib dan gereja. Bagaimana dengan tuhan anda Yesus yang dijadikan patung lalu disembah dan dijadikan media berdoa. Padahal dalam 10 Perintah Allah jelas-jelas dilarang membuat patung (baca Perjanjian Lama) ?? Bukankah itu jelas2 pengaruh penyembah berhala ??

  3. ya dari pada elu… menyembah tuhan telanjang… wk wk wk….

  4. Ingatlah kata-kata Khalifah Umar bin Al-Khattab apabila beliau mencium batu itu (Hajar Aswad) : “Aku tahu, sesungguhnya engkau hanyalah batu biasa. Andaikan aku tidak melihat Rasulullah S.A.W menciummu, sudah tentu aku tidak akan melakukan (mencium Hajar Aswad).”

    Perlu diketahui bahwa mencium Batu Hajar Aswad statusnya BUKAN IBADAH WAJIB, itu hanyalah SUNNAH.

    tradisi mencium batu hajar aswad nabi Ibrahim diteruskan oleh nabi Ismail hingga Rasulullah SAW, Beliau2 mencium bukan sbagai benda keramat apalagi menuhankannya.

  5. kwkwkwkkwkwkw allah swt adalah berhala hajar aswad itulah
    ===========

    Islamthis,
    wkwkwkwkwkwk kalo ga punya otak utk dpt memahami artikel orang, ya sudah ga usah komen ….

    hahahahahaa …..

  6. Bukankah yang membangun ka’bah itu Nabi ibrahim dan nabi ismail,karna siti Hajar dan Nabi Ismail yg pertama Tinggal Didaerah Arab,Tradisi melempar jumrah bukan melambai lambaikan tangan,tetapi ketika Nabi Ibrahim haji Ia diganggu syetan dan melempar syetan dengan tujuh kerikil,kalo cerita atau bikin blog yg benar bro,bisa sesat orang gak faham,atau blog ini sengaja untuk penyesatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: