Pembenaran dan Penghakiman

Dari Penulis.

Bagian pertama dari artikel ini memuat tulisan yang dibuat oleh seorang pendeta bernama John W Robbins tentang excuse nya bahwa Matius 7 adalah pasal yang menegaskan bahwa Jesus memang Tuhan.

Di bawahnya ada bagian kedua dari artikel ini yang merupakan kupasan / analisis dari saya, Islamthis atas bualan sang pendeta tersebut. Silahkan membaca.

——————————————————————————————

Berikut ini adalah khotbah John W. Robbins (alm) yang secara tepat memberikan gambaran tentang apa sebenarnya Injil itu dan mengusir kebingungan yang menyelimuti salah satu pasal dalam Alkitab yang sering disalahartikan seolah – olah Yesus Kristus mengajarkan bahwa kita dibenarkan karena perbuatan baik kita. Khotbah ini tidak membahas semua aspek keselamatan seperti misalnya apakah kita tidak perlu berbuat baik sama sekali serta pertanyaan lain. Namun khotbah ini secara garis besar memberikan gambaran tentang Injil. Khotbah ini tersedia dan dapat didownload secara gratis dalam bentuk file mp3 di sini. Khotbahnya sudah saya download sebelumnya. Transkripsi dan terjemahan ini saya sudah minta ijin kepada John, dan saya mendapat ijin untuk posting di sini

PEMBENARAN DAN PENGHAKIMAN (MATIUS 7 : 21 – 23)

13 —

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

14–

karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

15 —

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

16 —

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

17 —

Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

18 —

Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

19 —

Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

20 —

Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

21 —

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

22 —

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

23 —

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Silahkan duduk!

Pagi hari ini saya hanya akan memusatkan perhatian pada tiga ayat terakhir dari bacaan ini yaitu ayat 21, 22, dan 23. Tetapi saya membaca seluruh ayat terkait karena saya ingin menekankan bahwa nubuat Kristus tentang penghakiman terakhir diutarakan dalam konteks peringatan terhadap nabi palsu. Itu adalah konteks nubuat tentang penghakiman terakhir. Dalam ayat 21 Dia memulai dengan berkata:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Dan pasal ini, khususnya ketiga ayat ini adalah pasal yang paling banyak disalah mengerti di dalam Alkitab. Kesan pertama adalah bahwa Kristus tampaknya mengajarkan ”keselamatan karena perbuatan baik”. Dia membandingkan mereka yang berkata ”Tuhan! Tuhan!” namun tidak bekerja, atau yang sudah jelas tidak bekerja dengan mereka yang kataNya ”melakukan kehendak Bapa Ku yang di sorga”. Itu tampaknya yang dikatakan oleh pasal ini kalau kita membacanya secara superfisial. Itulah yang tampaknya dikatakan oleh ayat ini! Katekismus gereja Roma Katolik tahun 1994, mengutip ayat ini untuk mendukung pandangannya; seperti yang saya kutip berikut dari Katekismus Gereja Roma Katolik berikut:

Setiap dari kita harus berharap dengan anugerah Allah untuk bertekun sampai akhirnya dan mendapatkan kebahagiaan surgawi sebagai penghargaan Allah yang kekal atas perbuatan – perbuatan baik yang dilakukan dengan anugerah Kristus.

Itu adalah kutipan dari Katekismus Katolik tahun 1994. Bahkan beberapa orang Kristen non Katolik pun memiliki pemahaman yang sama tentang pasal ini. Mereka merujuk pada pesan Kristus sebagai pesan tentang perbuatan baik. Tetapi kalau saudara sekalian melihat lebih dekat lagi tentang ayat ini – seperti yang kita akan lakukan pagi ini – , mungkin saudara akan melihat sesuatu yang sedikit berbeda. Tampaknya dalam ayat ini ada pembedaan antara orang yang mengatakan Tuhan! Tuhan! tapi tidak mematuhi atau tidak melakukan melakukan perbuatan baik dengan mereka yang melakukan ”Kehendak Bapa Ku yang di sorga”. Dan peringatannya di sini tampaknya adalah bahwa tidak semua orang yang mengutarakan kata – kata ini; tidak semua yang mengakui Yesus sabagai Tuhan akan ke sorga, namun hanya mereka yang melakukan ”kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. Dan itu tentu saja tampak bertentangan dengan bagian dari Kitab Suci dimana iman saja / kepercayaan saja dikatakan sebagai jalan keselamatan. Yesus menyebutkan ’melakukan’ dalam ayat 21 dan coba saudara membandingkannya dengan Kisah Para Rasul 16 : 31 misalnya dimana dinyatakan …

”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat….”

…atau saudara membandingkannya dengan Roma 3 : 28 dimana dikatakan ”…..manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” dan Roma 4 : 5 yang berbunyi ”tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.”

Jadi tampaknya mungkin ada kesulitan dalam memahami apa yang Kristus katakan dalam ayat 21 tetapi saya yakin itu tidak akan bertahan lama. Namun kita diperhadapkan pada pertanyaan langsung di sini yaitu : ”Apakah Kristus mengajarkan legalisme?”. Dan yang saya maksudkan dengan legalisme adalah legalisme dalam arti sempit yaitu apakah Yesus mengajarkan keselamatan karena melakukan Hukum Taurat atau dengan kata lain keselamatan karena perbuatan baik? Apakah itu yang diajarkan Kristus? Kalau demikian maka kita memiliki masalah dengan pasal – pasal lain Kitab Suci yang mengajarkan bahwa keselamatan datangnya lewat iman saja. Saya bermaksud menjawab pertanyaan ini. Namun saya akan melakukannya pada akhir pembahasan hari ini karena kita perlu melihat bagian akhir dari nubuat ini untuk memahami bagian pertamanya.

Kita lanjutkan ke ayat berikut. Ayat berikutnya yaitu ayat 22 cukup mengejutkan dalam beberapa segi. Jika saudara melihat kembali ke ayat 21, dikatakan ”Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan….!” dan orang mungkin akan berkesimpulan dari ayat ini bahwa mungkin ada beberapa orang yang tidak ke surga walaupun mereka mengakui ketuhanan Kristus. Tapi coba perhatikan bagaimana Yesus memulai ayat 22! Ternyata tidak sedikit! Banyak! Ada banyak orang yang ”Pada hari terakhir…akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Ada banyak orang! Jadi ”bukan semua” dalam ayat 21 tidak berarti sedikit. ”Bukan semua” maksudnya banyak orang. Beberapa orang yang mengatakan ”Tuhan! Tuhan!” pada hari penghakiman akan memasuki sorga tapi Kristus mengatakan bahwa banyak dari mereka yang tidak akan masuk walaupun mereka mengakui ketuhanan Kristus.

Yang dibahas di sini adalah hari penghakiman yang kita semua akan hadapi. Ini adalah nubuat. Tidak ada kemungkinan bahwa penghakiman tidak terjadi. Dan kita semua akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan di hadapan Allah setiap pikiran, kata, dan tingkah laku yang kita lakukan ketika masih hidup. Ini bukan perumpamaan. Ini bukan kejadian khayalan. Ini adalah sebuah nubuat. Dan pada saat kita dipanggil untuk mempertanggung jawabkannya, kita harus menjawab untuk diri sendiri. Tidak akan ada pengacara di sana untuk membantu kita, tidak akan ada pendeta, tidak akan ada imam, tidak akan ada orang tua, tidak akan ada guru, tidak akan ada teman; kita harus menjawab sendiri untuk diri kita sendiri. Kita masing – masing akan bertanggung jawab. Perhatikan bahwa orang – orang yang disebutkan dalam ayat 22 ini menjawab untuk diri mereka sendiri. ”Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku…” Mereka tidak mengutus pengacara mereka, tidak mengutus imam mereka, tidak mengutus pendeta mereka atau penatua mereka. Mereka berkata dan berbicara kepada Kristus secara langsung, dan mereka akan memohon kepada Kristus.

Perhatikan permohonan mereka; ”Tuhan! Tuhan!”, ”Tuhan! Tuhan!”. Ini yang akan terjadi. Kristus tidak gembar – gembor. Sekali lagi ini bukan sebuah khayalan. Ini adalah sesuatu yang pasti akan terjadi pada hari penghakiman. Mereka akan berdiri di hadapan Kristus dan memanggilNya ”Tuhan! Tuhan!” Kita diberitahu dalam Kitab Suci bahwa pada akhir jaman setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Dan itu pasti akan terjadi. Tetapi itu tidak berarti bahwa setiap lidah dan setiap lutut akan diselamatkan. Kita diberitahu di dalam ayat ini bahwa orang – orang ini mengakui Dia sebagai Tuhan tetapi mereka dihukum. Mereka tidak diselamatkan. Mereka tidak masuk ke surga walaupun mereka mengakui Dia sebagai Tuhan. Perhatikan apa yang mereka katakan kepada Tuhan! Perhatikan apa yang mereka katakan! Perhatikan apa yang akan mereka katakan! Saudara bisa menganggapnya sebagai kejadian di masa lampau karena hal ini pasti akan terjadi. Tapi perhatikan apa yang akan mereka katakan; ”Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?”

Ada beberapa hal yang perlu kita catat tentang pertanyaan – pertanyaan ini. Pertama, orang – orang ini bukanlah orang – orang yang hanya sekedar penghangat bangku gereja. Orang – orang ini bukanlah orang – orang yang ke gereja pada hari Minggu dan tidak melakukan apa – apa di sepanjang hari lain dalam seminggu. Orang – orang ini adalah orang – orang yang telah bernubuat, telah berkhotbah, mengajar, mengusir setan, dan mengerjakan mujizat. Orang – orang ini bukanlah penghangat bangku gereja. Orang – orang ini bukanlah orang yang hanya mengaku dengan mulut tanpa ada perbuatan seperti yang saudara mungkin simpulkan kalau saudara hanya membaca ayat 21. Orang – orang ini bukanlah orang – orang yang mengatakan sesuatu dan tidak melakukan apapun. Orang – orang ini adalah orang – orang yang melakukan perbuatan – perbuatan terbesar di antara umat manusia. Mereka telah berkhotbah, mereka telah bernubuat, mereka telah mengusir setan, mereka telah mengerjakan mujizat. Apa yang mereka lakukan ini adalah perbuatan – perbuatan terbesar di antara manusia! Dan orang – orang ini tidak sementara membesar – besarkan diri juga. Ingat ini adalah penghakiman terakhir. Mereka tidak sementara berdusta di sana. Dan tidak ada petunjuk bahwa mereka sementara berdusta. Kristus tidak menjawab mereka dengan mengatakan ”Kalian tidak pernah mengerjakan yang demikian”. Dia tidak mengoreksi mereka. Ini adalah laporan dari apa yang telah mereka lakukan. Jadi pengakuan orang – orang ini bukanlah pengakuan tanpa perbuatan. Mereka sangat aktif. Dan mereka telah melakukan apa yang merupakan perbuatan terbesar di antara umat manusia.

Kita dapat belajar lebih lanjut dari pertanyaan mereka di sini bahwa mereka adalah orang yang rajin ke gereja. Perhatikan bahwa mereka menambahkan sebuah frase setelah menyebutkan berbagai perbuatan baik ini yaitu ”dalam namaMu”. Orang – orang ini bukan orang kafir. Orang – orang ini bukan orang – orang yang tidak tahu menahu tentang nama Yesus Kristus. Mereka melakukan segala perbuatan ini dalam Nama Yesus Kristus. Mereka telah berkhotbah, bernubuat, melakukan mujizat dan mengusir setan dalam Nama Yesus Kristus. Mereka bukan orang yang berada di Afrika yang tidak mengenal Yesus Kristus. Mereka bukan orang – orang Yunani sebelum Kristus yang tidak pernah mendengar Nama Yesus. Mereka bukan orang yang buta tentang Kristus. Mereka melakukan semua perbuatan baik itu dalam nama Kristus. Perbuatan – perbuatan itu luar biasa.

Kalau saudara mengevaluasi diri, maka kita akan mendapati bahwa kita tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah melakukan perbuatan – perbuatan yang mungkin mendekati perbuatan – perbuatan tersebut. Tidak ada seorangpun dari kita [di sini] yang melakukan perbuatan – perbuatan yang sespektakuler seperti itu. Namun orang – orang ini dikatakan Kristus tidak diperbolehkan masuk surga. Kalau demikian, kalau perbuatan mereka jauh melampaui apa yang kita kerjakan, apakah harapan kita? Apakah harapan kita? Kalau Kristus akan menghukum orang – orang ini di neraka, apakah harapan kita? Jika Dia menolak mereka dari surga pada penghakiman terakhir, dan memberikan hukuman kekal bagi mereka yang telah dipersiapkan bagi Iblis dan pelayan – pelayannya, apakah harapan kita? Dan jawaban Kristen yang tepat adalah jika kita mengandalkan perbuatan baik kita, kita tidak punya harapan. Pada penghakiman terakhir, permohonan dan pembelaan para pemimpin gereja ini yaitu orang – orang yang aktif ini, serta orang – orang yang tidak pasif ini, adalah perbuatan baik mereka. Itulah yang mereka katakan [kepada Tuhan]. ”Lihatlah apa yang kami lakukan.” ”Lihatlah apa yang kami lakukan.” Tapi Yesus berkata; ”…Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”. Jika orang – orang ini dibuang ke neraka, maka tentu saja perbuatan baik kita tidak bisa menjadi dasar bagi kita untuk masuk ke surga.

Apa yang tidak dikatakan orang – orang ini dalam pembelaan mereka? Apa yang tidak mereka katakan pada penghakiman terakhir sebagai pembelaan diri? Apa yang tidak mereka singgung sedikitpun?

Mereka tidak menyebutkan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Mereka mengatakan ”bukankah kami bernubuat? Bukankah kami melakukan mujizat? Bukankah kami mengusir Setan?”

Mereka tidak menyebutkan Kebenaran Kristus.

Mereka tidak menyebutkan korban penggantian oleh Kristus.

Mereka tidak menyebutkan keadilan Bapa yang dipenuhi oleh Kristus dengan mengatasnamakan mereka.

Mereka tidak menyebutkan tentang kutuk Bapa yang telah diambil Kristus.

Mereka tidak menyebut Kristus sebagai Juruselamat.

Dan karena mereka tidak menyebut Kristus sebagai Juruselamat, maka mereka tidak diselamatkan.

Mereka tidak diselamatkan seperti halnya Setan walaupun mereka percaya kepada Allah. Setan pun percaya kepada Allah. Namun mereka tetap setan. [Percaya kepada Allah saja] tidak cukup. Orang – orang ini jelas percaya sesuatu tentang Allah. Mereka jelas percaya sesuatu tentang Kristus. Tapi mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat mereka. Ada Iblis yang dilaporkan dalam Kitab Markus pasal 1 ayat 23 dan 24 yang dengan tepat mengenal siapa Yesus. Dia berkata ”….Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Namun dia adalah Setan dan karena itu akan dibuang ke neraka. Dia tidak mengakui Injil. Dan pada penghakiman terakhir, orang – orang yang disebutkan di atas tidak menyebut satu katapun tentang Injil.

Salah satu hal yang kita perlu pelajari dari peringatan Kristus di sini – karena Dia memberikan nubuat ini sebagai peringatan dan pembelajaran – adalah bahwa jika kita bergantung pada apapun yang kita lakukan, maka kita tersesat. Kita tersesat. Orang – orang yang melakukan perbuatan – perbuatan terbesar di antara umat manusia ini tersesat dan pasti tersesat. Jika kita tampil di hadapan Kristus pada penghakiman terakhir dan berkata, ”Yah, saya rajin pergi ke kebaktian selama 50 tahun”, maka kita tersesat. Kalau kita berkata, ”Saya melayani sebagai diaken, saya melayani sebagai penatua, atau pendeta”, maka kita tersesat. Kalau kita berkata, ”Saya menyumbangkan 50 % pendapatan saya”, maka kita tersesat. Kita benar – benar tersesat. Kalau kita berkata, ”Saya mengajar di sekolah Kristen atau di universitas Kristen selama hidup saya”, maka kita tersesat. Kita akan dihukum. Kalau kita berkata, ”Saya menulis buku”, maka kita tersesat. Kalau kita berkata ”saya mengadakan KKR dan dihadiri jutaan orang”, maka kita tersesat. Kita benar – benar tersesat. Inilah yang dikatakan orang – orang yang disebut dalam pasal ini [sebagai pembelaan]. Mereka berkata, ”Saya bernubuat dalam namaMu, Saya berkhotbah dalam namaMu.” Kalau kita berkata ”Saya mengumpulkan dana untuk gereja;” kalau kita berkata, ”saya membangun rumah sakit dan sekolah,” maka kita benar – benar tersesat. Kita mutlak tersesat.

Dalam Yesaya 64 ayat 6, sang nabi berkata ”segala kesalehan kami seperti kain kotor”. “Segala kesalehan seperti kain kotor”. Dia tidak berkata ”segala ketidaksalehan kami seperti kain kotor.” Dia mengatakan ”segala kesalehan kami seperti kain kotor.” Pada penghakiman terakhir ada banyak orang yang merupakan pemimpin gereja, orang yang rajin ke gereja yang akan mengatakan kepada Kristus bahwa mereka layak masuk surga. Mereka mengatakan bahwa mereka layak masuk surga karena apa yang mereka lakukan. Itulah pembelaan mereka. ”Kita layak masuk surga karena apa yang kita lakukan.” Mereka tidak mengakui diri sebagai orang berdosa, mereka percaya bahwa mereka adalah orang benar. Doa mereka bukanlah, ”Yesus kasihanilah aku yang berdosa ini!” tapi ”Yesus aku melakukan banyak perbuatan baik demi NamaMu! Dan karena itu Engkau harus menghargainya dengan [mengijinkan kami] ke sorga!” Itulah argumen – argumen yang akan dikemukakan orang tersebut.

Mereka tidak percaya pada anugerah Allah. Mereka tidak mengakui keberdosaan mereka. Apapun yang mereka percaya, …..

…apapun yang mereka khotbahkan di dalamnya tidak termasuk khotbah tentang korban penggantian oleh Kristus di kayu salib dan imputasi kebenaran Kristus lewat iman kepada orang percaya.

Itulah pesan yang mereka tidak khotbahkan.

Itu adalah pesan yang tidak mereka percaya.

Itu adalah pesan yang tidak mereka sebutkan pada penghakiman terakhir.

Tetapi peringatan Kristus di sini bukan hanya tentang kesia–siaan perbuatan baik kita sebagai dasar untuk ke surga, tapi lebih dalam dari pada itu. Peringatannya adalah tentang percaya sesuatu tentang Allah dan Kristus tetapi tidak mempercayai Injil. Banyak orang percaya sesuatu tentang Allah. Dan banyak orang percaya sesuatu tentang Yesus. Hal-hal yang dipercaya itu bisa saja memang benar. Saya sudah sebutkan Iblis dalam Markus pasal 1 yang menyebut Yesus sebagai ”yang Kudus dari Allah” dan memang benar Yesus adalah ”yang Kudus dari Allah.” Itu memang benar! Namun itu tidak cukup untuk keselamatan. Di sini Yesus mengatakan kepada kita bahwa orang, atau banyak orang bisa percaya kepada Allah namun tersesat [dan masuk neraka]. Di sini Yesus berbicara tentang orang–orang yang berada dalam gereja Kristen. Mereka melakukan semua [perbuatan baik] ini dalam Nama Kristus. Yang tidak mereka sebutkan adalah ringkasan Injil yang diberikan Paulus dalam I Korintus 15 : 1 – 4. Silahkan buka Kitab Suci dan saya akan membacakannya untuk saudara. I Korintus 15 : 1 – 4 bunyinya demikian;

Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;..”

Pada akhir jaman pemimpin gereja dan jemaat yang rajin ke gereja yang jumlahnya banyak ini tidak sedikitpun menyinggung ringkasan ini.

Mereka tidak berkata bahwa Kristus sudah mati menggantikan saya. Mereka berkata, ”saya telah berkhotbah, saya telah bernubuat, saya telah mengusir setan.”

Mereka tidak akan mengakui Injil.

Silahkan buka kitab Roma pasal 3, mulai pada ayat 20! Roma 3.

“Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”

Silahkan buka Roma 5 dan silahkan lihat ayat 18;

”Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”

Ini adalah Injil Yesus Kristus. Dan injil ini pulalah yang tidak dipercayai oleh jiwa – jiwa tersesat pada penghakiman akhir itu. Mereka tidak mempercayainya.

Kita lihat ayat berikut, yaitu ayat 23! “..Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Sebagai informasi tambahan di sini, Allah sendiri menentukan prosedur hukum dalam Kitab Suci untuk penghakiman terakhir. Pada saat kita berbicara tentang proses hukum, kita mendapatkan konsep tentang proses hukum dari Kitab Suci. Kita adalah orang berdosa. Namun coba perhatikan apa yang Allah lakukan dengan orang – orang ini, perhatikan apa yang dilakukan Kristus dengan orang – orang ini! Dia mengijinkan mereka memberikan pembelaan diri. Dia membiarkan mereka menyajikan argumen mereka. Dia tidak berbicara sebelum mereka selesai mengungkapkan pembelaan mereka. Setelah itu barulah Dia mengumumkan hukumannya. Sebagai orang berdosa kita harusnya langsung dihukum saja. Namun Dia bersabar. Dia memperlakukan kita sebagai ciptaan yang rasional yang diciptakan sesuai dengan GambarNya. Mereka berbicara dan dan Dia memberi tanggapan.

Perhatikan pernyataanNya kepada mereka; “…Aku [akan] berterus terang kepada mereka…” Ini yang akan terjadi. Ini bukan khayalan. Ini adalah sebuah kejadian di masa depan. “Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!….!”

Kepada orang–orang yang sangat aktif dalam gereja, pemimpin gereja ini, Dia berkata “Aku tidak pernah mengenal kamu!” Dia tidak sementara berbicara kepada orang – orang yang tidak tahu Nama Yesus Kristus. Dia berbicara kepada orang – orang yang berada di gereja – gereja. KataNya, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” Hal ini mengingatkan kita ada Roma 8 ayat 29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Seorang teolog menyebutnya “Rantai Emas Keselamatan” Dalam pasal Matius ini Kristus mengatakan: “Aku tidak pernah mengenal kamu” Proses keselamatan tidak pernah dimulai. “Aku tidak pernah mengenal kamu. Aku tidak pernah mengasihi kamu! Aku tidak pernah mengasihi kamu! Aku tidak pernah membenarkan kamu. Dan Aku tidak akan memuliakan Engkau.”

Perhatikan kata “tidak pernah” Yesus tidak berkata, “Dulu aku mengenal kamu, tetapi engkau berbalik dan kehilangan keselamatanmu.” Dia berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu” Tidak pernah. Mereka memang tidak pernah diselamatkan pada titik tertentu dalam kehidupannya namun kemudian kehilangan keselamatan tersebut. Hal itu tidak mungkin terjadi. Dia berkata bahwa tidak ada waktu dimana Dia mengenal mereka. Perhatikan pula dari pernyataan-Nya bahwa Yesus mementukan siapa yang akan masuk surga. “….Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Neraka adalah keterpisahan dari Kristus dan Dia memerintahkan orang – orang ini untuk ke sana. Dia memerintahkan orang – orang yang sangat aktif ini untuk “Enyah dari pada-Ku”

Dalam pasal ini Dia menyebutkan mereka “kamu sekalian pembuat kejahatan!” Andaikata kita menyaksikan orang – orang ini di dunia, kita mungkin akan terkesan oleh apa yang mereka kerjakan. Mereka mengusir setan, mengerjakan mujizat, mereka berkhotbah dan bernubuat. Kita mungkin akan terkesan dengan apa yang mereka kerjakan. Namun Yesus menyebut apa yang mereka kerjakan sebagai kejahatan Mengapa Kristus melakukan itu? Mengapa Dia menyebut perbuatan – perbuatan spektakuler ini sebagai kejahatan? Karena mereka berusaha untuk mencari kebenaran sendiri lewat apa yang mereka kerjakan. Itu adalah kejahatan. Legalisme adalah kejahatan. Seperti kita baca sebelumnya Hukum Taurat diberikan untuk membuat kita sadar akan dosa kita. Hukum Taurat tidak diberikan sebagai alat bagi orang percaya untuk mendapatkan pembenaran. Hukum Taurat diberikan supaya kita mengenal dosa. Itu adalah penggunaan Hukum Taurat yang tepat. Apabila kita menggunakan Hukum Taurat sebagai cara untuk mendapatkan pembenaran terhadap diri sendiri, maka kita sementara menggunakan Hukum Taurat secara ilegal. Inilah yang diajarkan oleh orang – orang di Galatia [pada jaman Paulus] dan mereka dikutuk oleh Paulus karena itu.

Hukum Taurat memang baik apabila digunakan secara legal. Namun apabila Hukum Taurat disalahgunakan sebagai dasar pembenaran [dihadapan Allah], maka akan menjadi sebuah kejahatan. Legalisme adalah sebuah kejahatan. Dan Yesus mengutuk orang – orang yang mencari kebenaran berdasarkan apa yang mereka perbuat sebagai pembuat kejahatan. Ketaatan kepada Hukum Taurat tidak pernah menjadi dasar pembenaran kita di hadapan Allah. Tidak pernah! Hal ini tidak pernah terjadi pada masa Perjanjian Lama dan itu tidak terjadi pada Perjanjian Baru. Orang – orang suci pada jaman Perjanjian Lama diselamatkan dengan cara yang sama seperti orang suci pada Perjanjian Baru di selamatkan. Yaitu dengan iman saja. Lewat Iman saja!

Namun masih ada pertanyaan yang mengganggu. Apa yang dimaksud oleh ayat 21? Di ayat ini Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” Apa yang dimaksud dengan “melakukan kehendak Bapa” kalau bukan perbuatan baik? Pada awalnya saya berjanji akan menjawab pertanyaan ini. Sekarang saya akan mencoba. Apakah arti frase ini kalau memang tidak berarti perbuatan baik? Sepertinya memang artinya perbuatan baik karena dikatakan “dia yang melakukan kehendak Bapa” dan bukan hanya berkata – kata.

Tetapi Yesus menggunakan frase ini serta frase yang mirip dengan ini sebagai sinonim dengan “percaya”. Coba baca Yohanes 6 : 40! “…Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal,….” Itu adalah kehendak Bapa. Yohanes 6 ayat 28 dan 29 berkata, “Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Ada satu saat dimana Ibu dan saudara Yesus ingin menemui Dia, Dia mengabaikan mereka. Matius 12 ayat 50 mengatakan “…Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Yesus tidak berkata bahwa orang – orang ini tidak melakukan kehendak Bapa di surga dan tidak berbuat baik tetapi siapa saja yang percaya kepada Dia adalah “saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Kalau kita memahami peringatan Kristus dalam tiga ayat ini tentang Penghakiman Terakhir kita dapat memahami mengapa hal ini dinyatakan dalam konteks pembicaraan tentang nabi palsu. Maka kita akan lebih memahami ayat 13 sampai 20. Pasal ini berisi peringatan terhadap nabi palsu. Orang – orang ini akan tampil di hadapan Kristus pada Penghakiman Terakhir sebagai nabi palsu. Mereka adalah orang – orang yang akan tampil di hadapan Kristus dan berkata “kami berkhotbah demi namaMu, kami bernubuat demi NamaMu, mengerjakan mujizat demi namaMu, kami mengusir setan dalam namaMu!” dan Yesus membuang mereka ke neraka.

Kita sering salah artikan ‘buah’ hanya sebagai perbuatan [baik] apabila kita membaca Alkitab. Itu memang bisa berarti perbuatan baik. Saya tidak mengatakan tidak mungkin demikian. Alkitabpun tidak mengatakan tidak mungkin demikian. Tetapi arti utamanya adalah ‘doktrin’ atau pengajaran. Arti utamanya adalah pengajaran. Orang yang dibuang ke neraka ini memiliki banyak perbuatan baik. Dan andaikata kita menyaksikan mereka, kita akan sangat terkesan dengan apa yang mereka lakukan. Tetapi ajaran mereka, ketidakpercayaan mereka kepada Kristus, kepercayaan mereka atas kebaikan diri sendiri adalah buah yang tidak baik. Ajaran mereka, kepercayaan mereka atas kebenaran diri sendiri, ketidakpercayaan mereka atas Injil membuat mereka dibuang ke neraka. Apapun yang mereka khotbahkan, mereka tidak pernah mengkhotbahkan tentang kebenaran Kristus yang diberikan kepada orang percaya lewat iman saja. Mereka memang berkhotbah banyak hal dalam nama Yesus tapi yang dikhotbahkan bukanlah Injil.

Saya mau mengakhiri dengan beberapa pertanyaan untuk saudara; dan saya akan menekankan kembali bahwa apa yang Kristus katakan di sini adalah sesuatu yang pasti. Akan ada penghakiman. Kita masing – masing akan menghadap Kristus. Kita semua akan dihakimi. Pertanyaannya adalah: apa yang akan menjadi pembelaan saudara nanti? Apa yang akan menjadi permohonan saudara nanti? Apakah nanti perbuatan baik saudara? Perbuatan yang saudara lakukan di dalam nama Kristus? Apakah nanti pelayanan saudara yang saudara akan tonjolkan? Atau prestasi – prestasi saudara? Ataukah hanya karya Kristus semata? Kristus berkata bahwa siapapun yang mengandalkan diri pada perbuatan baiknya atau mengandalkan diri pada gabungan antara perbuatan baiknya dengan karya Kristus, tidak akan masuk surga. Tidak akan masuk surga! “Enyahlah dari hadapanku!”, kata-Nya. Setiap orang yang berpikir bahwa dia layak masuk surga tidak akan masuk surga. Setiap orang yang tidak menganggap diri mereka berdosa, tidak akan masuk surga. Mujizat, nubuat, dan pengusiran Setan, tidak akan membantu. Yudas Iskariot melakukan ketiganya namun dia tersesat. Saudara – saudara, satu – satunya harapan kita pada waktu hidup dan mati adalah Yesus Kristus yang disalibkan. Kebenaran Kristus dan Kebenaran-Nya semata.

Mari kita berdoa:

Bapa, kami berterima kasih karena Engkau telah mengutus Kristus untuk mati demi dosa kami. Kami mengakui bahwa kami adalah para pendosa. Kami memohon belas kasihan-Mu. Kami mengakui bahwa segala kesalehan kami adalah sama seperti kain kotor dan kami memohon Engkau menyelimutinya dengan Darah Kristus yang telah mati atas nama kami dan menggantikan kami. Kami berterima kasih atas Jalan Keselamatan yang karena Kasih-Mu Engkau berikan kepada kami. Dan kami berdoa pula supaya pada penghakiman akhir kami akan memohon belas kasihan Kristus dan berlindung di bawah korban-Nya saja. Dalam nama Yesus. Amin

—————-

Access from,

http://whereisthewisdon.wordpress.com/2010/12/08/pembenaran-dan-penghakiman-sebuah-terjemahan-khotbah/

Accessdate 1:10 PM 1/4/2011

————————————————————————–

Islamthis.

Analisis.

Sungguh menarik cara jidat2 karoSetan untuk berkelit dari kenyataan bahwa ada ayat di dalam Alkitab mereka sendiri yang menentang pentuhanan atas diri Jesus. Sudah jelas ayat Alkitab tersebut meng-informasikan bahwa Jesus menolak untuk dikatakan / dianggap / disembah sebagai Tuhan. E-eh malah melalui artikel ini jidat2 karoSetan puter otak lagi untuk bisa lagi sampai pada suasana bahwa Jesus adalah Tuhan. Dengan kata lain, jidat2 karoSetan jungkir-balik bin salto sejauh-jauh mungkin demi bisa memutarbalikkan kata-kata demi nafsu mereka terpenuhi, yaitu ingin menuhankan Jesus….

Hal pertama yang teramat jelas adalah adanya pertentangan di dalam kekristenan. Pertentangan itu adalah, seputar pada pertanyaan,

Apakah manusia itu masuk Surga karena,

1. Mereka berbuat baik / karena mereka saleh.

Atau ……….

2. Hanya mereka percaya kepada Jesus sebagai anak Tuhan, dan percaya pada penyalibannya????

Langkah pertama yang dipaparkan di dalam artikel ini adalah, memastikan terlebih dahulu bahwa, manusia itu masuk Surga (istilah Gereja: dibenarkan oleh Allah) hanya lah karena mereka beriman dan percaya kepada Jesus sebagai anak Tuhan, dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia-manusia yang percaya kepadanya. Ayatnya adalah, Kisah Para Rasul 16 : 31.

”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat….”

Langkah kedua.

Dengan memastikan hal ini, maka timbul konsekwensi lain. Konsekwensi itu adalah, bahwa sebenarnya ada juga ayat di dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa manusia justru dapat dibenarkan oleh Allah (maksudnya masuk Surga / diselamatkan) karena perbuatan baik mereka (maksudnya hidup saleh).

Seperti yang dijelaskan di dalam Katekismus Gereja Roma Katolik berikut:

Setiap dari kita harus berharap dengan anugerah Allah untuk bertekun sampai akhirnya dan mendapatkan kebahagiaan surgawi sebagai penghargaan Allah yang kekal atas perbuatan – perbuatan baik yang dilakukan dengan anugerah Kristus

Juga, Matius 7:21 sendiri yang tegas-tegas menyatakan bahwa perbuatan baiklah yang akan menyelamatkan manusia masuk Surga (bukan nya iman),

Matius 7:21 –

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Untuk menyelesaikan ‘sengketa’ ini, akhirnya sang pengkhotbah (John W Robbins) mengeluarkan jurus pelintirnya dengan ayat,

Kisah Para Rasul 16 : 31

Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat….

Roma 3 : 28

”…..manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat

Roma 4 : 5

”tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.”

Okelah, dengan menggunakan ayat-ayat ini, maka rekayasa kesesatan mereka dapat berhasil diamankan…..

Langkah ketiga.

Pun begitu, timbul lagi masalah yang diberikan oleh ayat Matius 7:21 – 23, yang jelas-jelas meng-informasi kan bahwa terkutuklah mereka yang mengatakan bahwa Jesus adalah Tuhan. Ayat Matius7 itu berbunyi sebagai berikut,

21 –

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

22 –

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

23 –

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Nah bagaimana kah lagi akal jidat2 karoSetan yang degil itu untuk menyelesaikan / menuntaskan / mengamankan rekayasa tipudaya mereka (bahwa Jesus adalah Tuhan, dan mempercayai hal itu akan masuk Surga) sementara Matius 7:21 ini benar-benar menjelaskan bahwa Jesus bukan lah Tuhan?

Alih-alih ayat ini menegaskan / meng-informasikan bahwa Jesus bukan lah Tuhan, justru di dalam pandangan jidat karoSetan, ayat Matius 7 ini “dipaksa” untuk mengesankan bahwa Jesus adalah anak Tuhan dengan beberapa catatan / penekanan!! Nah catatan / penekanan itulah yang dibesar-besarkan di dalam artikel / khotbah sang pendeta John Robbins ini….

Di dalam artikel saya di blog ini, ‘catatan-catatan’ / penekanan-penekanan itu saya ketengahkan di dalam bentuk grafik / gambar dengan teks berwarna merah. Mereka adalah……

dan seterusnya ….. (lihat kembali ke bagian atas artikel ini).

Protes.

Pertanyaan pertama.

Dengan  mengetengahkan artikel tentang tafsir Matius 7 ini, John Robbins ingin menegaskan bahwa yang dituntut Jesus di hari penghakiman adalah pembelaan secara implicit (secara perkata) dari manusia yang (harus) berbunyi “Aku percaya pada hidup dan matimu, Jesus. Aku percaya pada penyalibanmu di kayu salib untuk menebus dosaku. Aku percaya kepada kebangkitanmu dan duduk di sisi kanan Bapa. Aku percaya bahwa kau telah ambil-alih kutuk Bapa demi dosaku. Aku percaya bahwa kau adalah korban penggantian untuk ku di atas kayu salib…..

Dengan kata lain, berbuat baik (seperti mengusir setan, memberi makan fakir miskin, melayani Gereja dan umatnya sepanjang hidup, membuat mukjzat, membuat nubuat demi nama Jesus) BUKANLAH argumentasi yang diinginkan Jesus di hari penghakiman supaya orang itu dapat masuk Surga.

Pertanyaannya adalah, apakah Jesus se-bebal itu?

Apakah Jesus gemar mencari-cari kesalahan manusia – sementara manusia itu sendiri telah berbuat baik di Dunia ini sebagai orang karoSetan?

Mengapa Jesus terlalu bawel dan menuntut yang macam-macam terlalu banyak?

Pertanyaan kedua.

Melalui artikel / penjelasan konyol sang pendeta John Robbins ini, tampaknya diperlihatkan kepada kita bahwa Jesus ingin memisahkan atau men dikhotomi-kan antara (A) – berbuat  baik yaitu melakukan kehendak Bapa, dengan (B) – beriman  kepada Jesus dengan semua atributnya. Dan bahwa ternyata Jesus lebih memilih yang (B).

Pertanyannya adalah, apakah ini berarti bahwa semua orang karoSetan yang penuh bakti dan ibadah selama hidupnya, otomatis belum tentu percaya kepada penyaliban Jesus dan semua tetekbengeknya?

Apakah mungkin ada, bahwa ada orang karoSetan, yang benar-benar yakin dengan kekristenannya, namun belum tentu ia percaya kepada Jesus dan semua atributnya? Kalau lah memang ada individu individu karoSetan yang mengaku karoSetan namun tidak percaya kepada Jesus dan semua tetekbengeknya, maka buat apa ada Alkitab, Gereja, kebaktian, misa, natal dan lain lain? Tidak kah itu konyol?

Pertanyaan ketiga.

Mengapa Jesus minta / menuntut disebutkan terang-terangan di dalam pembelaan sang manusia bahwa “aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya”? Apakah Jesus ‘yang mahatahu’ tidak bisa melihat langsung ke hati manusia-manusia karoSetan bahwa mereka semua yang beribadah dan bekerja dengan baik, otomatis ada rasa percaya di dalam hati mereka kepada Jesus dan penyalibannya – sehingga tidak perlu disebutkan di dalam pembelaan mereka di hari penghakiman?

Pertanyaan keempat.

Apakah  yang menjadi jaminan / bukti, bahwa semua manusia karoSetan di hari penghakiman, yang tidak menyebutkan terang-terangan bahwa ‘Aku percaya kepada Jesus dengan penyalibannya’ adalah manusia-manusia karoSetan YANG SAMA SEKALI TIDAK PERCAYA KEPADA JESUS SEBAGAI TUHAN DAN MATI DISALIB (sementara mereka sendiri mengaku karoSetan dan telah berbuat banyak amal saleh ketika di Dunia)???

Pertanyaan kelima.

Sudah jelas bahwa di Matius 7 itu disebutkan bahwa hanya mereka yang melakukan kehendak Tuhan lah yang akan masuk Surga (yaitu beramal saleh), bukan nya mereka yang menganggap Jesus sebagai Tuhan.

Maka pertanyaannya adalah, apakah yang menjadi bukti bahwa yang dituntut / dimaksud oleh Matius 7 itu adalah …

(A)  – Jesus menuntut penyebutan secara terang-terangan bahwa ‘Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya’ yang diucapkan oleh manusia di dalam pembelaannya di hari penghakiman.

Dan bukannya …

(B)   – bahwa manusia itu telah melakukan kehendak Bapa yang di Surga dan tidak menganggap Jesus sebagai Tuhan….?????

Apakah buktinya, bahwa point (A) – lah yang dimaksud oleh Matius 7, bukannya point (B)????

Pertanyaan keenam.

Di ayat 21, Jesus berkata, bahwa HANYA mereka yang melakukan kehendak Bapa-lah yang akan masuk Surga. Dan di ayat 22, telah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan melakukan kehendak Bapa adalah bernubuat dengan nama Jesus, membuat banyak mukjizat, mengusir setan dengan nama Jesus dan lain lain. Namun mengapa, di dalam artikel / khotbah / penjelasan sang pendeta ini, hal itu diartikan bahwa Jesus sebenarnya menuntut penyebutan secara terang-terangan bahwa ‘Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya’ yang diucapkan oleh manusia sebagai pembelaannya di hari penghakiman?

Apa dasarnya?

Apa dasarnya, bahwa manusia itu dipersalahkan bukan karena mereka memanggil Jesus Tuhan, namun karena manusia tidak menyebutkan ‘Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya’??

Pertanyaan ketujuh.

Kalau lah manusia memang harus (dituntut untuk) menyebutkan secara terang-terangan ‘Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya’ di dalam pembelaannya di hari penghakiman, maka pertanyaannya adalah, berasal dari pasal dan ayat manakah di dalam Alkitab kalimat itu diajarkan? Setahu saya, Alkitab sama sekali tidak mengajarkan bahwa Jesus telah berkata dengan lisannya sendiri bahwa “AKU ADALAH ANAK TUHAN DAN SEMBAHLAH AKU SEBAGAI TUHAN…..”.

Nah bisakah pendeta Jahanam ini menyebutkan pasal dan ayat berapa-nya di dalam Alkitab?

Karena bukan kah justru Alkitab hanya mengajarkan apa yang kita bisa baca melalui Matius 7 ayat 21:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Pertanyaan kedelapan.

Pertama. Matius 7 menjelaskan bahwa semua manusia TERLARANG untuk menganggap Jesus Tuhan, atau menuhankan Jesus, karena yang Tuhan adalah dan hanya lah Bapa yang di Surga.

Kedua. Pun di dalam Alkitab tidak dijumpai ayat yang menjelaskan bahwa Jesus telah berkata dengan lisannya sendiri bahwa ‘Aku adalah anak Tuhan, dan sembahlah aku ….”. yang mana ini artinya, adalah bahwa Jesus sama sekali bukan lah Tuhan….

Namun justru melalui artikel / penjelasan sang pendeta Jahanam John Robbins ini, justru ayat itu menjelaskan dan menguatkan bahwa Jesus adalah Tuhan.

Pertanyaannya adalah, kalau memang Jesus adalah Tuhan, maka tunjukkan ayat di dalam Bible yang menunjukkan bahwa Jesus  telah berkata dengan lisannya sendiri bahwa AKU ADALAH ANAK TUHAN DAN SEMBAHLAH AKU….

Kalau lah Jesus memang Tuhan, maka keberadaan ayat itu amatlah mutlak dan penting. Oleh karena itu ayat tersebut HARUS LAH ADA….

Nah sekarang, tunjukkan ayat tersebut…..!!

Pertanyaan kesembilan.

Jidat kapirit yang bernama John Robbins ini telah seenak-puser nya membuat tafsiran atas Matius 7 ini, bahwa yang dimaksud oleh pasal tersebut adalah bahwa manusia-manusia karoSetan dituntut untuk menyebutkan ‘Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya’ di dalam pembelannya di hari penghakiman.

Dengan kata lain, pasal Matius 7 ini bukan lah pasal yang menjelaskan bahwa,

(A)  – adalah terkutuk bagi siapa pun untuk menyatakan bahwa Jesus adalah Tuhan.

Namun pasal Matius 7 ini adalah pasal yang menjelaskan bahwa,

(B) – semua manusia karoSetan di dalam pembelaannya di hari penghakiman TIDAK LAH CUKUP dengan menyatakan bahwa Jesus adalah Tuhan, NAMUN HARUS DILENGKAPI  dengan kalimat “Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya…”.

Pertanyaannya adalah,

Kalau lah jidat kapirit tengik yang bernama John Robbins ini BERHAK untuk membuat tafsiran demikian, maka bukan kah saya juga punya hak untuk membuat tafsiran, yaitu …

–adalah terkutuk bagi siapa pun untuk memanggil Jesus Tuhan. Dan hendaklah setiap manusia hanya bertuhan kepada Tuhan Bapa Yang di Surga …..???

Kalau semua jidat karoSetan menolak hak saya ini, maka penolakan itu atas dasar apa??

Pertanyaan kesepuluh.

Perhatikan paparan ini.

Matius 7 : 21 –

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

 

Matius 7 : 22 –

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

 

Matius 7 : 23 –

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

 

Matius 7 : 24 –

Dan sungguh Aku berkata kepadamu, “kamu akan dibenarkan dan akan diselamatkan di dalam Surga jika kamu semua menyatakan dengan mulut-mulutmu sebagai pembelaanmu di hari penghakiman nanti bahwa kamu percaya kepada Aku dan penyaliban Aku dan kebangkitan Aku dan penggantian korban olehKu untukmu dan pengambilalihan kutuk Bapa olehKu untukmu dan mengakui bahwa Aku telah mati menggantikanmu dan bahwa Aku telah menggantikan kamu di atas kayu salib … maka perkatakanlah yang demikian itu nanti di depan hari penghakiman supaya kamu beroleh selamat berkat korbanKu…

 

Sekarang kita bahas.

Kalau lah penjelasan John Robbins memang benar bahwa pesan yang dimaksud di dalam Matius 7 adalah penyebutan secara terang-terangan bahwa ‘Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya’ di dalam pembelaan setiap manusia di hari penghakiman, maka mengapa Matius 7 : 24 tersebut tidak ada??

Tafsiran / kilah John itu akan benar, kalau lah memang ayat 24 itu MEMANG BENAR-BENAR ADA. Pun, kalau lah memang benar bahwa Jesus menuntut penyebutan terang-terangan, maka mengapa Jesus tidak mengajarkan pesan yang ada pada ayat 24 tersebut? Apa yang menghalangi Jesus untuk menyatakan ayat ke 24 tersebut? Bukan kah keberadaaan ayat itu amat penting kalau kita ingin sampai pada kesimpulan bahwa di hari penghakiman hanya kalimat ‘Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya’ – lah yang dapat menyelamatkan kita masuk Surga (bukan teriak-teriak manggil Jesus Tuhan dan mengaku-ngaku telah melakukan kehendak Bapa)?

Faktanya ayat 24 itu tidak ada di dalam Alkitab kan!!!

Ayat 24 itu hanya lah rekayasa saya saja. Namun walau pun rekayasa, namun tetap ayat itu harus ada di dalam Alkitab – karena kita harus percaya bahwa Jesus pasti telah mengajarkan semua nya yang benar di dalam hidup ini…. kalau hal benar itu memang ada…

Komentar kapirit atas point kesepuluh ini,

Pertanyaanya adalah, siapa yang mengharuskan Yesus melakukan seperti itu? Yang Tuhan itu Yesus atau si pengeritik? Kalau Yesus ingin umat-Nya menjadi umat yang menyelidiki seluruh kitab Suci kenapa dia harus menyatakan semua sekaligus? Siapa yang mengharuskan Yesus melakukan seperti yang diinginkan oleh si pengeritik.

Tentu saja kalau misanya Yesus melakukan seperti yang dikatakan pengeritik, tentunya dia tidak akan kekurangan alasan untuk menola apa yang dikatakan Yesus. Sejarah membuktikan bahwa orang akan mencari-cari alasan untuk tidak datang kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat sebelum saat-Nya Tuhan sendiri menarik dia. Kalau andaikata Yesus mengatakan seperti yang si pengeritik inginkan, tentu saja dia akan berdalih “Wah..ayat itu khan hanya tambahan kemudian yang sebenarnya tidak ada dalam Injil asli,” dll, dst.

Islamthis,

Argumen seperti apakah itu??

Jidat ini bertanya, SIAPA YANG MENGHARUSKAN JESUS MELAKUKAN SEPERTI YANG DIINGINKAN OLEH SI PENGERITIK?

Apakah memang benar dugaan saya selama ini, bahwa jidat-jidat yang ber-merk karosetan adalah jidat-jidat yang tidak mempunyai otak sekecil biji cabe sekali pun??

  1. Ingat, Jesus telah memperkatakan semua hal SECARA GAMBLANG DAN TERANG-TERANGAN  tentang roh, semua hal tentang surga, semua hal tentang neraka, semua hal tentang Israel, semua hal tentang ajaran spiritual. Lantas mengapa kali ini Jesus tidak menyatakan SECARA GAMBLANG DAN TERANG-TERANGAN bahwa dia adalah tuhan dan anak tuhan???
  2. Kalau Jesus ingin umatnya menjadi umat yang menyelidiki seluruh kitab suci kenapa dia harus menyatakan semua sekaligus? wah, kalau memang demikian, bahwa semua umat manusia harus menyelidiki seluruh kitab suci, maka mengapa Jesus capek-capek menyatakan banyak hal SECARA GAMBLANG DAN TERANG-TERANGAN tentang tuhan, tentang para penjahat, tentang surga, tentang pertobatan, tentang pembaptisan delele? Bukankah point-point itu sebenarnya juga dapat diformulasikan tanpa harus disebutkan SECARA GAMBLANG DAN TERANG-TERANGAN oleh Jesus selama semua umat manusia menyelidiki semua kitab suci??? ha ha ha ha ha …..
  3. Jidat ini tolis “siapa yang mengharuskan Jesus melakukan seperti yang diinginkan oleh pengeritik?”. Saya jawab, Lantas siapa yang mengharuskan / suruh Jesus untuk menyatakan SECARA GAMBLANG DAN TERANG-TERANGAN  tentang pertobatan, jalan ke neraka, jalan ke surga, tentang pembaptisan, tentang orang orang samaria, delele?? ha ha ha ha ha ha ….

Si kapirit ini lanjut dengan paragrap nya,

“………..Tentu saja kalau misanya Yesus melakukan seperti yang dikatakan pengeritik, tentunya dia tidak akan kekurangan alasan untuk menola apa yang dikatakan Yesus. Sejarah membuktikan bahwa orang akan mencari-cari alasan untuk tidak datang kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat sebelum saat-Nya Tuhan sendiri menarik dia. Kalau andaikata Yesus mengatakan seperti yang si pengeritik inginkan, tentu saja dia akan berdalih “Wah..ayat itu khan hanya tambahan kemudian yang sebenarnya tidak ada dalam Injil asli,” dll, dst…..”

Itu adalah fitnah!! Percayalah, kalau memang ada pasal 24 itu, maka dijamin tidak akan ada lagi yang namanya kaum muslim di dunia ini, karena mereka semua sudah beriman kepada Jesus sebagai tuhan Yang maha kuasa wyekkkk!!!

Kenapa jidat ini buru-buru main tuduh en fitnah tidak karu-karuan?? Belum melaksanakan semua apa yang saya inginkan, eeh sudah main pitnah en tuduh!!! Dasar fikiran kotor! Alkitab dan roh kudus mereka lah yang mengajari mereka untuk berfikiran kotor sehingga demikian mudahnya mereka maen tuduh kepada orang laen yang tidak seiman dengan mereka!

Kalau ayat 24 itu memang TIDAK ADA, ya sudah akui saja bahwa ayat itu MEMANG TIDAK ADA, yang mana itu artinya semua tafsiran John Robbins adalah karangan indah semata demi nafsu iblisiah mereka dapat diamankan….

Buat apa main petnah en  tuduh kaum muslim?? Wong ayat 24 itu yang memang tidak ada, lha kok sekarang kaum muslimnya yang harus kena petnah??? Petnah saja sanah, Alkitabmu yang tengik ithoooo!!!!

Sekarang tentang Paulus.

Sebenarnya Matius 7 mengajarkan umat Monotheis bahwa adalah terkutuk bagi siapa pun untuk memanggil Tuhan kepada Jesus, dan lebih dari itu, semua manusia hanya dituntut untuk melakukan semua kehendak Tuhan Bapa supaya manusia dapat masuk Surga. Sungguh pun demikian kekafiran tetaplah kekafiran. Jidat terkutuk yang bernama John Robbins telah memelintir kata untuk sampai lagi pada kesepakatan bahwa Jesus adalah anak Tuhan. Dan tampaknya semua kilah / excuse yang dibuat John Robbins dan pengikutnya, adalah didasarkan pada ayat-ayat yang keluar dari monyongnya Paulus. Siapakah Paulus itu?

Blog islamthis ini sudah menyediakan artikel menarik untuk membuktikan siapa sebenarnya Paulus ini. Baca artikel “Malaikat Untuk Muhammad, Atau Roh Setan Untuk Paulus?”  https://islamthis.wordpress.com/2011/01/07/malaikat-untuk-muhammad-atau-roh-setan-untuk-paulus/

Dan lagi, Mengapa Salib menjadi lambang karoSetan? https://islamthis.wordpress.com/2011/01/07/mengapa-salib-menjadi-tanda-karosetan/

Dari kedua artikel ini kita akan menjadi sadar bahwa bercerai-berainya manusia di dalam hal keimanan adalah karena penyesatan yang telah dilakukan oleh Paulus ini.

Kita harus bisa sampai pada kesimpulan, bahwa kita tidak mempunyai satu huruf pun di dalam Alam raya ini yang mengarahkan kita untuk berfikir bahwa Jesus adalah Tuhan. Pun Matius 7 sudah menegaskan akan hal itu secara gamblang. Kenyataan bahwa kemudian kelak ada orang yang berfikir / membuat tafsir bahwa Matius 7 ini mengandung pesan bahwa …

 “semua manusia karoSetan di dalam pembelaannya di hari penghakiman TIDAK LAH CUKUP dengan menyatakan bahwa Jesus adalah Tuhan, NAMUN HARUS DILENGKAPI  dengan kalimat “Aku percaya kepada Jesus dan penyalibannya…”.

 …ternyata hanya didasarkan pada nafsu dan penyesatan yang diperbuat oleh Paulus. Semakin tampak jelas bahwa jidat kapirit yang bernama John W Robbins ini menggunakan ayat-ayat monyongnya Paulus untuk mendukung teorinya seperti yang di atas tersebut…. Sementara kita sudah mafhum bahwa Paulus adalah saudara kembar Iblis padangpasir yang telah menyaru menjadi penampakan Jesus dan muncul di depan Paulus untuk menjadi titik balik bagi dipelintirkannya ajaran ketuhanan dengan begitu keji.

15 Responses

  1. Balasan di sini: http://xxx /

    Silahkan ditanggapi!

  2. Ternyata tulisan islamthis hanya tulisan kosong n tidak ada argumen logis yg d tawarkan..
    Satu hal konyol yg memalukan,islamthis mengklaim “melakukan kehendak bapaku d sorga” berarti “berbuat saleh” tanpa dasar sama sekali dan bertentangan dengan ayat sesudahnya padahal pdt. Robbin telah menjelaskan secara detil dengan dasar yg jelas… Tampaknya islamthis hanya mengumbar umpatan dan kebodohannya…

    • enggak tuh!
      justru anda yang mengumbar umpatan dan kebodohannya …

      ha ha ha ha ..
      anda tolis,
      “berbuat saleh” tanpa dasar sama sekali dan bertentangan dg ayat sesudahnya …

      ngemeng deh sanah tuh bachot!!

      lha jelas ayat2 yg digunakan robbins adl ayat2 paulus, pdh sudah jelas bhw paulus adl suruhan iblis padang pasir damaskus utk memelintir ajaran tuhan.. begitu aja kok repot!!

  3. jawab aja deh pertanyaan2 yg saya paparkan dlm artikel saya itu… ga bisa jawabya???? ha ha ha …

  4. Malaikat Gibrael di gunakan oleh Lucifer (Iblis) untuk turun kepada Muhammad untuk memberi kesesatan kepada dunia.

    • dear molly …

      jadi gereja anda mengajarkan bhw malaikat gabriel bisa dipakai oleh lucifer ya???

      nah untung saya bukan penganut karosetan….. shg mudah2nya didongengi spt itu …..

    • wahh…dpt ilmu baru neh..ternyata Jibril bisa disuruh2 ama iblis yaaaa…kwkwkwkkkkkkk….

  5. dear Titon, Molly and whereisthewisdom:
    sebelum saya berkomentar tentang keyakinan anda yang akan menyeret anda ke neraka, saya jelaskan dulu penafsiran surat Matius:21, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. coba anda lihat n baca kalimat “…melainkan dia yg melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga”. Bapa-Nya Yesus adalah Allah. Allah tidak pernah memerintahkan manusia, tidak pernah memerintahkan kepada orang2 kristen untuk mempertuhankan Yesus sebagai kehendak-Nya. dan pernyataan Yesus sendiri di dalam Injil tidak pernah dijumpai kalau ia menyebut dirinya sebagai tuhan. heheheheeh….. dan ternyata sebelum yesus mati, dia belum dipertuhankan, karena dia belum disalib. Nah setelah Yesus disalib dan mati barulah ia dijadikan tuhan oleh siapa? yang jelas bukan Allah dan bukan Yesus, tapi orang2 bodoh seperti kalian.

  6. Wkwkwk.. Karosetan.. Karosetan.. Masih aja byk ngelesnya.. Bilang Jibril bisa dipake Iblis utk menyesatkan Muhammad. Dongok kali ya, mank Jibril ama Iblis tuh yg lbh tinggi derajatnya siapa? Yg lbh Suci siapa? Yg lebih Laknat siapa? Dan yg tolol siapa? Yg psti yg tolol ya kalian ini, pengikut karosetan jidat bego kayak otak teri.. Wkwkwk :p

    • sebenarnya mereka (karosetan) tau banyak pertentangan di kitabnya apalagi katanya ada 4 dan katanya sama. wkwkwkwwk
      biarin ajalah namanya juga member tetap Malaikat Malik

  7. Heran, trnyata blogger Islamthis, Kml, alisina & manusia kok jadi tuhan percaya Lucifer itu iblis atau setan. Katanya Islam yang patuh dan taat dan mengerti tntang agama Islam. Di Alquran ada juga ya Lucifer? Mncontek ya…?

  8. bung islamthis..diskusi lagi yokk…ahahay

  9. berdiskusi dengan karosetan si kepala batu yang ngotot memaksakan diri tentang “metamarfosis jungkir balik jesus si manusia tulen hingga berubah menjadi tuhan”,

    adalah identik dengan :

    membahas seonggok Taik yang ke injak di tengah padang pasir yang telah terbukti bahwa itu adalah taik asli tercium masih berbau, tapi si karosetan tetap ngotot putar lidah mengatakan bahwa “taik tsb telah berubah menjadi sebuah coklat yang manis lagi lezat”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: