Qorban, dan Mengorbankan Putra TunggalNya

Islam mempunyai rangkaian ibadah yang dinamakan dengan ‘kurban’ yaitu ibadah yang mengisyaratkan umatnya  untuk memulai memotong hewan korban –biasanya kambing, domba, kerbau dan lain lain- untuk dihadiahkan kepada mereka yang kekurangan. Sementara Kristen mempercayai adanya suatu Pengorbanan, yaitu peristiwa di mana Tuhan mengurbankan Putra tunggalNya, Almasih, untuk disalibkan sebagai penebus dosa semua umat manusia yang percaya pada penyaliban tersebut. Pengurbanan ini pada saat selanjutnya menjadi inti dari ajaran Kristen itu sendiri.

a.      Kristen.

Permulaan kelahiran agama Kristen justru berawal dari suatu pengorbanan yang amat agung –dan kemudian semua umat Kristen akan mengindentikkan keyakinan mereka dengan kerelaan berkorban yang amat tulus untuk  seluruh dunia.

Secara keagamaan mereka menggariskan, bahwa untuk suatu alasan yang amat ajaib, Tuhan dilukiskan telah melahirkan putraNya sendiri ke dunia untuk mengambil tempat hidup terdekat dengan semua umat manusia itu sendiri. ‘Orang’ yang diyakini sebagai ‘Putra Tuhan’ ini dalam pandangan semua umat Kristen mempunyai semua sifat-sifat suci sang Tuhan –mereka menyebutNya Tuhan Ayah atau Tuhan Bapa (biar bagaimana pun memanggil Tuhan dengan sebutan ‘Tuhan Bapa’ ini tetap merupakan warisan dari tradisi Yahudi)- seperti dapat membangkitkan orang dari kematian, dapat menyembuhkan penyakit yang amat parah dan dapat mengetahui makanan seorang umat yang disimpan di rumahnya. Semasa hidupnya, orang ini, yang kemudian dikenal sebagai Yesus, mengajarkan kepada semua umat manusia itu, umat sang Bapa-nya, akan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan semesta alam. Pada akhirnya penentangan yang amat hebat muncul dari tengah kerumunan manusia mengingat mereka semua adalah anak-anak Yahudi yang anti dengan semua apa pun yang bersifat anti-Yahudi. Puncak dari penentangan ini adalah vonis mati atas tubuh dan darah Yesus: tidak bisa tidak Yesus harus mati dengan cara disalib.

Selanjutnya kepercayaan Kristen menjelaskan bahwa kematian (atau pun kekalahan dan ketakberdayaan terhadap kaum Yahudi) Yesus di kayu salib adalah tak lebih dari takdirnya sendiri yang telah ditentukan oleh Tuhan. Untuk pemahaman ini Kristen menjabarkannya sebagai rencana Tuhan untuk mengorbankan nyawa putraNya sendiri untuk menebus semua dosa umat manusia.

Tuhan melalui kisah penyaliban Yesus ini sebenarnya hendak menekankan bahwa biar bagaimana pun tak ada satu cara pun bagi semua umat manusia untuk keluar dari cengkraman dosa melainkan cara-cara yang justru datangnya dari Tuhan sendiri. Tuhan merasa perlu untuk mengambil tindakan yang amat revolusioner dan sepihak untuk menentukan langkah-langkah penghapusan dosa semua umat manusia secara instant dengan menyatakan pada saat yang bersamaan bahwa tidak mungkin bagi siapa pun dari kalangan umat manusia itu yang pantas untuk masuk ke dalam Neraka.

Dengan demikian Kristen secara normative telah mengadopsi suatu pemahaman bahwa adalah suatu yang amat mutlak untuk menciptakan konsep dosa yang khas: dosa dengan semua pengampunannya hanya berasal dari Tuhan dan harus merupakan inisiatif Tuhan itu sendiri; manusia mana pun tak  mempunyai inisiatif yang merdeka dalam usaha-usaha dalam penghapusan dan pengampunan dosa tersebut. Manusia tak dapat berkorban dan berinisiatif apa-apa untuk dan tentang dosa mereka di depan Tuhan mereka, dan Tuhan dapat. Oleh karena itu nilai dasar (orang-orang) Kristen tentang dosa bukanlah terletak pada usaha-usaha mereka untuk keluar dari Kuasa Dosa dan kemudian agama itu (dalam hal ini adalah Gereja) mengajarkan pengikutnya beberapa hal yang dapat mengeluarkan mereka dari cengkraman dosa tersebut, namun justru hanya terletak pada keputusan dari seseorang untuk percaya pada Yesus dan penyalibannya karena dalam Yesus dan penyalibannya tersebut semua penebusan dosa dan semua usaha untuk keluar dari dosa tersebut telah ditanggung (dijamin). Surga adalah jaminan yang paling tepat atas pemilihan kepercayaan untuk Yesus.

Secara sederhananya dapat dijelaskan, jika Kristen mempercayai bahwa Tuhan telah melakukan suatu tindakan ‘pengorbanan’ untuk semua umat manusia, maka Yesus adalah apa yang dikorbankan Tuhan untuk maksud tersebut. Adalah amat jelas bagi semua orang Kristen bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat diperbuat Tuhan kecuali mengorbankan apa pun jika Tuhan ingin mendapatkan sesuatu atau jika ingin semua umat manusia terbebas dari kejaran dosa dan Neraka. Jika Tuhan tidak mengambil langkah-langkah pengorbanan tersebut (tertentu) dapat dipastikan bahwa suatu hal, maksud, tujuan, atau apa pun tak akan pernah terjadi. Biar bagaimana pun Tuhan dengan pengorbananNya adalah dua hal berbeda yang amat saling identik. Secara fatalistic Kristen mempercayai, bahwa pengorbanan Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuanNya di satu tempat, adalah identik dengan ketidakberdayaanNya di tempat lain.

b.      Islam.

Rangkaian ibadah Qurban –begitu istilah itu dieja secara benar- sebenarnya  dimulai dari kisah Nabi Ibrahim as ketika ia mendapatkan perintah dari Tuhan untuk menyembelih putra satu-satunya yang masih kecil yaitu Ishmail as. Biar bagaimana pun perintah yang berasal dari Tuhan ini seutuhnya adalah hanya untuk menguji keimanan dan ketabahan hati Ibrahim as dalam menjalankan tugas dari Tuhan Yang Maha Esa.  Ibrahim as. sejurus kemudian segera melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keimanan dan kekuatan jiwa untuk menyembelih putra yang sebenarnya amat ia dambakan selama hidupnya. Penggantian yang diberikan Tuhan berupa seekor domba atas tubuh Ishmail as  tepat ketika ujung pisau telah mengenai batang leher Ishmail, benar-benar meyakinkan Ibrahim beserta putranya bahwa Tuhan amat kasih dan lebih dari itu, penggantian Tuhan sebenarnya ingin menyatakan bahwa Ibrahim dan putranya telah berhasil melalui ujian yang maha berat.

Penyerahan diri dan ketaqwaan yang amat agung yang dinyatakan oleh  Ibrahim as dan putranya Ishmail as kepada Tuhan menjadi moment yang amat penting dalam perayaan Idul Qurban (atau biasa juga disebut dengan Idul Adha) yang dirayakan oleh setiap Muslim di seluruh dunia setiap tahun.

Idul Qurban mempunyai keterkaitan yang kuat dengan mental terbaik yang ingin dimiliki oleh setiap Muslim di seluruh dunia mengingat makna yang terdapat dalam perayaan itu benar-benar menggambarkan tujuan yang jelas dari kehidupan beragama yang sejati.

Lebih dari itu, perayaan Idul Qurban sendiri berada pada satu pemikiran yang amat mendasar yang akan mempengaruhi dan ‘membuktikan’ eksistensi dari kemanusiaan itu sendiri. Arti dari dua kata tersebut (Idul Qurban) ke dalam semua bahasa manusia akan dapat menjelaskan tujuan apa sebenarnya yang dapat diuraikan kembali oleh semua umat Muslim. “Idul”, “suatu pengembalian”, “re”, “cyclus” atau “recycle”,  suatu langkah pertama yang melukiskan kesinambungan, suatu agenda yang tak akan habis selama-lamanya. Kata “Qurban” dalam bahasa Arab teruraikan menjadi kata dasar yang berarti “dekat” atau “mendekatkan”; menjadikan Qurban berarti suatu langkah, kesempatan yang dapat diambil untuk mendekatkan seseorang pada tujuan-tujuan tertentu yang ingin diraih. “Sacrifice”, “Qurban” ingin dipahami sebagai objek yang menjadi pilihan untuk dijadikan alasan yang tepat atas tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan tersebut secara mudah dan yang paling memungkinkan.

Idul Qurban, tak pelak lagi akan selalu menjadi refleksi dan kesadaran dari keadaan yang sebenarnya dari suatu ‘takdir’ yang akan terus melekat pada apa pun yang disebut dengan ‘makhluk’: biar bagaimana pun makhluk (termasuk di dalamnya manusia) adalah suatu keadaan, suatu kesadaran yang dalam pencapaian semua tujuannya akan selalu menggunakan dan membutuhkan ‘objek-antara’ yang mendekatkan dia dengan tujuan semula. Sebenarnya, ini merupakan spesifikasi yang paling dasar dari apa pun yang dikatakan sebagai makhluk: makhluk adalah suatu objek yang selalu mempunyai tujuan yang pencapaiannya tidak bisa tidak akan menggunakan objek lain sebagai alat untuk memungkinkannya. Ia membutuhkan harga, energi, yang akan ia gunakan (habiskan) untuk maksud tersebut. Namun jika ada satu oknum yang dalam pencapaian semua tujuannya tidak membutuhkan objek lain untuk mendekatkan dan memungkinkannya berhasil dengan tujuan-tujuan tersebut, maka harus dipastikan bahwa oknum tersebut adalah Tuhan. Dengan demikian, sifat dasar yang melekat erat pada takdir kemakhlukan adalah adanya keinginan dan inisiatif yang mutlak untuk menjadikan objek lain di luar dirinya sebagai alasan dia berhasil dengan ide-idenya.

Terdapat suatu paradox, suatu permasalahan yang akan saling bersinerji dalam takdir kemakhlukan: di  satu pihak ia mempunyai tujuan, dan di pihak lain ia selalu diliputi oleh ketidakmampuannya (kecacadan, ketercelaan, hambatan, kekurangan, kepapaan, ketakberdayaan, kelumpuhan, ketergantungan, ketidakmerdekaan, kepeng-hambaan) untuk mencapai tujuan tersebut. Mau tak mau harus ada satu pembicaraan lagi yang akan membahas adanya satu hal yang akan ditempatkan tepat di tengah paradox tersebut: apa pun (objek) itu yang diputuskan (dipilihkan) maka itu harus dapat secara efektif menghilangkan permasalahan dalam paradox tersebut.  Ini berarti objek tersebut adalah yang akan memungkinkan makhluk tersebut  (yang papa dan selalu terhambat) untuk berhasil dengan rencananya  tersebut. Dalam Islam objek  tersebut disebut dengan Qurban, sesuatu yang mendekatkan suatu makhluk (yang tidak berdaya) dengan tujuannya. Hasil dari sinerji antara kekurangan di satu pihak dan tujuan di pihak lain yang ada pada suatu makhluk mau tak mau akan melahirkan konsep berqurban; Islam menganggapnya demikian.

Sungguh, semua hal yang disebut dengan oknum, baik ia sebagai Khalik (Sang Pencipta) mau pun sebagai makhluk (yang diciptakan) tetap akan mempunyai tujuan, apa pun itu. Tuhan, biar bagaimana pun tak pernah bebas dari rencana, kehendak dan ide. Tuhan dengan keagunganNya adalah Oknum yang selalu dapat memastikan bahwa apa pun yang Ia kehendaki, maka hal itu akan terjadi tanpa ada satu pun yang dapat menghalangiNya.  Ia Yang Maha Berkehendak dan Ia pula Yang Maha Kuasa atas semua kehendakNya tersebut. Ia adalah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna: Ia bebas dari kecacadan, kepenghambaan, keterbelakangan, pengharapan dan ketidakberdayaan.  Selalu dapat dipastikan bahwa Ia tak membutuhkan apa pun untuk Ia korbankan supaya semua ideNya dapat terwujud secara utuh. Ia, adalah Oknum Yang segalanya adalah mudah di tanganNya. Untuk itu Ia tidak merasa perlu untuk berterima kasih kepada apa pun yang telah meluluskan semua kehendakNya. Ia Yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa amat mandiri dengan semua kehendak, rencana dan ide-ideNya. Dengan demikian Islam memandang bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum Yang atas dasar  dan karena Kesempurnaan dan KekuasaanNya tidak akan pernah mengadopsi konsep ber-Qurban untuk rencana apa pun yang Ia miliki.

Ini berarti dan berlaku secara kebalikan bagi makhluk, terlebih manusia. Makhluk apa pun akan selalu dibahas sebagai oknum yang mempunyai segala kekurangan dan ketakberdayaan. Jika ia mutlak mempunyai tujuan, kehendak, maka ini harus berarti bahwa ia mutlak pula akan membutuhkan objek lain yang akan dijadikan qurban sebagai respon  bahwa dirinya selalu diliputi oleh kekurangan yang amat mendasar dan parah.  Peristiwa saling ‘mengkurbankan’ adalah ciri mutlak yang akan diterapkan kepada semua makhluk dalam mencapai tujuan.

Perayaan Idul Qurban (kembali kepada komitmen untuk siap berkorban demi Tuhan) adalah pernyataan kehambaan dan ketakberdayaan di depan tujuan yang maha agung dan berat (ingin mendapatkan Tuhan dan SurgaNya) yang akan selalu diulang dan diperbaharui setiap tahun.  Satu hari dalam satu tahun akan selalu disiapkan untuk mengingatkan semua warga Tuhan bahwa ia akan menjadikan kegiatan berkorban sebagai pandangan hidupnya yang paling mendasar: ia akan berkorban dan mengorbankan apa pun yang ia cintai demi mendapatkan tempat terbaik di mata Tuhan; hanya berkorban yang akan dapat mendekatkan seorang umat kepada Tuhan.

_.:oOo:._

            Iman Kristen selalu menempatkan bahwa Yesus adalah objek yang menjadi pilihan Tuhan untuk dikorbankan bagi dunia untuk mendapatkan kesuciannya kembali. Sementara Islam memandang bahwa berkorban hanya akan menunjukkan bahwa apa pun selama ia adalah makhluk maka ia akan dipenuhi oleh kekurangan yang amat memilukan.

Ini berarti, Islam dan logika akan memandang bahwa berkorban tak akan dilakukan oleh Tuhan atas dasar kesempurnaan dan keagunganNya. Bagi Islam, dikorbankannya Yesus oleh Tuhan Semesta Alam hanya membuktikan pada suatu tempat yang salah bahwa Tuhan akhirnya telah sampai pada satu kekurangan dan ketakberdayaanNya.  Kebajikan akal yang memerintah akan segera menyatakan bahwa jika Islam melembagakan Idul Qurban sebagai moment yang akan selalu mengingatkan bahwa makhluk apa pun akan selalu diliputi oleh kekurangan, maka Kristen dengan Iman Penyalibannya akan menyatakan bahwa Tuhan adalah setakberdaya makhlukNya sendiri. Jika Islam tidak menegaskan  bahwa Tuhan memerlukan untuk berkorban bagi tujuanNya apa pun sehingga itu akan bermakna bahwa Tuhan amat Kuasa, maka itu jelas. Dan jika berkorban berarti membutuhkan,  maka itu akan lebih menegaskan bahwa kisah Tuhan Surga telah memutuskan untuk mengorbankan Yesus adalah bentuk lain dari betapa Tuhan membutuhkan hal lain yang tanpa hal lain tersebut Tuhan tak akan pernah berhasil dengan buah pemikiranNya sendiri, apa pun itu.

            Iman Kristen dalam hal ini berpendirian bahwa perbuatan Tuhan yang mengorbankan putraNya sendiri untuk dijadikan penebus dosa dunia adalah pernyataan dari padaNya bahwa Ia amat Kasih kepada seluruh umat dunia: Tuhan adalah Kasih dan Ia akan mengorbankan apa pun untuk menyatakan KasihNya walau pun itu adalah putraNya sendiri. Namun di pihak lain justru hal itu akan memperkaya kenyataan bahwa sebenarnya Tuhan telah dan akan gagal dalam memastikan bahwa semua tujuanNya akan berhasil secara mandiri, tanpa mengorbankan apa pun.  

            Selayaknya Kasih Tuhan itu tak akan pernah membuat ada pihak lain yang terluka dan sengsara karenanya. Kasih Tuhan justru akan membuat semuanya merasa aman dari marabahaya sekecil apa pun. Kasih Tuhan akan membuat semua ancaman tetap akan berada pada jarak yang aman dari semua umatNya, termasuk Yesus: tidak perlu ada yang harus merasa sakit, menanggung penderitaan, dan berdarah-darah untuk apa pun. Kasih Tuhan akan selalu menjadi ‘penghiburan’ atas semua yang diciptakanNya. Lebih dari itu, untuk tujuan yang besar, memberikan penghiburan yang agung kepada semua umatNya tersebut, maka Tuhan akan melakukan dan memberikannya tanpa ada satu pun yang harus menjadi korban: Ia Maha Kuasa dan Maha Luas KaruniaNya.

            Adalah jelas biar bagaimana pun, bahwa Kasih Tuhan akan selalu dapat memerdekakan siapa pun dari kesakitan dan kesengsaraan. Kasih Tuhan tak akan pernah bernilai marabahaya bagi siapa pun…..

            Dengan demikian, sementara Islam selalu memperhatikan akan adanya kecenderungan untuk selalu berkorban (kenyataan kedua setelah ketidakmampuan, kenyataan yang pertama) sebagai takdir  yang akan selalu melekat pada kemakhlukan yang selalu diperbaharui pada perayaan Idul Qurban,  maka Kristen justru telah menciptakan tradisi pemikiran yang amat berbahaya bagi eksistensi Tuhan. 

            Kasih dan Kuasa Tuhan: KasihNya akan selalu menjadi penghiburan bagi siapa pun  dan tak akan mengakibatkan siapa pun terluka, dan KuasaNya, akan memastikan bahwa Tuhan akan selalu mendapatkan apa pun yang Ia inginkan tanpa ada hambatan. Islam telah selesai dengan permasalahan tersebut. Secara fatal, Kristen tidak.

3 Responses

  1. tu tuhan orang crist klo tak mau umat manusia dikejar dosa ya kagax usah buat neraka biar nggak diisi ma para pendosa.buat sorga aza yar manusia hidup enak and kagax usah ngorbanin anax kesayangannya wat penebusan dosa umat manusia

  2. Betul! di islam wajib untuk berkurban!

  3. Kemasan BUSUK di bungkus jd AJARAN KASIH ..???????

    tuhan Bapa(Yahweh) telah beranak dlm rahim sang maria (istri Yahweh), setelah melahirkan Putranya(Jesus), sang Bapa(yahweh) mengizinkan anaknya untuk di salib sama yahudi beserta bala tentara romawi.

    tujuannnya hanya satu, ingat…hanya satu “hanya untuk menebus dosa-dosa manusia”

    Bapa yahweh memang keterlaluan, kurang ajar, raja tega, hanya alasan kasih pada karosetan hingga mengizinkan karosetan jahudi-rome menangkap hidup2-memantek-menyilet.- menyalib-pediiih-merintih-eli..eli sabaktani.(Beh kenapa Kau tinggalkan aku..???

    dalam kasus tersebut sebagai Istri tuhan(sang Maria yang waras) pasti Protes keras kepada suami(si Babe yahweh), “kenapa Beh.. kok tega banget sih…????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: