Renungan Murtad

 

Assalamu alaikum wr wb…

Berikut saya sajikan artikel di bawah ini yang berasal dari salah satu thread di faithfreedom edisi bahasa Indonesia, berjudul RENUNGAN ISLAM – DULU SEBELUM MURTAD (1/5):

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/renungan-Islam-dulu-sebelum-murtad-1-5-t22142/

Diakses tanggal 23 Desember 2011.

….. , yang mana artikel ini merupakan curhat seorang anak manusia yang murtad dari Islam. Kemudian ia menuliskan pengalamannya yang menyebabkan dia meragukan Islam.

Silahkan membaca, semoga bermanfaat.

Suara_hati,

by suara_hati » Sat Feb 02, 2008 4:38 pm

Tulisan berikut saya bagi dalam 5 bagian. Ini adalah yang pertama. Berikutnya adalah sebagai berikut:

2. Kehidupan Keluarga Nabi Muhammad

3. Dua Wajah Islam

4. Nabi Muhammad dan Musuh Pribadinya

5. Nasikh Mansukh dalam Al-Qur’an

Bagian 1

Banyak sekali pertanyaan dalam pikiran saya. Sudah lama saya berhenti sholat karena saya merasa seperti robot.

______________________

Islamthis,

Kebalikannya, banyak sekali hal-hal baik yang Anda tidak ketahui yang berkembang dalam Islam. Karena ketidaktahuan Anda itulah, Anda menjadi orang paling sok tahu di Dunia ini. Dan terbukti, kebodohan telah menyeret kebanyakan manusia kepada kebinasaan. Anda adalah salah satu buktinya.

Anda dengan kedangkalan berfikir Anda, sama sekali tidak mengerti manfaat dari salat. Anda seharusnya sudah lebih dulu melihat betapa salat telah memberi efek yang TERAMAT NYATA di muka bumi ini; sudah terlihat jelas perbedaan yang amat curam antara bangsa yang menyelanggarakan salat ini (yaitu kaum Muslim di seluruh Dunia) dengan bangsa yang tidak menyelenggarakan salat.

Artikel saya di bawah ini akan menjelaskan kepada Anda betapa shalat amat bermanfaat bagi umat manusia, dan terlihat efek positif dari shalat. Bacalah dengan seksama,

https://islamthis.wordpress.com/2011/03/01/shalat-%E2%80%93-allah-minta-disembah-umatnya/

______________________

Suara_hati,

Saya berhenti pergi sholat jumat karena terlalu sering mendengar khotbah “permusuhan” terutama dengan Yahudi dan AS / Barat. Seolah-olah khotbah itu untuk “menanamkan” kebencian dalam hati saya terhadap yahudi dan AS.

______________________

Islamthis,

Saya sebagai Muslim, juga merasakan / mengalami hal yang sama. Tidak jarang khatib Jumat memberi khutbah yang berisi kebencian dan kutukan terhadap bangsa Barat atau amerika serikat, apalagi Yahudi. Namun lebih dari itu, saya melihat ada empat point yang harus saya jelaskan mengenai hal ini.

Pertama.

Amerika, dan Barat pada umumnya, telah TERLALU mendukung Israel dalam mencaplok wilayah Palestina yang sebenarnya adalah milik alami bangsa Arab Muslim. Alkisah, secara sejarah Dunia modern, Palestina adalah milik Arab Muslim, bukan Israel. Namun sungguh malang, bangsa Israel telah mencaplok tanah Palestina ini dari tangan Arab Muslim. Maka dimulailah kesengsaraan seluruh bangsa Arab Muslim, dan pengusiran Arab Muslim ini dari kampung halaman mereka, Palestina. Barat, Amerika, dalam hal ini, ternyata berada di belakang semua malapetaka ini. Karena kekuatan militer Baratlah, Israel sukses merampok tanah dan harga diri Arab Muslim di Palestina.

Setelah merampok tanah dan martabat bangsa Arab Muslim ini, Israel yang didukung Amerika dan Barat ini BERENCANA meruntuhkan Masjid Aqsa, tempat suci ketiga kaum Muslim. Kalau hal ini tercapai, maka akan hilanglah sudah martabat dan kehormatan bangsa Muslim di seluruh Dunia ini. Apakah itu adil?

Reaksi lurusnya, muncul solidaritas universal dari Dunia Muslim kepada bangsa Arab Muslim ini. Ini artinya, semua Muslim yang sadar akan keIslaman mereka, pasti akan mengutuk Barat dan Amerika ini.

Maka sekarang posisi logikanya adalah, apakah salah kalau semua Muslim mengutuk dan menyumpahi Israel (yang Yahudi itu), Amerika dan Barat? Atau kebalikanya-kah: seluruh Dunia Muslim harus sangat menyayangi dan mencintai bangsa Israel berikut Amerika dan Barat yang jelas-jelas telah merampok hak asasi bangsa Arab Muslim dari tanah mereka sendiri yaitu Palestina? Apakah kita diperintahkan untuk mencintai orang yang telah merampok harta kita dan membunuh anak-anak kita?

Apakah salah kalau kemudian seluruh khatib dan ulama menyebarkan kebencian dan pengutukan terhadap Israel (yang Yahudi itu), Barat dan Amerika? Dan apakah itu berarti bahwa Israel yang Yahudi itu, Amerika dan Barat ADALAH BENAR KETIKA MEREKA MELANCARKAN PROGRAM MERAMPOK TANAH PALESTINA DARI PEMILIKNYA YANG SAH, YAITU ARAB MUSLIM?????

Kalau kita, Muslim, dan juga para pengajar Muslim, tidak mengutuki dan menyumpahi Israel / Barat / Amerika, lantas dikemanakan harga diri kita sebagai Muslim?

Kalau kita, Muslim, dan juga para ulama dan khatib tidak menyebarkan kebencian dan pengutukan terhadap Amerika / Israel / Barat, lantas, ngepain? Menyayangi mereka? Mencintai mereka? Mendukung mereka merampok dan menodai kehormatan Arab Muslim  dan kesucian Masjid Aqsa?

Apakah Anda, hai @suara_hati, tidak melihat bahwa di dalam kasus ini telah terjadi PELANGGARAN HAM BERAT yang dilakukan Israel / Barat / Amerika terhadap bangsa Arab Muslim khususnya, dan kaum Muslim seluruh Dunia, pada umumnya? Kalau bukan pelanggaran hak asasi manusia, lantas apalagi namanya untuk kasus perampokan dan pengusiran Arab Muslim dari tanah Palestina itu? Bisa Anda menjelaskannya kepada saya dan seluruh Muslim di Dunia ini?

Kalau kita justru menyayangi dan mencintai Amerika / Israel / Barat yang telah merampok dan mengusir Arab Muslim dari tanah Palestina, bukankah itu berarti KITA JUGA MENDUKUNG PELANGGARAN HAM di tanah Palestina itu? Bisa Anda jawab pertanyaan yang sangat berarti ini?

Kedua.

Mengapa Anda jadi begitu naif? Sudah pun Anda tidak mempunyai Pengetahuan yang banyak tentang Islam (seperti yang Anda akui), masih juga diperparah dengan betapa naifnya Anda.

Baiklah banyak khatib yang menyebarkan kebencian melalui khotbah mereka ke kalangan jemaah Muslim. Namun apakah Anda lupa, bahwa kaum Barat / Amerika / Israel pun juga membenci dan mengutuki Islam dan umatnya? Betapa banyak buku yang ditulis dan diluncurkan oleh pihak Barat / Amerika / Israel yang berisi kebencian dan kutukan terhadap Islam dan kaum Muslim. Dan juga sudah betapa banyak aksi dan program yang dilancarkan pihak Barat / Amerika / Israel yang bertujuan untuk menyengsarakan Islam dan kaum Muslim yang dilandasi kebencian mereka terhadap Islam dan Muhammad dan Alquran. Tidakkah Anda melihat hal itu, sebelum menuduh pengajar Muslim sebagai penyebar kebencian terhadap Barat / Amerika / Israel?

Kalau kaum Muslim dan pengajar Muslim sih masih mending, mereka MAMPU-nya hanya menyebar kebencian terhadap Barat / Amerika / Israel melalui khotbah. Itu saja. Namun bagaimana dengan pihak Barat / Amerika / Israel dalam menyebar kebencian terhadap Islam? Mereka sudah tidak lagi berkutat pada khotbah atau wacana, namun sudah berbuat lebih jauh lagi, yaitu melancarkan program dan aksi nyata untuk menjungkalkan Islam dan kaum Muslim di seluruh Dunia ini.

Dan tiba-tiba saja Anda yang rendah tingkat pengetahuannya ini justru mengutuki kaum Muslim yang selalu menyebar kebencian dan kutukan terhadap Barat / Amerika / Israel ini, tanpa tahu sama sekali bahwa toh sebenarnya Barat dan Israel pun juga sangat benci Islam…….

Faham????

Atau Anda justru berfikir kebalikannya, yaitu bahwa di satu pihak Muslim selalu mengutuk dan membenci Barat dan Israel, namun di lain pihak AMERIKA DAN ISRAEL JUSTRU AMAT SAYANG DAN MENGHORMATI MUSLIM DAN ISLAM????

Kalau memang benar itulah yang ada di dalam fikiran Anda, wah Anda memang terlalu hebat dalam hal kebodohan dan kenaifan Anda.

Ketiga.

Coba Anda lihat sejarah hubungan kedua bangsa pada masa lampau, antara bangsa Muslim di satu pihak, dan bangsa Amerika  / Barat di pihak lain, masa lampau sebelum terjadinya pencaplokan dan perampokan tanah Palestina dari bangsa Arab Muslim. Pada masa pra-perang Arab Israel tersebut, hubungan antara kedua bangsa tersebut toh adem-ayem. Muslim tidak ada yang memusuhi Barat dan atau Amerika. Kendati toh kaum / bangsa Muslim mengetahui bahwa bangsa Barat dan Amerika adalah bangsa yang kafir, tetap saja bangsa Muslim tidak pernah uring-uringan dan mengutuk apalagi membenci bangsa kapir tersebut. Namun lain lagi ceritanya ketika pada masa pasca perang Arab Israel, di mana Israel memulai perang dengan merampok dan mencaplok tanah Palestina dari bangsa Arab Muslim, dan menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel masa depan, di mana Barat / Amerika bertindak sebagai pendukung Israel atas perang yang keji tersebut. Apa yang kita lihat kemudian?

Muslim dari seluruh Dunia mengutuki Barat dan Amerika. Dalam setiap khutbah Jumat mau pun di setiap kesempatan, seluruh pengajar Muslim selalu menyebarkan kebencian dan kutukan terhadap bangsa Barat dan Amerika ini, terkhusus lagi kepada bangsa Israel. Jadi, kebencian kaum Muslim hanya terjadi setelah Israel memerangi bangsa Arab Muslim dan mengusir bangsa Arab Muslim dari tanah kelahiran mereka yaitu Palestina, dan berusaha untuk meruntuhkan Masjid Aqsa.

Maka akhirnya kita bertanya, MASUK AKAL KAH MUSLIM MENJADI BENCI DAN MENGUTUKI BARAT DAN AMERIKA setelah apa yang mereka perbuat terhadap hak asasi bangsa Arab Muslim yang telah diusir dari kampung halaman mereka? Atau kebalikannya-kah: kita seluruh kaum Muslim harus terus mencintai Barat, Amerika dan Israel serta umat Yahudi, sementara kita mengetahui bahwa kesemua bangsa tersebut telah merampok dan mencaplok Palestina dan mengusir Arab Muslim dari tanah kelahiran mereka yaitu Palestina, dan kemudian kesemua bangsa tersebut mendukung Israel untuk meruntuhkan Masjid Aqsa untuk perluasan kuil Yahudi, dan kemudian menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel di masa mendatang???????

Keempat.

Coba Anda lihat.

Jepang adalah bangsa kapir.

China juga bangsa kapir.

Namun apakah Muslim di seluruh Dunia membenci dan mengutuki Jepang dan China ini lantaran kedua bangsa ini adalah bangsa kapir??? Tidak! Muslim tidak pernah memusuhi dan mengutuki kedua bangsa ini kendati kedua bangsa ini adalah bangsa non Muslim alias kapir.

Namun lantas mengapa Muslim seluruh Dunia memusuhi Barat dan Amerika dan Israel yang kapir tersebut? Dan di lain pihak mengapa Muslim seluruh Dunia tidak memusuhi Jepang dan China yang sebenarnya juga kapir?? Dan mengapa permusuhan dan kebencian kaum Muslim terhadap Amerika dan Barat dan Israel / Yahudi itu selalu disuarakan keras-keras melalui mimbar Masjid?

Itu semua karena bermula dari perang Arab Israel di mana Israel yang didukung Barat dan Amerika telah merampok dan mencaplok tanah kelahiran bangsa Arab Muslim. Faham?

______________________

Suara_hati,

Saya tidak mengerti kenapa teroris yang mengatas-namakan Islam samasekali tidak merasa bersalah telah membunuh dan menyengsarakan banyak orang. Ironisnya, mereka merasa bahwa semua itu mereka lakukan untuk Allah, dan mereka lakukan dengan menyebut “Allahu-akbar”.

______________________

Islamthis,

Mengapa Anda mempertanyakan bahwa teroris yang mengatas-namakan Islam tidak pernah merasa bersalah telah membunuh banyak orang?

Mengapa Anda bertanya tentang hal itu? Anda nya yang bodoh atau kaum Muslim yang terlalu cepat lahir melihat tingkah Anda yang sok humanis ini?

Kalau yang namanya teroris, MAKA BUAT APA DIA MERASA BERSALAH? Kalau teroris bisa merasa bersalah, maka pastilah dia tidak pernah menjadi teroris sejak awal, bodoh! Namanya juga teroris! Ya jelaslah mereka tidak akan pernah merasa bersalah!

Perkara bahwa teroris itu melakukan kekejian adalah karena atasnama Allah (dan make jerit-jerit Allahu akbar segala), yeah itu adalah hak mereka! Kalau mereka berbuat kekejian atas nama Allah, maka bukan berarti mereka itu benar! Yang namanya keyakinan, tentulah banyak dan berbeda-beda di muka bumi ini. Itu lumrah. Dan keyakinan para teroris itu adalah bahwa mereka mendapat perintah dari Allah / Islam / Alquran untuk membunuh banyak orang.

Toh yang penting, Islam sendiri tidak pernah mengajarkan terorisme kepada umat manusia. Itu yang harus Anda ingat betul! Islam dan Muhammad tidak pernah memerintahkan umat manusia untuk menjadi teroris. Itu sudah final!

Ingatlah, Allah Swt telah berfirman di dalam Alquran,

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan (QS. Al A’raf : 180).

Ayat Alquran di atas menunjukkan, bahwa MUNGKIN SEKALI kelak ada kaum Muslim yang menyebut-nyebut nama Allah dengan tujuan pengrusakan; di dalam fikiran mereka, mereka melakukan hal itu dengan benar – alias untuk mendapatkan ridha Allah. Padahal kebalikannya, mereka mendapat murka dari Allah.

______________________

Suara_hati,

Saya tidak bisa bicara apa-apa atau berkomentar, karena saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang Islam. Saya tidak pernah membaca Alquran, Sahih Hadiths ataupun Sirat (sejarah) Nabi. Pada intinya saya tidak pernah benar-benar melaksanakan rukun Islam, kecuali mengaku bahwa saya orang Islam. Saya hanya yakin bahwa semua agama adalah baik, selalu mengajarkan kebaikan. Dalam pikiran saya, kalau merasa seperti robot pada waktu sholat, itu karena saya belum tahu apa-apa tentang Islam. Saya selalu beranggapan bahwa teroris itu salah dalam pemahaman mereka tentang Islam. Saya merasa bahwa tidak mungkin agama mengajarkan hal seperti itu. Juga para Imam yang memberi khotbah Jumat, yang menyebarkan kebencian.

______________________

Islamthis,

Di sini Anda sudah benar. Namun disayangkan, Anda adalah orang yang tidak tahu apa-apa tentang Islam.

Statement Anda yang menyatakan bahwa semua agama adalah baik dan selalu mengajarkan kebaikan, maka sekali lagi Anda salah. Dari semua agama yang ada di Dunia ini, hanya Islam lah yang mengajarkan kebaikan, selainnya tidak.

Kristen, mengajarkan bahwa makan riba, freesex, bugilria di tengah kota, delele, adalah kebajikan di mata Tuhan, sementara Islam dengan jelas melarang itu semua. Dari sini saja sudah jelas bahwa Kristen tidak mengajarkan kebaikan, dan Islam mengajarkan kebaikan. Kristen mengajarkan kesesatan dan kebinasaan. Belum lagi Yahudi, Hindu, buddha delele. Kesemua agama itu tidak mengandung kebajikan sedikit pun.

Kebajikan yang ada di dalam seluruh agama itu, hanyalah kebajikan sekelas permukaannya saja, semisal JANGAN MEMBUNUH, KASIHILAH ORANG MISKIN, BERBUAT ADIL-LAH, delele. Untuk ajaran seperti itu sih, tanpa agama semua manusia juga sudah mahir!

______________________

Suara_hati,

Mayoritas orang Muslim adalah baik. Aa Gym, dia orang baik (menurut saya walaupun kemudian agak terganggu setelah mendengar keputusannya untuk kawin lagi dengan menggunakan alasan-alasan agama). Pada waktu mendengarkan ceramahnya, hati saya merasa jadi lebih baik. Dia memancarkan kebaikan. Pesan-pesannya sangat menyentuh, bermoral. Dan dia bilang bahwa itu semua dia dapat dari pemahaman dia pada ajaran Nabi, Alquran dan Hadiths. Sangat bertentangan dengan pemahaman para teroris. Saya bilang Aa Gym adalah cerminan Islam yang benar dan teroris Islam itu salah. Pandangan saya ini bukan karena saya mengerti Islam, tapi semata-mata karena hati saya cenderung mengatakan itu. Apa yang saya anggap benar itu semata-mata bersumber dari suara hati saya.

______________________

Islamthis,

Sekarang sudah sampai kepada inti dari kekacauan Anda yang tercermin dalam artikel Anda ini, yaitu SUARA HATI.

Mengapa Anda berpendirian bahwa SUARA HATI yang Anda miliki adalah segala-galanya? Anda harus sadar, bahwa banyak SUARA HATI telah mendorong manusia untuk berbuat keji dan menjijikkan. Lihatlah para pengemis yang konyol itu. Mereka masih muda, kuat dan segar. Namun karena suara hati yang berbisik dalam jiwa mereka, mereka memilih menjadi pengemis. Maka apakah lantas suara hati mereka adalah benar?

Banyak para gadis yang menyerahkan kesucian mereka kepada pemuda brengsek hanya karena suara hati para gadis itu menyatakan yang demikian. Maka apakah suara hati para gadis itu adalah benar?

Anda memang kacau!

______________________

Suara_hati,

Saya beranggapan bahwa siapapun yang belajar agama (apapun) seharusnya akan menjadi manusia yang lebih baik terhadap sesama, lebih toleran terhadap orang lain, intinya lebih bermoral. Kalau sebaliknya yang terjadi, saya merasa pasti ada yang salah. Fanatisme selalu ada dalam setiap agama. Sebagai orang yang mengaku Islam, tentu saja saya merasa bahwa jalan yang benar adalah Islam. Buat pemeluk yang lain tentu agama mereka yang benar. Keyakinan ini tidak seharusnya menjadi sumber permusuhan. Seperti yang saya tahu Islam mengajarkan “tidak ada pemaksaan dalam agama”. Prinsipnya saling menghormati.

Saya merasa sangat terganggu dengan tayangan TV bertema Islam yang sering menggambarakn ancaman Allah yang sengat kejam. Saya mengerti bahwa tayangan itu dimaksudkan untuk menambah keimanan Islam kita. Yang saya tidak mengerti kenapa penggambarannya selalu dengan hukuman Allah yang begitu kejam. Semua dengan khotbah ayat-ayat Alquran sebagai penutup acara.

______________________

Islamthis,

ANDA JUGA luput untuk melihat hal sebaliknya. Banyak kaum Muslim yang semakin mereka mendalami Islam, maka semakin kukuhlah mereka dengan toleransi terhadap umat beragama lain. Betapa banyak kaum Muslim intelektual yang tinggi pemahamannya akan Islam, justru menjadi pemersatu masyarakat dalam semangat toleransi dan saling asih. Saya pun juga berasal dari kaum Muslim yang berpendidikan tinggi, dan tinggi juga pemahaman saya akan Islam (Amin!). Namun toh saya tidak pernah membenci umat lain. Saya dengan serta-merta mengutuk segala bentuk ketidakharmonisan terhadap umat agama lain. Sudah saya tegaskan di blogging saya ini, bahwa Islam mengutuk segala bentuk terorisme, dan Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan membunuhi mereka yang menolak Islam.

Allah akan menghukum pendosa dengan hukuman yang amat kejam, itu memang benar. Namun bukankah pendosa itu layak mendapatkannya? Apakah kita ingin, supaya para pendosa itu diberi hukuman yang KELEWAT RINGAN saja setelah para pendosa itu berbuat kejahatan dan kekejian di muka bumi? Wah kalau para pendosa itu diganjar dengan hukuman yang kelewat ringan (seperti yang Anda inginkan), maka MARILAH KITA SEMUA BERRAMAI-RAMAI BERBUAT DOSA YOOOOOOOKKKKKKKKK ……….

Anda harus lihat, bahwa kaum saleh pun juga akan mendapatkan ganjaran yang KELEWAT BERAT di dalam Surga. Hidup enak. Dikelilingi bidadari. Tinggal dalam istana. Berjubah emas dan intan. Wajah jadi guwanteng.

Intinya, TIDAK MUNGKIN kalau kita menuntut Tuhan, supaya para pendosa diberi hukuman yang ringan saja, sementara para saleh diberi ganjaran yang kelewat berat di dalam Surga. Itu seeih mau nya Anda! Harus adil dong.

______________________

Suara_hati,

Waktu Aa Gym kawin lagi, saya sangat terpukul. Saya tidak setuju tapi tidak bisa berkomentar banyak. Saya merasa ada yang salah. Penilaian saya semata-mata hanya karena suara hati saya mengatakan demikian. Poligami selalu menjadi perdebatan. Ada yang setuju ada yang tidak. Semua argumennya didasarkan pada Alquran, hadiths. Apa nabi menganjurkan poligami ?

______________________

Islamthis,

Ya memang benar, Nabi Muhammad Saw MENGANJURKAN poligami. Anda harus ingat, bahwa semua Nabi Allah, apalagi semua Nabi yang ada dalam Alkitab orang Kristen, semua mereka berPOLIGAMI. Hanya Adamlah yang tidak poligami, karena perempuan yang dapat Adam nikahi hanya lah Siti Hawa ….., plus anak-anak dari Adam generasi pertama juga tidak dapat berpoligami, karena jumlah wanita kala itu amat terbatas.

Semua leluhur manusia juga berpoligami. Kalau tidak ada poligami di muka bumi ini, pasti umat manusia SUDAH PUNAH sejak dari dulu. Karena ada poligami-lah, umat manusia dapat survive!

Intinya, Aa Gym TIDAKLAH SALAH ketika ia memutuskan untuk poligami. Yang salah justru para jemaahnya yang langsung antipati kepada Aa Gym. Mereka yang menjadi berbalik antipati kepada Aa Gym adalah mereka yang tidak menyadari bahwa poligami adalah sunah Rasul Muhammad dan semua Rasul.

______________________

Suara_hati,

Saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Islam. Ulama bicara macam-macam bahkan bisa berseberangan. Semua merasa apa yang mereka sampaikan bersumber dari Alquran, hadiths dan Sirat Nabi. Saya merasa yang sesuai dengan suara hati itulah yang betul dan yang tidak itu salah. Pendapat saya ini aneh karena tidak saya dasarkan pada pengetahuan saya sendiri akan Islam. Kalau saya mendengar ajaran Islam dari Ulama tertentu yang tidak sesuai dengan suara hati, saya menolak. Selalu saya akan mencari pembenaran sendiri bahwa tidak mungkin seperti itu.

______________________

Islamthis,

Sekali lagi, Anda harus ingat, bahwa suara hati Anda bukanlah Tuhan.

Kalau semua manusia diperintahkan hanya untuk mengikuti kata hati mereka maka buat apa ada agama? Buat apa ada Tuhan? Buat apa ada Nabi dan Rasul?

Tampaknya Anda merasa bahwa Anda hanya harus mengikuti kata hati Anda. Memangnya Anda ini siapa? Apakah Anda manusia berhati emas? Apakah Anda termasuk ras Malaikat yang suci dari dosa sehingga semua kata hatinya sudah pasti membawa kepada kebenaran yang hakiki?

Dari masalah ini saja (yaitu Anda memutuskan hanya untuk mengikuti kata hati Anda saja) – sudah menunjukkan dua hal:

  1. Anda ge-er! Anda merasa suara hati Anda adalah pahlawan kebenaran. Tidak ada satu manusia pun yang sampai pada kesimpulan bahwa suara hati mereka adalah pahlawan kebenaran. Itulah sebabnya manusia-manusia dewasa banyak yang pergi menemui teman-teman mereka khususnya yang senior untuk meminta nasihat dan pendapat mengenai jalan kehidupan mereka, bukannya mengikuti kata hati.
  2. Anda belum dewasa dan matang. Anda masih ijo. Akan datang saatnya kepada Anda kedewasaan itu, dan pada saat itulah Anda akan INSAF bahwa kata hati lebih tepat untuk dicurigai, bukan untuk dibangga-banggakan. Kalau Anda sudah sampai pada umur Anda di mana Anda sudah banyak makan garam pahit getirnya hidup di Dunia ini, maka Anda akan segera sadar bahwa menuruti kata hati adalah perkara anak ingusan yang belum bisa mandiri.

Di lain pihak, Islam (maupun agama lainnya) adalah jalan hidup yang mengajarkan bahwa manusia harus pandai-pandai menaklukkan kata hati mereka. Firman Tuhan, kebenaran, bukanlah apa yang digemakan kata hati.

______________________

Suara_hati,

Begitu banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang sulit untuk saya ungkapkan. Ini semua mendorong saya untuk ingin tahu lebih banyak tentang Islam, dengan membaca sendiri Alquran, Tafsir, Hadiths, dan Sirat Nabi. Saya ingin tahu lebih banyak supaya saya bisa menjalankan kehidupan agama saya, keluarga saya, istri dan anak-anak saya dengan sebaik-baiknya. Saya tidak bisa menjalankan sesuatu yang saya tidak pahami betul. Saya tidak bisa berpura-pura. Saya tahu orang tua saya sangat menginginkan saya untuk menjalankan Islam saya dengan sebaik-baiknya, sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Semuanya untuk kebaikan hidup dunia dan akhirat.

 

Saya ingin tahu sendiri bagaimana sejarah Nabi dari sumber-sumber Islam, saya ingin tahu Alquran, saya ingin baca sendiri Hadiths yang dianggap sahih. Dengan demikian saya tidak terombang-ambing oleh orang lain. Bukankah Islam itu rahmat untuk semua manusia ?

 

Buku-buku tentang Islam banyak sekali. Buku tentang sejarah nabi, tafsir Alquran banyak sekali. Saya harus mulai dari mana? Begitu mulai saya tahu bahwa ternyata tidak mudah bahkan untuk mencari sumber-sumber yang bisa dipercaya. Kalau kita membaca tulisan Islam yang bicara baik-baik, kita akan langsung setuju dan tidak pernah mau tahu sumbernya dari mana. Sekalipun mungkin ceritanya absurd. Sebaliknya kalau ada tulisan yang negatif kita akan bilang bahwa itu rekayasa, palsu, sekalipun tulisan itu memberikan sumbernya. Tafsir juga macam-macam. Buku-buku Islam modern sangat beragam. Masing-masing mengandung opini dari penulisnya. Kadang kita setuju kadang tidak. Jadi sangat sulit. Dengan kondisi semacam ini, saya ingin kembalikan ke sumber awalnya. Saya cari buku-buku Islam awal yang banyak menjadi rujukan penulis-penulis modern.

 

Beberapa yang paling utama adalah …………

  • Buku biografi nabi paling awal “Sirat Rasul Allah” oleh Muhammad Ibn Ishaq (th.768) yang kemudian dikumpulkan dan “disaring” olah Ibn Hisham (th 833) dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh A. Guillaume.
  • Kisah perang Nabi dengan judul “Kitab al-Maghazi” ditulis oleh Al-Waqidi (th 823).
  • Kemudian muridnya Ibn Sa’d (th 845) dengan bukunya “Kitan al-tabaqat al-Kabir (the great book of classes), yang menguraikan kualitas Nabi dan misi-misinya.
  • Kemudian Al-Tabari (th 923) dengan bukunya yang dianggap monumental “Tarikh al-Rusul wa’l Muluk” (History of the Apostles and the Kings) dan juga buku tafsirnya.
  • Tafsir Alquran Al-Tabari,
  • Az-Zamakhshari (d.1144),
  • Ibn Kathir (tahun 1373),
  • Al-Qurtubi,
  • Jalalayn,
  • Muhammad Abduh (d.1905).
  • Juga buku-buku Kamus Islam, atau tulisan-tulisan Islam lainnya. Sahih hadiths Bukhari,
  • Muslim,
  • Abu Dawud,
  • Malik Muwatta,
  • Hadiths Qudsi.

 

Saya juga mulai mengenal biografi Nabi oleh penulis modern seperti

  • Muhammad Haekal,
  • Saifur Rahman al-Mubarakpuri (bukunya berjudul “The Sealed Nectar” yang memperoleh penghargaan pertama olah dunia Muslim dalam kompetisi mengenai tulisan sejarah nabi di Mekkah th 1979).

Saya juga mulai membaca beberapa Alquran terjemahan Indonesia: Depag, HB Yassin dan Inggris (Yusuf Ali, Shakir, Pickthall, Palmer, Muhsin Khan, Syed Abu-Ala’ Maududi). Dan banyak lagi.

 

Saya mulai mengenal sumber-sumber tersebut, ada yang sudah saya baca secara keseluruhan, ada juga yang saya baca per bagian sesuai dengan apa yang ingin saya ketahui. Banyak sekali buku-buku tersebut yang sekarang sudah on-line terutama dari web-site Muslim. Kalau beli harganya lumayan mahal. (Suatu hari saya ke Gn. Agung mencari buku sejarah nabi. Saya ketemu karangan Haekal dengan pengantar Hamka. Saya tertarik. Saya beli, kalau tidak salah harganya lebih dari 350 rb. Pada waktu saya cari di internet, saya dapat bukunya, sama persis bahkan saya juga bisa dapat yang terjemahan inggris. “Gratis”, ongkos download aja). Saya juga beli hadiths Bukhari dan Muslim yang tidak komplit, habis lebih dari 500rb. Ternyata saya cari di internet saya malah dapat yang komplit, gratis lagi. Begitu juga Alquran, tafsir, dsb.

 

Saya mulai banyak membaca diskusi-diskusi Islam. Seolah-olah hari-hari saya, sampai saat ini, hampir semuanya tercurah untuk mengenal lebih banyak tentang Islam. Kapan saja ada waktu, pasti saya berkutat disini. Bisa dari bangun tidur, sampai malam mau tidur. Non-stop. Banyak sekali yang saya ingin tahu.

 

Kaget dan shock. Itu yang saya dapat. Gambaran yang saya dapat dari sumber-sumber itu mengenai sejarah nabi, para sahabat (kalifa dan sahaba), istri-istri nabi, sejarah Islam “seolah-olah” bertentangan dengan yang saya yakini selama ini. Setiap saya baca sesuatu yang tidak pas dengan pemahaman saya, saya selalu berusaha menolak. Ada yang berkomentar mungkin sumber yang saya baca palsu, hasil propaganda yahudi, Barat, orientalis. Mungkin pemahaman saya salah, di luar konteks. Mungkin saya seharusnya membaca Alquran dalam bahasa Arab, dsb.

 

Justru karena saya menolak hal-hal negatif yang saya baca tentang Islam, saya berusaha sangat berhati-hati untuk mencoba memahaminya. Saya pastikan bahwa sumber yang saya baca asli dari sumber Muslim dan sama dengan yang dibaca oleh para ulama dan kalangan Muslim. Saya berusaha mengerti benar konteksnya. (Sebaliknya untuk pernyataan yang sifatnya positif, tentu saya tidak perlu meragukan keasliannya meskipun pernyataan tsb tidak pernah memberikan sumbernya dari mana, bahkan konteksnya sekalipun).

______________________

Islamthis,

Paragrah Anda yang di atas ini, benar-benar menunjukkan bahwa Anda belum matang di dalam berfikir. Wawasan Anda masih tidak lebih lebar dari daun kelor.

Ketika Anda membaca buku-buku Islam, yang sebagian besarnya mungkin memaparkan hal-hal suram dari Islam itu sendiri, maka saya tegaskan, bahwa SEDIKIT PUN TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN ISLAM. Kalau Anda merasa bahwa hal-hal suram itu menunjukkan bahwa Islam adalah sesat dan salah, maka KAMULAH YANG BERMASALAH.

Apakah Anda mengira bahwa hanya Anda yang membaca dan mengetahui adanya hal-hal suram mengenai Islam (Muhammad Saw, Alquran, Allah, Alhadis delele)? Apakah Anda mengira milyaran Muslim lain di Dunia ini tidak pernah tahu bahwa nun di sana tersebar fakta bahwa Islam mempunyai bagian yang suram, mulai sejak dari personalitas Muhammad Saw, Alquran, Allah, sampai kepada aturan Islam dan juga arsitektur Alhadis secara keseluruhannya?

Oh tidak, kawan. Milyaran Muslim di Dunia ini juga telah mengetahui bahwa Islam memang mempunyai bagian suram. Dan hal itu memang tidak ditutup-tutupi. Namun mengapa milyaran Muslim itu lantas tidak membenci Islam tepat ketika mereka mengetahui bahwa Islam TIDAK SE-MEMUASKAN tuntutan bathin mereka?

Jawabannya adalah, karena milyaran Muslim itu adalah INDIVIDU-INDIVIDU YANG DEWASA. Tidak seperti Anda yang masih naif dan ijo layaknya bocah.

Pertama.

Tidak bisa diingkari bahwa Islam memang mempunyai bagian suram. Dan itu semua memang berasal dari sumber yang patut untuk dipercaya. Namun ingatlah, BUKAN ISLAM saja yang mempunyai bagian yang suram tersebut.

Apakah Anda selama ini tidak pernah membaca Alkitab Perjanjian lama dan Perjanjian  baru? Di dalam kedua kitab itu kita akan mendapat gambaran yang utuh bahwa sebenarnya Tuhan dan juga kehidupan para Nabi Alkitab ADALAH SESURAM ITU. Dengan demikian kita harus bertanya, mengapakah kita harus mempersalahkan Muhammad dan Islam untuk semua hal-hal yang sebenarnya JUGA DILAKUKAN OLEH Tuhan AGAMA PRA-ISLAM beserta Nabi-Nabi Alkitab mereka?

Kalau Anda belum membaca Alkitab nya orang Yahudi dan Kristen, maka itu MENANDAKAN bahwa Anda memang TERLALU NAIF. Anda belum melihat Dunia ini pada bagian terbesarnya.

Memang, arahan saya yang seperti ini jadi seolah mengajarkan Anda untuk membaca kitab suci orang lain yang sebenarnya SANGAT TIDAK PERLU dilihat dari ajaran Islam. Karena kalau toh Anda memang membaca kitab suci agama lain, maka bisa-bisa Anda jadi beralih ke agama tersebut yang mana itu akan membawa Anda kepada kebinasaan.

Kedua.

Namun Saya mempunyai inti dari arahan saya ini. Inti itu adalah, bahwa Anda BELUM DEWASA. Anda terlalu menganggap bahwa MANISNYA JIWA ANDA adalah lebih baik dari suatu agama. Karena Anda belum dewasa, maka Anda menganggap bahwa jiwa / roh Anda semanis madu. Itu namanya naif. Dan karena Anda menganggap jiwa Anda manis, maka sontak Anda menganggap Islam itu keji. Dan sesat, as well.  Kalau Anda sudah mempunyai kedewasaan, maka tidak mungkin Anda menjadi orang linglung seperti ini.

Saya mempunyai gambaran mengenai betapa Anda masih naif, dikarenakan Anda masih hidup dengan jiwa manis.

Tono dan dono. Tono mengenakan baju baru, sementara dono memakai baju yang sudah lama. Karena tono mengenakan baju yang masih baru, maka tono terlihat terlalu menjaga semua gerak geriknya supaya bajunya tidak lecek dan kotor. Ia jadi begitu sensitif dan terlalu banyak menghindari ini-itu. Tono jadi tidak realistis di dalam pergaulannya. Sedikit-sedikit ia menyeka bajunya. Tentu saja ini memuakkan. Semua  orang pasti begitu kalau sedang mengenakan benda-benda yang masih baru.  Dono, di lain pihak, yang mengenakan baju yang sudah lama, biasa-biasa saja. Ia tidak terlalu menjaga kebersihan bajunya. Artinya, dono realistis. Ia tidak terlalu ambil pusing kalau toh bajunya jadi kotor. Kalau kotor, ya dicuci lagi sepulangnya di rumah. Mengapa mesti repot? Yang namanya baju, ya pasti kotor kalau sudah dipake. Tidak mungkin ada baju yang tidak pernah kotor ketika habis dipakai.

Nah Anda itu, wahay @suara_hati, adalah seperti tono. Anda masih muda. Anda masih anak kecil. Anda masih terlalu ijo dengan pemahaman Anda. Roh Anda itu masih muda, masih baru. Hal itulah yang mengakibatkan Anda menjadi begitu tidak realistis. Karena Anda masih ijo, maka Anda anggap kesuraman yang ada di dalam Islam adalah tanda bahwa Islam adalah sesat. Padahal bukan Islamnya yang sesat, namun Anda-nya-lah yang masih ijo, masih hidup dengan jiwa manis. Anda belum tegar.

Ketiga.

Tidak ada satu pun kitab suci di Dunia ini yang mempunyai lukisan seolah Tuhan dari suatu agama adalah SEMANIS ITU, semanis kasih dan belaian seorang nenek kepada cucu-cucu kesayangannya. Tidak ada.

Semua agama mempunyai kitab suci yang isinya penuh dengan kekejian dan peperangan, penghukuman dan tumpah darah. Kitab suci agama Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, shinto delele, adalah kitab-kitab suci yang penuh dengan anyir darah. Dan itu semua dinyatakan oleh suatu kitab suci dalam rangka menegaskan kesucian dan keagungan Tuhan dari agama tersebut.

Akhirnya toh kita akan sampai pada pertanyaan, mengapa Tuhan dalam semua kitab suci selalu dilukiskan sebagai biang perang dan penghukuman yang sadis? Mengapa Tuhan dari agama mana pun tidak pernah tertarik untuk melukiskan diri-Nya sebagai sosok yang manis dan penuh belaian dan ampunan? Apa kira-kira yang menjadi jawaban untuk pertanyaan yang bagus itu?

Jawabannya adalah, bahwa INI ADALAH DUNIA, INI BUKANLAH Surga, bung.

DI Dunia ini, bukan manusianya saja yang keras. Namun Tuhan pun juga keras. Berbeda dengan di Surga. Di Surga Tuhan dengan serta merta berubah menjadi sosok yang penuh belaian bak seorang nenek kepada cucu-cucu kesayangannya.

Ketika Anda hidup di Dunia ini, JANGAN HARAP Anda bisa mendapatkan sosok Tuhan yang jauh dari kekerasan dan anyir darah DARI AGAMA MANA SAJA. Jangan harap sekali pun! Karena kalau Anda berharap dan menghayalkan demikian, maka Anda akan stress sendiri.

Dan dari sifat kerasnya Tuhan, toh itu tidak mempengaruhi kebenaran dan keagungan Tuhan. Nah itulah agama. Jadi intinya, Tuhan boleh saja menghadirkan diriNya sebagai sosok yang keras, biang perang atau juru penghukum yang sadis. Namun kebenaran-Nya jalan sendiri.

Kebenaran Tuhan itulah yang harus kita cari dan kita ikuti. Dan dari semua agama, nilai kebenaran Tuhan itu HANYA ADA DALAM ISLAM, tidak pada agama lain.

Dan akhir kata, Anda wahai @suara_hati, jangan lah berfokus pada betapa suramnya Islam (atau agama mana pun). Namun hendaklah Anda fokus pada nilai kebenaran dari suatu agama. Kebenaran Tuhan. Kebenaran teologis. Kebenaran filosofis. Dan kebenaran logika yang mendasarinya. Islam mempunyai itu semua.

Dan kalau pun Anda memutuskan untuk tetap berfokus pada betapa suramnya Islam, (bukan pada nilai kebenaran dari suatu agama) maka seperti yang sudah saya jelaskan. Siapa Anda? Bukankah Anda masih terlalu bocah dan naif untuk menilai suatu agama? Anda bukanlah siapa-siapa. Dan suara hati Anda pun juga bukan representasi dari kebenaran. Yang jelas, suara hati Anda itu masih PREMATUR.

Keempat.

Ya, katakanlah Anda melihat dari beberapa buku keislaman, bahwa Islam itu adalah suatu agama yang suram, keji, keras, yang mana data-data itu semua berasal dari sumber sejarah yang dapat dipercaya. Dan itu akhirnya membuat Anda hengkang dari Islam, alias MURTAD.

Lantas Anda mau murtad ke mana? Ke Kristen?

Ingatlah, dalam Kristen pun juga terdapat teks suci yang melukiskan betapa Tuhan Alkitab adalah biang perang dan tukang kutuk. Baik Perjanjian lama mau pun Perjanjian  baru mempunyai bab yang menekankah bahwa sifat alami Tuhan adalah biang perang dan penghukuman.

Jadi, kalau Anda beralih ke Kristen dari Islam demi menghindari betapa Tuhan Islam begitu kejam, maka itu seperti pepatah LEPAS DARI KANDANG HARIMAU MASUK KE KANDANG BUAYA. Anda jadi seperti seorang gadis yang masuk kampung A, di sana ia diperkosa. Kemudian ia pergi ke kampung B mengadukan nasibnya yang diperkosa oleh penduduk A. Apa yang didapat sang gadis di kampung B? Ia diperkosa juga oleh penduduk kampung B.

Samimawon!

Dan itu pun parahnya, dalam agama Kristen tidak ada nilai kebenaran Tuhan secuil pun! Semua hal yang diklaim sebagai kebenaran dalam Kristen, adalah hayalan semu semata. Alhasil, dalam agama Kristen itu Anda bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula: pertama= Anda melihat bahwa Tuhan Kristen ternyata biang perang dan gemar main kutuk; dan kedua= Kristen tidak akan bisa memberi Anda nilai kebenaran ketuhanan yang hakiki dan agung.

______________________

Suara_hati,

Tuntunan saya (adalah) suara hati dan akal. Saya sering merenung tentang moral. Di masyarakat Inuit (orang yang tinggal didaerah dekat kutub utara), orang akan menawarkan istrinya untuk ditiduri tamunya. Apakah ini bermoral ? Kalau tidak kenapa itu dilakukan oleh masyarakat itu? Tentu menurut masyarakat tsb tidak ada yang salah dengan hal itu. Dengan begitu menurut ukuran mereka tindakan itu bermoral? Bagaimana menilainya? Kalau kita yang disuruh menilai tindakan itu, tentu kita akan bilang itu tidak bermoral. Apa dasarnya? Agama? Jadi apakah moralitas datangnya dari ajaran agama? Apakah dengan begitu orang yang tidak beragama tidak bermoral atau akan mudah kehilangan moralnya? Apakah moralitas hasil dari agama?

 

Kalau misalnya saya tanyakan ada orang yang secara seksual bernafsu terhadap ibu atau saudara kandungnya (incest), apakah itu bermoral? Kita bisa bilang dengan pasti bahwa orang itu gila dan tidak bermoral. Kenapa? Pendapat kita ini hasil dari mana? Apakah dari agama?

 

Saya merasa bahwa sebagian besar moralitas kita berasal dari instinct kita, suara hati kita (sebagian besar percaya bahwa suara hati adalah suara Ilahi). Sebagai contoh incest tadi dianggap tidak bermoral oleh setiap masyarakat, baik itu beragama maupun tidak. Tentu saja ada orang cacat mental yang mau melakukan itu.

 

Jadi bagaimana ukuran moral? Apakah moral berubah-ubah sesuai perkembangan jaman, dan budaya masyarakatnya? Bagaimana dengan poligami, poliandri?

 

Apakah mempertontonkan anggota badan kita bermoral? Di hutan Amazon, beberapa suku telanjang bulat. Orang bali jaman dulu memperlihatkan payudaranya. Apakah ini bermoral? Di beberapa negara Muslim, perempuan Muslim diharuskan memakai burka. Apakah ini bermoral? Kalau jawabannya ya, tentu orang yang tidak memakai burka dianggap tidak bermoral? Bagaimana dengan yang mengenakan Jilbab. Atau orang yang mengenakan bikini di pantai? Apakah mereka tidak bermoral? Banyak yang berpendapat bahwa itu tergantung dari siapa kita dan bagaimana standard pribadi kita mengenai moral.

 

Saya pribadi yakin bahwa yang namanya moral sifatnya abadi, tidak dibatasi waktu dan tempat. Apakah moral berubah-ubah sesuai perkembangan jaman? Apakah tidak bermoral di suatu tempat bisa bermoral ditempat lain? Saya tidak tahu definisinya. Kadang kita mencampur adukan moral dengan etika. Saya tidak tahu mana yang sifatnya lebih tinggi. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa ada suatu nilai yang sifatnya abadi. Suara hati kita bilang mencuri itu salah, tidak bermoral. Memperkosa orang itu tidak bermoral. Membunuh itu salah.

______________________

Islamthis,

Anda mempertanyakan moralitas sambil mengisahkan masyarakat Inuit yang menyerahkan istrinya untuk tamunya, dan masyarakat Amazon yang bertelanjang bulat, plus, tidak tertinggal pula, masyarakat Bali pada masa silam yang bertelanjang dada.

Maka apakah tradisi masyarakat Inuit dan lain lain nya itu bermoral?

Anda lupa. Kalau pun memang benar bahwa masyarakat Inuit menawarkan istrinya untuk tamunya, maka pasti TRADISI ITU DIAJARKAN DAN DIPERINTAHKAN oleh Tuhan di dalam agama mereka. Kalau Tuhan di dalam agama mereka MELARANG HAL itu, pastilah mereka, masyarakat Inuit, tidak akan mempunyai tradisi menawarkan istri-istri mereka kepada tamu mereka. Begitu juga dengan masyarakat amazon yang telanjang bulat, dan masyarakat Bali yang pada masa silam memperlihatkan payudara mereka. Itu semua mereka tradisikan, karena tidak lebih – tidak kurang DIAJARKAN OLEH TUHAN MEREKA DALAM AGAMA MEREKA.

Saya tegaskan, bahwa moralitas memang berasal dari agama, terlepas agama mana pun. Intinya, semua masyarakat manusia adalah masyarakat yang bertuhan, terlepas apa agama mereka. Dan Tuhan dari agama mereka itulah yang mengembangkan tradisi yang bermacam-macam, mulai dari tradisi yang mencengangkan Dunia, sampai tradisi yang aneh dan menjijikkan.

Jadi intinya, kalau masyarakat Inuit punya tradisi menawarkan istri mereka untuk tamu mereka, maka tradisi itu adalah ajaran dalam agama mereka. Dari situlah terbentuk moralitas suatu bangsa. Itu bukanlah kata hati mereka. Itu bukanlah kehendak mereka. Namun mereka percaya bahwa hal itu adalah kehendak agama mereka.

Masalah selanjutnya adalah, APAKAH AGAMA YANG MEREKA ANUT ITU, ADALAH AGAMA YANG BENAR?

Untuk menjawabnya kita tentulah membutuhkan intelektualitas dan kesadaran yang paling tinggi. Letak benar-salahnya suatu agama harus dilihat dari ajaran moralitas yang diusung agama tersebut (dibandingkan dengan moralitas yang diusung agama lain), kemudian juga dilihat dari sejarah agama tersebut. Filosofi dari suatu agama juga menentukan apakah suatu agama adalah agama yang benar atau tidak. Dan kalau kita kaji semua agama melalui kriteria tersebut, maka jelaslah BAHWA ISLAM LAH AGAMA YANG BENAR.

Pertanyaan selanjutnya dari paragraf Anda di atas,

Saya pribadi yakin bahwa yang namanya moral sifatnya abadi, tidak dibatasi waktu dan tempat. Apakah moral berubah-ubah sesuai perkembangan jaman? Apakah tidak bermoral di suatu tempat bisa bermoral ditempat lain? Saya tidak tahu definisinya. Kadang kita mencampur adukan moral dengan etika. Saya tidak tahu mana yang sifatnya lebih tinggi. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa ada suatu nilai yang sifatnya abadi. Suara hati kita bilang mencuri itu salah, tidak bermoral. Memperkosa orang itu tidak bermoral. Membunuh itu salah.

Yap, moralitas itu (HARUSNYA) abadi. Kalau kita sepakat bahwa agama adalah abadi, maka hendaknya moralitas itu juga abadi. Dan dari semua agama yang ada di Dunia ini, moralitas yang diusung Islam sajalah yang abadi, selainnya tidak.

Sebagai contoh,

  • masyarakat Bali yang dahulu kala bertelanjang dada, sekarang sudah berbusana lengkap. Padahal kaum Muslim atau pihak mana pun tidak ada yang melakukan tekanan atau paksaan atas masyarakat Bali untuk meninggalkan tradisi tersebut. Jadi, moralitas masyarakat Bali (kala itu) tidak lah abadi, luntur ditelan jaman.
  • Masyarakat batak pada masa lampau suka makan manusia. Namun sekarang tradisi itu sudah tidak berlaku lagi. Itu adalah moralitas batak kala itu, dan sekarang sudah punah. Artinya tidak abadi.
  • Masa sekarang masyarakat papua masih banyak yang berkoteka alias bertelanjang. Lihatlah, kelak nanti mereka akan meninggalkan tradisi tersebut.
  • Pada masa silam, masyarakat Barat (yang Kristen) mengharuskan kaum wanitanya untuk berbusana rapi hingga menutup semua aurat. Namun tradisi itu sudah lenyap. Sekarang masyarakat Barat yang Kristen sudah demikian bebasnya berbusana. Hasilnya kita melihat masyarakat Barat menjadi masyarakat yang tidak mempunyai moralitas sedikit pun di dalam hal berbusana, khususnya pada kaum wanita. Mereka gemar berbusana yang serba terbuka: dada terlihat, paha terlihat, punggung terlihat, betis terlihat, perut dan pusar terlihat, belahan dada terlihat, dan seterusnya. Itu adalah moralitas Barat kala itu, dan sekarang sudah punah. Artinya tidak abadi.

Ini menunjukkan bahwa paket moralitas yang dikuasai non Muslim tidak abadi sama sekali, alias berubah-ubah sesuai dengan perubahan jaman. Dengan demikian nasib mereka berkenaan moralitas mereka itu bagaikan terombang ambing di atas pusaran gelombang Dunia yang tidak menentu. Na’udzubillah mindZalik!

Namun bagaimana dengan masyarakat Muslim? Tidak ada satu pun paket moralitas di kalangan Muslim yang hilang atau berganti. Sejak dahulu sampai sekarang masyarakat Muslim kuat memegang keyakinan, bahwa berzina adalah dosa dan immoral. Demikian juga dengan berjudi, mabukmabukan, makan riba, makan babi dan tikus. Berbusana yang rapi hingga menutup aurat. Kesemua tradisi moral yang berasal dari ajaran Islam itu sampai sekarang masih MEMERINTAH manusia-manusia Muslim di mana pun mereka berada.

Kembali ke statement saya sebelumnya. Sudah saya katakan, moralitas itu (HARUSNYA) abadi. Kalau kita sepakat bahwa agama adalah abadi, maka hendaknya moralitas itu juga abadi. Dan dari semua agama yang ada di Dunia ini, moralitas yang diusung Islam sajalah yang abadi, selainnya tidak. Nah dari sini saja sudah terbukti, bahwa Islam adalah agama yang benar, meninggalkan agama lainnya sebagai agama yang salah. Mengapa Islam terbukti sebagai agama yang benar? Ya, karena semua paket moralitas yang diusung Islam adalah paket moralitas yang abadi, tidak seperti paket moralitas dari agama dan umat lainnya yang timbul tenggelam di tengah gelombang kehidupan jaman.

Ini silogisme-nya,

  • Agama yang benar adalah agama yang abadi.
  • Agama membawa moralitas.
  • Kalau agama itu abadi, maka moralitas juga abadi.
  • Dan kalau ada moralitas yang tidak abadi, maka agama yang membaca moralitas itu adalah agama yang tidak abadi, alias agama yang salah.
  • Dari semua paket moralitas yang pernah ada di muka bumi, hanya paket moralitas keislaman sajalah yang abadi.
  • Itu artinya, Islam adalah agama yang benar.

______________________

Suara_hati,

Intinya:

Jangan melakukan sesuatu yang Anda tidak mau orang lain melakukannya terhadapmu.

Saya bilang ini “golden rule”. Jangan menyakiti orang kalau Anda tidak mau disakiti. Jangan melanggar hak orang kalau hak Anda tidak mau dilanggar. Anda tidak mau diperkosa, maka jangan memperkosa orang. Anda tidak mau diperbudak, maka jangan memperbudak orang (harus dibedakan dengan pembantu: pembantu adalah pekerjaan yang sifatnya timbal balik, sesuai persetujuan. Sebaliknya budak itu seperti barang, komoditi, dimiliki dan bisa diperjual belikan).

______________________

Islamthis,

Islam tidak pernah mengajarkan dan memperkenalkan golden rules. Dan dari posisi Islam mengenai hal ini, justru terbukti bahwa Islam adalah agama yang benar.

Golden rules adalah cara berfikir yang kacau, tidak menentu, dan tidak memiliki platform yang jelas secara universal.

Mengenai golden rules ini, Anda tulis,

Jangan menyakiti orang kalau Anda tidak mau disakiti. Jangan melanggar hak orang kalau hak Anda tidak mau dilanggar. Anda tidak mau diperkosa, maka jangan memperkosa orang. Anda tidak mau diperbudak, maka jangan memperbudak orang.

Bagaimana kalau begini,

Saya mau dan senang diperkosa. Maka apakah itu berarti saya boleh memperkosa orang? Apakah itu berarti saya tidak bersalah kalau saya memperkosa orang? Kalau saya senang diperkosa, maka bukankah itu berarti harus ada orang yang bersedia saya perkosa?

Saya adalah orang yang tidak mau ditolong orang lain. Maka bukankah itu berarti saya tidak berdosa jika saya tidak menolong orang lain yang membutuhkan?

Saya senang kalau anak gadis saya jadi objek permainan sex para pemuda kampung. Maka bukankah itu berarti orang lain juga harus senang kalau anak gadis mereka menjadi objek permainan sex saya??

Saya senang mabukmabukan hingga teler. Maka bukankah itu berarti saya harus ijinkan orang lain untuk juga mabukmabukan hingga teler???

Saya gemar memperkosa istri orang hingga hamil. Mengapa demikian? Karena kebalikannya, saya pun juga gemar melihat istri saya diperkosa pria lain hingga hamil. Hebat bukan?

Bukankah itu semua adalah golden rules?

Anda harus mengerti. Manusia di muka bumi ini MACAM-MACAM. Ada yang senang anak gadisnya jadi pelacur. Ada juga yang senang istrinya ditiduri bergantian oleh pria-pria sepasar. Ada yang senang melihat anak gadis dan ibunya bertelanjang ria ke pasar. Maka itu berarti, dari perspektif golden rules, harus ada orang lain yang juga harus suka memerintahkan anak gadis dan ibunya bertelanjang ke pasar.

Itulah yang dimaksud dengan golden rules. Karena golden rules mengimplikasikan kekacauan moral, maka dari itu Islam yang merupakan agama yang benar MENOLAK UNTUK MENGAJARKAN GOLDEN RULES INI….. Faham?

______________________

Suara_hati,

Perbudakan pada jaman dulu dinggap praktek yang normal. Saya bilang bahwa itu tidak bermoral, baik kita mengukurnya pada jaman dulu atau sekarang. Kalau orang dulu menganggap bahwa praktek itu normal, itu bukan berarti bahwa itu bermoral. Saya yakin pasti ada orang orang jaman dulu yang masih punya hati menganggap bahwa praktek ini tidak bermoral meskipun itu umum dilakukan. Kalau kita lihat film perang jaman dulu, serdadu yang menang ada yang membunuh anak-anak dan perempuan biasa bahkan memperkosa mereka, mengambil harta benda mereka, kita bilang bahwa serdadu itu tidak bermoral. Buat saya perbuatan itu tidak ada justifikasinya meskipun itu jaman perang. Tawanan perang yang dijadikan budak seks apakah itu bermoral? (Contoh serdadu Jepang yang menjadikan tawanan perempuan sebagai budak seks mereka, kapanpun kita menilainya, kita bisa bilang itu tidak bermoral). Hitler membunuh banyak orang Yahudi, termasuk perempuan maupun anak-anak. Kita bilang dia tidak bermoral. Buat pengikutnya, dia adalah pahlawan.

 

Manusia selalu punya dua sisi, baik dan jahat. Penipu seringkali berbicara sangat sopan, di luar kelihatan sangat baik, kata-katanya manis tapi perbuatannya samasekali berlawanan. Orang bisa berkhotbah yang baik-baik, manganjurkan kita berbuat baik tapi kalau dia sendiri melakukan hal-hal yang berlawanan dengan anjurannya, integritasnya perlu kita pertanyakan. Semua tindakan kita selalu ada alasannya. Diri kita dinilai dari kata-kata dan perbuatan, tapi perbuatan memberi bobot yang lebih besar. “Actions speak louder than words”. Begitu istilah populernya.

Banyak orang yang mengaku nabi sebelum dan setelah nabi Muhammad. Muslim tidak mengakui orang-orang seperti ….

  • Baha’ullah (Bahais, mengakaui Nabi Muhammad, tetapi mengaku mendapat wahyu sebagai Nabi baru sebagai penerus Nabi Muhammad),
  • Joseph Smith (pendiri mormons, tidak ada hubungannya dengan isalm),
  • Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyya, mengaku dirinya sebagai reformer/pembaharu tidak tidak dengan wahyu baru). Mereka pada umumnya hidup menderita karena klaim mereka itu.
  • Orang Muslim marah karena menganggap Lia Aminudin, juga Ahmadiyah menyebarkan fitnah.

Tapi bagaimana kita tahu mereka nabi palsu? Tentu karena kita percaya bahwa tidak akan ada nabi lagi setelah nabi muhammad. Verifikasi kita didasarkan iman Islam kita?

______________________

Islamthis,

Islam mengajarkan sebuah statement, yaitu tidak akan ada Nabi lagi, karena Muhammad merupakan Nabi terakhir yang diutus ke Dunia ini. Statement ini adalah statement yang berasal dari Allah Swt. Yang harus kita perhatikan adalah, bahwa statement ini seutuhnya merupakan statement KEBER-AKAL-AN, bukan statement iman semata.

Statement Islam yang berbunyi bahwa tidak akan ada Nabi lagi setelah Muhammad Saw, sebenarnya merupakan statement akal (ilmiah, fairness, logis) sekaligus juga statement iman. Maka dengan demikian kita akan dapat kesimpulan bahwa di dalam Islam, iman dan akal itu SEJALAN dan TIDAK PERNAH BERTOLAK BELAKANG.

Fairnessnya, logikanya, ilmiahnya, tidak akan ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw. Kalau umat manusia mau logis, maka mereka harus percaya bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir. Maka Bagaimana Islam menjelaskan bahwa secara logika, ilmiah dan fairness, Muhammad adalah Nabi terakhir?

Pertama.

Eksistensi umat manusia di muka bumi ini, dari Nabi Adam hingga hari kiamat kelak, adalah TEPAT SEPERTI siklus seorang individu jua adanya. Seorang individu manusia itu, pertama ia lahir ke Dunia ini sebagai bayi yang tidak tahu apa-apa. Kemudian ia beranjak remaja. Kemudian jadi orang dewasa. Kemudian ia menjadi orang tua. Dan akhirnya ia meninggal Dunia.

Ketika seorang individu lahir, maka ia akan masuk periode ‘belajar’, yaitu belajar untuk menjadi manusia yang faham segala hal, dan dapat mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya secara intelektual. Pada masa belajar ini, sang individu yang masih muda ini akan terus belajar menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Ia akan dibimbing oleh sekian guru yang handal di bidangnya masing-masing. Yang salah akan dikatakan salah kepada sang anak, dan yang benar akan dikatakan benar kepada sang anak tersebut. Pada masa belajar ini, sang anak akan melihat dan diperlihatkan kepada kebenaran yang diperagakan oleh sang guru secara GAMBLANG DAN MENTAH. Kelak diharapkan dari periode belajar ini, sang anak akan memperoleh sense dan conscience yang baik mengenai kehidupan ini untuk digunakan pada masa dewasa kelak.

Sampai kapan individu tersebut berada dalam periode belajar? Sampai periode, katakanlah SMA. Karena ketika seorang anak sudah memasuki usia tamat SMA, ia dianggap sudah dewasa, ia bukan lagi anak-anak.

Setelah ia tamat SMA itu, maka semua guru yang telah membinanya selama ini akan berpisah dari sang anak. Sang guru tidak akan lagi menemui sang anak, karena para guru melihat bahwa semua ilmu yang diperlukan sudah diajarkan kepada si anak. Sang anak sekarang sendirian. Sejak ia tamat SMA itu, maka semua perbuatan sang anak akan menjadi tanggungjawab sang anak itu sendiri. Sang anak, karena dianggap sudah dewasa, dituntut untuk berbuat dan bekerja untuk Dunianya. Kalau sang anak salah, maka dia sendirilah yang akan dipersalahkan. Dan kalau sang anak benar, maka akan ada reward buatnya.

Satu hal yang harus dibahas adalah, setelah sang anak menempuh jalannya sebagai manusia yang dewasa, setelah tamat SMA itu, apakah mungkin sang guru akan kembali lagi menemui dan mengajari sang anak ini-itu???? Tentu saja tidak. Kalau lah memang sampai kejadian bahwa sang guru kembali mendatangi sang anak dan mengajarinya ini-itu (padahal sang anak sudah dewasa), maka pertanyaannya adalah, KAPAN BERAKHIRNYA MASA BELAJAR ITU???? KAPAN DEWASANYA ANAK ITU? APAKAH MASA BELAJAR ITU TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR?? Apakah sang anak akan terus menerus dalam periode belajar yang dibimbing sang guru? Kalau memang benar dikatakan bahwa si anak tersebut akan terus dibimbing oleh para gurunya BUAT SELAMANYA, maka buat apa si individu itu belajar dari waktu ke waktu dari sejak semula?? Lebih baik sejak semula sang anak tidak perlu belajar sekalian, KARENA TOH SANG ANAK AKAN TERUS DIKAWAL OLEH GURUNYA BUAT SELAMANYA SAMPAI AJAL MENJEMPUT, bukan begitu?

Maka demikian jugalah halnya dengan kisah ras manusia di muka bumi ini dari Nabi Adam hingga hari kiamat kelak. Umat manusia itu pada saat-saat pertama dianggap sebagai seorang individu pada masa kanak-kanak yang harus diisi dengan belajar di bawah arahan sekian Nabi yang diutus oleh Allah Swt.

Toh masa belajarnya ras manusia itu yang dibimbing oleh sekian Nabi tentulah tidak untuk selama-lamanya. Ketika sejarah bangsa manusia itu telah sampai pada kelahiran Muhammad Saw, maka masa belajar ras manusia dianggap telah selesai. Maka dari itu, akan diperkatakan, bahwa Muhammad Saw adalah guru terakhir bagi ras manusia yang akan mengajari ilmu kehidupan.

Itulah sebabnya, sepeninggalnya Muhammad Saw, tidak akan lagi ada guru kehidupan yang mendatangi ras manusia itu, karena ras manusia dianggap sudah dewasa. Tidak mungkin untuk selama-lamanya ras manusia itu belajar terus di bawah bimbingan para Nabi Tuhan. Pun, apakah manusia TIDAK MALU kepada Tuhan karena ingin terus dibimbing para Nabi yang sebenarnya adalah para guru – sampai hari kiamat???

Kapan manusia dewasanya? Kapan manusia mandirinya? Apakah ilmu yang selama ini diberikan oleh para Nabi sejak dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Saw belum cukup juga?

Itulah sebabnya, TIDAK MUNGKIN ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw. Tidak mungkin ada, karena logika dan fairness memang mengatakan demikian. Kalau kita berkata bahwa tidak mungkin guru-guru kita semasa pendidikan dasar (SD hingga SMA) kembali mengajari kita – padahal kita sudah dewasa, maka demikian jugalah halnya dengan kenabian: tidak mungkin seorang Nabi kembali mendatangi ras manusia untuk mengajari manusia tentang firman – setelah Nabi Muhammad Saw. Kalau guru SMA kita adalah guru terakhir kita semasa pendidikan dasar, maka Muhammad Saw pun merupakan Nabi terakhir ras manusia.

Kedua.

Muhammad Saw adalah Nabi terakhir, penutup para Nabi sejak dari Nabi Adam. Ketika Muhammad Saw menyelesaikan misi kerasulannya, maka itu berarti misi Tuhan telah sempurna di muka bumi. Maka dengan demikian tidak akan ada lagi Nabi di muka bumi ini setelah Muhammad Saw, karena toh instalasi dan arsitektur firman Tuhan di muka bumi sudah paripurna.

Maka dari itu, kalau masih ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad, berarti firman Tuhan tidak atau belum sempurna. Artinya, kalau masih ada Nabi lagi, maka kapan sempurnanya arsitektur firman Tuhan di muka bumi ini?? Apakah kita harus berfikir bahwa firman Tuhan tidak akan sempurna-sempurna juga sampai hari kiamat?

Coba kita renungkan. Di Dunia ini sudah ada kitabsuci Perjanjian-lama, kemudian ditambah lagi dengan kitabsuci Perjanjian-baru. Itu pun masih ditambah lagi dengan kitabsuci Alquran…… Kalau kesemua kitabsuci tersebut digabung jadi satu, pastilah akan menjadi suatu kitabsuci paling tebal yang pernah ada di muka bumi ini. Nah apakah kitabsuci setebal itu masih kurang juga bagi manusia? Manusianya kah yang bodoh, atau Tuhannya kah yang bodoh?? Kalau masalah kurang, apa seeh yang tidak kurang di Dunia ini?? Namun kalau kita mengacu kepada kesadaran, nurani dan conscience, maka kita akan sadar bahwa kitabsuci Alquran SUDAH LEBIH DARI CUKUP, kita tidak akan butuh ada Nabi lagi. Dan ketahuilah, Allah pun juga berpandangan seperti demikian.

Dan lebih penting lagi adalah, apakah mungkin Tuhan mempunyai pekerjaan yang tidak akan pernah sempurna sejak dari jaman Nabi Adam? Apakah mungkin Tuhan mempunyai pekerjaan yang terkatung-katung? Kalau mau logis, sebenarnya Tuhan selalu beres dengan semua pekerjaanNya, tidak terkatung-katung begitu. Dan kalau kita percaya bahwa Tuhan pasti dapat membereskan pekerjaanNya, berarti kita harus percaya bahwa pengutusan Nabi harus di-stop pada suatu masa – untuk menunjukkan bahwa Tuhan telah selesai dengan pekerjaanNya dalam rangka menurunkan semua firmanNya. Dan masa itu adalah masa Nabi Muhammad Saw. Artinya, setelah Nabi Muhammad Saw, tidak akan ada Nabi lagi, tidak akan ada firman lagi.

Jadinya, kalau sekarang ini kita melihat ada seseorang yang mengaku Nabi, dan kita harus percaya bahwa orang itu memang Nabi utusan Tuhan, itu artinya instalasi firman Tuhan selama ini BELUM SEMPURNA sama sekali – sehingga Tuhan harus mengutus seorang Nabi lagi. Apakah itu mungkin?

Akhir kata, kalau ada seseorang yang mengaku Nabi setelah Muhammad Saw, maka jelaslah sudah, bahwa orang itu adalah PEMBOHONG DAN PENGHAYAL belaka. TIDAK MUNGKIN ALLAH KEMBALI MENGUTUS SEORANG NABI SETELAH TURUNNYA NABI MUHAMMAD SAW.

______________________

Suara_hati,

Ada yang mengatakan “Dalam iman jangan menggunakan akal karena kalau Anda melakukannya Anda akan jadi ateis”. Apakah dengan demikian Akal dan Iman bertolak belakang? Seperti yang saya pahami iman adalah percaya sesuatu tanpa bukti, tanpa kita mengetahuinya. Konsep surga dan neraka adalah salah satu contohnya. Ini di luar akal manusia. Tapi kita percaya. Ini Iman. Apakah dengan begitu kita percaya saja tanpa lagi perlu berpikir? Saya yakin bahwa banyak hal di dunia yang tidak terjangkau akal manusia. Tapi apakah ini kemudian juga berarti bahwa hal-hal yang bisa kita cerna dengan akal terus kita abaikan hanya karena Iman?

 

Bukankah bisa kita bilang bahwa “mengabaikan” akal dan hati itu yang terjadi pada banyak penganut aliran kepercayaan (dan penganut agama?). Sederhananya, kita sebagai orang Muslim tidak bisa mengerti bagaimana orang-orang (pandai sekalipun) bisa masuk dalam aliran kepercayaan tertentu, atau misalnya jadi pengikut Lia Aminudin. Atau pendeta yang mengatas-namakan Tuhan-nya untuk membenarkan semua tindakkannya. Dan ironisnya, pengikutnya percaya. Menurut saya, begitu para pengikut itu percaya hal-hal absurd yang disampaikan pemimpinnya berdasarkan iman tadi, maka apapun yang disampaikan pemimpinnya dipercayai kebenarannya. Jadi tidak heran kalau misalnya orang yang mengaku utusan Tuhan bilang bahwa dia mendapatkan perintah Tuhan untuk menikahi anak pengikutnya yang masih kecil, pengikutnya akan dengan senang hati menerima keputusan itu. Atau kalau pemimpinnya minta mereka membunuh orang yang dianggap pemimpinnya melawan perintah Tuhannya, pengikutnya akan dengan senang hati melakukanya karena merasa bahwa dengan menuruti perintah itu dia akan mendapat pahala di surga. Bahkan untuk bunuh diri sekalipun. Absurd, tapi tetap percaya. Pikiran dan hatinya mati. Dengan fakta seperti ini, apakah saya bisa bilang bahwa orang dari agama lain akan memandang saya seperti saya memandang mereka? Apakah menurut mereka “Pikiran dan hati saya mati”.

______________________

Islamthis,

Justru kebalikannya, Islam mengajarkan bahwa akal tidak akan berseberangan dengan iman.

Mengenai Surga dan Neraka. Memang benar bahwa Surga dan Neraka berada di luar jangkauan akal. Kita hanya dapat mempercayai Surga dan Neraka berdasarkan iman semata.

Pertama.

Kita harus mengacu pada teori runutan.

Kalau kita percaya kepada ibu kita, maka itu artinya kita juga percaya bahwa SEMUA masakan yang tersedia di meja makan adalah sehat dan aman, karena sang ibu lah yang memasaknya. Berbeda dengan masakan / makanan yang dijual orang di pinggir jalan. Makanan itu dibuat orang yang tidak dapat dipercaya karena jelas mereka tidak sayang kepada kita.

Jadi, kalau kita percaya kepada ibu kita, maka kita percaya juga bahwa masakannya adalah baik dan sehat untuk kita. Pertanyaannya adalah, apakah mungkin ada ibu yang tidak sayang kepada anak-anaknya? Dan kalau kita tidak percaya kepada ibu kita, maka kita lah yang bermasalah, bukan sang ibu. Kalau kita tidak percaya kepada ibu kita, maka kita akan percaya kepada siapa lagi?

Jadi runutannya adalah, kalau percaya kepada ibu, maka kita juga percaya kepada apa yang dimasaknya sebagai aman dan sehat. Intinya adalah ibu; intinya adalah percaya kepada ibu, dan intinya adalah karena setiap ibu pasti sayang kepada anak-anaknya.

Begtu juga dengan Surga dan Neraka. Susah bagi kita untuk percaya bahwa nun di sana ada Surga dan Neraka. Namun masalahnya adalah, KITA DITUNTUT untuk percaya kepada Nabi Muhammad Saw, setelah Nabi dan agama lainnya terbukti salah. Nah kalau kita percaya kepada Muhammad Saw, maka saatnya kita juga harus percaya pada apa yang diberitakan Muhammad Saw. Salah satunya adalah adanya Surga dan Neraka. Kalau di satu pihak kita percaya kepada Muhammad Saw namun secara bersamaan kita menolak percaya bahwa Surga dan Neraka ada, maka kita sakit jiwa.

Pertama kita percaya ada Tuhan. Tidak mungkin tidak ada Tuhan.

Kemudian, sesudah kita percaya ada Tuhan, selanjutnya kita akan percaya bahwa Tuhan telah mengutus NabiNya kepada umat manusia.

Kemudian, dari semua Nabi, maka hanya Nabi Muhammad Saw lah yang patut untuk dipercaya.

Kemudian, Muhammad Saw memberitakan banyak hal ghaib. Salah satu di antaranya adalah Surga dan Neraka. Jadi, karena kita percaya kepada Tuhan, maka kita juga harus percaya bahwa nun di sana ada Surga dan Neraka.

Di mana letak keber-akal-annya kalau kita percaya bahwa nun di sana ada Surga dan Neraka? Letak keberakalannya adalah, apakah mungkin kita manusia harus berkata dan percaya bahwa Tuhan itu tidak ada? Kalau Tuhan tidak ada, maka siapa yang menciptakan bumi? Siapa yang menciptakan udara?

Kalau kita berakal, pastilAh kita percaya bahwa Tuhan itu memang ada. Dan akhirnya, kalau kita percaya bahwa Tuhan itu ada, maka selanjutnya, Nabi itu ada. Kalau Nabi itu ada, maka benarlah semua yang dikatakan Nabi itu. Salah satunya adalah nun di sana ada Surga dan Neraka.

Kita tidak perlu harus melihat terlebih dahulu dengan mata fisik kita kepada Surga itu, supaya kita percaya bahwa Surga itu ada. Sebaliknya, kita punya akal. Akal tidak membutuhkan mata fisik. Akal hanya butuh logika. Logikanya, apakah mungkin Tuhan itu tidak ada??

Ya, jadi semuanya bermula dari dan karena ada Tuhan. Oh bukan. Semua bermula dari fakta bahwa manusia hidup dengan akal. Akal itu butuh logika. Itulah runutannya. Tuhan, Nabi Muhammad Saw, Surga, Neraka, delele, itu semua ada di dalam akal.

Kedua.

Mungkin kita tidak akan percaya Surga atau Neraka, kecuali kita melihat dua benda tersebut dengan mata kepala kita sendiri. Kalau kita sudah melihat Surga dan Neraka dengan mata sendiri, barulah kita percaya bahwa Surga dan Neraka itu memang benar-benar ada.

Oh tidak begitu, kawan.

Kalau kita (diijinkan untuk) melihat Surga dan Neraka dengan mata kepala sendiri supaya kita percaya, maka buat apa ada agama? Buat apa ada Rasul? Buat apa ada kitabsuci?

Kalau kita melihat Surga supaya bisa kita percaya, maka pastilah kita percaya, mau tidak mau. Lantas buat apa ada Rasul? Dan akhirnya, buat apa ada akal? Orang bodoh sekali pun pasti percaya dengan mudahnya! Samimawon!

Karena kita ber-akal-lah, maka Surga dan Neraka itu dimasukkan ke dalam alam ghaib supaya kita tidak dapat melihatnya. Hal demikian supaya kita berfikir menggunakan akal, mana agama yang benar dan yang salah.

Anggap saja kita sedang sekolah. Kita pergi sekolah karena kita ber-akal. Dan kita diterima di sekolah, itu artinya semua orang sekolah menghargai kita karena kita ber-akal. Kalau kita tidak ber-akal, buat apa kita disekolahkan? Itu artinya, semua jawaban soal dari ujian DIRAHASIAKAN. Selebihnya, supaya kita menggunakan daya akal kita untuk mencari jawaban. Kita dianggap sebagai manusia / mahluk yang berakal. Bukankah itu suatu penghormatan? Dan kalau kita dianggap berakal, maka jangan lagi berharap untuk diperlihatkan Surga atau Neraka. Dan kalau kita dianggap berakal, maka jangan lagi berharap untuk diperlihatkan jawaban soal ketika kita sebagai murid sedang ujian. Fair, bukan?

Tuhan mau saja memberi Anda penglihatan supaya dapat melihat Surga dan Neraka. Namun konsekwensinya, Anda tidak lagi termasuk mahluk yang berakal, alias akan sama dengan binatang. Mau?

______________________

Suara_hati,

Orang yang dilahirkan sebagai Hindu dan dibesarkan dalam lingkungan Hindu lebih banyak akan tetap menjadi Hindu. Demikian juga untuk agama atau aliran kepercayaan lain. Menurut mereka itulah keyakinan yang paling betul. Dan ironisnya tanpa mereka pernah memverifikasinya sendiri. Semuanya “given”, turun temurun. Mereka yakin orang tua mereka tidak akan menyesatkan mereka. Jadi bagaimana orang bisa berubah? Tentu harus dengan pencarian dan pemahaman sendiri. Apapun hasilnya, orang yang mau belajar akan jauh lebih baik dalam menjalankan hidupnya. Ini tidak mudah. Keyakinan yang ditanamkan kepada kita sejak kecil seringkali tanpa kita sadari selalu tertanam dalam benak kita sampai dewasa. Konsekuensinya adalah bahwa kita seringkali ingin membuat fakta apapun yang dijumpai yang tidak rasional sekalipun menjadi sesuai dengan keyakinan kita. Manusia dibekali Allah dengan hati dan pikiran tapi ironisnya begitu hal itu berkaitan dengan keyakinan agama seringkali mereka tidak mau menggunakannya meskipun misalnya jelas-jelas hati dan akalnya mengatakan sebaliknya.

_____________________

Islamthis,

Itu namanya hidayah. Dan hidayah itu 100% adalah pekerjaan Tuhan. Siapa-siapa yang akan menganut agama A, kemudian siapa-siapa yang keluar dari agama A tersebut, dan juga siapa-siapa yang akan masuk ke agama A itu, itu semua adalah seutuhnya atas hidayah Tuhan, kehendak Tuhan. Makanya di dalam Islam dikatakan, siapa yang masuk Surga, maka ia masuk Surga itu karena sejak awal memang sudah dikehendaki Allah demikian. Begitu juga sebaliknya, siapa yang masuk Neraka, maka ia masuk Neraka karena memang sudah dikehendaki Allah sejak awal.

Dan Anda, saya, atau siapa pun, tidak berhak ikut campur di dalam pekerjaan Allah ini. Lagi pula, apakah kita mempunyai Kuasa untuk ikut campur di dalam pekerjaan Allah?

_____________________

Suara_hati,

Bagi kita Nabi adalah contoh moral yang sempurna. Alquran diturunkan Allah lewat Jibril kepada nabi Muhammad. Bagaimana kita tahu itu? Karena Alquran yang mengatakan itu. Tapi siapa yang menyampaikan Alquran kepada kita? Nabi Muhammad. Bagaimana kita tahu bahwa apa yang disampaikan Nabi itu betul? Ya karena Nabi adalah utusan Allah. Siapa yang bilang itu? Alquran. Jawabannya berputar. Intinya, adalah kita percaya, itu saja. Bagaimana dengan pemeluk agama lain atau aliran kepercayaan? Bukankah hal yang sama terjadi?

_____________________

Islamthis,

Sebenarnya tidak berputar-putar seperti yang Anda sangka-kan itu. Karena dasarnya Anda adalah orang bingung, maka kamulah yang membuat semua kalimat di dalam fikiran Anda berputar-putar tidak karu-karuan. Memang dasar Anda-nya yang suka berputar-putar seperti gangsing.

Pertama, Allah adalah benar. Semua umat dan agama pasti mengatakan hal ini untuk Tuhan masing-masing.

Kedua, Muhammad Saw adalah orang benar, terlihat dari semua perbuatannya, dan keajaiban yang mana keajaiban itu hanya membuktikan bahwa Muhammad memang benar utusan Allah. Baca artikel weblog islamthis ini, yang mana kerasulan Muhammad Saw memang terbukti benar,

https://islamthis.wordpress.com/2012/01/02/gua-tsur-pangkal-kerasulan-muhammad/

Ketiga, karena Muhammad Saw adalah utusan Allah, maka Alquran yang dibawa Muhammad adalah benar juga. Akhirnya, Islam adalah benar, jadi benar, MAU TIDAK MAU.

Masalah Anda adalah, Anda memisahkan antara ketiga hal tersebut. Pantaslah hal itu mengakibatkan Anda jadi berputar-putar. Kebalikannya, jika ketiga hal itu difikirkan sebagai satu kesatuan, maka kita tidak akan berputar-putar di dalam kebingungan, dan justru akan mendapatkan kepuasan intelektual.

_____________________

Suara_hati,

Kalau ada orang mengaku sebagai nabi, yang membenarkan Islam, yahudi, kristen (seperti Bahaisme) kita tidak percaya. Banyak orang Muslim yang memusuhi mereka, menganggap gila dsb. Kalau Lia Eden mengaku sebagai nabi, pada umumnya Muslim marah. Mereka dianggap menyebarkan fitnah. Apa itu fitnah? Mungkin kita ingat ajaran Islam yang mengatakan bahwa “fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan”. Jadi kalau orang melakukan fitnah, maka membunuh orang itu adalah adil? Mesjid orang Ahmadiyah di Jawa Timur dibakar, pengikutnya diusir, dimusuhi. Saya tidak setuju, tapi sebagai orang Muslim bisa mengerti kenapa mereka marah.

_____________________

Islamthis,

Di atas sudah disinggung, bahwa agama yang benar adalah agama yang ajaran moralitasnya abadi di muka bumi ini. Abadi itu artinya, terus ada dari jaman ke jaman. Sementara, agama yang salah adalah agama yang ajaran moralitasnya tidak abadi, melainkan timbul-tenggelam mengikuti perputaran jaman.

Coba lihat agama dan umat Kristen.

Pada masa silam, masyarakat Kristen memerintahkan kaum wanita untuk berpakaian rapi sehingga menutup seluruh aurat. Namun kenyataanya sekarang? Moralitas itu sekarang sudah hilang, dan diganti dengan moralitas rendahan, yang membolehkan semua orang, khususnya kaum wanita untuk berbusana sesuka hati mereka. Bahkan bertelanjang bulat di tengah kota pun juga diperbolehkan……….

Artinya, moralitas di masyarakat Kristen itu TIMBUL TENGGELAM, tidak abadi. Tidak ada ruh apapun yang menuntun mereka untuk mempertahankan moralitas dengan corak tertentu.

Kalau kita kembali kepada silogisme kita tadi, maka terbuktilah bahwa Kristen adalah agama yang salah, dilihat dari paket-paket moralitasnya yang selalu berubah-ubah sepanjang jaman.

Pada masa silam, umat dan agama Kristen amat membenci perbuatan bidat. Para pelaku bidat ditangkapi, lalu di-eksekusi mati, kecuali pelakunya bertobat. Banyak orang Kristen kala itu yang mengaku sebagai Rasul atau anak-terang. Lantas orang ini ditangkapi, kemudian dihukum mati. Ingat dengan kisah Joan of Arc? Dia adalah seorang wanita yang tampil sebagai laki-laki, dan ia mengklaim bahwa ia mendapat bisikan dari Tuhan untuk berbuat sesuatu. Lantas Gereja menuduh wanita ini sebagai pelaku bidat. Kontan Gereja meringkus wanita ini dan memaksanya untuk bertobat. Pada kesempatan terakhir, Joan of Arc ini tidak bersedia untuk bertobat. Joan of Arc di-eksekusi dengan cara dibakar hidup-hidup atas perintah Gereja.

Lain lagi ceritanya dengan Galileo Galilei, kemudian Marconi penemu gelombang radio, dan masih banyak lagi tokoh keilmuan yang ajarannya kala itu dilarang Gereja. Kesemua orang itu mendapat jatah ketegasan dan keberingasan Gereja kala itu.

Intinya, begitulah moralitas kaum Kristen kala itu: kekerasan, anti bidat, tegas, dan tidak toleran. Namun sekarang? Moralitas yang kita saksikan dari Dunia kekristenan yang berlaku pada masa silam, sekarang sudah hilang, dan berganti dengan moralitas yang lain lagi. Ya anggap saja, sekarang semua orang Kristen berkata bahwa orang Kristen harus mengembangkan moralitas yang toleran, humanis, penuh dengan kesejajaran, penghormatan, delele.

Namun toh artinya tetap sama: yaitu bahwa paket moralitas yang berkembang di tengah masalah Kristen itu TIDAK ADA YANG ABADI melainkan timbul tenggelam, berganti-ganti sesuai dengan perkembangan jaman. Lain dulu, lain lagi sekarang, dan pasti lain lagi nanti. Begitulah seterusnya. Ini berarti kita dapat menyatakan bahwa Kristen adalah agama yang salah dan sesat, karena terbukti dari ajaran moralitasnya yang tidak ada abadi, melainkan selalu berubah-ubah.

Lantas bagaimana dengan Islam? Sudah kita jelaskan di atas bahwa Islam adalah agama yang benar, terlihat dari paket ajaran moralitasnya yang tidak pernah berubah sepanjang jaman.

Kembali ke masalah Masjid ahmadiyah yang dibakar itu.

Sejak masa silam, kaum Muslim membenci bidat dengan para pengikutnya. Mereka yang mengklaim sebagai Nabi atau Rasul setelah Muhammad misalnya, langsung di-eksekusi mati, kecuali ia bertobat. Namun satu hal yang harus kita lihat adalah, bahwa toh moralitas kaum Muslim tidak pernah berubah, khususnya di dalam hal Nabi palsu ini. Kalau sejak masa silam kaum Muslim menghukum mati Nabi palsu, maka hal sekarang hal itu juga masih berlaku. Itulah sebabnya Dunia masih melihat kaum Muslim membakari Masjid-Masjid milik Nabi palsu tersebut, tidak ada kompromi. Memang dari sini kita melihat bahwa Islam  itu kejam dan tidak toleran. Namun di sini bukan lagi masalah kejam atau intoleran-nya. Kita harus melihat kepada fakta bahwa moralitas kaum Muslim tidak pernah berubah. Kalau masa silam kaum Muslim berkata A, maka kaum Muslim sekarang pun juga masih berkata A. Yang akan datang, kaum Muslim akan tetap berkata A.

Dari sinilah terbukti bahwa Islam adalah agama yang benar, karena moralitas yang diusung Islam ternyata abadi.

_____________________

Suara_hati,

Coba kita bayangkan. Ada orang yang mengaku nabi yang bilang bahwa dia hanya menyampaikan kebenaran berdasarkan wahyu Allah, yang mengaku-aku seperti Bahaisme itu. Dia mulai punya pengikut beberapa diantaranya orang-orang Muslim. Orang Muslim tentu akan marah dan menganggap orang ini menyebarkan fitnah. Orang ini dianggap gila, dihina dicaci maki, kalau perlu dibunuh. Tapi orang ini tetap saja pada keyakinannya, tetap saja mengajarkan keyakinannya. Dia bilang bahwa dia hanya menyampaikan kebenaran saja. Kalau percaya silahkan, kalau tidak pun Ok. Tidak ada pemaksaan. Apapun termasuk kekayaan tidak mempan untuk meminta dia menghentikan kegiatannya. Bertahun-tahun berlalu. Pengikutnya bertambah, tapi tidak banyak. Karena dikucilkan masyarakat, mereka akhirnya merasa terusir dari tempatnya. Mereka pergi ke tempat lain yang bisa lebih menerima mereka. Hidup miskin karena semua sudah ditinggalkan. Untuk hidup, pemimpin ini mulai membenarkan apapun selama dilakukan untuk kepentingan keyakinannya, termasuk menyerang dan merampas kekayaan orang-orang yang berseberangan dengan mereka dan yang dulu mereka anggap mengusir mereka. Ajarannya sama sekali sudah berubah. Yang tidak sepaham dengan dia adalah musuhnya. Akhirnya mereka menjadi sangat kuat. Orang-orang yang menghina mereka dan yang berseberangan dengan mereka akhirnya bisa ditaklukan. Tidak semua dibunuh asalkan mereka percaya dengan apa yang disampaikan. Orang-orang yang dulu dianggap keterlaluan menentang, dibunuh. Dia mengajarkan persaudaraan di antara pengikutnya. Saling membantu. Di luar pengikutnya adalah musuh. Mereka membenarkan kekerasan yang mereka lakukan dengan alasan bahwa merakalah yang lebih dulu menganiaya mereka. Merekalah yang dulu menyerang, menghina mereka padahal mereka ini hanya mengajarkan “kebenaran” yang disampaikan Tuhannya.

 

Cerita di atas khayalan saja. Kalau kita disuruh menilai tentu kita bilang orang ini tidak betul. Kenapa? Bukankah mereka (kita sebut saja “A”) ini hanya ingin mengajarkan keyakinannya tanpa paksaan? Kita jawab: Iya, itu dulu sebelum “A” punya kekuatan. Tapi bukankah orang-orang (kita sebut saja “B”) yang menyakiti, menghina dia ini yang salah? Saya jawab: tentu “B” juga salah. Tapi “B” bilang bahwa justru “A” lah yang menyerang mereka dulu, yang menyebarkan fitnah, yang menghina keyakinan “B” sehingga mereka merasa perlu membalas dan menghentikan apa yang dilakukan “A”. “B” bilang kalau “A” berhenti menyerang, tentu perkaranya selesai. Kalau “A” dulu bilang hanya mau memberi peringatan, mengajarkan keyakinan yang dia anggap benar, kenapa sekarang “A” menyerang kita, merampas harta kita, memaksa kita untuk mengakui keyakinan “A”? Bukankah itu balas dendam? Bukankah itu pemaksaan?

_____________________

Islamthis,

Saya mengerti maksud Anda. Yang Anda maksud dengan A adalah Muhammad Saw, kan?

Sekilas, kalau kita melihat sejarah lahirnya Islam melalui KACAMATA KAUM SINIS, kelahiran Islam itu bagaikan KUCING PADA MASA AWAL, KEMUDIAN MENJADI SINGA DI MASA AKHIR, bukan?

Ketika Muhammad dengan pengikutnya masih lemah, Muhammad klaim bahwa ajarannya adalah kasih sayang tanpa ada pemaksaan. Kemudian Muhammad ini hijrah. Setelah hijrah, Muhammad beroleh kekuatan yang dahsyat. Melalui kekuatan yang dahsyat inilah, Muhammad yang tadinya KUCING berubah menjadi SINGA, menyerang dan merampoki kelompok-kelompok yang tadinya adalah musuhnya, TANPA AMPUN SAMA SEKALI.

Apakah memang benar demikian? Atau, bagaimana kita harus melihatnya?

Pertama.

Anda tidak boleh lupa bahwa ketika Muhammad menyatakan bahwa dirinya dan kawan-kawannya menyembah Allah Swt saja, praktis kaum pagan Mekah tersinggung. Kaum pagan Mekah melihat bahwa seharusnya semua orang menyembah berhala Mekah saja, bukan yang lainnya. Namun Muhammad memberi pemandangan yang lain. Dan karena Muhammad dan sahabat-sahabatnya terus menyembah Allah, bukan pagan Mekah, maka penyiksaan atas pengikut Muhammad Saw menjadi satu-satunya solusi.

Sampai pada level ini, Anda memihak siapa? Anda terlalu gila kalau Anda memihak kaum pagan Mekah yang jelas-jelas menghalangi hak Muhammad dan sahabatnya untuk menyembah Tuhan yang mereka yakini, yaitu Allah Swt. Apakah Muhammad dan sahabatnya SALAHTOTAL kalau mereka menyembah Allah, alias berhenti menyembah berhala-berhala Mekah?

Kala itu Muhammad dan sahabatnya adalah kaum yang lemah. Namun toh intinya sama, yaitu kaum pagan Mekah melarang Muhammad dkk menyembah Allah dan berhenti menyembah berhala padang pasir.

Penyiksaan terus terjadi atas kaum Muslim yang masih sedikit tersebut. Dan penyiksaan tersebut memang benar-benar tidak berperikemanusiaan. Dan sampai pada level ini, apakah Anda JUSTRU MEMBENARKAN tindakan kaum pagan itu untuk menyiksa kaum Muslim?

Kedua.

Untuk hidup, pemimpin ini mulai membenarkan apapun selama dilakukan untuk kepentingan keyakinannya, termasuk menyerang dan merampas kekayaan orang-orang yang berseberangan dengan mereka dan yang dulu mereka anggap mengusir mereka.…………….

Anda dapat info dari mana?

Apa yang dilakukan Muhammad Saw dan para sahabatnya di Madinah hanyalah membalas serangan dari kaum pagan. Dan hal itu adalah wajar. Apakah Anda ingin menyatakan bahwa Muhammad dkk tidak mempunyai hak untuk membalas semua kekejian yang pernah mereka lakukan terhadap Muhammad dkk?

Setelah Muhammad Saw melakukan penyerangan terhadap kaum yang dulu menindasnya, maka SECARA LOGIKA, tentulah semua harta yang ada pada para penyerang itu MENJADI HAK Muhammad Saw dan kaumnya. Apakah itu salah? Anda terlalu naif kalau Anda berkeras bahwa Muhammad seharusnya tidak mengambil semua ‘harta tak bertuan’ tersebut karena para pemiliknya, telah berhasil dikalahkan oleh Muhammad.

Coba Anda pikir. Kalau lah Muhammad yang kalah dalam kontak fisik tersebut, bukankah Muhammad yang terbunuh, dan harta milik Muhammad dirampas? Kalau manusia-manusia penyerang itu sebenarnya adalah manusia jua adanya, maka bukankah Muhammad manusia jua adanya? Memang, Muhammad adalah Nabi. Namun apakah itu berarti Nabi harus berdiam diri ketika dianiaya?

Ajarannya sama sekali sudah berubah. Yang tidak sepaham dengan dia adalah musuhnya. Akhirnya mereka menjadi sangat kuat. Orang-orang yang menghina mereka dan yang berseberangan dengan mereka akhirnya bisa ditaklukan. Tidak semua dibunuh asalkan mereka percaya dengan apa yang disampaikan. Orang-orang yang dulu dianggap keterlaluan menentang, dibunuh. Dia mengajarkan persaudaraan di antara pengikutnya. Saling membantu. Di luar pengikutnya adalah musuh. Mereka membenarkan kekerasan yang mereka lakukan dengan alasan bahwa merakalah yang lebih dulu menganiaya mereka. Merekalah yang dulu menyerang, menghina mereka padahal mereka ini hanya mengajarkan “kebenaran” yang disampaikan Tuhannya.…………………………………

Ajaran Muhammad Saw sama sekali tidak pernah berubah. Kalau ada pihak yang menyatakan bahwa ajaran Muhammad Saw berubah tergantung sikon, maka pihak tersebut sebenarnya menderita kekurangan informasi dan pemahaman. Dan oleh karena itu cara berfikirnya harus diubah dan diservice dengan baik.

Coba Anda perhatikan azas Islam ini baik-baik.

Pertama.

Islam mengajarkan bahwa orang yang bersyahadat haram darahnya untuk ditumpahkan. Artinya, manusia yang bersyahadat (artinya dia Muslim), tidak boleh dibunuh, kecuali oleh keputusan QADI alias Hakim, semisal dalam kasus qishash.

Kedua.

Islam mengajarkan bahwa kaum Muslim berhak untuk membela diri. Artinya, Islam hanya mengizinkan umatnya untuk berperang, asalkan pihak Muslim lah yang lebih dulu diserang.

Ketiga.

Dalam peperangan tersebut, maka WAJIB HUKUMNYA bagi si tentara Muslim untuk membunuh musuh. Muslim tidak  diperkenankan untuk memberi ampun kepada sang musuh tersebut, hal mana itu dikarenakan si musuh selalu memusuhi Allah dan agamaNya secara melampaui batas. Intinya, ini adalah perang, bukan panti sosial. Di dalam perang, maka membunuh dan terbunuh adalah wajar.

Keempat.

Islam mengajarkan bahwa siapa pun tidak boleh memaksa orang lain untuk memeluk Islam. Dengan kata lain, kalau ada seseorang masuk Islam, maka hendaklah keputusannya itu atas dasar sukarela dan inisiatif orang tersebut, bukan atas dasar paksaan atau tekanan pihak lain.

***

Keempat azas ini merupakan ajaran Nabi Muhammad, dan tidak pernah berubah sejak awal hingga kini. Namun sungguh pun demikian, pasti tidak dapat diingkari dan dihindari bahwa terdapat kisah atau moment di mana  keempat hal itu terjadi secara bersamaan, dan terjadinya pada saat peperangan, sehingga seolah keempat hal itu menjadi tercampur-aduk satu dengan yang lainnya. Kalau sudah begitu, maka pastilah seperti ada fitnah atas Islam. Intinya, kita harus dapat mengenali dan menganalisa keempat hal tersebut ketika tercampur aduk menjadi satu, dan kemudian mengurainya secara terpisah.

Dilukiskan, kelompok Muslim bertempur dengan pihak kafir. Dan di dalam pertempuran itu, tentara Muslim terlibat duel dengan tentara kafir. Tentara Muslim selalu unggul, dan selalu dapat membuat posisi para kafir terdesak. Ketika tentara Muslim akan menebas leher tentara kafir, tentara kafir langsung mengucap DUA KALIMAT SAHADAT di depan tentara Muslim tersebut. Dengan mengucapkan DUA KALIMAT SAHADAT tersebut, maka otomatis  si tentara kafir tersebut telah menjadi Muslim. Praktis, tentara Muslim tadi BATAL ATAU TIDAK JADI menebas leher tentara kafir tersebut, karena tentara kafir tersebut telah menjadi Muslim…………

Dari adegan tersebut, siapa pun dapat dengan mudah membuktikan, bahwa Islam memaksakan agamanya kepada orang lain: TERIMALAH ISLAM, KALAU TIDAK MENERIMA ISLAM KAU SAYA BUNUH. DAN KALAU KAU MENERIMA ISLAM, KAU AMAN. Bukankah menerima Islam di sini selalu berarti MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SAHADAT?

Ya, menerima Islam di sini pastilah selalu berarti mengucapkan DUA KALIMAT SAHADAT. Dan mengucapkannya itu di dalam peperangan. Ya, dengan mengucapkan kalimat sahadat itu, maka si tentara kafir resmi menjadi Muslim, sehingga dengan demikian dia aman, tidak boleh dibunuh. Dari adegan / babak seperti inilah semua kaum antisalam (anti Islam) mendapat pemahaman bahwa Islam / Muslim memaksakan agama mereka kepada orang lain.

Tidak demikian.

Kita kembalikan kepada empat azas Islam di atas.

Pertama.

Islam mengajarkan bahwa orang yang bersyahadat haram darahnya untuk ditumpahkan. Artinya, manusia yang bersyahadat (artinya dia Muslim), tidak boleh dibunuh, kecuali oleh keputusan QADI alias Hakim, semisal dalam kasus qishash.

Di dalam peperangan tersebut, tentara kafir telah mengucapkan DUA KALIMAT SAHADAT, yang mana itu berarti tentara kafir tersebut TELAH MENJADI MUSLIM. Dan Muslim HARAM HUKUMNYA membunuh Muslim lain. Di dalam kasus ini, tentara Muslim HARAM HUKUMNYA membunuh tentara kafir tadi, karena kafir tadi telah menjadi Muslim.

::Kesannya seolah Islam / tentara Muslim tadi memaksakan agamanya kepada si kafir, bukan?

Kedua.

Islam mengajarkan bahwa kaum Muslim berhak untuk membela diri. Artinya, Islam hanya mengizinkan umatnya untuk berperang, asalkan pihak Muslim lah yang lebih dulu diserang.

Para Muslim terlibat peperangan dengan kaum kafir. Ya, dan itu tidak bisa dibantah. Namun Islam selalu memastikan bahwa perang itu dimulai oleh para kafir. Para kafirlah yang mensponsori perang tersebut. Para Muslim HANYA MENJAWAB tantangan perang itu.

::Kesannya para Muslim meluncurkan perang melawan para kafir. Dan kesan lainnya adalah para Muslim GEMAR PERANG – karena melalui perang tersebut para Muslim DAPAT MEMAKSAKAN AGAMANYA kepada para kafir, dan kalau tidak bersedia menjadi Muslim, maka para kafir tersebut akan dibunuh. >> Tentunya itu adalah salah.

Ketiga.

Dalam peperangan tersebut, maka WAJIB HUKUMNYA bagi si tentara Muslim untuk membunuh musuh. Muslim tidak  diperkenankan untuk memberi ampun kepada sang musuh tersebut, hal mana itu dikarenakan si musuh selalu memusuhi Allah dan agamaNya secara melampaui batas. Intinya, ini adalah perang, bukan panti sosial. Di dalam perang, maka membunuh dan terbunuh adalah wajar.

::Pasal ini sudah jelas.

Keempat.

Islam mengajarkan bahwa siapa pun tidak boleh memaksa orang lain untuk memeluk Islam. Dengan kata lain, kalau ada seseorang masuk Islam, maka hendaklah keputusannya itu atas dasar sukarela dan inisiatif orang tersebut, bukan atas dasar paksaan atau tekanan pihak lain.

Memang benar bahwa dalam perang tersebut, tentara kafir lolos dari ancaman bunuh KARENA tentara kafir tersebut bersahadat di depan tentara Muslim. Namun tidak lepas dari fakta bahwa kafir tersebut BERSAHADAT ATAS KEMAUANNYA SENDIRI, bukan atas dasar paksaan si tentara Muslim.

Memang juga benar, bahwa kalau tentara kafir itu TIDAK BERSAHADAT, maka Muslim akan membunuhnya. Kita harus melihat DUA HAL ……

  1. Bahwa tentara kafir tersebut ADALAH TENTARA PENGECUT; ia tidak mau dibunuh, namun membunuh: mau. Karena ia pengecut-lah, maka ia mengambil TAKTIK kekanak-kanakan: mengucapkan KALIMAT SAHADAT supaya ia tidak dibunuh. Jadinya Kalimat Sahadat dijadikan tameng keselamatan oleh si kafir ini. Padahal di dalam perang, terbunuh dan membunuh adalah wajar. Berarti si kafir tersebut EGOIS. Demi agama si kafir tersebut, menjadi egois adalah mulia.
  2. Bahwa tentara Muslim itu toh TIDAK MEMAKSA si tentara kafir itu UNTUK BERSAHADAT. Si Muslim tidak pernah berkata: “sekarang nyawamu ada di tangan saya. Bersahadatlah supaya kau tidak mati. Sekarang kau pilih mana, bersahadat ATAU MATI????”. Dengan demikian si kafir tersebut bersahadat ATAS INISIATIF-nya sendiri, lain tidak. Perkara bahwa kafir itu menggunakan sahadat sebagai taktik menyelamatkan dirinya, dan perkara bahwa dengan mengucapkan kalimat sahadat tersebut si Muslim jadi batal membunuh kafir tersebut, ADALAH HAL LAIN.  Intinya, si Muslim MAFHUM bahwa Muslim TIDAK BOLEH membunuh Muslim lainnya. Dan kalau tentara kafir tersebut sudah bersahadat, apakah masih ada alasan bagi tentara Muslim tersebut untuk TETAP MEMBUNUH si kafir (yang telah bersahadat) tersebut?

::Kesannya, tentara kafir tersebut TERPAKSA BERSAHADAT supaya ia tidak dibunuh, seolah si Muslim MEMAKSA TENTARA KAFIR tersebut untuk bersahadat. Padahal keadaannya tidak lah demikian.

Dua hal besar yang harus kita lihat, berkenaan dengan tuduhan bahwa Islam memaksakan agamanya kepada kaum kafir ini. Dengan mengenali dua hal besar ini, maka terbuktilah bahwa Muslim tidak pernah memaksakan agamanya kepada pihak lain.

  1. Di dalam keadaan damai, apakah pernah terlihat bahwa Pemerintah Muslim memaksakan agamanya kepada kaum minoritas? Islam mapan di mekah dan madinah. Namun faktanya, non Muslim yang minoritas itu dapat hidup dengan merdeka di kedua kota itu tanpa adanya pemaksaan agama. Sejarah archaik pun melihat bahwa ketika Islam menguasai Yerusalem, tidak pernah terdengar bahwa Pemerintah Muslim telah memaksakan pemusnahan kaum minoritas. Kalau memang benar bahwa Islam / Muslim mempunyai ajaran untuk memaksakan agama mereka kepada manusia kapir, maka mengapa kaum non Muslim tetap eksis di tengah kota Muslim yang mapan tersebut?
  2. Dan di dalam peperangan, apakah pernah terjadi tentara Muslim memaksa tentara kafir untuk bersahadat supaya si kafir terbebas dari kematian di tangan tentara Muslim? Tidak pernah.

Dengan mengenali dua hal ini, maka berikutnya, tuduhan bahwa tentara Muslim selalu memaksakan agamanya kepada kaum kafir, adalah FITNAH semata.

____________________

Suara_hati,

Pada waktu saya membaca Alquran, tafsir, hadiths, sirat, saya jumpai banyak sekali hal yang bertentangan dengan keyakinan saya. Saya tidak percaya, tapi itu yang saya ketemukan dari sumber-sumber Islam. Tulisan berikut saya sarikan dari apa yang saya baca. Mungkin pemahaman saya salah. Saya ingin diluruskan kalau saya salah.

_____________________

Islamthis,

Biar enak, Anda baca juga doong Alkitab Perjanjian lama dan Perjanjian baru. Pasti Anda akan melihat hal yang sama.

____________________

Suara_hati,

Berikut kutipan artikel (sebagian) dari Jakarta Post (online; Opinion and Editorial) tgl. 20 April 2007 yang menceritakan pengalaman seorang kakak yang adiknya menjadi sangat intoleran setelah memperdalam Islam (saya terjemahkan secara bebas).

Jangan Salahkan Mereka yang tidak percaya Muslim

Mohammad Yazid, Jakarta

Untuk lebih memperdalam pemahaman Islam, orangtua saya mengijinkan adik saya untuk ikut dalam acara-acara diskusi dan pembacaan Alquran. Setelah beberapa bulan, dia mulai memperlihatkan perubahan positif seperti menjalankan sholat secara teratur, dan zikir, yang sebelumnya jarang dia lakukan.

Meskipun demikian, kurang lebih 1 th kemudian, dia mulai menunjukkan sikap yang berbeda. Dia mulai memperdebatkan interpretasi ayat-ayat Alquran dan hadiths, juga dengan orangtua saya. Dia secara aktif mendorong teman-temannya untuk bergabung dalam groupnya, seringkali dengan mengabaikan bisnis kecil-kecilan yang telah diusahakannya beberapa tahun setelah SMA.

Sebagai akibat dari pemahaman adik saya yang “tidak biasa” atas ajaran-ajaran Islam, seperti penolakannya dalam melakukan ritual sholat wajib dan puasa ramadhan dengan mengatakan bahwa “waktu yang tepat belum tiba”, ayah saya, seorang pengikut Muhamadiyah, merasa sulit untuk menerima sikap adik saya tsb, meskipun dia berusaha sangat keras untuk mengerti.

Yang sangat disayangkan, di luar kenyataan itu adalah bahwa adik saya menjadi tidak toleran terhadap pandangan orang lain setelah hampir dua tahun mengikuti grupnya itu, tanpa pernah mengatakan siapa gurunya atau menceritakan apa tujuan grupnya. Tanpa berat hati, dia mencap mereka yang tidak sepaham dengan pendapatnya sebagai kafir. Pandanganya yang tertutup dan keyakinannya yang eksklusif mengakibatkan ketegangan di rumah. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan rumah tanpa mengatakan apa-apa, dan menutup bisnisnya. Pada tahap ini, dia bahkan menolak untuk menemui anggota keluarganya.

“Mengapa studi agamanya membawa ke perpecahan keluarga dan pengetahuan agamanya yang meningkat menghasilkan kebencian?” adalah sesuatu yang saya pertanyakan…

 

versi Bahasa Inggrisnya:

Don’t blame those who don’t trust Muslims

Opinion and Editorial – April 20, 2007

Mohammad Yazid, Jakarta

In a bid to enhance his understanding of Islam, my parents allowed my younger brother to participate in Koranic recitation and discussion sessions. After a few months, he began to make positive changes such as performing regular evening prayers, and zikir (chanting verses in praise of Allah), which he had rarely done before.

However, about a year later, he started to demonstrate a different attitude. He began to argue about the interpretation of the Koranic verses and hadiths (words and sayings of the Prophet Muhammad), also with my parents. He actively encouraged his friends to join his group’s recitations, frequently neglecting the small business he had been developing for some years after high school.

As a result of my brother’s peculiar take on Islamic teachings, such as his refusal to perform obligatory prayers and Ramadhan fasting rituals by asserting that “the right time has not yet come”, my father, a Muhammadiyah follower, found it difficult to accept my brother’s attitude, although he tried hard to understand.

Most regrettably, though, my brother grew intolerant of other people’s views after almost two years attending the recitation group, without ever telling us who his teacher was or describing what the group got up to. Without any hesitation, he branded those not sharing his opinions as infidels. His closed viewpoint and exclusive beliefs also created tension within the family. He finally decided to leave home without saying anything, and closed up his business. By this stage, he was even refusing to see family members.

“Why have his religious studies led to a family rift and his increased religious knowledge resulted in hatred?” was what I found myself asking.

____________________

Islamthis,

Hanya karena seseorang tersesat, maka Anda (suara_hati) juga ikut tersesat?

Kalau Anda ingin membahas Islam, maka temuilah sumberdaya-sumberdaya yang kompeten. Allah punya kehendak tersendiri atas orang yang Anda kisahkan di atas. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kebenaran Islam dan kewajiban Anda untuk terus mempelajari Islam dari sumber yang berkompeten.

Kalau melalui kisah itu Anda jadi berfikir Islam mengajarkan kehancuran, maka mengapa kehancuran yang sama tidak terjadi pada diri saya? Bukankah saya juga mempelajari Islam dan selalu mendiskusikan Alquran? Bagaimana dengan Milyaran manusia Muslim lainnya di Dunia ini? Mengapa dengan Islam yang sama, Soekarno dan Muhammad Hatta berhasil memimpin bangsa Indonesia ini menuju kemerdekaan yang abadi?

Jangan-jangan sekarang Anda sudah menchlok di Venus, saking kebhlingernya Anda ….

____________________

Suara_hati,

Nabi adalah panutan umat. Itu yang saya tahu. Seperti kutipan berikut dari ceramah Aa Gym:

“Makhluk yang paling mulia ini (Muhammad SAW) juga dinamakan Ahmad, Musthafa, Abdullah, Abul-Qasim, dan juga bergelar Al Amin—yang terpercaya. Setiap nama dan gelar yang dimilikinya mengungkapkan suatu aspek wujud yang penuh berkah. Ia adalah, sebagaimana makna etimologis yang dikandung dalam kata Muhammad dan Ahmad, yang diagungkan dan dipuji; ia adalah musthafa (yang terpilih), abdullah (hamba ALLOH yang sempurna) dan terakhir, sebagai ayah Qasim. Ia bukan hanya Nabi dan utusan (rasul) ALLOH, tetapi juga kekasih ALLOH dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan di dalam Al Alquran, “Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.” (S.21:107).

Jadi Nabi adalah contoh manusia yang sempurna dan kita sebagai Muslim diperintahkan untuk menjalankan dan mangamalkan apa yang diajarkan nabi. Allah memerintahkan ini dalam Alquran. Salah satunya dalam ayat berikut:

(8:24) Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru Anda kepada suatu yang memberi kehidupan kepada Anda, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah Anda akan dikumpulkan.

Dengan seruan itu sewajarnya kita berusaha belajar mengenal Nabi secara lebih dalam, dari buku-buku sajarah Nabi. Bagaimana sebenarnya kehidupan Nabi, sikap Nabi? Apa kandungan Alquran, apa yang ada dalam Hadiths. Tulisan saya berikut hanya berkaitan dengan hal-hal yang saya pertanyakan karena saya beranggapan apa yang saya baca ini tidak sesuai dengan “pemahaman saya” selama ini mengenai Alquran, Nabi dan Islam secara keseluruhan.

____________________

Islamthis,

Ya Anda sudah benar di dalam hal ini. Anda harus banyak membaca tentang kehidupan Nabi Muhammad. JANGAN LUPA ANDA JUGA HARUS BANYAK BACA KEHIDUPAN NABI LAINNYA.

Ketika Anda belajar untuk mengetahui Islam lebih banyak, khususnya kehidupan Nabi Muhammad, maka pastikanlah Anda mempelajarinya dari individu-individu yang berwenang dan berkompeten, seumpama ustadz, ulama, buya delele. Kalau Anda belajar montir mobil, apakah Anda akan mendatangi rumah kursus piano?

Kalau Anda berniat mempelajari Islam dan kehidupan Nabi Muhammad, kemudian Anda mendatangi rumah seorang pastur atau faithfreedom ini, maka Anda lah yang binasa. Tidak usah pasang niat seperti itu sekalian. Anda nya yang bodoh; bukan Islamnya yang salah. Sama saja, kalau ada orang Kristen yang ingin mendalami ajaran Kristen, namun orang itu mendatangi seorang ustadz, pastilah orang ini akan jadi menjauh dari pengetahuan kekristenan. Itu fair, bukan?

6 Responses

  1. Emang benar bangsa yg sering dikutuk adlah bangsa Israel, bahkan dlm injil jg disebutkan. But berhubung si suara hati sok pede trs koar2 dpt urapan roh kudus jadinya malah buta hatinya.

  2. KAsian..ni orang…berkeluh kesah tidak punya solusi….

  3. saya yakin suara-hati itu adalah muslim siluman yang sedang menjalankan taktik takiyah ala kristen. sebodoh_bodohnya seorang muslim tdk akan berpikir seperti yang dia pikirkan. itu karena dia sendiri mengakui kalau pengetahuannya kurang tentang islam. mereka yang menuduh takiyah justru merekalah yang mengamalkan takiyah ala kristen. heran saya, mengaku masih awam tapi mengatakan sudah membaca ini itu. saya yakin dia itu kristen yang mengaku muslim untuk mengelabui dengan gaya yang sok humanis. mungkin benar dia telah membaca buku2 tersebut. tapi dia membaca dengan diawali prasangka buruk terlebih dahulu.

  4. DIJUAL

    paket JABBOMB, hijab+bomb

    hubungi saya jika berminat, setelah pembelian ke 5 bonus istri 1

  5. @mualaf
    Ajaran paulus srigala bulu domba, pakai nick mualaf!!

  6. galau banget kok bila ada yang murtad?
    kwkwkkwkkwkwkwk
    ==========

    Islamthis,
    bukan sdr yg galau??? hahahahahaah wkwkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: