Dari Mekkah ke Masjid Aqsa

Abu Dzar berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di bumi?’ Rasulullah berkata, ‘Masjidil Haram.’ Aku berkata, “Lalu masjid apa?’ Beliau berkata, ‘Masjidil Aqsha.’ Aku berkata, ‘Berapa jarak antara keduanya?’ Beliau berkata, ‘Empat puluh tahun.” (HR Bukhari)

Seorang Muslim mengungkapkan kebingungannya mengenai hakikat Masjid Aqsa ini. Demikian ia menulis,

Ada beberapa kejanggalan pada ayat dibawah
Al Israa’: 1 »
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-masjidil aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 17:1)

1. Masalah pertama
Banyak tafsiran masjid aqsha yg dimaksud adalah yg di Palestina, kita kembali ke sejarah, masjidil aqsha yg dibangun diatas temple Sulaiman ini ketika jaman Khalifah Umar … jadi ayat trsebut telah turun, padahal masjid yg dimaksud belum ada.
2. Masalah kedua
Yang kedua, ada riwayat ketika Rasulullah ditanya berapa tahun jarak pembangunan antara masjidil haram dan masjidil aqsha beliau mengatakan 40 tahun, padahal masjidil haram dibangun pada jaman Nabi Ibrahim.
3. Masalah ketiga
Ditilik dari artinya masjid: sujud sedangkan aqsha : terjauh, jadi yg dimaksud adalah masjid terjauh. sedangkan masjidil aqsha yg di palestina bukan yg terjauh.

Dengan tiga pertentangan diatas maka pendapat saya, masjidil aqsha adalah bukan yg di palestina. Mohon tanggapannya!! :(

Islamthis,

Pertama.

Di dalam suatu Alhadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa Masjid pertama yang dibangun pertama kali oleh manusia di muka Bumi ini adalah Kabah di Mekkah. Dan kemudian Masjid kedua yang dibangun oleh manusia di muka Bumi ini adalah Masjid Aqsa di Jerusalem. Jarak keduanya adalah 40 tahun.

.

Kedua.

Keduanya, Kabah di Mekkah dan Masjid Aqsa di Jerusalem sama-sama dibangun oleh Nabi Adam. Dengan kata lain, setelah Nabi Adam membangun Kabah di Mekkah, Adam harus melewati 40 tahun untuk membangun Masjid Aqsa. Atau, 40 tahun itu dihitung dari setelah Adam selesai  membangun Kabah di Mekkah.

.

Ketiga.

Setelah Adam selesai membangun Kabah di Mekkah, Allah memerintahkan Adam untuk meninggalkan Kabah itu, bahwa Adam diperintahkan oleh Allah Swt untuk berjalan di muka Bumi ini untuk mencapai ‘tempat tinggal baru’. Hal ini disebabkan karena di tempat di mana Adam membangun Kabah itu (yaitu Mekkah) Adam selalu menangis meratapi perpisahannya dengan Allah dari dalam Surga. Mekkah berasal dari kata ‘bakkah’ yang berarti menangis.

.

Keempat.

Tempat tinggal baru itu, adalah suatu tempat yang kala itu Adam belum mengetahuinya. Adam hanya diperintahkan oleh Allah untuk berjalan saja di muka Bumi untuk meninggalkan / menjauhi Kabah. Kalau Adam sudah sampai di tempat yang dimaksudkan oleh Allah tersebut, maka Allah akan memerintahkan Adam untuk berhenti. Dengan kata lain, jika suatu saat Allah memerintahkan Adam untuk berhenti dari perjalanannya, maka tempat itulah yang dimaksudkan oleh Allah sebagai tempat tinggal yang baru, alias TANAH YANG DIJANJIKAN.

.

Kelima.

Demikianlah, Adam pun mentaati perintah Allah untuk berjalan di muka Bumi ini demi meninggalkan Kabah. Adam berjalan bersama istrinya yaitu Siti Hawa. Adam dan istrinya hanya berjalan saja NGARUL NGIDUL tak berketentuan arah. Intinya toh Adam hanya diperintahkan untuk berjalan di muka Bumi itu. Berdua bersama istrinya untuk meninggalkan Kabah jauh-jauh.

.

Keenam.

Sesudah berjalan sekian lama, turunlah perintah Allah untuk Adam untuk berhenti melangkah / berjalan. Ini berarti Adam sudah sampai di tempat yang dimaksud oleh Allah yaitu ‘tempat tinggal yang baru’ alias TANAH YANG DIJANJIKAN tersebut. Tanah tersebut sekarang bernama Jerusalem, alias NEGERI YANG DAMAI.

.

Ketujuh.

Adam dan istrinya pun berhenti, demi mengetahui bahwa tanah yang dia pijak sekarang akan menjadi tempat tinggal barunya. Adam bertanya kepada Allah, YA ALLAH SUDAH BERAPA LAMAKAH AKU BERJALAN SEJAK AKU MENINGGALKAN KABAH ITU?? Allah menjawab, “kau sudah berjalan di muka Bumi itu selama 40 tahun….”.

.

Kedelapan.

Sesampainya Adam di tanah yang baru tersebut,  perintah Allah yang pertama untuk Adam adalah perintah untuk membangun Masjid untuk menyembah Allah di tanah yang baru itu. Masjid itu kelak akan diberi nama Masjid Aqsa.

.

Kesembilan.

Masjid Aqsa. Aqsa menurut bahasa berarti JAUH atau PALING UJUNG. Masjid itu dinamakan Masjid Aqsa karena tempatnya berdiri merupakan tempat yang paling jauh di muka Bumi ini dari Kabah di Mekkah.

.

Kesepuluh.

Kalau dihitung dengan benar, maka sebenarnya tempat di mana Masjid Aqsa ini berdiri BUKANLAH TEMPAT YANG TERJAUH dari Mekkah di muka Bumi ini. Sydney di Australia pasti lebih tepat untuk dikatakan tempat yang paling jauh dari Mekkah di muka Bumi ini. Lantas mengapa Masjid Aqsa dikatakan sebagai Masjid yang tempatnya paling jauh di muka Bumi ini dari Kabah di Mekkah?

.

Kesebelas.

Masjid Aqsa di Jerusalem itu merupakan Masjid yang tempatnya merupakan tempat paling jauh di muka Bumi ini dari Mekkah, BUKAN DIHITUNG MENURUT GARIS LURUS YANG DITARIK DARI MEKAH KE JERUSALEM. Tempat terjauh dari Mekkah itu sebenarnya dihitung MENURUT RUTE JALAN KAKI yang ditempuh Adam dari Mekkah untuk akhirnya mencapai Jerusalem.

.

Keduabelas.

Adam tidak pernah menempuh / membuat rute jalan kaki berupa garis lurus yang ditarik dari Mekkah ke Jerusalem. Allah sebenarnya telah MEMUTAR-MUTAR Adam di muka Bumi ini ketika ia berjalan kaki tersebut – sehingga rute jalan kaki yang dibuat Adam dari Mekkah ke Jerusalem tersebut jadi menyerupai BENANG KUSUT. Kalau Adam menempuh rute jalan kaki yang lurus dari Mekkah ke Jerusalem, maka tentulah Adam tidak membutuhkan waktu 40 tahun untuk sampai di Jerusalem. Tiga bulan pasti sudah sampai, tidak perlu memakan waktu hingga 40 tahun.

.

Ketigabelas.

Allah telah memutar-mutar Adam di muka Bumi ini di dalam perjalanan jalan kakinya dari Mekkah ke Jerusalem. Maksud Allah berbuat demikian adalah, SUPAYA ADAM MELIHAT SELURUH KAMPUNG DI BUMI INI YANG KELAK AKAN DITINGGALI oleh anak keturunannya. Ini artinya Adam telah sampai di China, Depok, Inggris, Philipina, India, Jepang, dan seterusnya. Ketika Adam sampai di China, Allah berseru, “Wahai Adam, negeri yang kau injak sekarang ini adalah negeri China. Di negeri itulah Aku akan menempatkan anak-anak keturunamu kelak”. Adam pun berkata, “Ya Allah, kelak ketika anak-anakku sudah sampai di negeri china ini, maka berkatilah mereka, tunjukilah mereka, rahmatilah mereka, berilah mereka semua rezeki dari sisi Engkau. Sungguh ya Allah, mereka adalah anak-anakku semua…”. Allah pun berkata, “Ya!”. Begitu juga ketika Adam sampai di kampung-kampung lainnya.

.

Keempatbelas.

Adam hanya akan melewati setiap tempat / kampung itu SEKALI SAJA, karena tempat lainnya juga harus dikunjungi Adam as, alias mengantri untuk dikunjungi Adam as. Adam tidak pernah berada / melewati suatu kampung untuk kedua kalinya. Dengan demikian, tidak ada satu kota / desa / kampung pun di muka Bumi ini yang tidak dikunjungi / dilihat Adam. Di setiap kota / desa di muka Bumi ini, TERDAPAT JEJAK KAKI ADAM sebagai bukti bahwa Adam pernah berada di desa / kota tersebut.

.

Kelimabelas.

Ketika Adam sampai di Jerusalem, Allah memerintahkan Adam untuk berhenti. Ini artinya, ketika Adam sampai di Jerusalem, TIDAK ADA KOTA / TEMPAT yang belum dikunjungi oleh Adam. Ini artinya adalah, Jerusalem merupakan tempat terakhir di muka Bumi ini yang dikunjungi Adam. Ketibaan Adam di Jerusalem  merupakan pamungkas / penutup dari serangkaian perjalanannya mengunjungi kota-kota / desa-desa di seluruh Dunia ini. Jelasnya, Jerusalem adalah TEMPAT TERJAUH dari rute yang dibuat Adam sejak Adam meninggalkan Kabah di Mekkah. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa kota Jerusalem berada DI PALING UJUNG dari rute yang ditempuh Adam, karena di kota inilah Adam membangun mesjid yang kedua, yaitu Masjid Aqsa, yang berarti Masjid Paling Jauh.

.

Keenambelas.

Adam di dalam perjalanan kakinya menuju Jerusalem tersebut dari Mekkah, telah melewati seluruh negeri di muka Bumi ini. Sebut saja salah satunya adalah Sydney di Australia. Pertanyaannya adalah, bagaimana Adam bisa sampai di Sydney? Apakah Adam naik perahu? Bukankah perahu pertama kali dibuat oleh Nabi Nuh? Atau apakah Adam berenang menyebrangi laut untuk sampai ke Australia? Dan bagaimana juga kota-kota lain di Dunia ini yang terletak di seberang lautan, seperti Jepang dan Korea??

.

Ketujuhbelas.

Tidak. Adam tidak perlu berenang atau naik perahu untuk bisa sampai di Australia atau Jepang atau Amerika Latin. Adam cukup berjalan kaki saja bersama istrinya.

.

Kedelapanbelas.

Ada dua hal yang harus diingat mengenai hal ini. PERTAMA. Adam dan istrinya adalah manusia yang mempunyai tubuh yang berukuran besar. Artinya mereka kuat. Langkah kaki mereka adalah langkah kaki yang panjang. Besarnya ukuran tubuh mereka ini pun memang sudah diakui baik secara ilmiah mau pun secara kitabiah. Baik Alquran, Alhadits mau pun Alkitab menjelaskan bahwa manusia-manusia jaman dahulu mempunyai ukuran yang besar.

KEDUA. seluruh daratan pada masa Adam masih merupakan SATU KESATUAN yang tidak terpisahkan oleh laut samudra. Ilmu Pengetahuan mengajarkan kepada kita semua bahwa dahulu kala planet Bumi ini hanya terdiri dari SATU SAMUDERA DAN SATU BENUA. Dan satu benua itu disebut dengan PANGEA. PAN berarti gabungan / satu, dan GEA (GEO) berarti tanah. Di dalam Pangea – lah, Australia Amerika Eropa Selandia baru dan lain lain bertautan dengan benua Asia. Itulah sebabnya semua tempat di Bumi ini dengan mudahnya dicapai oleh Adam karena kesemua daratan masih menyatu dengan benua Asia, tempat Kabah dan Jerusalem.

Pangea

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pangea atau Pangaea (dalam bahasa Yunani Kuno, pan berarti “keseluruhan, seluruh” dan gaia berarti “bumi”) adalah benua raksasa pada zaman Paleozoikum dan Mesozoikum kira-kira 250 juta tahun yang lalu. Benua raksasa ini akhirnya terpecah menjadi beberapa potong benua atau lempeng yang selanjutnya menyebar ke seluruh permukaan bumi.

_______________

Access from,

http://id.wikipedia.org/wiki/Pangea

Access date | 8/24/2011

.

Kesembilanbelas.

Sesampainya Adam di Jerusalem, Adam membangun Masjid kedua yaitu Masjid Aqsa. Setelah itu, Adam melihat bahwa istrinya mengandung, dan kemudian melahirkan si kembar. Itulah awal kebahagiaan Adam di tempat yang jauh dari Kabah. Semula Adam tidak percaya kepada apa yang dijanjikan Allah, bahwa ada tempat di muka Bumi ini yang jauh dari KabahNya, yang mana di tempat itu Adam beroleh damai dan tentram. Adam hanya mengerti bahwa hanya di dekat Kabah lah yang dapat membuatnya damai dan tentram, tidak di tempat lain. Namun toh Allah mempunyai pandangan lain. dan ternyata benar saja. Di tanah baru itu, yang jauh dari Kabah itu, untuk pertama kalinya Adam dapat berasa damai dan tentram. itu semua karena istrinya melahirkan anak-anaknya yang rupawan. Itulah sebabnya, kota / tempat itu dinamakan Jerusalem, NEGERI KEDAMAIAN.

.

Keduapuluh.

Kisah ini hanya ada di dalam Islam. Kisah ini tidak akan pernah mendapatkan akar logikanya di dalam kepercayaan ahlul kitab yaitu agama Kristen dan Yahudi.

Untuk melengkapi pemahaman artikel ini, silahkan baca artikel,

https://islamthis.wordpress.com/2012/01/13/mengapa-yerusalem/

20 Responses

  1. tapi sayang negeri yg damai tlh dikoyak perang oleh Israel

  2. Boleh tau sumber kisah ini dari mana ya mas?

    • dari bapak ihsan maftuh (kalau tidak salah orang dari depag RI). kala itu beliau menjadi narasumber pada acara shalat tarawih yang disiarkan langsung dari masjidil haram, bulan ramadhan beberapa tahun lalu (kalau tidak salah) di rcti.

  3. jikalau lautan pd wktu itu sdh sperti skrg pun Adam tetap dapat dengan mudah melewatinya.. Tinggi Adam 27,432 meter, Sedangkan Pacific Ocean (Lautan yg katanya terdalam di dunia) kedalamannya hanya 10,923 m.. (kira2 hanya sepinggangnya).. Wow.. Dan apabila menyebrangi Selat Sunda cukup 3 langkah saja.. Wallahu a’lam..

  4. ente jangan asal berdakwah,jika ingin berdakwah tuliskan dan jelaskan bersumber dari mana ente dapat ajaran seperti itu?
    bukan dengan jawaban KALO TIDAK SALAH???
    islam itu ilmu pasti,dan allah lah yang mengatakan langsung!!
    jangan pernah meretakan umat islam,AZAB ALLAH DI DUNIA DAN DI AKHIRAT AMATLAH PEDIH….!!!!
    ===========

    Islamthis,
    kita ber-adu argumentasi saja, bagaimana??

    daripada sumpah serapah menuduh saya yg tidak berdasar sama sekali …

    kebenaran dilihat bukan dari referensi (saja), tapi dilihat dari keperkasaannya saat didebat dg berbagai argumentasi, setuju??

    kalo anda setuju, baiklah kita ber-adu argumentasi saja. saya tunggu postingan anda mengenai isu ini ….. INsya allah akan saya tanggapi dg abik.

    dan kalau anda tidak nongol2 juga mengajukan argumentasinya, berarti anda TIDAK PUNYA APA2, kecuali mulut penuh sumpah serapah murahan.

    terima kasih.

    • Al Quran itu hasil jiplakan dari Alkitab Qs 43 : 4. Rekayasa org2 Arab yg menyesatkan manusia dgn jihad dan poligaminya yg memiskinkan manusia. Muhamad dgn isteri2ny yg banyak bahkan dgn anak di bawah umur (Aisyah 6 thn)

  5. jangan sembarangan kalau bikin naskah masbrow, mati konyol baru tau rasa lu…!!!
    ===========

    Islamthis,
    kita ber-adu argumentasi saja, bagaimana??

    daripada sumpah serapah menuduh saya yg tidak berdasar sama sekali …

    kebenaran dilihat bukan dari referensi (saja), tapi dilihat dari keperkasaannya saat didebat dg berbagai argumentasi, setuju??

    kalo anda setuju, baiklah kita ber-adu argumentasi saja. saya tunggu postingan anda mengenai isu ini ….. INsya allah akan saya tanggapi dg baik.

    dan kalau anda tidak nongol2 juga mengajukan argumentasinya, berarti anda TIDAK PUNYA APA2, kecuali mulut penuh sumpah serapah murahan.

    terima kasih.

  6. saya sebenarnya kurang percaya dengan kisah ini mas…sebab dalam alquran tidak ada bukti kuat mengenai kisah ini…yang saya percaya hanyalah quran dan hadis..jika anda beriman maka ikuti yang ada..meski dicaci anda jangan kecil hati…memang jarak antara pembangunan masjidil haram dan masjidil aqsa itu benar 40 tahun…saya tidak suka jika ada oknum syiah yang mau mengarang cerita lagi..>>> Yakub bar Ishak bar Abraham mendirikan batu sebagai tugu awal dari pembangunan Bait Suci Yerusalem…40 tahun setelah kakek dan pamannya mendirikan Bait Allah di Bakkah…Makkah..nun jauh di selatan…Di sebuah lembah diantara deretan Pegunungan Faran..

    Kejadian 28:22 Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah <<<< lihat itu kitab dari allah juga..kitab injil barnabas..apa anda masih menentang apa yang telah allah firmankan?,argumentasi tetap dapat dikalahkan dengan iman

  7. saya ingin bertanya…APA RASULULLAH SAW ITU PEDHOFIL HANYA KARENA MENIKAHI AISYAH RA DIMASA 9 TAHUN?,APA ANDA AKAN MERUBAH APA YANG TELAH ADA DALAM ALQURAN DAN HADIS BAHWA AISYAH MENIKAH 9 TAHUN ITU SALAH>?>.SAYA KECEWA BANYAK OKNUM YANG INGIN MEMBELA ISLAM TAPI DENGAN MENGADA2 KEBENARAN..INGATLAH MENGADA2 DALAM AGAMA ITU DOSA BESAR..BAHKAN SAYA LIHAT ADA YANG MENGATAKAN AISYAH RA MENIKAH DI USIA 19 TAHUN DGN MEMBANDINGKAN UMURNYA DENGAN ASMA KAKAKNYA..ITU KONYOL SEBAB DALAM HADIS TELAH DITEGASKAN AISYAH MENIKAH UMUR 9 TAHUN..sebenarnya saya ta rela jika rasul dikatakan seperti itu tapi kenyataan umur aisyah menikah pada umur 9 tahun itu hadis asli/sah/MUTAWWATIR..saran saya terima dengan lapang cacian mereka dan balas dengan lembut,nanti mereka juga akan paham bahwa umat muhammad itu umat yang sabar tatkala dicaci bukan pembual tatkala dicaci..

    • Haekal mengulas isteri-isteri Nabi Muhammad saw., terutama kepada Zainab, sebagai jawaban dari tuduhan kaum orientalis mengenai perkawinan nabi dengan Zainab.

      Teriakan Orientalis tentang Zainab bt. Jahsy ▲

      SEMENTARA peristiwa-peristiwa dalam dua bagian di atas itu terjadi, Muhammad kawin dengan Zainab bt. Khuzaima, kemudian kawin dengan Umm Salama bt. Abi Umayya bin’l-Mughira, selanjutnya kawin lagi dengan Zainab bt. Jahsy setelah dicerai oleh Zaid b. Haritha. Zaid inilah yang telah diangkat sebagai anak oleh Muhammad setelah dibebaskan sebagai budak sejak ia dibelikan oleh Yasar untuk Khadijah. Di sinilah kaum Orientalis dan misi-misi penginjil itu kemudian berteriak keras-keras: Lihat! Muhammad sudah berubah. Tadinya, ketika ia masih di Mekah sebagai pengajar yang hidup sederhana, yang dapat menahan diri dan mengajarkan tauhid, sangat menjauhi nafsu hidup duniawi, sekarang ia sudah menjadi orang yang diburu syahwat, air liurnya mengalir bila melihat wanita. Tidak cukup tiga orang isteri saja dalam rumah, bahkan ia kawin lagi dengan tiga orang wanita seperti yang disebutkan di atas. Sesudah itu mengawini tiga orang wanita lagi, selain Raihana. Tidak cukup kawin dengan wanita-wanita yang tidak bersuami, bahkan ia jatuh cinta kepada Zainab bt. Jahsy yang masih terikat sebagai isteri Zaid b. Haritha bekas budaknya. Soalnya tidak lain karena ia pernah singgah di rumah Zaid ketika ia sedang tidak ada di tempat itu, lalu ia disambut oleh Zainab. Tatkala itu ia sedang mengenakan pakaian yang memperlihatkan kecantikannya, dan kecantikan ini sangat mempengaruhi hatinya. Waktu itu ia berkata “Maha suci Ia yang telah dapat membalikkan hati manusia!” Kata-kata ini diulanginya lagi ketika ia meninggalkan tempat itu. Zainab mendengar kata-kata itu dan ia melihat api cinta itu bersinar dari matanya. Zainab merasa bangga terhadap dirinya dan apa yang didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu itu juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwa ia bersedia menceraikannya. Lalu kata Nabi kepadanya:

      “Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan. Hendaklah engkau takut kepada Allah.”

      Tetapi pergaulan Zainab dengan Zaid sudah tidak baik iagi. Kemudian ia dicerai. Muhammad menahan diri tidak segera mengawininya sekalipun hatinya gelisah. Ketika itu firman Tuhan datang:

      “Ingat, tatkala engkau berkata kepada orang yang telah diberi karunia oleh Allah dan engkau pun telah pula berbudi kepadanya: Jagalah baik-baik isterimu. Hendaklah engkau takut kepada Allah. Dan engkau menyembunyikan sesuatu di dalam hatimu apa yang oleh Tuhan sudah diterangkan. Engkau takut kepada manusia, padahal seharusnya Allah yang lebih patut kautakuti. Maka setelah Zaid meluluskan kehendak wanita itu, Kami kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak tidak menjadi alangan bagi orang-orang beriman kawin dengan (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, bilamana kehendak mereka (wanita-wanita) itu sudah diluluskan. Perintah Allah itu mesti dilaksanakan.” (Qur’an, 33:37)

      Ketika itulah wanita itu dikawininya. Dengan perkawinan ini semarak cinta berahi dan api asmaranya yang menyala-nyala dapat dipadamkan. Nabi apa itu!? Bagaimana ia membenarkan hal itu buat dirinya sedang buat orang lain tidak?! Bagaimana ia tidak tunduk kepada undang-undang yang katanya diturunkan Tuhan kepadanya?! Bagaimana pula “harem” ini diciptakan, yang mengingatkan orang pada raja-raja yang hidup mewah-mewah, bukan pada para nabi yang saleh dan memperbaiki kehidupan umat?! Selanjutnya bagaimana pula ia menyerah kepada kekuasaan cinta dalam hubungannya dengan Zainab sehingga ia menghubungi Zaid bekas budaknya supaya menceraikannya, kemudian ia tampil mengawininya! Hal semacam ini pada zaman jahiliah dilarang, tapi nabinya orang Islam ini membolehkan, karena mau menuruti kehendak nafsunya, mau memenuhi dorongan cintanya.

      Zainab menurut gambaran kaum Orientalis ▲

      Bilamana kaum Orientalis dan para misi penginjil bicara mengenai masalah ini dalam sejarah Muhammad, maka mereka membiarkan khayal mereka itu bebas tak terkendalikan lagi; sehingga ada diantara mereka itu yang menggambarkan Zainab – ketika terlihat oleh Nabi – dalam keadaan setengah telanjang atau hampir telanjang, dengan rambutnya yang hitam panjang lepas terurai sampai menjamah tubuhnya yang lembut gemulai, yang akan dapat menterjemahkan segala arti cinta berahi. Yang lain lagi menyebutkan, bahwa ketika ia membuka pintu rumah Zaid, angin menghembus menguakkan tabir kamar Zainab. Ketika itu ia sedang telentang di tempat tidur dengan mengenakan baju tidur. Pemandangan ini sangat menggetarkan jantung laki-laki yang gila perempuan dengan kecantikannya itu. Ia menyembunyikan perasaan hatinya meskipun sebenarnya ia tidak dapat tahan lama demikian!

      Gambaran yang diciptakan oleh khayal demikian itu banyak sekali. Akan kita jumpai ini dalam karya-karya Muir, Dermenghem, Washington Irving, Lammens dan yang lain, baik mereka ini para Orientalis atau misi-misi penginjil. Dan yang sungguh disayangkan lagi karena dalam membuat cerita-cerita itu, semua mereka memang mengambil sumbernya dari kitab-kitab sejarah Nabi dan tidak sedikit pula dari hadis. Kemudian dengan apa yang mereka gambarkan itu, mereka membangun istana-istana gading dari khayal mereka sendiri tentang Muhammad serta hubungannya dengan wanita. Alasan mereka ialah karena isterinya banyak, yang sampai sembilan orang menurut pendapat yang lebih tepat, atau lebih dari itu menurut sumber-sumber lain.

      Orang-orang besar tidak tunduk kepada undang-undang ▲

      Sebenarnya dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka itu dengan ucapan: Anggaplah semua itu benar, tetapi dengan itu apa pula kiranya yang akan dapat mendiskreditkan kebesaran Muhammad atau kenabian dan kerasulannya. Undang-undang yang biasanya berlaku pada umum, tidak mempan terhadap orang-orang besar, lebih-lebih terhadap para rasul dan nabi. Bukankah ketika Musa a.s. melihat perselisihan dua orang, yang seorang dari golongannya sendiri, dan yang seorang lagi dari pihak musuhnya, ditinjunya orang yang dari pihak musuh itu hingga menemui ajalnya, padahal pembunuhan demikian itu dilarang, baik dalam perang atau pun setengah perang? Ini berarti melanggar undang-undang. Jadi Musa tidak tunduk kepada undang-undang, tapi juga tidak berarti ini dapat mendiskreditkan kenabian atau kerasulannya, bahkan mengurangi kebesarannyapun juga tidak. Dan dalam hal Isa, dalam menyalahi undang-undang lebih besar lagi dari masalah Muhammad, dari para nabi dan para rasul semuanya. Dan soalnya tidak hanya terbatas pada besarnya kekuatan dan keinginan saja, bahkan kelahiran dan kehidupannya pun sudah melanggar undang-undang dan kodrat alam. Di hadapan ibunya malaikat muncul sebagai manusia yang sempurna, yang akan mengantarkan seorang anak yang suci bersih kepadanya. Wanita itu keheranan, sambil berkata: “Bagaimana aku akan beroleh seorang putera, padahal aku belum disentuh seorang manusia, juga aku bukan seorang pelacur.” Malaikat berkata, bahwa Tuhan menghendaki supaya ia menjadi pertanda bagi umat manusia.

      Setelah terasa sakit hendak melahirkan, ia berkata: “Aduhai, coba sebelum ini aku mati saja, maka aku akan hilang dilupakan orang.” Lalu datang suara memanggilnya dari bawah: “Jangan berdukacita, Tuhan telah mengalirkan sebatang anak sungai di bawahmu.” Dibawanya anak itu kepada keluarganya. Mereka pun berkata: “Maryam, engkau datang membawa masalah besar. Dalam buaiannya itu (usia semuda itu) Isa berkata kepada mereka: “Aku adalah hamba Allah É” dan seterusnya.

      Betapapun orang-orang Yahudi menolak semua ini, dan oleh mereka Isa dinasabkan kepada Yusuf an-Najjar (Yusuf anak Heli), sebagian sarjana semacam Renan sampai sekarang pun memang menganggapnya demikian. Kebesaran Isa, kenabiannya dan kerasulannya serta penyimpangannya dari hukum dan kodrat alam adalah suatu pertanda mujizat Tuhan kepadanya. Tapi anehnya, misi-misi penginjil Kristen itu minta orang supaya percaya kepada hal-hal yang di luar hukum alam mengenai diri Yesus, sementara mengenai diri Muhammad mereka sudah menjatuhkan hukuman sendiri. Padahal apa yang dilakukannya tidak seberapa dan tidak lebih karena Muhammad memang terlalu tinggi untuk dapat tunduk kepada undang-undang masyarakat yang berlaku terhadap setiap orang besar, terhadap raja-raja, kepala-kepala negara yang pada umumnya sudah didahului oleh undang-undang dasar sehingga membuat mereka tak dapat diganggu-gugat.

      Penggambaran Orientalis yang keliru ▲

      Sebenarnya dapat saja kita membantah semua kata-kata mereka itu dengan jawaban yang sudah tentu akan menjatuhkan semua argumen misi-misi penginjil dan orang-orang Orientalis yang juga mau ikut cara-cara mereka itu. Tetapi dalam hal ini kita lalu memperkosa sejarah dan memperkosa kebesaran Muhammad dan kerasulannya. Dia bukanlah orang seperti yang mereka gambarkan: orang yang pikirannya dipengaruhi oleh hawa nafsu. Tak ada isterinya itu yang dikawininya hanya karena ia terdorong oleh syahwat atau nafsu berahi saja. Kalaupun ada beberapa penulis Muslim pada zaman-zaman tertentu dengan sesuka hati berkata demikian dan mengemukakan alasan itu kepada lawan-lawan Islam dengan niat baik, soalnya ialah karena tradisi yang berlaku telah membawa mereka kepada pengertian materi. Mereka ingin menggambarkan Muhammad itu besar dalam segalanya, juga besar dalam kehidupan hawa nafsu. Sudah tentu ini suatu penggambaran yang salah sama sekali. Sejarah hidup Muhammad sama sekali tak dapat menerima ini, dan seluruh hidup pribadinya pun dengan sendirinya sudah menolak.

      Sampai usia 50 tahun hanya beristerikan Khadijah ▲

      Ia kawin dengan Khadijah dalam usia duapuluh tiga tahun, usia muda-remaja, dengan perawakan yang indah dan paras muka yang begitu tampan, gagah dan tegap. Namun sungguhpun begitu Khadijah adalah tetap isteri satu-satunya, selama duapuluh delapan tahun, sampai melampaui usia limapuluhan. Padahal masalah poligami ialah masalah yang umum sekali di kalangan masyarakat Arab waktu itu. Di samping itu Muhammad pun bebas kawin dengan Khadijah atau dengan yang lain, dalam hal ia dengan isterinya tidak beroleh anak laki-laki yang hidup, sedang anak perempuan pada waktu itu dikubur hidup-hidup dan yang dapat dianggap sebagai keturunan pengganti hanyalah anak laki-laki.

      Muhammad hidup hanya dengan Khadijah selama tujuh belas tahun sebelum kerasulannya dan sebelas tahun sesudah itu; dan dalam pada itu pun sama sekali tak terlintas dalam pikirannya ia ingin kawin lagi dengan wanita lain. Baik pada masa Khadijah masih hidup, atau pun pada waktu ia belum kawin dengan Khadijah, belum pernah terdengar bahwa ia termasuk orang yang mudah tergoda oleh kecantikan wanita-wanita yang pada waktu itu justeru wanita-wanita belum tertutup. Bahkan mereka itu suka memamerkan diri dan memamerkan segala macam perhiasan, yang kemudian dilarang oleh Islam. Sudah tentu tidak wajar sekali apabila akan kita lihat, sesudah lampau limapuluh tahun, mendadak sontak ia berubah demikian rupa sehingga begitu ia melihat Zainab bint Jahsy – padahal waktu itu isterinya sudah lima orang diantaranya Aisyah yang selalu dicintainya – tiba-tiba ia tertarik sampai ia hanyut siang-malam memikirkannya. Juga tidak wajar sekali apabila kita lihat, sesudah lampau limapuluh tahun usianya, yang selama lima tahun sudah beristerikan lebih dari tujuh orang, dan dalam tujuh tahun sembilan orang isteri. Semuanya itu, motifnya hanya karena dia terdorong oleh nafsu kepada wanita, sehingga ada beberapa penulis Muslim – dan juga penulis-penulis Barat mengikuti jejaknya – melukiskannya sedemikian rupa, demikian merendahkan yang bagi seorang materialis sekalipun sudah tidak layak, apalagi buat orang besar, yang ajarannya dapat mengubah dunia dan mengubah jalannya roda sejarah, dan masih selalu akan mengubah dunia sekali lagi, dan akan mengubah jalannya roda sejarah sekali lagi.

      Hanya Khadijah yang membawa keturunan ▲

      Apabila ini suatu hal yang aneh dan tidak wajar, maka akan jadi aneh juga kita melihat bahwa perkawinan Muhammad dengan Khadijah telah memberikan keturunan, laki-laki dan perempuan, sampai sebelum ia mencapai usia limapuluh tahun, dan bahwa Maria melahirkan Ibrahim sesudah Muhammad berusia enampuluh tahun dan hanya dari yang dua orang ini sajalah yang membawa keturunan. Padahal isteri-isteri itu ada yang dalam usia muda, yang akan dapat juga hamil dan melahirkan, baik dari pihak suami atau pihak isteri, dan ada yang sudah cukup usia, sudah lebih dari tigapuluh tahun umurnya, dan sebelum itu pun pernah pula punya anak. Bagaimana pula gejala aneh dalam hidup Nabi ini ditafsirkan, suatu gejala yang tidak tunduk kepada undang-undang yang biasa, yang sekaligus terhadap kesembilan wanita itu?! Sebagai manusia, sudah tentu jiwa Muhammad cenderung sekali ingin beroleh seorang putera, sekalipun – dalam kedudukannya sebagai nabi dan rasul – dari segi rohani ia sudah menjadi bapa seluruh umat Muslimin.

      Perkawinan Sauda bt. Zam’a ▲

      Kemudian peristiwa-peristiwa sejarah serta logikanya juga menjadi saksi yang jujur mendustakan cerita misi-misi penginjil dan para Orientalis itu sehubungan dengan poligami Nabi. Seperti kita sebutkan tadi, selama 28 tahun ia hanya beristerikan Khadijah seorang, tiada yang lain. Setelah Khadijah wafat, ia kawin dengan Sauda bint Zam’a, janda Sakran b. ‘Amr b. ‘Abd Syams. Tidak ada suatu sumber yang menyebutkan, bahwa Sauda adalah seorang wanita yang cantik, atau berharta atau mempunyai kedudukan yang akan memberi pengaruh karena hasrat duniawi dalam perkawinannya itu. Melainkan soalnya ialah, Sauda adalah isteri orang yang termasuk mula-mula dalam lslam, termasuk orang-orang yang dalam membela agama, turut memikul pelbagai macam penderitaan, turut berhijrah ke Abisinia setelah dianjurkan Nabi hijrah ke seberang lautan itu. Sauda juga sudah Islam dan ikut hijrah bersama-sama, ia juga turut sengsara, turut menderita. Kalau sesudah itu Muhammad kemudian mengawininya untuk memberikan perlindungan hidup dan untuk memberikan tempat setarap dengan Umm’l-Mu’minin, maka hal ini patut sekali dipuji dan patut mendapat penghargaan yang tinggi.

      Adapun Aisyah dan Hafsha adalah puteri-puteri dua orang pembantu dekatnya, Abu Bakr dan Umar. Segi inilah yang membuat Muhammad mengikatkan diri dengan kedua orang itu dengan ikatan semenda perkawinan dengan puteri-puteri mereka. Sama juga halnya ia mengikatkan diri dengan Usman dan Ali dengan jalan mengawinkan kedua puterinya kepada mereka. Kalaupun benar kata orang mengenai Aisyah serta kecintaan Muhammad kepadanya itu, maka cinta itu timbul sesudah perkawinan, bukan ketika kawin. Gadis itu dipinangnya kepada orangtuanya tatkala ia berusia sembilan tahun dan dibiarkannya dua tahun sebelum perkawinan dilangsungkan. Logika tidak akan menerima kiranya, bahwa dia sudah mencintainya dalam usia yang masih begitu kecil. Hal ini diperkuat lagi oleh perkawinannya dengan Hafsha bt. Umar yang juga bukan karena dorongan cinta berahi, dengan ayahnya sendiri sebagai saksi.

      “Sungguh,” kata Umar, “tatkala kami dalam zaman jahiliah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Baru setelah Tuhan memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka.” Dan katanya lagi: “Ketika saya sedang dalam suatu urusan tiba-tiba isteri saya berkata: ‘Coba kau berbuat begini atau begitu.” Jawab saya: “Ada urusan apa engkau disini, dan perlu apa engkau dengan urusanku!” Dia pun membalas: “Aneh sekali engkau Umar. Engkau tidak mau ditentang, padahal puterimu menentang Rasulullah s.a.w. sehingga ia gusar sepanjang hari.” Kata Umar selanjutnya: “Kuambil mantelku, lalu aku keluar, pergi menemui Hafsha. “Anakku,” kataku kepadanya. “Engkau menentang Rasulullah s.a.w. sampai ia merasa gusar sepanjang hari?!” Hafsha menjawab: “Memang kami menentangnya.” “Engkau harus tahu,” kataku. “Kuperingatkan engkau akan siksaan Tuhan serta kemurkaan RasulNya. Anakku, engkau jangan teperdaya oleh kecintaan orang yang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dengan kecintaan Rasulullah s.a.w.” Katanya lagi: “Engkau sudah mengetahui, Rasulullah tidak mencintaimu, dan kalau tidak karena aku engkau tentu sudah diceraikan.”

      Kita sudah melihat bukan, bahwa Muhammad mengawini Aisyah atau mengawini Hafsha bukan karena cintanya atau karena suatu dorongan berahi, tapi karena hendak memperkukuh tali masyarakat Islam yang baru tumbuh dalam diri dua orang pembantu dekatnya itu. Sama halnya ketika ia kawin dengan Sauda, maksudnya supaya pejuang-pejuang Muslimin itu mengetahui, bahwa kalau mereka gugur untuk agama Allah, isteri-isteri dan anak-anak mereka tidak akan dibiarkan hidup sengsara dalam kemiskinan.

      Perkawinannya dengah Zainab bt. Khuzaima dan dengan Umm Salama mempertegas lagi hal itu. Zainab adalah isteri ‘Ubaida bin’l-Harith bin’l-Muttalib yang telah mati syahid, gugur dalam perang Badr. Dia tidak cantik, hanya terkenal karena kebaikan hatinya dan suka menolong orang, sampai ia diberi gelar Umm’l-Masakin (Ibu orang-orang miskin). Umurnya pun sudah tidak muda lagi. Hanya setahun dua saja sesudah itu ia pun meninggal. Sesudah Khadijah dialah satu-satunya isteri Nabi yang telah wafat mendahuluinya.

      Sedang Umm Salama sudah banyak anaknya sebagai isteri Abu Salama, seperti sudah disebutkan di atas, bahwa dalam perang Uhud ia menderita luka-luka, kemudian sembuh kembali. Oleh Nabi ia diserahi pimpinan untuk menghadapi Banu Asad yang berhasil di kucar-kacirkan dan ia kembali ke Medinah dengan membawa rampasan perang. Tetapi bekas lukanya di Uhud itu terbuka dan kembali mengucurkan darah yang dideritanya terus sampai meninggalnya. Ketika sudah di atas ranjang kematiannya, Nabi juga hadir dan terus mendampinginya sambil mendoakan untuk kebaikannya, sampai ia wafat. Empat bulan setelah kematiannya itu Muhammad meminta tangan Umm Salama. Tetapi wanita ini menolak dengan lemah lembut karena ia sudah banyak anak dan sudah tidak muda lagi. Hanya dalam pada itu akhirnya sampai juga ia mengawini dan dia sendiri yang bertindak menguruskan dan memelihara anak-anaknya.

      Penelitian sejarah dan kesimpulannya Cerita Zainab bt. Jahsy ▲

      Adakah sesudah ini semua para misi penginjil dan Orientalis itu masih akan mendakwakan, bahwa karena kecantikan Umm Salama itulah maka Muhammad terdorong hendak mengawininya? Kalau hanya karena itu saja, masih banyak gadis-gadis kaum Muhajirin dan Anshar yang lain, yang jauh lebih cantik, lebih muda, lebih kaya dan bersemarak, dan tidak pula ia akan dibebani dengan anak-anaknya. Akan tetapi sebaliknya, ia mengawininya itu karena pertimbangan yang luhur itu juga, sama halnya dengan perkawinannya dengan Zainab bt. Khuzaima, yang membuat kaum Muslimin bahkan makin cinta kepadanya dan membuat mereka lebih-lebih lagi memandangnya sebagai Nabi dan Rasul Allah. Di samping itu mereka semua memang sudah menganggapnya sebagai ayah mereka. Ayah bagi segenap orang miskin, orang yang tertekan, orang lemah, orang yang sengsara dan tak berdaya. Ayah bagi setiap orang yang kehilangan ayah, yang gugur membela agama Allah.

      Dari apa yang sudah diuraikan di atas, apakah yang dapat disimpulkan oleh penelitian sejarah yang murni? Yang dapat disimpulkan ialah bahwa Muhammad menganjurkan orang beristeri satu dalam kehidupan biasa. Ia menganjurkan cara demikian seperti contoh yang sudah diberikannya selama masa Khadijah. Untuk itu firman Tuhan dalam Qur’an menyebutkan:

      “Dan kalau kamu kuatir takkan dapat berlaku lurus terhadap anak-anak yatim itu, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu sukai: dua, tiga dan (sampai) empat. Tetapi kalau kamu kuatir takkan dapat berlaku adil, hendaklah seorang saja atau yang sudah ada menjadi milik kamu.” (Qur’an, 4:3)

      “Dan (itu pun) tidak akan kamu dapat berlaku adil terhadap wanita, betapa kamu sendiri menginginkan itu. Sebab itu, janganlah kamu terlalu condong kepada yang seorang, lalu kamu biarkan dia terkatung-katung.” (Qur’an, 4:129)

      Ayat-ayat ini turun pada akhir-akhir tahun kedelapan Hijrah, setelah Nabi kawin dengan semua isterinya, maksudnya untuk membatasi jumlah isteri itu sampai empat orang, sementara sebelum turun ayat tersebut pembatasan tidak ada. Ini juga yang telah menggugurkan kata-kata orang: Muhammad membolehkan buat dirinya sendiri dan melarang buat orang lain. Kemudian turun ayat yang memperkuat diutamakannya isteri satu dan menganjurkan demikian karena dikuatirkan takkan berlaku adil dengan ditekankan bahwa berlaku adil itu tidak akan disanggupi. Hanya saja dalam keadaan kehidupan masyarakat yang dikecualikan ia melihat suatu kemungkinan yang mendesak perlunya kawin sampai empat dengan syarat berlaku adil. Dia telah melakukan itu dengan contoh yang diberikannya ketika kaum Muslimin terlibat dalam peperangan dan banyak di antara mereka itu yang gugur dan mati syahid.

      Tolonglah sebutkan! Pada waktu peperangan sedang berkecamuk, panyakit menular berjangkit dan pemberontakan berkobar merenggut ribuan bahkan jutaan umat manusia, dapatkah orang memastikan, bahwa membatasi pada isteri satu itu lebih baik dan poligami yang dibolehkan dengan jalan kekecualian itu? Dapatkah orang-orang Eropa – pada waktu ini, setelah selesai Perang Dunia – mengatakan bahwa sistem monogami itu sistem yang paling tepat dalam praktek, karena mereka memang sudah mengatakan bahwa sistem itu tepat sekali dalam undang-undang? Bukankah tirnbulnya kekacauan ekonomi dan sosial setelah perang disebabkan oleh tidak adanya kerjasama yang teratur antara pria dan wanita dalam perkawinan, suatu kerjasama yang kiranya sedikit banyak akan dapat membawa keseimbangan ekonomi? Saya tidak bermaksud dengan ini hendak membuat suatu keputusan hukum. Saya serahkan soal ini kepada ahli-ahli pikir, kepada pihak penguasa untuk memikirkan dan merencanakannya, dengan catatan selalu, bahwa bilamana keadaan hidup sudah kembali biasa, maka yang paling baik dapat menjamin kebahagiaan masyarakat ialah membatasi laki-laki hanya pada satu isteri.

      Sehubungan dengan cerita tentang Zainab bt. Jahsy serta apa yang ditambah-tambahkan oleh beberapa orang ahli hadis, oleh kaum Orientalis dan misi-misi penginjil dengan bermacam-macam tabir khayal sehingga ia dijadikan sebuah cerita roman percintaan, sejarah yang sebenarnya dapat mencatat, bahwa teladan yang diberikan oleh Muhammad dan patut dibanggakan, dan sebagai contoh iman yang sempurna, ialah bahwa dia telah menerapkan bunyi hadis yang maksudnya: Iman seseorang belum sempurna sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.1 Dirinya telah dijadikan contoh pertama manakala ia melaksanakan suatu hukum yang pada dasarnya hendak menghapus tradisi dan segala adat-istiadat jahiliah, dan yang sekaligus dengan itu ia menetapkan peraturan baru, yang diturunkan Tuhan sebagai bimbingan dan rahmat buat semesta alam.

      Kekeluargaan Muhammad dengan Zainab – Melamarnya untuk Zaid dan penolakan Zainab

      Untuk menghapuskan semua cerita mereka yang kita baca itu dari dasarnya, cukup kalau kita sebutkan, bahwa Zainab bt. Jahsy ini adalah puteri Umaima bt. Abd’l-Muttalib, bibi Rasulullah a.s. Ia dibesarkan di bawah asuhannya sendiri dan dengan bantuannya pula. Maka dengan demikian ia sudah seperti puterinya atau seperti adiknya sendiri. Ia sudah mengenal Zainab dan mengetahui benar apakah dia cantik atau tidak, sebelum ia dikawinkan dengan Zaid. Ia sudah melihatnya sejak dari mula pertumbuhannya, sebagai bayi yang masih merangkak hingga menjelang gadis remaja dan dewasa, dan dia juga yang melamarnya buat Zaid bekas budaknya itu.

      Jadi, kalau orang sudah mengetahui semua ini, maka hancurlah segala macam khayal dan cerita-cerita yang menyebutkan bahwa dia pernah kerumah Zaid dan orang ini tidak di rumah, lalu dilihatnya Zainab, ia terpesona sekali melihat begitu cantik, sampai ia berkata: “Maha suci Tuhan, Yang telah membalikkan hati manusia!” Atau juga ketika ia membuka pintu rumah Zaid, kebetulan angin bertiup menguakkan tirai kamar Zainab, lalu dilihatnya wanita itu dengan gaunnya sedang berbaring – seolah-olah seperti Madame Recamier – mendadak sontak hatinya berubah. Lupa ia kepada Sauda, Aisyah, Hafsha, Zainab bt. Khuzaima dan Umm Salama. Juga Khadijah sudah dilupakannya, yang seperti kata Aisyah, bahwa dirinya tidak pernah cemburu terhadap isteri-isteri Nabi seperti terhadap Khadijah ketika disebut-sebut. Kalau perasaan cinta itu sedikit banyak sudah terlintas dalam hati, tentu ia akan melamar kepada keluarganya untuk dirinya, bukan untuk Zaid. Dengan melihat hubungan Zainab dengan Muhammad ini serta gambaran yang kita kemukakan di atas, maka segala macam cerita khayal yang dibawa orang itu, sudah tidak lagi dapat dipertahankan dan ternyata samasekali memang tidak mempunyai dasar yang benar.

      Terpaksa menerima ▲

      Dan apakah yang ialah dicatat oleh sejarah? Sejarah mencatat bahwa Muhammad telah melamar Zainab anak bibinya itu buat Zaid bekas budaknya. Abdullah b. Jahsy saudara Zainab menolak, kalau saudara perempuannya sebagai orang dari suku Quraisy dan keluarga Hasyim pula, di samping itu semua ia masih sepupu Rasul dari pihak ibu akan berada di bawah seorang budak belian yang dibeli oleh Khadijah lalu dimerdekakan oleh Muhammad. Hal ini dianggap sebagai suatu aib besar buat Zainab. Dan memang benar sekali hal ini di kalangan Arab ketika itu merupakan suatu aib yang besar sekali. Memang tidak ada gadis-gadis kaum bangsawan yang terhormat akan kawin dengan bekas-bekas budak sekalipun yang sudah dimerdekakan. Tetapi Muhammad justeru ingin menghilangkan segala macam pertimbangan yang masih berkuasa dalam jiwa mereka hanya atas dasar ashabia (fanatisma) itu. Ia ingin supaya orang mengerti bahwa orang Arab tidak lebih tinggi dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.

      “Bahwa orang yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Tuhan ialah orang yang lebih bertakwa.” (Qur’an, 49:13)

      Sungguhpun begitu ia merasa tidak perlu memaksa wanita lain untuk itu di luar keluarganya. Biarlah Zainab bt. Jahsy, sepupunya sendiri itu juga yang menanggung, yang karena telah meninggalkan tradisi dan menghancurkan adat-lembaga Arab, menjadi sasaran buah mulut orang tentang dirinya, suatu hal yang memang tidak ingin didengarnya. Juga biarlah Zaid, bekas budaknya yang dijadikannya anak angkat, dan yang menurut hukum adat dan tradisi Arab orang yang berhak menerima waris sama seperti anak-anaknya sendiri itu, dia juga yang mengawininya. Maka dia pun bersedia berkorban, karena sudah ditentukan oleh Tuhan bagi anak-anak angkat yang sudah dijadikan anaknya itu. Biarlah Muhammad memperlihatkan desakannya itu supaya Zainab dan saudaranya Abdullah b. Jahsy juga mau menerima Zaid sebagai suami. Dan untuk itu biarlah firman Tuhan juga yang datang:

      “Bagi laki-laki dan wanita yang beriman, bilamana Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketentuan, mereka tidak boleh mengambil kemauan sendiri dalam urusan mereka itu. Dan barangsiapa tidak mematuhi Allah dan RasulNya, mereka telah melakukan kesesatan yang nyata sekali.” (Qur’an, 33:36)

      Setelah turun ayat ini tak ada jalan lain buat Abdullah dan Zainab saudaranya, selain harus tunduk menerima. “Kami menerima, Rasulullah,” kata mereka. Lalu Zaid dikawinkan kepada Zainab setelah mas-kawinnya oleh Nabi disampaikan. Dan sesudah Zainab menjadi isteri, ternyata ia tidak mudah dikendalikan dan tidak mau tunduk. Malah ia banyak mengganggu Zaid. Ia membanggakan diri kepadanya dari segi keturunan dan bahwa dia katanya tidak mau ditundukkan oleh seorang budak.

      Zaid mengadukan Zainab dan perceraian ▲

      Sikap Zainab yang tidak baik kepadanya itu tidak jarang oleh Zaid diadukan kepada Nabi, dan bukan sekali saja ia meminta ijin kepadanya hendak menceraikannya. Tetapi Nabi menjawabnya: “Jaga baik-baik isterimu, jangan diceraikan. Hendaklah engkau takut kepada Allah.” Tetapi Zaid tidak tahan lama-lama bergaul dengan Zainab serta sikapnya yang angkuh kepadanya itu. Lalu diceraikannya.

      Hukum pengaduan dalam Islam ▲

      Kehendak Tuhan juga kiranya yang mau menghapuskan melekatnya hubungan anak angkat dengan keluarga bersangkutan dan asal-usul keluarga itu, yang selama itu menjadi anutan masyarakat Arab, juga pemberian segala hak anak kandung kepada anak angkat, segala pelaksanaan hukum termasuk hukum waris dan nasab, dan supaya anak angkat dan pengikut itu hanya mempunyai hak sebagai pengikut dan sebagai saudara seagama. Demikian firman Tuhan turun:

      “Dan tiada pula Ia menjadikan anak-anak angkat kamu menjadi anak-anak kamu. Itu hanya kata-kata kamu dengan mulut kamu saja. Tuhan mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar.” (Qur’an, 33:4)

      Bagaimana Muhammad kawin dengan Zainab ▲

      Ini berarti bahwa anak angkat boleh kawin dengan bekas isteri bapa angkatnya, dan bapa boleh kawin dengan bekas isteri anak angkatnya. Tetapi bagaimana caranya melaksanakan ini? Siapa pula dari kalangan Arab yang dapat membongkar adat-istiadat yang sudah turun-temurun itu. Muhammad sendiri kendatipun dengan kemauannya yang sudah begitu keras dan memahami benar arti perintah Tuhan itu, masih merasa kurang mampu melaksanakan ketentuan itu dengan jalan mengawini Zainab setelah diceraikan oleh Zaid, masih terlintas dalam pikirannya apa yang kira-kira akan dikatakan orang, karena dia telah mendobrak adat lapuk yang sudah berurat berakar dalam jiwa masyarakat Arab itu. Itulah yang dikehendaki Tuhan dalam firmanNya:

      “Dan engkau menyembunyikan sesuatu dalam hatimu yang oleh Tuhan sudah diterangkan. Engkau takut kepada manusia padahal hanya Allah yang lebih patut kautakuti.” (Qur’an, 33:37)

      Akan tetapi Muhammad adalah suri-teladan dalam segala hal, yang oleh Tuhan telah diperintahkan dan telah dibebankan kepadanya supaya disampaikan kepada umat manusia. Tidak takut ia apa yang akan dikatakan orang dalam hal perkawinannya dengan isteri bekas budaknya itu. Takut kepada manusia tak ada artinya dibandingkan dengan takutnya kepada Tuhan dalam melaksanakan segala perintahNya. Biarlah dia kawin saja dengan Zainab supaya menjadi teladan akan apa yang telah dihapuskan Tuhan mengenai hak-hak yang sudah ditentukan dalam hal bapa angkat dan anak angkat itu. Dalam hal inilah firman Tuhan itu turun:

      “Maka setelah Zaid meluluskan kehendak wanita itu, Kami kawinkan dia dengan engkau, supaya kelak tidak menjadi alangan bagi orang-orang beriman kawin dengan (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, bilamana kehendak mereka (wanita-wanita) itu sudah diluluskan. Perintah Allah itu mesti dilaksanakan.” (Qur’an, 33:37)

      Inilah peristiwa sejarah yang sebenarnya sehubungan dengan soal Zainab bt. Jahsy serta perkawinannya dengan Muhammad. Dia adalah puteri bibinya, sudah dilihatnya dan sudah diketahuinya sampai berapa jauh kecantikannya sebelum dikawinkan dengan Zaid, dan dia pula yang melamarnya buat Zaid, juga dia melihatnya setelah perkawinannya dengan Zaid, karena pada waktu itu bertutup muka belum lagi dikenal.

      Bagaimana pendapat kaum Orientalis tentang cerita Zainab bt. Jahsy ▲

      Sungguhpun begitu dari pihak Zainab sendiri, sesuai dengan ketentuan hubungan kekeluargaan dari satu segi, dan sebagai isteri Zaid anak angkatnya dari segi lain, Zainab menghubungi dia karena beberapa hal dalam urusannya sendiri dan juga karena seringnya Zaid mengadukan halnya itu. Semua ketentuan hukum itu sudah diturunkan. Lalu diperkuat lagi dengan peristiwa perkawinan Zaid dengan Zainab serta kemudian perceraiannya, lalu perkawinan Muhammad dengan dia sesudah itu. Semua ketentuan hukum ini, yang mengangkat martabat orang yang dimerdekakan ke tingkat orang merdeka yang terhormat, dan yang menghapuskan hak anak-anak angkat dengan jalan praktek yang tidak dapat dikaburkan atau ditafsir-tafsirkan lagi.

      Sesudah semua itu, masih adakah pengaruh cerita-cerita yang selalu diulang-ulang oleh pihak Orientalis dan oleh misi-misi penginjil, oleh Muir, Irving, Sprenger, Well, Dermenghem, Lammens dan yang lain, yang suka menulis sejarah hidup Muhammad? Ya, kadang ini adalah napsu misi penginjilan yang secara terang-terangan, kadang cara misi penginjilan atas nama ilmu pengetahuan. Adanya permusuhan lama terhadap Islam adalah permusuhan yang sudah berurat berakar dalam jiwa mereka, sejak terjadinya serentetan perang Salib dahulu. Itulah yang mengilhami mereka semua dalam menulis, yang dalam menghadapi soal perkawinan, khususnya perkawinan Muhammad dengan Zainab bt. Jahsy, membuat mereka sampai nmemperkosa sejarah, mereka mencari cerita-cerita yang paling lemah sekalipun asal dapat dimasukkan dan dihubung-hubungkan kepadanya.

      Andaikata apa yang mereka katakan itu memang benar, tentu saja kita pun masih akan dapat menolaknya dengan mengatakan, bahwa kebesaran itu tidak tunduk kepada undang-undang. Bahwa sebelum itu, Musa, Isa dan Yunus, mereka itu berada di atas hukum alam, diatas ketentuan-ketentuan masyarakat yang berlaku. Ada yang karena kelahirannya, ada pula yang dalam masa kehidupannya, tapi itu tidak sampai mendiskreditkan kebesaran mereka. Sebaliknya Muhammad, ia telah meletakkan ketentuan-ketentuan masyarakat yang sebaik-baiknya dengan wahyu Tuhan, dan dilaksanakan atas perintah Tuhan, yang dalam hal ini merupakan contoh yang tinggi sekali, sebagai teladan yang sangat baik dalam melaksanakan apa yang telah diperintahkan Tuhan itu. Ataukah barangkali yang dikehendaki oleh misi-misi penginjil itu supaya ia menceraikan isteri-isterinya dan jangan lebih dari empat orang saja seperti yang kemudian disyariatkan kepada kaum Muslimin, setelah perkawinannya dengan mereka semua itu?

      Muhammad menjunjung tinggi kedudukan wanita. ▲

      Adakah juga pada waktu itu ia akan selamat dari kritik mereka? Sebenarnya hubungan Muhammad dengan isteri-isterinya itu adalah hubungan yang sungguh terhormat dan agung, seperti sudah kita lihat seperlunya dalam keterangan Umar bin’l-Khattab yang sudah kita sebutkan; dan contoh semacam itu akan banyak kita jumpai dalam beberapa bagian buku ini. Semua itu akan menjadi contoh yang berbicara sendiri, bahwa belum ada orang yang dapat menghormati wanita seperti yang pernah diberikan oleh Muhammad, belum ada orang yang dapat mengangkat martabat wanita ketempat yang layak seperti yang dilakukan oleh Muhammad itu.

      Catatan kaki ▲
      1 Harfiah: Seseorang dari kamu tidak beriman sebelum ia menyukai buat saudaranya apa yang disukai buat dirinya sendiri. Terjemahan di atas didasarkan kepada komentar Nuruddin as-Sindi sebagai anotasi pada Shahih Al-Bukhari 1/12 (A).

    • Saya justru tdk sependapat dengan anda, karena ada satu kenyataan yang sulit diterima akal, jika aisha dikawini Nabi Muhammad SAW diusia 9 tahun karena itu artinya usia Aisha Ra. Baru 18 tahun saat wafatnya nabi. Padahal banyak penulis hadist yang memuji kecerdasan Aisya semasa nabi. Bagaimana mungkin gadis sebelia itu bisa dikaruniai kecerdasan yang dikagumi banyak kalangan terpelajar. Ke dua, abu bakar ayahnya seorang pemuka masyarakat yg menjadi khalifah pertama di zaman nabi untuk alasan apa ia menyerahkan anaknya untuk dinikahkan tiga tahun sebelumnya, kepada putra rekannya, sebelum kemudian dinikahkan dgn nabi muhammad. Jika anaknya baru enam tahun waktu itu artinya jauh dari kata cukup umur, akil balik itu 12 ,tahun. Dan itu sdh diketahui jauh sebelum masehi. Jadi menerima hadist begitu saja meskipun di klaim sahih tdklah benar, anda juga harus menggunakan logika dalam menganalisa data. Saya lebih sependapat usia 19 tahun waktu menikah dan 28 tahun waktu nabi wafat.

  8. pembelaan nya banyak banget ya sampe 20 point.
    tapi kok ber taqiya gitu sih ?

  9. Capenya bpk kita keliling dunia, kristot malah nuduh beliau cuman ninggalin DOSA.,.,, kristot tau apa???? Ajaran sesat ya Dosa mlulu yg dibahas . Hadeh

  10. Memahami hadits tu harus faham gramatikal B.arab.
    Mksud hadits d atas, jarak antara masa. Bukan jarak tempat.

  11. Al Aqsa Adalah Borobudur

  12. kwkwkwkwkkw sudah jelas masjidil aqsa tidak ada sebelum muhammad hidup
    ===========

    Islamthis,
    sebelum muhammad, mesjid aqsa itu bernama kuil somolon.

    oleh muhammad dinamakan aqsa, menurut artikel yg saya turunkan ini.

  13. Sumber cerita ni dr mn ye ?
    ==============

    Islamthis,
    ude dijawab di atas. silhakan di cek.

  14. capek deh…baca nya hha….

  15. Admin says:

    Kisah ini hanya ada di dalam Islam. Kisah ini tidak akan pernah mendapatkan akar logikanya di dalam kepercayaan ahlul kitab yaitu agama Kristen dan Yahudi.

    JAWAB:

    Memang betul min, karena si mamat tukang menghayal, jadi semua omongan yang keluar dari mulutnya adalah BUALAN DAN DONGENG belaka.

    Jadi memang kagak bisa disamakan dengan kitab agama Kristen dan Yahudi, karena kitab Kristen dan Yahudi adalah kitab sejarah yang bisa dipercaya…

    Sekian dan terimakasih….
    =========

    Islamthis,
    Bisa berikan bukti dn contoh, bhw kitab kristen dn yahudi adl kitab sejarah yg bs dipercaya???

    @ Apakah bener, abraham sembeli isaac, bukan ismail?
    @ Apakah bener, malaikat berperang dlm surga?
    @ Apakah bener, tuhan berkelahi dg yakub?
    @ Apakah bener, jesus berkata bhw dirinya adl tuhan sembahan?
    @ Apakah bener, ular makan debu dan kerikil?
    @ Apakah bener, tuhan alkitab dan nabi2 alkitab suka berbuat mesum???

    Bisa jawab dg jelas??

    Tapi yg namanya jemaat kristen, dipaksa utk percaya yachhhh????? Bukan jemaat kristen namanya kalo gak mau percaya ama banyolan alkitab, okeee????

    Hahahahhaaaaahhahahaaaaahahaaa…. Muntah darah guwehhhhhh!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: