Allah Sebut KAMI

 

Artikel ini saya ambil dari artkel jawaban saya untuk Sdr. Guntur Romli.

Kaum kristen yang benar-benar menjagoi faham trinitas, sering kali bernafsu untuk menjungkir-balikkan faham keesaan Allah di dalam Islam. Di dalam Alquran sering kali Allah memanggil diriNya dengan sebutan KAMI, yang mana secara permukaan berarti JAMAK. Artinya, ketika Allah menggunakan kata KAMI di dalam Alquran untuk memanggil diriNya, itu pasti merujuk kepada oknum lain selain Allah, yang setara dengan Allah. Jadinya, Bangsa Kristen insist untuk mengklaim bahwa di dalam Alquran, Allah memperkenalklan adanya oknum lain, dan oknum lain itu adalah Jesus dan Rohkudus.

 

Memang, kata / tafsir yang ‘available’ pada saat ini yang disediakan oleh semua para ahli tafsir Alquran adalah, bahwa kata KAMI menyiratkan kebesaran Illahi semata, “saking” besarnya Allah, maka Ia “harus” menggunakan kata Kami untuk memanggil diriNya sendiri. Dan pada paragraph berikutnya, justru sdr. Romli membantah tafsir tersebut dengan menyebutkan, bahwa justru ‘tradisi’ menggunakan kata ‘kami’ adalah untuk memuliakan lawan bicara. Jadi, menurut Romli, Allah ‘terpaksa’ menggunakan kata KAMI karena Ia merasa harus menghormati oknum lain yang ada dalam lingkungan ciptaanNya sendiri. Benarkah demikian?

 

Untuk membahas mengapa Allah menggunakan kata “kami” dalam AlquranNya, maka mau tidak mau kita harus memulainya dari Bible.

 

Percayakah Anda, bahwa sejak awal, sejak jaman Bible pun, Allah tetap dan selalu memanggil diriNya dengan kata “KAMI” ketika Dia berbicara dengan Nabi-Nabi? Tidak pernah ada satu detik pun ketika Allah berbicara dengan para Nabi, Allah memanggil diriNya dengan kata AKU.

 

Masalahnya kemudian adalah, mengapa justru dalam Bible, baik di Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru, Allah selalu memanggil diriNya dengan kata “Aku”? Dan kemudian, Allah memanggil diriNya dengan kata KAMI dalam Alquran?

 

Kunci perbedaan antara Bible dan Alquran dalam hal memanggil Tuhan ini terletak pada “siapa” yang bertanggung-jawab dalam me-redaksi-kan kata-kata Tuhan (pembicaraan antara para Nabi itu dengan Tuhan) itu ketika akan disampaikan kepada umat Dunia.

 

Pada masa pra Muhammad, semua ayat Tuhan (atau dengan kata lain, semua (hasil) pembicaraan antara Tuhan dengan para Nabi) diredaksikan oleh Nabi yang bersangkutan. Jadi, semua “kesan” yang muncul dari pembicaraan seorang Nabi dengan Tuhan, diredaksikan oleh Nabi tersebut ke dalam kata-kata manusia. Oleh karena itu, posisi Tuhan akan tetap dilihat melalui posisi seorang manusia yang dhaif. Maka, jadilah redaksi ayat tersebut seperti ini, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

 

Ingat, phrase “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”., adalah redaksi sang Nabi, entah dia Daniel, Amos, Musa dan lain lain. Dalam phrase ini, Daniel misalnya, melihat Tuhan melalui posisinya sebagai manusia yang lemah; maka ia menulisnya begitu, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

 

Daniel menggunakan kata AKU dalam melukiskan Tuhan. Padahal, sebenarnya Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI ketika pembicaraan antara diriNya dengan Daniel berlangsung. Masalahnya adalah, ketika meredaksikan ayat tersebut, tentu saja Daniel ‘tidak berani’ untuk menulis “apa adanya” yaitu “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

 

Sebenarnya, Nabi mana pun tidak akan berani untuk meredaksikan ayat itu “apa adanya”, yaitu dengan bunyi “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”. Mengapa tidak beani? Seperti yang sudah saya tulis tadi, semua Nabi itu adalah orang orang yang merasa dhaif di depan Tuhan mereka, atau, mereka selalu melihat posisi Tuhan melalui posisi seorang manusia yang dhaif.

 

Itulah mengapa sebabnya dalam Bible, Tuhan selalu menyebut diriNya dengan kata AKU. Tidak lain adalah karena semua ayat Bible itu DIREDAKSIKAN oleh manusia belaka.

 

Bagaimana dengan Alquran?

 

Muhammad adalah satu-satunya Nabi y-a-n-g tidak MEMPUNYAI, DIBERI, MENDAPATKAN tanggung-jawab untuk meredaksikan pembicaraan Tuhan dengan dirinya. Jadi, semua pembicaraan antara Allah dengan Muhammad, yang mana pembicaraan itu akan dijadikan ayat yang akan dimasukkan ke dalam Alquran, adalah Allah sendiri Yang meredaksikannya. Alhasil, semua ‘occurrence’ Allah selalu diganti dengan kata KAMI, apa adanya.

 

Mari dibalik. Allah berkata kepada Muhammad, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…” (ini adalah bunyi apa adanya).

 

Kalaulah pembicaraan itu diredaksikan oleh Muhammad ke dalam Alquran (seperti Nabi-Nabi Perjanjian Lama lainnya), pastilah bunyinya begini, “AKU, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”

 

Namun karena Muhammad ‘tidak kebagian peran untuk meredaksikan ayat tersebut’, dan hanya Allah lah yang meredaksikan ayat tersebut, maka ayat itu lahir ke Dunia sesuai dengan apa adanya, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”.

 

Berikutnya yang harus kita bahas adalah, istilah “apa adanya” yang selalu saya gunakan.

 

Allah berbicara kepada para Nabi, dan juga Muhammad yang mana pembicaraan itu kelak akan menjadi ayat. Semua Nabi itu mendapatkan hak dari Allah untuk meredaksikan semua pembicaraan itu menurut “suka-suka” sang Nabi. Dengan kata lain, semua Nabi itu diberi hak untuk menggunakan kata-kata mereka sendiri dalam menyusun ulang hasil pembicaraan mereka dengan Tuhan. TAPI, hak itu tidak diberikan kepada Muhammad. Dengan kata lain, seperti apa pembicaraan itu terjadi, maka seperti itu juga lah pembicaraan itu kelak ditulis dalam Alquran. Hal ini seperti Allah MENARUH kata-kataNya di atas lisan Muhammad. Kata MENARUH, tentu saja konotasinya adalah, bahwa yang DITARUH itu tidak akan berubah, tidak boleh diubah-ubah, tidak bisa diubah-ubah, jadi apa adanya saja, dan seterusnya.

 

Kitab Ulangan menulis demikian,

 

Ulangan 18:18, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan MENARUH FIRMAN-KU DALAM MULUTNYA, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

 

Orang Christians mengklaim bahwa “ia” dalam ayat di atas adalah Jesus, sedangkan Muslims mengklaim bahwa “ia” adalah Muhammad.

 

Kita sudah dapat menebak, “ia” dalam ayat di atas adalah hanya untuk Muhammad, mengingat Muhammad tidak pernah MEREDAKSIKAN pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Muhammad sendiri. Sementara Jesus adalah termasuk para Nabi yang meredaksikan pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Jesus sendiri.

 

Di manakah indikasinya? Indikasinya terlihat dalam penggunaan kata “KAMI” dalam Alquran, sementara Bible selalu memanggil Allah dengan kata “AKU”.

 

KESIMPULANNYA adalah, bahwa kata KAMI dalam Alquran, hanya memberi SATU PESAN kepada kita semua, baik Muslims mau pun Christians, bahwa itu adalah CARA ALLAH meng-signify-kan betapa firman Allah kepada Muhammad tidak pernah diubah-ubah oleh redaksi Muhammad, seperti janjiNya dalam Ulangan 18.

 

Mungkin pertanyaan berikutnya adalah, “lantas mengapa Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI, ketika Dia berbicara dengan para Nabi pada masa kapan pun?”. Jawabannya adalah, mengapa itu kita permasalahkan? Apakah kita berhak untuk mendikte Allah bagaimana Dia harus memanggil diriNya sendiri? Setidaknya, apakah salah kalau Allah (selalu) memanggil diriNya dengan kata KAMI?

 

Point berikutnya, Sdr. Romli menyebutkan, bahwa ada keterlibatan Jibril dan Muhammad dalam penulisan wahyu dalam Alquran, seperti kata-kata Anda dalam artikel Anda tersebut, “Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.”

 

Sebenarnya Anda keliru besar. Kalau kita tilik permasalahan “KAMI” menurut apa yang sudah saya jelaskan di atas, maka tidak perlu lagi ada perdebatan mengapa Alquran menggunakan kata KAMI untuk memanggil Allah – tidak perlu lagi kita berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan pluralitas. Dengan kata lain, kelompok Mutalizah BELUM SAMPAI pada pemahaman seperti yang saya jelaskan tersebut. Kita harus dapat memaklumi kekurangan si Muktalizah ini, mengingat pada masa itu belum berkembang ilmu perbandingan antara Alquran dan Bible.

 

Lebih lanjut lagi, kalau kita tetap berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan adanya pluralitas (Allah – Muhammad – Jibril), maka kita butuh kepastian yang lebih keras lagi, seperti pada ayat ini,

 

[2:34] Dan (ingatlah) ketika KAMI berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

 

Ayat ini melukiskan saat terciptanya Adam. Pada masa itu tentu saja Muhammad “belum” ada. Jibril kemungkinan besar pun juga belum ada. Lantas, kata KAMI merujuk kepada siapa saja? Kombinasi Allah Muhammad Jibril tentunya akan membuat khalayak Muslims lebih bingung lagi, mengingat, kalau Muhammad dan Jibril tidak ada, maka apakah itu berarti Allah tidak akan KUASA untuk membuat ayat atau Alquran? Apakah ini berarti bahwa Allah membutuhkan makhlukNya ketika Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu yang lain?

 

Sebenarnya masih banyak ayat lain dalam Alquran yang tetap memanggil Allah dengan kata AKU seperti,

 

[2:33] Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya AKU mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ”

 

Lantas mengapa Anda ingin memperjuangkan prasangka Anda bahwa kata KAMI dalam Alquran merujuk kepada pluralitas? Kalau boleh jujur, sebenarnya Allah itu dalam Alquran “agak membingungkan juga”, mengingat, tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata AKU, dan tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata KAMI. Maksud saya berkata seperti ini adalah, kalau kata KAMI merujuk kepada PLURALITAS, maka bagaimana dengan kata AKU? Anda jangan melupakan juga peran kata AKU yang benar-benar merujuk kepada SINGULARITAS TULEN.

13 Responses

  1. Sebenarnya udh sering dibahas, tapi berhubung banyak alumnus ffi yg coba peruntungan jadinya tampak monoton aja menghadapi mereka.

    • mereka BEBAL, bro @isa…
      .
      dan BEBALnya mereka itu, MENJURUS ke PEMAKSAAN atas kita kaum muslim, spy kita IKUT FAHAM MRK …….

  2. mereka (kafir) mati hatinya..diberi peringatan atau tidak sama saja…..mereka akan terus bertanya mengapa..mengapa..dan mengapa? itulah mereka

  3. Menurut 0rang awam sprti saya ini..
    Bhwa firman ‘kami’ ialah beliau menyebutkan semua tntng ASMA-NYA,yaitu tRdiri dari 99 ASMA ALLAH SWT. yg bernama ASMA UL HUSNA.

    Mat0er suwun.

  4. tapi lw songong juga ya blg ALLAH membingungkan . tempo2 Dia sgl mcm!

  5. “kami” di dunia mana pun, dalam bahasa apa pun adalah “jamak” secara etimologi bro.

    entahlah kalau di al kitab agama dan kepercayaan yang ada di muka bumi ini, “kami” bisa berarti “tunggal”, mungkin itu secara terminologi, kalau etimologi tidak mungkin…

    satu hal, al kitab al qur’an bukanlah buku bacaan yang susah, itu adalah buku dalam bahasa arab yang mudah dimengerti dan bukan terbatas untuk “sarjana” maupun “orang kota”, al kitab itu untuk seluruh alam, jin maupun gunung mengetahuinya…

    bahasa adalah satu diantara kebesaran tuhan, dan bahasa arab adalah bahasa yang sangat detil, contoh dalam kata ganti orang pada bahasa arab sangat banyak sehingga jelas tujuan pembicaraannya.

    “kami” ya “kami”, “kita” ya “kita”, begitu juga “aku” ya “aku”…

    lihat kisah musa berbicara dengan tuhan, tuhan berkata “ana hu allah”, lalu musa dan para nabi maupun rasul berdoa dengan kata “ya rabbi” atau “ya rabbana”, bagaimana menjelaskan itu?. udah memperkenalkan diri dengan “ana hu allah” eh malah memohon “ya rabbi, ya rabbana”…

    saya muslim, al kitab al qur’an tidak salah, seluruh muslim menyakini itu, berarti siapa yang salah? siapa yang memutarbalikkan “kata ganti dan tata bahasa”?. tentunya mereka yang kurang hikmah lalu menafsirkan salah ayat-ayat al kitab al qur’an alias salah menafsirkan “wahyu yang di wahyukan” itu…
    bukan sekali wahyu ya, kalau sekali berarti dari tuhan pakai perantara ke nabi muhammad.
    ini “wahyu yang di wahyukan”, dari tuhan pakai perantara ke “yang kuat lagi cerdas dan terpercaya” lalu si “yang kuat lagi cerdas dan terpercaya” pakai perantara lagi ke nabi muhammad.

    believe it or not, yang pasti jika kalian baca al kitab al quran jadi believe🙂

    by novus.ordo_seclorum@rocketmail.com

  6. ALLAH itu maha kuasa,dan ia tidak terikat dan tunduk oleh peraturan manapun,semua atas kehendaknya.jika. ALLAH ingin menenggelamkan bumi beserta isinya maka terjadilah.ingatkah kisah nabi nuh,adakah yg dpt menolak atau melarang ALLAH.semua atas kehendaknya .

  7. mempersoalkan Ana-Nahnu dlm Alquran= pertanyaan kekanak2an yang dianggap Jenaka oleh orang arab.

    setiap bangsa punya ciri khas masing2, contoh :

    bahasa indonesia :

    Kamu(b.indonesia) = kata ganti orang kedua tunggal (jk lawan bicara Orang yang lebih tua. atau tamu, atau orang tua sendiri, maka akan DIANGGAP kasar)

    You (English) = kata ganti orang kedua tunggal atau jamak (jk lawan bicara satu orang atau lebih, Ibu kandung sekalipun,atau orang banyak), menggunakan YOU kepada siapapun termasuk kepada ibu kandung TIDAK DIANGGAP kasar.

    Kenapa karosetan sok tau, harus meributkan bahasa orang, toh di arab sendiri tidak mempersoalkan Ana-nahnu (itu kan bahasa menurut konteksnya).

  8. Klo menurut saya scara awam..disaat Allah Swt menyebut diriNya dgn kata “Kami”..saya beranggapn Allah bermaksud. Menyebut kabinetNya pula (para malaikat) dgn ringkas..yang mengindikasikn kontribusi malaikat dikehidupan ini sangatlah berperan..kata “Kami” tersebut mengibaratkan Raja dan para mentri2Nya memberikn kesejahteraan utk rakyat2nya..waallahua’lam bisawab

  9. lata “Kami” di al quran ada ah merujuk muhammad yang mewakili allah swt dan makhluk jibril
    ===========

    Islamthis,
    salah! ga bener!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: