Menggugat Tradisi Menciumi Salib

Menggugat Tradisi Menciumi Salib

Apologetik Penghormatan / Mencium Salib

Penghormatan Salib (dengan mencium), atau berlutut merupakan Tradisi di Gereja Katolik, seni religius Katolik berupa benda 2 dimensi (seni lukis / mosaic) maupun 3 dimensi (seni pahat / patung). Perlu diingat bahwa Gereja Katolik berpegang pada Alkitab (Canon Alexandria, yang berisi 46 PL dan 27 PB ) dan Tradisi (para rasul dan para bapa Gereja). Gereja Orthodox, juga sama, mereka berpegang pada Alkitab (Canon Alexandria, berisi 46 PL dan 27 PB) dan Tradisi (para rasul dan para bapa Gereja).

Gereja Orthodox mengenal “penghormatan” IKON, yang berupa lukisan, sulaman, mosaic atau relief ukiran.

Mengapa kedua Gereja ini (Katolik dan Orthodox) berpegang pada hal yang sama?

Karena memang berawal dan bersumber SATU. Mengapa mereka berdua berpegang pada alkitab dan Tradisi? Karena berdasarkan fakta sejarah Tradisi sudah ada, sebelum Alkitab ditulis; Gereja sudah ada (sejak saat Yesus menunjuk Petrus) sebelum para rasul menulis Injil atau berkeliling yang menghasilkan Kisah Para Rasul dan Surat-surat.

Seperti yang pernah saya tuliskan, pada masa Abraham belum ada kitab apa-apa Juga masa Nuh, Musa; setelah Musa baru ada Taurat Musa (Pentateukh, 5 kitab Torah Moshe).

Pada masa Yesus, belum ada satupun “Kitab Perjanjian Baru”; yang ada tulisan-tulisan terpisah (Nebiim, Pesahim dan Tehillim) juga Talmud.

Perjanjian baru ditulis kira-kira dari tahun 50M sampai 90M, jadi sebelum itu dan di masa itu para rasul dan ketujuh-puluh murid berpegang pada Tradisi lisan “dari guru kepada muridnya”. Para rasul dan murid-murid selama itu berkotbah dan mengajar tanpa Alkitab!

Bagaimana bentuk cikal bakal Alkitab?

Tulisan panjang dengan nomor (ayat?) tanpa pasal, dan surat-surat (yang tentu saja tanpa nomor pasal dan ayat). Penyusunan secara sitematis bagian Perjanjian Lama, dipilah kitab-kitab, dibagi dalam perikop, diberi nomor pasal dan ayat; baru dilakukan pada masa Ptolemaios II Philadelphos (285 – 246 SM), yang memerintahkan 70 orang ahli kitab Yahudi (yang “menurut tradisi” dipilih 6 orang dari setiap suku Israel yang berjumlah 12) menyalin dalam susunan yang rapi (Septuagint).

Kisah Yesus dan ajaranNya, perjalanan dan korespondensi para rasul serta pandangan apokaliptik Yohanes dituangkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Pengajaran, teladan, nasihat dan tatanan / aturan dari para rasul, ketujuh-puluh murid dan para bapa Gereja, itulah yang menjadi Tradisi Gereja. Dari tiga hal: Tradisi, Gereja dan Alkitab; justru Alkitab yang termuda usianya. (Alkitab Katolik & Orthodox th 405M, Alkitab Protestan pada abad 16).

Di bawah ini adalah kutipan penjelasan resmi dari Gereja Orthodox mengenai “penghormatan” (Veneration) kepada orang suci yang disimbolkan / ditampilkan dalam bentuk Ikon. Isinya tidak jauh berbeda dengan sudut pandang Gereja Katolik. Bukan kayu atau catnya yang disembah, juga bukan salib / ikon itu; tetapi orang yang digambarkan / dipahatkan di situ. (relative veneration). Penghormatan (Veneration, Dulia, proskynesis) berbeda dengan Penyembahan (Worship, Latria, Latreia),

An icon, it is true, is made of wood and paint, but it is only a symbol. Further, it is neither an object of absolute veneration nor of worship. On the contrary, icons are only relatively venerated, for the true object of veneration is ultimately the person depicted in the icon, not the image itself. Moreover, a clear distinction is to be drawn between veneration (proskynesis), with which the icons should be honored, and worship (latreia), which belongs to God alone.

Sebuah ikon, benarlah, terbuat dari kayu dan cat, tetapi itu hanyalah simbol. Lebih lanjut, itu bukan sebuah oblek “penghormatan mutlak” ataupun penyembahan. Sebaliknya, ikon-ikon hanya dihormati secara relatif, karena obyek penghormatan sesungguhnya adalah seseorang yang terlukis pada ikon, bukan lukisan itu sendiri. Lebih lanjut, harus dipaparkan suatu perbedaan yang jelas antara penghormatan (veneration, proskynesis), dengan mana ikon sepatutnya dihormati, dan penyembahan (worship, latreia), yang hanya bagi Allah.

In sum, it was altogether unlawful to worship icons, for God alone is worshipped and adored; they could and should, however, be venerated. This insistence that icons should be honored brings us to the Church’s second crucial argument – the christological. This argument maintains that a pictorial representation of the Lord or of the saints is entirely permissible and, in fact, necessary because of the incarnation.

Dalam garis besar, secara keseluruhan menyembah ikon adalah suatu yang terlarang, penyembahan dan adorasi hanya untuk Allah; tetapi mereka (ikon-ikon) bisa dan semestinya, setidaknya, dihormati. Tujuan ini bahwa ikon semestinya dihormati membawa kita pada argumen krusial Gereja yang kedua – secara kristologis. Argumen ini menunjukkan bahwa suatu representasi gambaran dari Tuhan atau para kudus seluruhnya diperkenankan, dan faktanya, perlu karena perwujudan itu (dengan menjadi manusia).

That is to say, the son of God can be depicted pictorially precisely because he became visible and describable by taking on our flesh and becoming man. Any repudiation of the Lord’s icon is tantamount to a denial of the incarnation. Fittingly enough, the defeat of iconoclasm is celebrated annually by the Orthodox Church on the first Sunday of Lent. This “Feast of Orthodoxy” commemorates the final restoration of images (11 March, 843).

Ini untuk mengatakan, Putera Allah dapat digambarkan dengan tepat karena Dia menjadi nampak dan tergambarkan dengan mengambil kedagingan kita dan menjadi manusia. Setiap penolakan terhadap gambaran (ikon) Tuhan sama saja dengan penyangkalan perwujudan (Tuhan menjadi manusia). kekalahan ikonoklasme dirayakan setiap tahun oleh Gereja Orthodox pada hari Minggu pertama Prapaska. “Pesta Ke-ortodox-an” ini memperingati restorasi akhir gambar-gambar (11 Maret 843).

Semoga dapat membuat kita lebih mengerti dan menghargai Tradisi, dan bisa memahami beda penghormatan dan penyembahan. Dalam kehidupan sekular, semisal kita (maaf) mengencingi foto presiden atau raja, maka kita akan dikenai tuduhan “penghinaan”. Alkitab di Indonesia adalah cetakan LAI, cetakan manusia dan hasil karya manusia (demikian juga dengan kitab suci agama lain), tetapi perbuatan tak sepatutnya terhadap “buku suci” disebut Sacrilegia dan dianggap sebagai “penghinaan” atau “pelecehan” terhadap suatu agama. Yang kita lakukan pada fotonya, bukan orangnya; tetapi nyata bahwa gambar (image) merupakan simbol atau ‘perwakilan’ dari orangnya. Kita bisa memberi hormat (ala militer?) kepada bendera nasional, membungkukkan badan atau cium tangan (kepada manusia yang kita hormati) atau menghormati ‘image’nya dalam tatanan bermasyarakat dan bernegara. Kalau kita melayat orang meninggal, dengan berbagai cara sesuai budaya, ada ‘penghormatan terakhir’ kepada seseorang (yang faktanya sudah jadi mayat). Adakah yang aneh atau janggal menghormati Yesus, para kudus, rasul-rasul dalam bentuk ‘simbolik’ juga, yang notabene “pendiri” dan “pengembang” agama Kristen? Yang perlu diingat adalah bahwa tanpa mereka, terutama Yesus, tidak ada Kristen!

Access from,

http://www.imankatolik.or.id/Apologetik-Penghormatan-Salib-Mencium-Salib.html

Access date – 23 Agustus 2013.

——————————

Islamthis,

Apa yang diungkapkan oleh seluruh orang Kristen, khususnya orang Kristen yang menulis artikel ini, menyibakkan kesalahan di dalam berfikir. Dan menyedihkan sekali bahwa kesalahan itu tampaknya kentara sehingga tidak dapat dijadikan apologetik (pembelaan) bagi maksud semula mereka yaitu di dalam hal pemberhalaan salib atau sejenisnya.

Pertama.

Di dalam artikel ini, orang Kristen melewatkan tradisi Gereja ‘eksorsisme’ yaitu upacara usir Setan. Di dalam tradisi tersebut, rohaniawan Gereja mengulur-ulurkan salib (baik yang ber-arca atau tidak) ke arah pasien yang kesetanan dengan harapan bahwa Setan yang ada di dalam tubuh pasien akan keluar karena ketakutan pada Salib tersebut.

Hal ini menunjukkan apa? Hal ini menunjukkan bahwa Salib oleh Gereja DIANGGAP mempunyai tuah, atau berkah, atau mukjizat untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan atau diharapkan. Sebenarnya inilah yang menjadi definisi dasar dari kata ‘berhala’.

Jadi di dalam tradisi eksorsisme ini, Gereja sebenarnya mengadopsi keberhalaan, dan Salib itu adalah BERHALA-nya. Singkat kata, Gereja memang menyembah berhala.

Mengapa orang Kristen di dalam artikel di atas melewatkan eksorsisme? Kalau eksorsisme benar-benar merupakan bukti bahwa Kristen mengadopsi berhala, maka sepatutnya orang Kristen mulai meninggalkan agama tersebut: karena terbukti sesat dan sataniyah.

Kedua.

Orang Kristen, tidak dapat dihindari, bertumpu pada 10 Perintah Tuhan, yang salah satu point-nya adalah …

A –Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

B –Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

Pada 10 perintah Tuhan itu jelas bahwa orang Kristen dilarang untuk membuat patung yang menyerupai mahluk hidup apapun, apakah hewan, tumbuhan mau pun manusia, apalagi. Namun kenyataannya, orang Kristen (baik Katholik mau pun Orthodox) TERANG-TERANGAN membuat patung yang menyerupai manusia yaitu Jesus, Bunda Maria, para kudus dan juga para Rasul, termasuk para Malaikat Tuhan dan bayi-bayi bersayap.

Point A menjelaskan larangan Tuhan atas pembuatan patung-patung bagi seluruh umat Tuhan. Kebalikannya, Gereja telah membuat patung-patung tersebut untuk tujuan penghormatan di dalam keagamaan. Mengapa demikian? Mengapa orang Kristen di dalam artikel di atas melewatkan ayat-ayat yang ada di dalam 10 Perintah Tuhan? Kalau lah orang Kristen sadar sesadar-sadarnya akan keberadaan ayat 10 Perintah Tuhan ini, pastilah seluruh orang Kristen akan urung membuat artikel apologetik ini.

Dengan kenyataan seperti ini, sudah sepatutnya orang Kristen meninggalkan agama tersebut karena terbukti sesat.

Pada point B, jelas-jelas disebutkan JANGAN SUJUD MENYEMBAH KEPADANYA ATAU ‘BERIBADAH KEPADANYA’. Penekanannya di sini adalah JANGAN BERIBADAH kepadanya.

Jadi, kalau pun orang Kristen berdalih, bahwa apa yang mereka lakukan kepada patung-patung Gerejawi hanya sebatas penghormatan, bukan menyembah, maka 10 Perintah Tuhan sudah mengcounternya dengan frase ‘jangan beribadah kepadanya’. Jadi, baik ‘penyembahan’ dan juga ‘penghormatan’ terhadap patung-patung tersebut  tetap dilarang oleh Tuhan Alkitab, karena penghormatan mereka kepada benda-benda tersebut mereka jadikan sebagai ibadah. Singkatnya, ibadah apapun yang menggunakan patung-patung tersebut adalah TERLARANG menurut 10 Perintah Tuhan yang agung ini.

Namun faktanya, orang Kristen menggunakan aneka patung Gerejawi ini untuk beribadah yaitu (yang kata mereka hanya) memberikan penghormatan, yang sebenarnya jelas-jelas sudah dilarang oleh Tuhan. Kita umat Muslim melihat ada PERLAWANAN YANG AMAT DURHAKA dari orang Kristen terhadap Tuhan mereka; itu pun mereka perkuat perlawanan mereka dengan mengedepankan berbagai dalih dan excuse yang murahan. Dengan kenyataan ini, sudah sepatutnya seluruh orang Kristen meninggalkan agama mereka: karena sudah terbukti sesat dan keji.

Ketiga.

Di dalam artikel di atas, orang Kristen berdalil bahwa hubungan mereka dengan patung-patung Gerejawi itu berdasarkan pada ‘tradisi’. Dengan kata lain, hubungan mereka dengan patung-patung tersebut bukanlah berdasarkan pada nash-nash Alkitab yang jelas-jelas merupakan firman Tuhan.

Tradisi? Mengapa tradisi mereka jadikan dasar dan sandaran untuk melakukan sesuatu – khususnya di dalam hal keagamaan dan ukhrawi? Bukankah seharusnya mereka mendasarkan amal ibadah mereka pada firman Tuhan dan ajaran para Nabi-Nya?

Dan dari manakah mereka mendapatkan tradisi itu? Dari pada kaum pagankah? Dari pada pendosakah? Dari para penentang Tuhankah? Atau apakah orang Kristen mempunyai dalil bahwa tradisi itu mereka ambil dan berasal dari para Nabi dan Rasul Tuhan pada masa pra Perjanjian-baru?

Mendasarkan amal ibadah mereka kepada tradisi, dan bukan kepada ayat-ayat Tuhan, merupakan kesalahan yang paling fatal yang hidup di dalam kekristenan. Dan kenyataan bahwa Kristen mendasarkan amal ibadah mereka pada tradisi hanya membuat agama Kristen menjadi main-mainan dari umat yang suka memperolok-olokkan agama. Kalau lah orang Kristen awal menganggap iman mereka kepada Tuhan sebagai sesuatu yang serius, pastilah mereka akan berhati-hati terhadap banyaknya tradisi-tradisi yang berseliweran tersebut, dengan prinsip bahwa, jauh lebih baik ayat Tuhan dan ajaran Almasih daripada tradisi-tradisi yang tidak jelas asal muasalnya itu. Namun kebalikannya, justru tidak lah demikian. Orang Kristen-awal lebih suka mengambil dan mengadopsi tradisi kebudayaan tertentu untuk dimasukkan ke dalam agama Kristen, dan itu menandakan bahwa mereka (orang Kristen-awal) tidaklah menganggap iman mereka kepada Tuhan sebagai sesuatu yang serius: mereka hanya menjadikan agama mereka sebagai bahan olok-olok dan permainan belaka.

Penutup

Artikel kekristenan di atas yang dipaparkan oleh orang Kristen untuk membela perbuatan mereka yang menciumi patung-patung sembahan, sama sekali tidak dapat menjadi pembenaran atas perbuatan paganistik mereka. Sekali pagan tetap saja pagan: mereka orang Kristen adalah kaum penyembah berhala, dan itu jelas.

Sudah jelas mereka menghormati 10 Perintah Tuhan yang melarang mereka membuat patung untuk tujuan apapun, apalagi untuk tujuan beribadah, namun tetap saja mereka membuat patung-patung dan pun kemudian mereka jadikan sesembahan mereka. Tepat sekali firman Allah di dalam Alquran yang melukiskan perbuatan mereka di dalam hal menentang ajaran agama mereka sendiri (di dalam hal ini 10 Perintah Tuhan),

Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 257)

Wallahu alam bishawab.

6 Responses

  1. bwahahahaahahaaha asli ngakak…. Hadoooh sampe sakit perut bacanya, keren bgt nih cerita nya bwahahahaha… besok bikin lagi dong om, lumayan nih biar ngga galau aku nyaaa

  2. Mari kita kupas;
    Karena anda mengambil artikel dari sudut pandang Katolik, maka saya akan mencoba untuk mengupas dari sudut pandang Katolik.

    1. Eksorsisme. Apakah menurut anda orang Katolik melakukan eksorsisme dengan kuasa benda berbentuk salib yang kemudian dianggap sebagai berhala? Apa dasar tuduhan anda? Film “The Exorcist” tahun 1973?

    2. Anda menyebut 10 perintah Allah sebagai dasar tuduhan. Katolik memakai penomoran St. Agustinus dan protestan memakai penomoran Origen. Standar yang mana yang akan anda pakai? Karena akan berbeda jawabannya.
    Menurut anda, mengapa Tuhan menyuruh Musa untuk membuat tabut perjanjian, dengan membuat patung malaikat (kerub) untuk diletakkan di atas tutupnya? (Keluaran 37).
    Jika anda mencium foto pacar anda, apakah anda mempunyai maksud mencium selembar kertas foto? Jika saya kencing di foto ibu anda, apakah anda marah? Kenapa? Saya toh hanya kencing diatas selembar kertas foto.

    3. Sayang sekali, sekali lagi anda tidak menyertakan dasar atau bukti yang kuat atas dasar tuduhan anda.

    Dasar Kitab Suci

    Bil 21:8-9; Yoh 3:14: Dulia relatif: Allah memerintahkan Musa untuk membuat patung ular tembaga di sebuah tiang, yang menjadi gambaran Yesus yang ditinggikan di kayu salib
    Kel 20 3-5: Larangan membuat patung untuk disembah sebagai allah lain
    Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35, 7:23-26: Allah memerintahkan pembuatan patung kerub yang diletakkan di atas tabut perjanjian.
    Yos 7:6: Yosua sujud sampai ke tanah di hadapan tabut perjanjian.
    1 Raj 8:54; 1 Raj 9:3: Raja Salomo berlutut di hadapan mezbah di bait Allah, dan Allah berkenan menerima penghormatan Raja Salomo.
    Yeh 41:17-18: ukiran gambar- gambar kerub/ malaikat dan pohon- pohon korma di ruang Bait Suci.

    Dasar Tradisi Suci

    Tertullian (160-220): “Adalah cukup bahwa Tuhan yang sama, sebagaimana dengan hukum melarang pembuatan patung yang menyerupai apapun, juga dengan perintah yang khusus, seperti dalam kasus ular tembaga [jaman Nabi Musa], memerintahkan untuk membuat patung [yang menyerupai ular].” (Tertullian, On Idolatry, chapt. 5)
    St. Basilius Agung (330-379): “Penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar mengacu kepada tokoh yang digambarkannya” (St. Basilius, De Spiritu Sancto. 18,45).
    St. Ambrosius (397) menuliskan dalam suratnya bahwa suatu malam Rasul Paulus menampakkan diri kepadanya, dan St. Ambrosius mengenali Rasul Paulus dari kemiripan dengan gambar/ lukisan tentangnya (Ep. ii, in P.L., XVII, 821).
    St. Agustinus (wafat 430) menyebutkan beberapa kali tentang lukisan Tuhan Yesus dan para orang kudus di gereja- gereja (lih. St. Agustinus, “De cons. Evang.”, x, in P.L., XXXIV, 1049; “Contra Faust. Man.”, xxii, 73, in P.L., XLII, 446); ia mengatakan bahwa beberapa orang bahkan menghormati lukisan- lukisan tersebut (“De mor. eccl. cath.“, xxxiv, P.L., XXXII, 1342).
    St. Hieronimus- (wafat 420) menulis tentang gambar- gambar lukisan para Rasul dan ornamen- ornamen yang ada dalam gedung- gedung gereja.
    St. Gregorius Agung (wafat 604). Ia menulis kepada Serenus dari Marseilles, Uskup Ikonoklas, yang telah merusak gambar-gambar di keuskupannya: “Bukannya tanpa alasan bahwa jemaat purba memperbolehkan kisah- kisah para kudus untuk dilukiskan di tempat- tempat kudus. Dan kami sungguh memuji anda sebab anda tidak memperbolehkan lukisan- lukisan itu untuk disembah, tetapi kami menyalahkan anda karena anda telah merusaknya. Sebab adalah satu hal tentang menyembah sebuah gambar, namun adalah hal lain tentang mempelajari dari apa yang nampak di gambar itu, tentang apa yang harus kita sembah. Apa yang ada di buku adalah untuk mereka yang dapat membaca, seperti halnya gambar bagi mereka yang tidak dapat membaca yang memandangnya; melalui gambar, bahkan mereka yang tidak terpelajar dapat melihat tentang contoh yang harus mereka ikuti; melalui gambar, mereka yang buta huruf dapat membaca…. (Ep. ix, 105, in P.L., LXXVII, 1027)
    Catatan: Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang di dunia pada saat itu tidak dapat membaca.

    Penutup
    KGK 2132 Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea 11: DS 601, Bdk.Konsili Trente: DS 1821-1825; SC 126; LG 67). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu “penghormatan yang khidmat”, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.
    ====================

    Islamthis,

    1. Eksorsisme. Apakah menurut anda orang Katolik melakukan eksorsisme dengan kuasa benda berbentuk salib yang kemudian dianggap sebagai berhala? Apa dasar tuduhan anda? Film “The Exorcist” tahun 1973?

    Dasarnya adalah logika, logika semata. Kalau ada ibadat yang menggunakan patung dan patung itu diharapkan dapat membuat mukjizat atau berkat atau tuah, maka itu namanya berhala. Itu sudah jelas.

    2. Anda menyebut 10 perintah Allah sebagai dasar tuduhan. Katolik memakai penomoran St. Agustinus dan protestan memakai penomoran Origen. Standar yang mana yang akan anda pakai? Karena akan berbeda jawabannya.

    Tidak ada masalah dengan penomoran. Itu tidak substansial.

    Menurut anda, mengapa Tuhan menyuruh Musa untuk membuat tabut perjanjian, dengan membuat patung malaikat (kerub) untuk diletakkan di atas tutupnya? (Keluaran 37).

    Anda yakin dari mana bahwa Tuhan perintahkan musa untuk membuat patung sebagai tutupan tabut? Di dalam Islam informasi itu tidak ada, yang artinya Allah tidak pernah titahkan musa untuk berbuat demikian. Di dalam Islam, tabut hanya peti biasa yang di dalamnya terdapat perabotan keluarga musa.

    Jika anda mencium foto pacar anda, apakah anda mempunyai maksud mencium selembar kertas foto? Jika saya kencing di foto ibu anda, apakah anda marah? Kenapa? Saya toh hanya kencing diatas selembar kertas foto.

    Kalau saya ciumi foto pacar, atau orang kencingi foto saya, apakah itu dilakukan sebagai suatu ibadah? Apakah perbuatan biasa HARUS DIJADIKAN DASAR dari suatu ibadah? Mengapa analisa Anda dangkal sekali? Yang jelas, agama (di dalam hal ini Islam) tidak pernah perintahkan umatnya untuk ciumi foto apapun. Juga tidak pernah ajarkan untuk kencingi benda apapun sebagai bentuk kebencian.

    3. Sayang sekali, sekali lagi anda tidak menyertakan dasar atau bukti yang kuat atas dasar tuduhan anda.

    Dasar Kitab Suci

    Bil 21:8-9; Yoh 3:14: Dulia relatif: Allah memerintahkan Musa untuk membuat patung ular tembaga di sebuah tiang, yang menjadi gambaran Yesus yang ditinggikan di kayu salib
    Kel 20 3-5: Larangan membuat patung untuk disembah sebagai allah lain
    Kel 25:1,18-20; 1Taw 28:18-19; 1Raj 6:23-35, 7:23-26: Allah memerintahkan pembuatan patung kerub yang diletakkan di atas tabut perjanjian.
    Yos 7:6: Yosua sujud sampai ke tanah di hadapan tabut perjanjian.
    1 Raj 8:54; 1 Raj 9:3: Raja Salomo berlutut di hadapan mezbah di bait Allah, dan Allah berkenan menerima penghormatan Raja Salomo.
    Yeh 41:17-18: ukiran gambar- gambar kerub/ malaikat dan pohon- pohon korma di ruang Bait Suci.

    Well, kalau begitu Alkitab PENUH DENGAN KONTRADIKSI …… begitu saja ya.

    Alih-alih penjelasan Anda ini menjadi pembenaran, justru malah semakin menunjukkan ke-SEMRAWUTAN agama Anda. Bagaimana mungkin, di satu pihak ada larangan Tuhan untuk membuat patung untuk tujuan ibadah, namun di bagian lain ada perintah untuk membuat patung sebagai bagian dari ibadah? Tidak kah itu konyol?

    Dasar Tradisi Suci

    Tertullian (160-220): “Adalah cukup bahwa Tuhan yang sama, sebagaimana dengan hukum melarang pembuatan patung yang menyerupai apapun, juga dengan perintah yang khusus, seperti dalam kasus ular tembaga [jaman Nabi Musa], memerintahkan untuk membuat patung [yang menyerupai ular].” (Tertullian, On Idolatry, chapt. 5)
    St. Basilius Agung (330-379): “Penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar mengacu kepada tokoh yang digambarkannya” (St. Basilius, De Spiritu Sancto. 18,45).
    St. Ambrosius (397) menuliskan dalam suratnya bahwa suatu malam Rasul Paulus menampakkan diri kepadanya, dan St. Ambrosius mengenali Rasul Paulus dari kemiripan dengan gambar/ lukisan tentangnya (Ep. ii, in P.L., XVII, 821).
    St. Agustinus (wafat 430) menyebutkan beberapa kali tentang lukisan Tuhan Yesus dan para orang kudus di gereja- gereja (lih. St. Agustinus, “De cons. Evang.”, x, in P.L., XXXIV, 1049; “Contra Faust. Man.”, xxii, 73, in P.L., XLII, 446); ia mengatakan bahwa beberapa orang bahkan menghormati lukisan- lukisan tersebut (“De mor. eccl. cath.“, xxxiv, P.L., XXXII, 1342).
    St. Hieronimus- (wafat 420) menulis tentang gambar- gambar lukisan para Rasul dan ornamen- ornamen yang ada dalam gedung- gedung gereja.

    Mereka ini siapa? Bejibun Anda sebut nama mereka, namun Anda tidak dapat menunjukkan derajat kesahihan mereka di dalam hal kekristenan, bukan? Yang menjadi acuan kita hanya lah firman Tuhan, baik di dalam Perjanjian-lama mau pun Perjanjian-baru – itu pun dengan beberapa catatan.

    Ambrosius misalnya, apakah dia SETINGGI JESUS atau setinggi ABRAHAM? Apakah tidak ada kemungkinan bahwa orang ini adalah orang yang ingin mengacaukan ajaran Tuhan yang diturunkan atas Almasih? Kalau Anda katakan bahwa ambrosius tidak punya niat untuk mengacaukan atau memelintir ajaran Almasih, maka apakah dasar Anda?

    Kalau ambrosius Anda anggap suci, maka buat apa ada kitabsuci? Ambrosius saja sudah cukup, bukan?

    St. Gregorius Agung (wafat 604). Ia menulis kepada Serenus dari Marseilles, Uskup Ikonoklas, yang telah merusak gambar-gambar di keuskupannya: “Bukannya tanpa alasan bahwa jemaat purba memperbolehkan kisah- kisah para kudus untuk dilukiskan di tempat- tempat kudus. Dan kami sungguh memuji anda sebab anda tidak memperbolehkan lukisan- lukisan itu untuk disembah, tetapi kami menyalahkan anda karena anda telah merusaknya. Sebab adalah satu hal tentang menyembah sebuah gambar, namun adalah hal lain tentang mempelajari dari apa yang nampak di gambar itu, tentang apa yang harus kita sembah. Apa yang ada di buku adalah untuk mereka yang dapat membaca, seperti halnya gambar bagi mereka yang tidak dapat membaca yang memandangnya; melalui gambar, bahkan mereka yang tidak terpelajar dapat melihat tentang contoh yang harus mereka ikuti; melalui gambar, mereka yang buta huruf dapat membaca…. (Ep. ix, 105, in P.L., LXXVII, 1027)
    Catatan: Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang di dunia pada saat itu tidak dapat membaca.

    Menyedihkan sekali!

    Harap Anda bandingkan, bahwa di dalam Islam TIDAK ADA MASYARAKAT YANG BUTAHURUF. Sejak Islam muncul, maka butahuruf langsung lenyap seketika. Mengapa? Karena di dalam Alquran ayat pertama adalah iqra yang artinya adalah bacalah. Jadi sejak kecil seorang Muslim sudah pandai baca Alquran – karena mengaji adalah ibadah, maka dari kecil seorang anak harus sudah pandai baca Alquran. Memang itu dulu, sekarang tidak lagi. Sekarang karena campur tangan Pemerintah kolonial penjajah, kemampuan baca Alquran jadi TERPINGGIRKAN, karena setiap anak harus bisa baca huruf latin. Namun itu pun tidak maksimal dan tidak menyeluruh – karena dibeda2kan menurut strata sosialnya.
    Namun intinya, pada abad awal Islam, butahuruf tidak pernah jadi masalah. Tidak seperti di dalam Kristen.

    Harus Anda fahami, bahwa gejala butahuruf massal itu, GEREJA sendirilah yang menciptakannya. Gereja mempunyai program atau pandangan bahwa KEMAMPUAN BACATULIS hanya MONOPOLI kaum Gerejawi, sementara kaum awam TIDAK DIBENARKAN PANDAI BACATULIS. Jadi, kaum awam memang DIBIARKAN oleh Gereja untuk jadi butahuruf.
    Oleh karena itu, alasan Anda tidak dapat dibenarkan di sini, yaitu gambar2 berguna untuk pengajaran bagi mereka yang tidak dapat tulisbaca. Masalah nya adalah, mengapa bisa ada orang yang tidak dapat bacatulis? Seharusnya Gereja mengusahakan pemberantasan butahuruf sejak awal.

    Lagipula, katakanlah ada individu yang butahuruf. Maka bukankah pengajaran dapat diberikan kepada orang itu secara oral? Apa susahnya?

    Penutup
    KGK 2132 Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena “penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius, Spir. 18,45), dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea 11: DS 601, Bdk.Konsili Trente: DS 1821-1825; SC 126; LG 67). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu “penghormatan yang khidmat”, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.

    Penjelasan Anda tidak dapat diterima, tidak baik, tidak logis dan tidak pada tempatnya.

    Penghormatan kita kepada suatu gambar, adalah suatu perbuatan konyol. Maka mengapa tiba-tiba hal itu dijadikan dasar untuk peribadatan? Menghormati orang, punya cara tersendiri, misalnya dengan mengikuti teladannya, atau mendoakannya; bukan dengan cara menciumi fotonya. Itu konyol!

    Kemudian Anda mensitir pernyataan konsili nikea. Mengapa? Apakah konsili nicea itu lebih tinggi dan agung dari perkataan Almasih atau para Nabi lainnya? Jelas sekali konsili nicea telah menyimpangi ajaran tauhid Almasih. Itu saja ude menjelaskan bahwa nicea adalah keji di mata Surgawi.
    Terima kasih.

  3. kl diusut scr mendalam, umat kristen salib, mrk sgt menghormati keagungan salib, salib adalah simbol dari sgl simbol keagungan.

    kafirin-kafirun kristen/katolik menghormati salib sama levelnya seperti orang2 jahiliah yg menghormati al-lata,al-uzza,almanat.

    mematahkan salib merupakan tindakan keji yg sgt dikutuk oleh kafirin-kafirun kristen/katolik.

  4. HAHAHA..kurang kerjaan banget tuh nyiumi salib

    kafir goblok

    lebih baik cium fustun yang bahenol! subhanalalalalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: