Bolehkah Kita Menghakimi

Bolehkah Kita Menghakimi

Sudah jelas bagi kita semua bahwa hanya Allah yang menghakimi manusia mana pun. Arti penghakiman adalah, menentukan / menyatakan salah atau benar kepada seseorang, dan kemudain MENGHUKUM orang tersebut -ATAU- mengampuni-nya.

Pada suatu saat Allah swt telah menurunkan ayat atau keterangan kepada manusia, yang berdasarkan keterangan itu, manusia akan dapat menentukan atau menyatakan salah terhadap siapa pun. Berdasarkan ayat / keterangan yang Allah turunkan, umat manusia diperintahkan untuk menentukan salah terhadap seseorang di dalam perbuatannya. Maka dengan demikian diharapkan setiap manusia dapat hidup sesuai dengan keterangan / ayat tersebut.

Kebalikannya kalau manusia dilarang menentukan / menyatakan benar salah terhadap seseorang, maka buat apa Allah menurunkan ayat dan keterangan kepada umat manusia? Dengan menghakimi manusia lain, maka akan didapat tiga keutamaan:

  • Manusia akan semakin bijak dalam menimbang benar dan salah.
  • Setiap manusia jadi akan (merasa) selalu diawasi dan dinilai oleh sesama sehingga dia akan selalu menjaga kualitas perbuatannya.
  • Setiap Muslim jadi mempunyai sensitivitas (kepekaan) terhadap mutu perbuatan dan perkataan orang lain. Orang yang rohani pastilah mempunyai sensitivitas, dan orang yang tidak rohani (tidak bertakwa alias tidak beragama) pastilah tidak mempunyai sensitivitas sama sekali.

Bayangkan kalau manusia dilarang menghakimi manusia lain. Akibatnya umat manusia tidak akan menjadi bijak dalam menentukan benar salah. Kemudian, manusia pun akan bebas bertindak dan berbuat apa saja tanpa memperdulikan benar salah karena perbuatan mereka tidak akan dinilai dan diawasi oleh manusia lain.

Kisah Rasulullah mengenai menghakimi orang lain.

Suatu saat Muhammad berkata kepada para sahabatnya, “Kalau kamu berada di suatu negeri dan kamu memerintah negeri itu, kemudian kamu harus mengadili di negeri tersebut, maka dengan apa kamu akan mengadilinya?”.

Para sahabat berkata, “kami akan mengadilinya berdasarkan Alquran. Kalau tidak ditemukan dalam Alquran kami akan berdasarkan Alhadis. Kalau tidak ditemukan dalam Alhadis, kami akan berdasarkan ijma. Kalau tidak ditemukan dalam ijma, kami akan berdasarkan qiyas. Dan kalau tidak ditemukan dalam qiyas, kami akan berdasarkan berijtihad”.

Muhammad saw setuju dengan jawaban para sahabatnya itu.

Pada bagian lain, dinukilkan di dalam suatu Alhadis,

Dari Abu Sa’id AlKhudri Ra. berkata: Bersabda Rasulullah Saw: Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu dan jika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman (Dikeluarkan oleh Imam Muslim Rahimahullahu)”.

Kisah ini menandakan, bahwa Allah swt memberi umat Muslim wewenang untuk menghakimi mereka yang bersalah. Jadinya, kalau ada manusia atau muslim yang menghakimi orang lain, maka muslim tersebut tidak salah.

Di dalam Alquran juga ada ayat tentang hukuman untuk pezina yaitu cambukan sebanyak 100 kali. Bukankah ini merupakan tindakan penghakiman manusia atas manusia lainnya? Dan bukankah ini berarti Allah memberi mandat kepada Muslim untuk menghakimi manusia lain?

Di hari akhirat, Allah swt akan menghakimi para hakim dan para penguasa (dan juga individu lainnya secara lebih luas) yang berbuat tidak adil. Artinya, kalau ada penguasa atau para hakim atau siapa pun yang tidak adil dalam memberi keputusan atau penghakiman, maka Allah swt akan menghukumnya.

Ini mengindikasikan bahwa manusia mana saja (dalam hal ini kaum muslim) diberi hak oleh Allah swt untuk menghakimi manusia lain, dan penghakimannya itu kelak akan diadili Allah swt di hari kiamat. Kalau penghakimannya benar dan adil, maka Allah akan memberinya pahala dan Surga. Kebalikannya, kalau penghakimannya salah dan tidak adil, maka orang itu berdosa di mata Allah Swt.

Dengan demikian menghakimi orang lain juga merupakan ibadah, karena penghakiman yang benar akan membawa pahala dan Surga. Di lain pihak, kita pun juga harus siap dan menerima untuk dihakimi saudara kita yang lain. Dan kalau kita menerimanya dengan lapang dada, maka itu pun juga akan bernilai ibadah.

Sebagai perbandingkan, di setiap negara diselenggarakan pengadilan untuk mengadili perkara-perkara warganya. Para hakim duduk menengahi setiap perkara.

Jadi, kalau ada sebagian orang yang berkata bahwa kita tidak boleh menghakimi kesalahan orang lain – karena yang boleh menghakimi hanya Allah swt, maka kemudian mengapa para hakim itu menjadi orang yang diberi tugas untuk menghakimi sesama? Mengapa ada Hakim? Kalau memang benar bahwa kita tidak boleh menghakimi orang lain karena hanya Allah saja yang boleh menghakimi, maka seharusnya para hakim itu dipecat dari jabatannya, dan seharusnya tidak ada pengadilan di negara mana pun di dunia ini buat selama-lamanya. Dan kalau begitu, umat manusia akan hidup di dalam kekacauan karena setiap manusia bebas berbuat apa saja lantaran tidak ada yang akan menghakimi mereka.

Sekali lagi, kalau kita tidak boleh menghakimi orang lain (karena yang boleh menghakimi hanya lah Allah saja), maka seharusnya Allah Swt sendiri yang melarangnya di dalam bentuk ayat Alquran mau pun Alhadis.

Pada dasarnya, tindakan penghakiman sudah menjadi kencendrungan seluruh manusia setiap saat setiap harinya, tanpa disadari, dari dulu sampai sekarang dan sampai kiamat nanti. Oleh karena itu kalau ada orang yang berkata bahwa kita tidak boleh menghakimi orang lain, dan bahwa karena yang boleh menghakimi hanya Allah Swt semata, maka orang itu sedang membuat pernyataan yang bodoh dan absurd, karena pernyataan tersebut tidak ada dasar dan dalilnya sama sekali.

Kesimpulan.

  1. Allah Swt menurunkan ayat-ayat suci-Nya, yang salah satu fungsinya adalah untuk saling menghakimi satu dengan yang lainnya.
  2. Setiap penghakiman manusia itu akan dihakimi pula oleh Allah Swt di hari kiamat.
  3. Hanya dengan saling menghakimilah, maka umat manusia akan hidup sesuai dengan tuntunan Allah Swt.
  4. Menghakimi adalah fitrah manusia. Kalau ada satu manusia menghakimi manusia lain, maka dia tidak salah sama sekali. Yang harus dipersalahkan adalah pada mutu dari penghakimannya (yaitu kalau penghakimannya sembrono dan cenderung penzaliman), bukan pada penghakimannya sendiri.
  5. Karena menghakimi adalah fitrah, maka ini berarti kalau kita menghakimi orang lain, dan penghakimannya adalah benar, maka kita akan berpahala di sisi Allah Swt dan akan mendapatkan Surga sebagai ganjarannya. Amin.

One Response

  1. dakwatuna.com – Siapakah yang berhak menghakimi hati seorang muadzin, di saat suaranya merdu berkumandang?

    Siapakah yang berhak menghakimi hati seorang yang shalat, di saat berdiri penuh ketenangan?

    Siapakah yang berhak menghakimi seorang syuhada, di saat berdiri di tengah pasukan dan tubuh penuh bersimbah darah?

    Siapakah yang berhak menghakimi hati seorang yang memasukkan hartanya ke kotak-kotak sedekah?

    Siapakah yang berhak menghakimi hati orang-orang yang berbuat kebaikan?

    Kadang kala manusia berani sekali berprasangka buruk atas perbuatan orang lain, bahkan memfitnahnya, menjadi hakim atas hati orang lain. Mengatakan “orang itu” hanya cari muka, hanya cari perhatian, berlagak alim, berlagak khusyuk, baca Qur’annya dimerdu-merduin, cuma pamer harta. Padahal diri kita sendiri tidak tahu bagaimana isi hati orang pasti dan sebenar – benarnya tetapi kita sudah tampil sebagai orang yang “Maha Mengetahui”.

    Umar bin Khattab pernah berpesan, jika seorang melakukan sesuatu hakimilah zhahirnya (lahirnya/yang tampak) saja, tetapi jangan kalian hakimi hatinya. Jika seorang muadzin mengumandangkan adzan, misalnya cukuplah kita menghakimi bagaimana suara yang dikeluarkan. Jika merdu baiklah kita mendoakannya, tetapi jika tidak merdu, juga tidak menjadi masalah juga tetaplah kita menyikapi dengan hati yang baik. Janganlah kita hakimi hati “dia” hanya mencari pujian orang dengan suara adzannya. Orang shalat, bisalah kita menghakimi gerakan shalatnya salah atau benar, janganlah kita hakimi “dia” berlagak khusyu` saja biar dilihat orang.

    Sudah seharusnya kita sibuk menghakimi hati diri kita sendiri, karena kita punya pengetahuan akan diri kita sendiri ketimbang kita menghakimi hati orang yang kita tidak Allah berikan kemampuan kepada manusia untuk memiliki pengetahuan akan hal itu. Dia Allah Tuhan yang Maha mengetahui, tidak ada sesuatupun yang terlewatkan dariNya, tidak ada yang tersembunyi, apalagi membohongi diriNya. Dia-lah Allah yang berhak menghakimi hati seseorang, apakah seseorang itu ikhlas atau riya.

    Menghakimi hati seorang hanya menambah pekerjaan yang sia-sia, menambah sesak pikiran, menambah racun dan penyakit hati, dan semua itu menyebabkan jiwa rusak, jika jiwa rusak maka rusaklah perbuatan manusia.

    Menghakimi hati seorang hanya menambah kecurigaan, menambah prasangka, menambah fitnah, dan karena itu semua tambahlah perpecahan di antara umat Islam. Menghakimi hati seseorang hanya menambah kesombongan, membangga-banggakan diri, dan mengambil hak-hak Allah. Kesombongan hanya milik Allah, membangga-banggakan diri hanya milik Allah, sedangkan manusia tidak ada hak setitikpun untuk mengambilnya.

    “Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.” Seorang laki-laki bertanya:”Sesungguhnya ada seseorang yang menyukai supaya bajunya bagus dan sandalnya bagus.” Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Indah, Dia menyukai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.”

    Wallahu a’lam.

    Redaktur: Ardne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: