karoSetan Juga Mengajarkan Mendoakan Orang Wafat

Di bawah ini ada artikel yang dibuat orang karoSetan tentang salah satu ajaran karoSetan yaitu mendoakan orang yang sudah wafat. Seperti Islam, ternyata karoSetan (karo = dengan / bersama; setan = iblis) pun mengajarkan hal yang demikian. Oleh karena itu TIDAK USAH orang karoSetan mengejek kaum Muslim yang mempunyai tradisi mendoakan orang yang sudah wafat!

Selamat membaca!

>>>>>>>

Mengapa kita mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal?

Pertanyaan:

Shalom Bu Ingrid, Pak Stef, dan staff katolisitas.org lainnya

Waktu itu ada seorang protestan yang saya dengar statementnya kalau kita tidak usah berdoa untuk jiwa-jiwa yang sudah meninggal, karena itu menjadi urusan Tuhan sendiri jadi maksudnya doa kita tidak akan berguna bagi mereka, sebab kita tidak berurusan dengan yang berada di dunia sana..Tuhanlah yang mengkehendaki, jadi doa kt tak mempengaruhi. Bagaimana menurut Bu ingrid dan Pak Stef sendiri tentang statement ini??

Thx., Leon

Jawaban:

Shalom Leon,

Memang benar bahwa Tuhanlah yang berkuasa menentukan apakah seseorang itu masuk surga, neraka, atau jika belum siap masuk surga, dimurnikan dahulu di Api Penyucian. Saudara/ i kita yang Protestan memang tidak mengakui adanya Api Penyucian, sehingga bagi mereka tidak ada gunanya mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Namun Gereja Katolik mengajarkan adanya masa pemurnian di Api Penyucian, silakan membaca dasar dari Alkitab dan pengajaran Bapa Gereja tentang hal ini, silakan klik.

Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Rasul Paulus menegaskan “38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39).

Kuasa kasih Kristus yang mengikat kita semua di dalam satu Tubuh-Nya itulah yang menjadikan adanya tiga status Gereja, yaitu 1) yang masih mengembara di dunia, 2) yang sudah jaya di surga dan 3) yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Dengan prinsip bahwa kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus selayaknya saling tolong menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) di mana yang kuat menolong yang lemah (Rm 15:1), maka jika kita mengetahui (kemungkinan) adanya anggota keluarga kita yang masih dimurnikan di Api Penyucian, maka kita yang masih hidup dapat mendoakan mereka. Ini sesuai dengan pengajaran di kitab 2 Mak 12:42-46.

Memang, umat Protestan tidak mengakui kitab Makabe ini dalam Kitab Suci mereka. Juga, bagi mereka, keselamatan hanya diperoleh melalui iman saja (sola fide), yang terlepas dari perbuatan. Sedangkan bagi kita umat Katolik, kita diselamatkan melalui iman yang bekerja oleh perbuatan kasih (Gal 5:6). Maka dapat dimengerti bahwa umat Protestan menolak ‘perbuatan’ mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kasih yang didasari iman itu sangat berguna bagi keselamatan kita. Sehingga, jika “kasih” di sini diartikan menghendaki hal yang baik terjadi pada orang lain, dan jika kita ketahui bahwa maut tidak memisahkan kita sebagai anggota Tubuh Kristus (lih. Rom 8:38-39), maka kesimpulannya, pasti berguna jika kita mendoakan demi keselamatan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sebab perbuatan kasih yang menghendaki keselamatan bagi sesama, adalah ungkapan yang nyata dalam hal “bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu” (Gal 6:2). Perbuatan ini berguna baik bagi jiwa yang sedang kita doakan maupun keselamatan kita sendiri, sebab itulah maka ada yang disebut sebagai Indulgensi. Silakan membaca selanjutnya dalam artikel tentang Indulgensi inii, silakan klik.

Jangan lupa bahwa yang kita bicarakan di sini adalah bahwa doa- doa yang dipanjatkan untuk mendoakan jiwa-jiwa yang orang yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, sehingga mereka sudah pasti masuk surga, hanya sedang menunggu saat pemurniannya. Dan dalam masa pemurnian ini mereka terbantu dengan doa-doa kita, seperti halnya juga pada saat kita kesusahan sewaktu hidup di dunia ini, dan kita terbantu dengan doa-doa umat beriman lainnya yang mendoakan kita. Sedangkan, untuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat, sehingga masuk ke neraka, maka memang kita tidak dapat mendoakan apapun untuk menyelamatkan mereka. Atau untuk orang -orang yang langsung masuk ke surga (walaupun mungkin tak banyak jumlahnya), maka doa-doa kita sesungguhnya tidak lagi diperlukan, sebab mereka sudah sampai di surga. Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu, kondisi rohani orang-orang yang kita doakan. Pada mereka memang selalu ada tiga kemungkinan tersebut, sehingga, yang kita doakan dengan kerendahan dan ketulusan hati adalah belas kasihan Tuhan kepada jiwa-jiwa tersebut, mohon pengampunan dosa mereka dan istirahat kekal, jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan.

Berikut ini saya sampaikan pengajaran ini yang termasuk De fide (Dogma):

“The Communion of the Faithful on earth and the Saints in Heaven with Poor Souls in Purgatory:

The living Faithful can come to the assistance of the Souls in Purgatory by their intercessions (suffrages).”[1]

Terjemahannya:

Persekutuan umat beriman di dunia dan Para Kudus di Surga dengan Jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian:

Para beriman yang [masih] hidup dapat membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan doa-doa syafaat (doa silih).

Silih di sini diartikan tidak saja doa syafaat, tetapi juga Indulgensi, derma dan perbuatan baik lainnya, dan di atas semua itu adalah kurban Misa Kudus. Ini sesuai dengan yang diajarkan di Konsili Lyons yang kedua (1274) dan Florence (1439).

Jadi meskipun umat Protestan tidak mengakui ajaran pada kitab Makabe, namun sesungguhnya mereka secara obyektif tidak dapat mengelak bahwa tradisi mendoakan jiwa orang yang telah meninggal sudah ada di jaman Yahudi sebelum Kristus. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para rasul, seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18). Tradisi mendoakan jiwa orang yang sudah meninggalpun dicatat dalam tulisan para Bapa Gereja, seperti:

  1. Tertullian, yang mengajarkan untuk menyelenggarakan Misa kudus untuk mendoakan mereka pada perayaan hari meninggalnya mereka setiap tahunnya.[2].
  2. St. Cyril dari Yerusalem dalam pengajarannya tentang Ekaristi memasukkan doa-doa untuk jiwa orang-orang yang sudah meninggal[3].
  3. Sedangkan St. Yohanes Krisostomus dan St Agustinus mengajarkan bahwa para beriman dapat mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal dengan mengadakan derma.[4].

Maka memang, mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal bagi orang Katolik merupakan salah satu perbuatan kasih yang bisa kita lakukan, terutama kepada orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Ini adalah salah satu dogma yang semestinya kita jalankan, sebagai orang Katolik. Tentu saja, kita tidak bisa memaksakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Namun bagi kita yang percaya, betapa indahnya pengajaran ini! Kita semua disatukan oleh kasih Kristus: kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa yang di Api Penyucian, dan jika kelak mereka sampai di surga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke surga. Doa mereka tentu saja tidak melangkahi Perantaraan Kristus, sebab yang mengizinkan mereka mendoakan kita juga adalah Kristus, sebab di atas semuanya, Kristuslah yang memang menginginkan agar kita selamat dan masuk ke surga. Jadi doa para kudus saling mendukung dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kita tergabung dalam satu persekutuan orang-orang kudus, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang diikat oleh kasih persaudaraan yang tak terputuskan oleh maut, sebab Kristus Sang Kepala, telah mengalahkan maut itu bagi keselamatan kita.

kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

—————————–

CATATAN KAKI:

1.Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Illinois, TAN Books ands Publishers, 1974, p.321 [↩]

2.Tertullian, De Monogamia 10; De exhort cas II, lif. St. Cyprian, Ep 1, 2 [↩]

3.St. Cyprian, Cat., Myst., 5.9 et seq [↩]

4.St. Yohanes Krisostomus, Phil; hom 3,4; St. Agustinus, Enchiridion 110; Sermo 172, 2, 2 [↩]

>>>

Access from,

http://katolisitas.org/2009/09/14/mengapa-kita-mendoakan-jiwa-orang-orang-yang-sudah-meninggal/#hide

Access date,

Friday, December 17, 2010

———————–

Tambahan.

Kita juga banyak menemukan dalam Alkitab bahwa Paulus mendoakan orang-orang yang telah mati dan memohonkan belas kasihan bagi mereka. Tentu jika Api Penyucian tidak ada Paulus tak akan mendoakan dan memohonkan belas kasihan bagi mereka.

Access from,

http://bloggertouch.appspot.com/satrioindirani/post/7482713570105316280
Access date,

17 Des 2010.

One Response

  1. “”Demikian maka kita mengetahui bahwa Bunda Maria duduk di sebelah kanan Kristus, sedangkan yang duduk di sebelah kiri Kristus adalah Allah Bapa, karena Yesus sendiri mengatakannya, bahwa Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa (lih. Mat 26:63-64).
    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Ingrid Listiati- katolisitas.org””

    Yesus sudah mati dan bangkit di hari ke tiga, terus naik ke surga duduk di samping Bapanya(Yahwe)..!!!

    Pertanyaannya, ketika karosetan berdoa tuhan yang mana yang terima doanya karosetan…????,

    bapa Yesus(Yahwe)..???

    atau

    anak Yahwe(Yesus)..???

    atau

    ibunya Yesus(istri Yahwe)..???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: