Ajaran Kasih Atau Ajaran Terorisme

 

Binramelan Bin Kazan Murawi, on July 2, 2011 at 3:03 pm said:

Di dalam Al Qur’an berlaku hukum qishas, yaitu pembunuh hukumnya dibunuh kecuali keluarga terbunuh memaafkan maka pembunuh terbebas hukum qishas. (Surah An Nisaa” ayat 92). Sangkaan dan dugaan yang dilontarkan teman teman KRISTEN bahwa risalah ISLAM mengajarkan perintah pembunuhan terhadap sesama manusia yang dikenal dengan sebutan Terroris adalah salah besar. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh sebagian / oknum Islam yang dicap sebagai terroris bukanlah perintah Al Qur’an.

Jika terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh orang Islam janganlah digeneralisir bahwa agama Islam adalah penebar terjadinya pembunuhan. Harap dicamkan dalam benak semua bahwa perbuatan buruk yang dilakukan di suatu negara maka pelakunya adalah mayoritas manusia pemeluk agama setempat. Di Mexico, Philipina dan Timor Timur yang menjadi pembunuh, pemerkosa, pemabuk, pemadat, pencuri, perampok, penodong, penusuk, penganiaya yang melakukan adalah orang Kristen, bukan ISLAM. Di Italia yang menjadi gembong gembong mafia / penjahat kelas dunia semuanya orang yang beragama KRISTEN. Bandar bandar besar berkelas internasional narkoba / dadah /obat bius di Colombia semuanya orang Kristen, bukan ISLAM. Konflik internal yang mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah dan pembunuhan di Irlandia dilakukan oleh orang KRISTEN KATHOLIK DENGAN PROTESTAN, bukan ISLAM. Di negara negara tersebut tidak satupun umat ISLAM melakukannya.

Bumi Amerika adalah milik bangsa Indian. Mereka dibunuh, diculik, disiksa dengan biadab kemudian dijajah oleh pendatang dari Eropa yang semuanya beragama KRISTEN.

Bumi dan tanah kelahiran mereka dikapling kapling menjadi negara yang namanya Canada, USA dan nagara negara Amerika Latin. Sama halnya dengan bumi Australia dan New Zailand milik orang Aborigin. Mereka ditindas dan ditumpas dengan kejam oleh bangsa Eropa yang beragama KRISTEN.

Demikian pula dengan perusakkan tempat tempat ibadah. Teman teman KRISTEN jangan berasumsi subyektif bahwa ada tempat ibadah mereka yang dirusak dan dibakar, tempat ibadah umat ISLAM ada yang dibakar dan dimusnahkan oleh KRISTEN di NTT, Timor Timur, Poso, Irian Jaya dan di Papua. Bahkan di negara negara yang mayoritas pemeluknya beragama KRISTEN pendekatan diskriminasi diterapkan kepada pemeluk ISLAM. Berbusana ISLAM dilarang dan gerak geriknya selalu dicurigai.

Al Qur’an memerintahkan perdamaian dan kasih sayang.

Surah Attaubah ayat 128.

 ”Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang rasul dari kaummu sendiri …… amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang orang mukmin”.

Surah Al An’aam ayat 12

”Kepunyaan Allah lah langit dan bumi. Dia telah menetapkan atas dirinya kasih sayang”

Surah Al Hadid ayat 27

”Dan Kami iringkan juga Isa Putra Maryam. Dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang”.

Surah Al Hujurah ayat 9

”Dan jika ada dua golongan dari orang orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya”.

 

Apakah benar kitab sucinya KRISTEN mengajarkan kasih sayang?

Jesus membawa onar,

”Jangan kamu menyangka Aku datang untuk membawa damai diatas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang. Sebab aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya. Anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya. Matius 10:34-36.

Jesus membawa kobaran api pertentangan,

”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan aku harapkan api itu telah menyala”. Kamu menyangka aku datang untuk membawa kedamaian di bumi. Bukan, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah tiga melawan dua, dua melawan tiga, ayah melawan anaknya laki laki, ibu melawan anaknya perempuan, menantu perempuan melawan ibu mertuanya”. Lukas 12:49-53.

Jesus kejam

”Semua musuhku yang tidak senang aku menjadi raja, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka didepan mataku”. Lukas 19:27.

Nabi Yesaya kejam menyuruh Herodes membunuh semua anak anak yang berumur kurang dari dua tahun. Matius 2:16-17.

Jesus kejam menyuruh potong tangan dan cungkil mata. Matius 5:29-30.

Tuhan memerintahkan pembunuhan massal kepada semua yang bernafas akibat dosa satu orang ”1Rajaraja 15:28-30”.

Tuhan menyuruh pembunuhan massal kepada semua manusia tanpa kecuali ”1Rajaraja 16:11-13”.

Tuhan merestui pembantaian massal ”Bilangan 21:1-3”.

Dalam peperangan semua orang harus dibunuh kecuali gadis yang masih perawan ”Bilangan 31:1-18”.

Tuhan menyuruh membunuh segala yang bernafas ”Ulangan 20:16-17”.

Tuhan memuji pelaku pembantaian massal sebagai perbuatan yang benar ”2Rajaraja 10:7-30”.

Perintah Tuhan, tumpaslah orang Amalek jangan ada belas kasihan ”Yeremia 50:25-27”.

Bunuh dan tumpaslah ”Yeremia 50:21”.

Tumpas semua, bantai semua, jangan ada sisa ”Yeremia 50:25-27”.

Semua binatang dan manusia ditumpas dengan pedang kecuali pelacur ”Yosua 6:17-21”.

Semua orang dimusnahkan semua wanita hamil dibelah ”1Raja raja 15:15”.

Tuhan menyerahkan negeri Sihon untuk ditumpas habis dari bayi orok sampai nenek tua renta ”Ulangan 2:31-35”.

Tumpas semuanya jangan ada rasa belas kasihan ”Ulangan 7:1-2”.

Tak satupun orang Enak yang dibiarkan hidup oleh ”Yosua 11:21-22”.

Tuhan menyuruh Yosua menumpas semua yang bernafas ”Yosua 11:6-15”.

Tuhan mendukung Israel untuk menewaskan 25.000. orang ”Hakim hakim 20:23-48”.

 

Daud memusnahkan negeri Filistin tak satu nyawapun dibiarkan hidup baik manusia maupun ternak ”1Samuel 2:79:11”.

Apakah risalah Islam juga mengajarkan sadisme dan biadab diluar perikemanusiaan? Kita simak Al Qur’an sebagai sumber autentik bagi pemeluk Islam.

1. Surah Al Baqarah ayat 190:

”Dan perangilah pada jalan Allah orang orang yang memerangi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak suka orang orang yang melampaui batas”.

2. Surah Muhammad ayat 4:

”Apabila kamu bertemu dengan orang orang kafir dimedan perang maka pancunglah batang leher mereka, apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti …….”.

Tuduhan sinis / miring yang dilontarkan kepada risalah Islam bahwa ajaran Islam menyebarkan pembunuhan yang dikenal dengan terroris sama sekali tidak berdasar karena tidak ada perintah dalam AlQur’an untuk berbuat kejam / sadis terhadap sesama manusia. Justru ayat ayat sadis / biadab banyak dijumpai dalam Alkitab / Bibel.

One Response

  1. PEMBANTAIAN YANG DILAKUKAN KALANGAN KRISTIANI

    Ada hal yang menarik yang sebenarnya bukan rahasia umum lagi, di mana salah satunya disebutkan oleh James Reston, Jr. dalam bukunya “Warriors of God: Richard the Lionheart and Saladin in the Third Crusade” yang mengatakan pada musim semi tahun 2000, Perang Salib kembali menjadi pemberitaan segera setelah Paus John Paul II secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas seluruh dosa yang pernah dilakukan Gereja Roma atas nama agama selama kurun waktu dua ratus tahun terakhir.

    Dinamakan “Kenangan dan Rekonsiliasi” sebagai rangkaian tindak lanjut Gereja Roma untuk menghilangkan episode hitam sejarah gereja di masa lalu (sebelumnya pada tahun 1992, telah muncul permohonan maaf tentang perlakuan Gereja Roma terhadap Galileo di masa lalu) dalam rangka yang dipandang oleh Paus sebagai periode “memurnikan sejarah”.

    Permohonan maaf ini tentunya adalah sebuah itikad yang baik dan cukup menjadi sebuah pertanda bahwa di masa lalu telah terjadi eksploitasi atau penyalahgunaan Injil untuk kepentingan sebuah misi berdarah yang dibungkus dalam kesucian Injil. Akibat dari eksploitasi ini dapat berakibat persepsi yang salah dari non Kristen terhadap ajaran Injil yang sebenarnya, yaitu Injil telah mengajarkan “Teror”.

    Akhirnya dari pernyataan permohonan maaf yang disampaikan Paus John Paul II inilah bermaksud agar kalangan non Kristen dapat lebih arif mengubah persepsinya bahwa Injil tidak pernah mengajarkan “Teror Kekerasan atau Pembantaian”. Sebagaimana kesalahan persepsi non Muslim yang juga harus diluruskan karena telah menuduh “Teror” dalam ajaran Islam.

    Dalam Kata Pengantarnya, James Reston, Jr. menyebutkan bahwa Perang Salib pada awalnya dipicu atas nama agama oleh Paus Urban II pada tahun 1095 dengan tujuan untuk mengalihkan para Baron di dataran Eropa yang telah disibukkan dengan urusan-urusan pertikaian di antara mereka sendiri yang berkutat sekitar kekuasaan, yang kemudian dialihkan energinya kepada yang disebut oleh Paus Urban II sebagai sebuah misi “mulia” yaitu merebut kembali “Tanah Suci” dari tangan “Orang Kafir”.

    Akibat fatal dari pengatasnamaan agama misi tersebut, pada tahun 1099 terjadilah pembantaian besar-besaran oleh pihak pasukan Salib. Hal ini bisa dilihat dari kesaksian tertulis beberapa catatan kuno seperti:

    De Gesta Francorum et aliorum Hierosolimitanorum pada bagian The Fall of Jerusalem: “One of our knights, named Lethold, clambered up the wall of the city, and no sooner had he ascended than the defenders fled from the walls and through the city. Our men followed, killing and slaying even to the Temple of Solomon, where the slaughter was so great that our men waded in blood up to their ankles…“

    Fulcher of Chartres: History of the Expedition to Jerusalem pada bagian The Capture of Jerusalem, menyebutkan sekitar 10.000 Saracen (sebutan bangsa Romawi untuk Arab Timur) dibunuh di Temple of Solomon: “A great fight took place in the court and porch of the temples, where they were unable to escape from our gladiators. Many fled to the roof of the temple of Solomon, and were shot with arrows, so that they fell to the ground dead. In this temple almost ten thousand were killed. Indeed, if you had been there you would have seen our feet colored to our ankles with the blood of the slain. But what more shall I relate? None of them were left alive; neither women nor children were spared”

    God’s War: A New History of the Crusades halaman 31 buku karya Christopher Tyerman yang mengutip kesaksian Raymond of Aguilers terhadap suasana pembantaian di Temple of Mount seraya mengutip kejadian di Revelation 14:20.

    Dalam episode Perang Salib III, hal ini kembali terulang dan semuanya bermuara dari usaha propaganda Josias, Uskup Agung dari Tirus (Tyre). Saat itu Tirus adalah daerah kantong terakhir dari Kerajaan Latin Yerusalem yang rapuh selama dimulainya Perang Salib I, dan Tirus adalah kota yang saat itu berhasil bertahan dari serangan tentara muslim berkat pertahanan kuku pasukan Ordo Templar.

    Sejak saat itu Uskup Agung Josias dengan gigih mulai menyebarkan propagandanya kepada seluruh penguasa Eropa termasuk di dalamnya Richard I, raja Inggris keturunan Plantagenet dan bergelar Duke dari Aquitane, yang kelak terkenal dengan Richard the Lionheart.

    Dalam surat tertulisnya, Uskup Agung Josias mengutip surat Psalm ayat 79 dari Injil yang berbunyi “Ya Tuhan, orang-orang kafir telah menguasai warisan-Mu; mereka telah menodai kesucian gereja; mereka telah memporak-porandakan Yerusalem”

    Di saat yang bersamaan, di Vatikan sedang dalam kondisi berkabung, Paus Urban III meninggal dunia dan digantikan oleh Paus Gregory VIII. Dalam suasana seperti itu dan setelah menerima kabar dan propaganda dari Uskup Agung Josias, sebuah perintah pun dikeluarkan Paus Gregory VIII sebagai tanggapan dari propaganda Uskup Agung Josias.

    Dalam seruan tersebut, Paus Gregory VIII mengatakan dunia Kristen bertanggung jawab terhadap atas kejatuhan Yerusalem dan Salib Sejati karena kelalaian umat Kristen dalam mengikuti ajaran Paus pada masa lalu serta dikarenakan pula sikap-sikap pangeran-pangeran Kristen yang lebih mementingkan untuk menjalankan perang remeh mereka dibandingkan menegakkan nilai-nilai agama demi Sang Penyelamat.

    Itulah asal muasal terjadinya Perang Salib III yang disebutkan oleh James Reston, Jr. sebagai perang yang paling dahsyat dari episode perang salib sebelumnya dalam artian lebih menguras sumber daya termasuk korban-korban di dalamnya.

    Salah satu peristiwa berdarah yang terulang kembali di Perang Salib III sebagai warisan Perang Salib sebelumnya adalah ketika pada 22 Agustus 1191, Richard memerintahkan untuk menggiring 2.700 pasukan Muslim yang tertawan oleh pasukan Kristen ke Nazareth kemudian setelah berada di fron terdepan barisan pasukan Kristen di Tell Aiyadida, ke 2.700 pasukan muslim tersebut satu persatu dibunuh di hadapan fron terdepan pasukan Muslim yang saat itu berada di Tell Keisan.

    Berbeda dengan Salahuddin yang saat itu sedang menawan 3.000 pasukan Kristen tidak melakukan hal biadab seperti itu, Salahuddin lebih memilih untuk barter tawanan, bahkan bukan rahasia umum lagi dalam episode Perang Salib III ini, dunia barat telah mengakui Salahuddin atau Saladin lebih dikenal memperlakukan baik tawanannya dan salah satu peristiwa lainnya yang juga cukup dikenal adalah pengiriman hadiah oleh Salahuddin di saat Richard dalam kondisi sakit berat.

    Namun Richard tidak mengacuhkannya dengan sebuah falsafah yang dikutip oleh James Reston, Jr. “Jika semua tahanan Kristen di tangan Salahuddin dan semua kota dalam Kerajaan Latin dikembalikan, Richard baru akan puas”. Akibat tidak dipenuhinya permintaan tebusan yang berlebihan itulah akhirnya terjadi pembataian 2.700 pasukan Muslim oleh Richard sekalipun masih kalah kerasnya dengan “pedang” Godfrey of Bouillon yang saat itu disebut sebagai pahlawan Perang Salib I.
    PEMBANTAIAN YAHUDI MENJELANG PERANG SALIB I

    Jonathan Riley-Smith dalam bukunya The first crusade and the idea of crusading halaman 50 mengatakan, menjelang digelarnya Perang Salib I, di Perancis dan Jerman terjadi dengan apa yang disebut para sejarawan sebagai “Holocaust Perdana” umat Yahudi Eropa oleh kalangan Kristiani.

    Peristiwa ini pun tercatat pula dalam catatan-catatan kuno bersumber dari kesaksian beberapa warga Yahudi yang melihat langsung tindak kekerasan terhadap mereka, di antara catatan kuno dari Albert of Aix dan Ekkehard of Aura yang berjudul Emico and the Slaughter of the Rhineland Jews, kemudian catatan-catatan kuno dari Eliezer ben Nathan dan Solomon bar Simson.

    Terjadi antara awal tahun 1095 hingga akhir tahun 1096. Sejarah mencatat Emicho of Flonheim (Count Emicho / Emicho of Leiningen) menyerang warga Yahudi yang berada di Speyer dan Worms Jerman pada Mei 1096.

    Thomas Asbridge dalam bukunya The First Crusade: A New History halaman 84-85 menyebutkan pula menyusul kemudian kelompok pasukan Salib tidak resmi dari Swabia yang dipimpin oleh Hartmann of Dillingen, Sukarelawan Pasukan Salib dari Perancis, Inggris yang dipimpin oleh Drogo of Nesle dan William the Carpenter, bergabung bersama Emicho menyerang warga Yahudi di Mainz Jerman pada akhir Mei 1096. Korban yang tercatat dalam sejarah pada peristiwa itu di antaranya seorang Kepala Rabbi Yahudi yang bernama Kalonymus Ben Meshullam.

    Selengkapnya dapat dilihat dalam artikel “Persecution of Jews in the First Crusade“.
    PEMBANTAIAN YANG DILAKUKAN KALANGAN YAHUDI

    Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury dalam bukunya “Ar-Rahiqul Makhtum, Bahtsun fis Sirah an-Nabawiyah ala Shahibiha Afdhalish Shalati was Salam (Sirah Nabawi)” (yang mendapat predikat terbaik sebagai karya tulis sejarah Nabi oleh Rabithah al-Alam al-Islami), menyebutkan bahwa sekitar pengaruh kekuasaan Kristen masuk ke Yaman dimulai sejak tahun 300 Masehi setelah kerajaan Romawi berhasil menundukkan Aden.

    Berkat bantuan bangsa Romawi ini pula, kerajaan Habasyah (Ethiopia) yang saat itu menganut Kristen bisa menguasai Yaman mulai tahun 340 Masehi hingga berakhir pada tahun 378 Masehi setelah terjadi pemberontakan masyarakat Yaman.

    Pada tahun 523 Masehi, Dzu Nawas, seorang Yahudi bersama pasukannya berhasil menguasai Yaman. Di era kediktatoran Dzu Nawas inilah kemudian dikenal peristiwa pembantaian penganut Kristen.
    Dzu Nawas memerintahkan untuk menggali parit-parit yang besar, kemudian Dzu Nawas mengancam para penganut Kristen untuk meninggalkan agamanya agar menganut agama Yahudi. Tetapi mayoritas dari penganut Kristen ini bersikap teguh dengan keyakinannya, sehingga Dzu Nawas memasukkan mereka ke dalam parit-parit besar tersebut yang kemudian mereka dibakar hidup-hidup.

    Al-Qur’an dalam surat al-Buruuj (85:4-9) telah mengabadikan peristiwa pembantaian biadab penganut Kristiani ini yang disebutkan sebagai pembantaian yang dikutuk dan dilaknat Allah S.W.T. Peristiwa dikenal dalam Islam sebagai “Ashhaabul ‘Ukhduud”.

    Aksi biadab ini pun mengundang amarah di kalangan Kristiani Romawi dan Kristiani Habasyah hingga akhirnya Yaman bisa direbut kembali pada tahun 525 Masehi yang dipimpin oleh Aryath. Setelah beberapa lama kemudian, Aryath dibunuh oleh anak buahnya sendiri yang bernama Abrahah. Abrahah inilah yang kemudian menjadi penguasa Yaman selanjutnya dan dalam dunia Islam periode Abrahah dikenal pada peristiwa penyerangan Ka’bah di Mekah menjelang kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. yang diabadikan dalam al-Qur’an pada surat ke-105, al-Fiil.

    Pembantaian dari kalangan Yahudi ini bisa kita lihat kembali di jaman modern sekarang khususnya dari kalangan Yahudi Zionis terhadap penduduk Palestina. Di sinilah kemudian kalangan Yahudi terpecah menjadi dua kelompok besar, Zionis dan Yahudi Anti Zionis. Salah satu kalangan Yahudi Anti Zionis yang sangat vokal menentang keras Zionisme (yang menyebutkan bukan sebagai ajaran agama Yahudi) di Palestina adalah Neturei Karta yang lebih lanjut dapat anda lihat sepak terjangnya melalui situs resminya di http://www.nkusa.org

    Demikian yang bisa saya uraikan berkenaan tindakan eksploitasi agama oleh beberapa oknum penganutnya yang mungkin bisa membantu lebih arif dalam menyikapi fenomena tindakan-tindakan kekerasan atau teroris atas nama agama yang selayaknya jangan terburu-buru dinisbatkan sebagai satu kesatuan ajaran agama tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: