Nama Alkitab vs Nama Alquran

Alkitab, secara bahasa berarti ‘buku’. Begitu juga dengan variannya, seperti ‘bible’ yang berarti ‘buku’.

Sementara, Alquran secara bahasa berarti ‘baca’ atau ‘(bahan) bacaan’.

Karena arti dari dua kata itu berbeda, maka berbeda jugalah pemahaman secara psikologisnya.

Alkitab

Alkitab yang berasal dari kata yang berarti ‘buku’ (dan variannya), maka ia menjadi suatu benda yang tidak disertai dengan perintah untuk membacanya. Singkatnya, Allah tidak pernah mengeluarkan perintah resmi kepada umat manusia untuk membaca Alkitab tersebut, karena toh ia hanya sebatas ‘buku’.

Di dalam bahasa Inggris, Alkitab disebut dengan Bible. Bible sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu biblos …. yang berarti ‘buku’.

Dalam bahasa Indonesia, Alkitab kadang disebut dengan istilah Bibel. Filo (20 SM – 50 M) dan Yosefus menyebut Perjanjian Lama sebagai bibloi hiërai. Hieronimus, seorang Bapak Gereja yang disuruh oleh Paus Damasus untuk merevisi Alkitab Latin, berkali-kali menyebut Alkitab dengan nama Biblia yang merupakan kata dari bahasa Latin yang berarti “buku”. Alkitab dalam bahasa Inggris menyebut kitab suci sebagai the Bible, dan dalam bahasa Jerman sebagai die Bibel.
Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Alkitab  – tanggal akses 2 Desember 2010.

Alkitab = tidak ada perintah untuk membacanya.
Harus diingat bahwa kata ‘buku’ di dalam khasanah bahasa termasuk ke dalam kata benda, artinya ‘yang teronggok’ di sana. Artinya, Tuhan hanya BERKEPENTINGAN untuk ‘menaruh’ atau ‘mengonggokkan’ benda itu di sana, di atas Bumi – tanpa ada perintah untuk membacanya. Entah kemudian benda itu akan dibaca, atau diperjual belikan, atau diajarkan, Tuhan tidak akan mempermasalahkannya. Itulah sebabnya mengapa Tuhan menamai benda tersebut dengan ‘Alkitab’ saja.

Oleh karena itu, kalau ada umat manusia yang membaca Alkitab, maka sesungguhnya ia membaca Alkitab itu BUKAN LAH ATAS PERINTAH TUHAN; ia membaca Alkitab itu hanya atas kemauannya sendiri. Semua efek atau akibat dari membaca Alkitab tersebut, maka Allah tidak bertanggung-jawab sama sekali – karena sejak awal Allah memang tidak pernah memerintahkan pekerjaan demikian.

Itulah sebabnya sejarah melihat betapa umat Alkitab (Ahlul Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani) tidak mempunyai tradisi ‘mengaji’ seperti yang dimiliki kaum Muslim di seluruh Dunia. Hal ini tidak lain disebabkan dalam keberagamaan mereka tidak ditemui adanya perintah Tuhan untuk ‘membaca’ kitab suci mereka. Kalau lah mereka mempunyai tradisi mengaji seperti halnya kaum Muslim, maka pasti Dunia arkelogi jaman sekarang ini sudah KEBANJIRAN ‘fosil’ muhsaf Alkitab yang berasal dari berbagai jaman sebelum Isa Almasih, karena begitu banyak nya copy Alkitab yang didistribusikan ke setiap keluarga / rumah setiap negeri-negeri umat Alkitab. Nyatanya, toh para pekerja arkeologi di jaman sekarang tidak menemukan limpahan fosil muhsaf Alkitab dari penggalian-penggalian mereka.

Alkitab = tidak ada tanggungjawab untuk menjaganya.
Plus dengan tidak mengeluarkan perintah baca atas Alkitab ini (karena dilihat dari arti kata Alkitab itu sendiri), maka kemudian dapat difahami bahwa Allah pun juga tidak bertanggung-jawab atas terjadi nya perubahan – perubahan (pemelintiran) yang dilakukan secara liar oleh tangan-tangan jahil. Karena kalau lah Allah bertanggung-jawab atas terjadi nya perubahan / pemelintiran atas Alkitab, maka sama saja Allah secara implicit mengeluarkan perintah baca untuk Alkitab tersebut. Logikanya, dari mana seseorang bisa tahu bahwa suatu teks sudah dipelintir / diubah kalau bukan dari membaca teks tersebut?

Dengan tidak adanya tanggungjawab Allah untuk memelihara Alkitab inilah, maka fakta bahwa Alkitab sudah banyak mengalami perubahan / pemelintiran semakin nyata dan tidak terbantahkan lagi.

Alkitab = tidak ada perintah untuk menuliskannya.
Dus, dengan tidak adanya perintah untuk membaca (dan tanggungjawab untuk memeliharanya dari pengrusakan), maka kemudian pun dapat difahami bahwa Allah pun juga tidak pernah menurunkan perintah untuk MENULISKAN ayat-ayat Alkitab ini. Logikanya, jika suatu teks harus dibaca, maka mau tidak mau harus ada perintah juga untuk menuliskannya.

Secara singkatnya dapat dijelaskan, bahwa TIDAK ADA YANG ISTIMEWA DENGAN ALKITAB INI, mengingat namanya hanya berarti ‘buku’. Maksudnya, ini bisa berarti buku mana saja. Kalau penyebutan ‘buku’ itu berarti Alkitab, maka yang menyebutkannya sedang menggunakan referensi. Benar-benar tidak ada yang istimewa!

Kaum Nashrani menyangkal adanya kitab yang turun dari langit. Mereka hanya mengenal kitab yang mereka klaim telah dikarang oleh para Nabi dan orang-orang yang mereka anggap suci (saint). Padahal para Nabi tak pernah mengarang / menulis sebuah kitab pun. Adapun kitab-kitab dalam Perjanjian Lama itu disusun pada masa pengasingan orang-orang Yahudi di Babilon.

Ulangan 34:5-8 Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.

Dalam ayat-ayat di atas, kita dapat melihat jelas bahwa penyusun Taurat yang dipegang kaum Nashrani saat ini bukanlah Nabi Musa dan tidak didasarkan kepada Taurat yang diterima Nabi Musa dari Allah. Namun mereka mengambil sebagian dari Taurat lalu mengubah sebagiannya, menambah sebagian, dan menghilangkan sebagian yang lain.

Memang faktanya ada mushaf Alkitab, yang artinya kitab itu ada karena DITULIS oleh beberapa orang (yang dipercaya sebagai Nabi / Rasul). Misalnya Habakuk menulis kitab Habakuk di dalam Alkitab, Amos menulis kitab Amos di dalam Alkitab, dan lain lain. Namun harus diingat, bahwa Alkitab itu sendiri tidak memuat ayat yang memerintahkan Nabi-Nabi tersebut untuk menuliskan kitab-kitab tersebut. Jadi dengan kata lain, dapat dikatakan, bahwa jika Nabi Sulaiman menuliskan kitab Kidung Agung misalnya, maka Sulaiman menuliskannya itu hanya atas inisiatifnya sendiri, bukan karena mendapat perintah dari Tuhan.

Alquran
Sementara itu, Alquran yang berasal dari kata yang berarti ‘baca’ maka ia menjadi kata kerja, dan lebih tepat lagi, kata perintah. Baca di dalam khazanah bahasa termasuk ke dalam jenis kata kerja, dan dengan demikian menjadi kata perintah. Artinya, ketika Allah menurunkan Alquran itu ke Bumi, maka turunnya itu mau-tidak-mau disertai dengan perintah untuk membacanya. Allah tidak saja ‘menaruh’ atau ‘mengonggokkan’ Alquran itu di muka Bumi, namun lebih dari itu, Allah kemudian mewajibkan semua umat manusia untuk membaca Alquran tersebut: tidak lah Allah Swt menurunkan Alquran itu ke Bumi ini kecuali untuk dibaca oleh segenap manusia yang beriman, tidak seperti nasib Alkitab.

Itulah sebabnya, ayat pertama dari Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah ayat yang berbunyi ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu….”. Pun, kemudian Muhammad Saw mengajarkan bahwa semua Muslim hendaklah mengaji alias membaca Alquran ini secara berkala dan dengan penuh takzim dah hikmat. Alquran sendiri pun menamakan dirinya dengan sebutan Alquran juga. Jadi jelas, penamaan Alquran ini memang berasal dari Allah Swt sendiri.

Dengan demikian turunnya Alquran menjadi tanda bahwa manusia sudah mulai dianggap sebagai manusia, karena kemampuan intelektualnya ‘sudah dianggap’ oleh Allah, buktinya sudah diminta dan diperintahkan oleh Allah untuk ‘membaca’. Berbeda dengan Alkitab yang diturunkan kepada umat manusia pra Muhammad Saw yang tidak disertai dengan perintah untuk membacanya.

Akhir kata, dengan terdapatnya perbedaan yang amat mendasar antara takdir Alkitab dan takdir Alquran, maka sudah jelas sekarang bahwa nasib Dunia ditentukan oleh umat manusia yang membaca Alquran atau tidak. Manusia membaca Alquran atau tidak lah yang akan menentukan nasib Dunia ini. Nasib Dunia tidak terletak pada membaca atau tidak membaca Alkitab, karena Alkitab sendiri bukan lah suatu kitab yang berarti ‘diperintahkan untuk membacanya’, mengingat Alkitab hanya berarti ‘suatu benda berupa buku yang teronggok di suatu tempat’.

Yang lebih penting lagi adalah, buat apa manusia masih juga membaca Alkitab? Bukan kah sejak awal Tuhan tidak pernah memberikan perintah untuk membaca Alkitab tersebut? Dan kebalikannya, kalau kita membaca Alquran, maka pekerjaan itu jelas mengingat perintah untuk membacanya memang sudah datang dari Tuhan sendiri. Apalagi Alquran itu sendiri berarti BACALAH!!!

10 Responses

  1. Tadinya saya mau menunjukan kepada anda kesilapan akan tulian anda di atas, tapi setelah membaca bagian lain dr web ini,maka saya batalkan.
    Semoga anda diberi pengertian dan terang.
    Kalau ya, boleh berbincang kalau tidak anggap ini tidak ada.

  2. terima kasih atas koment anda.

    sebaiknya anda ungkapkan saja isi hati anda mengenai artikel saya ini, mau pun artikel lainnya. itu akan menjadi kebaikan kita semua.

    dengan berbincang, semoga saya tahu bhw saya salah, atau anda tahu bahwa anda salah.

    lebih lanjut, anda tulis, MENUNJUKKAN KESILAPAN ANDA..

    kesilapan? (kesalahan?)

    bagian yg mana yg salah?? coba dijelaskan kepada saya. saya berhak utk mengetahui kesalahan saya.

    terima kasih.

    • Alkitab, secara bahasa berarti ‘buku’. Begitu juga dengan variannya, seperti ‘bible’ yang berarti ‘buku’.

      Sementara, Alquran secara bahasa berarti ‘baca’ atau ‘(bahan) bacaan’.

      Karena arti dari dua kata itu berbeda, maka berbeda jugalah pemahaman secara psikologisnya.

      Alkitab

      Alkitab yang berasal dari kata yang berarti ‘buku’ (dan variannya), maka ia menjadi suatu benda yang tidak disertai dengan perintah untuk membacanya. Singkatnya, Allah tidak pernah mengeluarkan perintah resmi kepada umat manusia untuk membaca Alkitab tersebut, karena toh ia hanya sebatas ‘buku’.

      Di dalam bahasa Inggris, Alkitab disebut dengan Bible. Bible sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu biblos …. yang berarti ‘buku’.

      Dalam bahasa Indonesia, Alkitab kadang disebut dengan istilah Bibel. Filo (20 SM – 50 M) dan Yosefus menyebut Perjanjian Lama sebagai bibloi hiërai. Hieronimus, seorang Bapak Gereja yang disuruh oleh Paus Damasus untuk merevisi Alkitab Latin, berkali-kali menyebut Alkitab dengan nama Biblia yang merupakan kata dari bahasa Latin yang berarti “buku”. Alkitab dalam bahasa Inggris menyebut kitab suci sebagai the Bible, dan dalam bahasa Jerman sebagai die Bibel.
      Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Alkitab – tanggal akses 2 Desember 2010.

      Alkitab = tidak ada perintah untuk membacanya.
      Harus diingat bahwa kata ‘buku’ di dalam khasanah bahasa termasuk ke dalam kata benda, artinya ‘yang teronggok’ di sana. Artinya, Tuhan hanya BERKEPENTINGAN untuk ‘menaruh’ atau ‘mengonggokkan’ benda itu di sana, di atas Bumi – tanpa ada perintah untuk membacanya. Entah kemudian benda itu akan dibaca, atau diperjual belikan, atau diajarkan, Tuhan tidak akan mempermasalahkannya. Itulah sebabnya mengapa Tuhan menamai benda tersebut dengan ‘Alkitab’ saja.

      Oleh karena itu, kalau ada umat manusia yang membaca Alkitab, maka sesungguhnya ia membaca Alkitab itu BUKAN LAH ATAS PERINTAH TUHAN; ia membaca Alkitab itu hanya atas kemauannya sendiri. Semua efek atau akibat dari membaca Alkitab tersebut, maka Allah tidak bertanggung-jawab sama sekali – karena sejak awal Allah memang tidak pernah memerintahkan pekerjaan demikian.

      Itulah sebabnya sejarah melihat betapa umat Alkitab (Ahlul Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani) tidak mempunyai tradisi ‘mengaji’ seperti yang dimiliki kaum Muslim di seluruh Dunia. Hal ini tidak lain disebabkan dalam keberagamaan mereka tidak ditemui adanya perintah Tuhan untuk ‘membaca’ kitab suci mereka. Kalau lah mereka mempunyai tradisi mengaji seperti halnya kaum Muslim, maka pasti Dunia arkelogi jaman sekarang ini sudah KEBANJIRAN ‘fosil’ muhsaf Alkitab yang berasal dari berbagai jaman sebelum Isa Almasih, karena begitu banyak nya copy Alkitab yang didistribusikan ke setiap keluarga / rumah setiap negeri-negeri umat Alkitab. Nyatanya, toh para pekerja arkeologi di jaman sekarang tidak menemukan limpahan fosil muhsaf Alkitab dari penggalian-penggalian mereka.

      Alkitab = tidak ada tanggungjawab untuk menjaganya.
      Plus dengan tidak mengeluarkan perintah baca atas Alkitab ini (karena dilihat dari arti kata Alkitab itu sendiri), maka kemudian dapat difahami bahwa Allah pun juga tidak bertanggung-jawab atas terjadi nya perubahan – perubahan (pemelintiran) yang dilakukan secara liar oleh tangan-tangan jahil. Karena kalau lah Allah bertanggung-jawab atas terjadi nya perubahan / pemelintiran atas Alkitab, maka sama saja Allah secara implicit mengeluarkan perintah baca untuk Alkitab tersebut. Logikanya, dari mana seseorang bisa tahu bahwa suatu teks sudah dipelintir / diubah kalau bukan dari membaca teks tersebut?

      Dengan tidak adanya tanggungjawab Allah untuk memelihara Alkitab inilah, maka fakta bahwa Alkitab sudah banyak mengalami perubahan / pemelintiran semakin nyata dan tidak terbantahkan lagi.

      Alkitab = tidak ada perintah untuk menuliskannya.
      Dus, dengan tidak adanya perintah untuk membaca (dan tanggungjawab untuk memeliharanya dari pengrusakan), maka kemudian pun dapat difahami bahwa Allah pun juga tidak pernah menurunkan perintah untuk MENULISKAN ayat-ayat Alkitab ini. Logikanya, jika suatu teks harus dibaca, maka mau tidak mau harus ada perintah juga untuk menuliskannya.

      Secara singkatnya dapat dijelaskan, bahwa TIDAK ADA YANG ISTIMEWA DENGAN ALKITAB INI, mengingat namanya hanya berarti ‘buku’. Maksudnya, ini bisa berarti buku mana saja. Kalau penyebutan ‘buku’ itu berarti Alkitab, maka yang menyebutkannya sedang menggunakan referensi. Benar-benar tidak ada yang istimewa!

      Kaum Nashrani menyangkal adanya kitab yang turun dari langit. Mereka hanya mengenal kitab yang mereka klaim telah dikarang oleh para Nabi dan orang-orang yang mereka anggap suci (saint). Padahal para Nabi tak pernah mengarang / menulis sebuah kitab pun. Adapun kitab-kitab dalam Perjanjian Lama itu disusun pada masa pengasingan orang-orang Yahudi di Babilon.

      Ulangan 34:5-8 Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.

      Dalam ayat-ayat di atas, kita dapat melihat jelas bahwa penyusun Taurat yang dipegang kaum Nashrani saat ini bukanlah Nabi Musa dan tidak didasarkan kepada Taurat yang diterima Nabi Musa dari Allah. Namun mereka mengambil sebagian dari Taurat lalu mengubah sebagiannya, menambah sebagian, dan menghilangkan sebagian yang lain.

      Memang faktanya ada mushaf Alkitab, yang artinya kitab itu ada karena DITULIS oleh beberapa orang (yang dipercaya sebagai Nabi / Rasul). Misalnya Habakuk menulis kitab Habakuk di dalam Alkitab, Amos menulis kitab Amos di dalam Alkitab, dan lain lain. Namun harus diingat, bahwa Alkitab itu sendiri tidak memuat ayat yang memerintahkan Nabi-Nabi tersebut untuk menuliskan kitab-kitab tersebut. Jadi dengan kata lain, dapat dikatakan, bahwa jika Nabi Sulaiman menuliskan kitab Kidung Agung misalnya, maka Sulaiman menuliskannya itu hanya atas inisiatifnya sendiri, bukan karena mendapat perintah dari Tuhan.

      Alquran
      Sementara itu, Alquran yang berasal dari kata yang berarti ‘baca’ maka ia menjadi kata kerja, dan lebih tepat lagi, kata perintah. Baca di dalam khazanah bahasa termasuk ke dalam jenis kata kerja, dan dengan demikian menjadi kata perintah. Artinya, ketika Allah menurunkan Alquran itu ke Bumi, maka turunnya itu mau-tidak-mau disertai dengan perintah untuk membacanya. Allah tidak saja ‘menaruh’ atau ‘mengonggokkan’ Alquran itu di muka Bumi, namun lebih dari itu, Allah kemudian mewajibkan semua umat manusia untuk membaca Alquran tersebut: tidak lah Allah Swt menurunkan Alquran itu ke Bumi ini kecuali untuk dibaca oleh segenap manusia yang beriman, tidak seperti nasib Alkitab.

      Itulah sebabnya, ayat pertama dari Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah ayat yang berbunyi ‘Bacalah dengan nama Tuhanmu….”. Pun, kemudian Muhammad Saw mengajarkan bahwa semua Muslim hendaklah mengaji alias membaca Alquran ini secara berkala dan dengan penuh takzim dah hikmat. Alquran sendiri pun menamakan dirinya dengan sebutan Alquran juga. Jadi jelas, penamaan Alquran ini memang berasal dari Allah Swt sendiri.

      Dengan demikian turunnya Alquran menjadi tanda bahwa manusia sudah mulai dianggap sebagai manusia, karena kemampuan intelektualnya ‘sudah dianggap’ oleh Allah, buktinya sudah diminta dan diperintahkan oleh Allah untuk ‘membaca’. Berbeda dengan Alkitab yang diturunkan kepada umat manusia pra Muhammad Saw yang tidak disertai dengan perintah untuk membacanya.

      Akhir kata, dengan terdapatnya perbedaan yang amat mendasar antara takdir Alkitab dan takdir Alquran, maka sudah jelas sekarang bahwa nasib Dunia ditentukan oleh umat manusia yang membaca Alquran atau tidak. Manusia membaca Alquran atau tidak lah yang akan menentukan nasib Dunia ini. Nasib Dunia tidak terletak pada membaca atau tidak membaca Alkitab, karena Alkitab sendiri bukan lah suatu kitab yang berarti ‘diperintahkan untuk membacanya’, mengingat Alkitab hanya berarti ‘suatu benda berupa buku yang teronggok di suatu tempat’.

      Yang lebih penting lagi adalah, buat apa manusia masih juga membaca Alkitab? Bukan kah sejak awal Tuhan tidak pernah memberikan perintah untuk membaca Alkitab tersebut? Dan kebalikannya, kalau kita membaca Alquran, maka pekerjaan itu jelas mengingat perintah untuk membacanya memang sudah datang dari Tuhan sendiri. Apalagi Alquran itu sendiri berarti BACALAH!!!

  3. akhirnya ada juga contoh makhluk yang mendukung kalo teori Darwin itu benar.

    untung ade elu, tong

  4. (1)

    akhirnya ada juga contoh makhluk yang mendukung kalo teori Darwin itu benar.

    untung ade elu, tong

  5. islamshit, on March 18, 2011 at 5:38 am said:

    (1)

    akhirnya ada juga contoh makhluk yang mendukung kalo teori Darwin itu benar.

    untung ade elu, tong

    saya menerima posting seperti ini atas nama id @islamshit ini sebanyak 33 kali. kesemua isinya sama.

    mungkin dia tidak mempunyai akal yg cukup untuk menjawab artikel saya ini. yang dia punya hanya fanatik buta thd agamanya yaitu karosetan, shg itu mengakibatkan kebencian thd islam yg dia sendiri pun tidak dapat menjelaskannya…..

    saya turut bersedih …..

  6. (3)

    seekor babi aja tau, jika ada 2 hal yang sama atau mirip. maka yang belakangan pasti ngejiplak.

    yang plagiat pantes bersedih …..

    note: sayang, harusnya ini tidak perlu diutarakan.

    • islamshit, on March 18, 2011 at 12:42 pm said:
      seekor babi aja tau, jika ada 2 hal yang sama atau mirip. maka yang belakangan pasti ngejiplak.

      yang plagiat pantes bersedih …..

      note: sayang, harusnya ini tidak perlu diutarakan

      saya menerima posting seperti ini atas nama id @islamshit ini sebanyak 33 kali. kesemua isinya sama.

      mungkin dia tidak mempunyai akal yg cukup untuk menjawab artikel saya ini. yang dia punya hanya fanatik buta thd agamanya yaitu karosetan, shg itu mengakibatkan kebencian thd islam yg dia sendiri pun tidak dapat menjelaskannya…..

      saya turut bersedih …..

  7. Artikel yg konyol bin bodoh . Siapa yg namain ayat2 karangan Muhammad itu quran ? Muhammad jelas bukan apalagi alloh yg eksistensinya aja cuma kata setan goa hira .
    Muhammad aja sampe mati keracunan ga pernah nyuruh orang ngumpulin ayat2 karangannya itu , apalagi dibukakn dan disuruh baca.

    Yg nulis artikel ini super oon , ajarannya sendiri ha ngerti tapi dengan pd-nya ngebahas kitab org lain.

    YHWH adalah Tuhan Israel yg disembah Musa dan seluruh nabi Israel jelas2 berkehendak dan mengilhami para nabi utk. menulis perbuatan2Nya yg maha dahsyat dan hukum2nya untuk dipelajari oleh umatnya. Kalo ada yg bilang sebaliknya bisa disebut orang bebal bin bodoh !!

    Artikel ini seperti.juga semua aetikel si ISLAMTHIS adalah LELUCON dan layak di ketawain aja

    WAKAKAKAKA

    • itu, kitab yang dipakai karangan Barnabas, mungkin

      Saya beberkan kebusukan Islam…..
      Pertentangan dalam Quran..??
      Keyakinan muslim, Al’Quran adalah kitab yg sempurna (tidak ada kesalahan di dalamnya). Tapi semakin jauh mempelajarinya saya semakin bingung, karena banyak ayat2 yg saling bertentangan. Adakah saudara2 muslim yg pintar2 bisa menjelaskan nya.?
      1. Dalam QS 41:9-12, dikatakan bumi dan langit diciptakan dalam delapan masa, tapi dalam Qs 7:54 dan QS 11:7, dikatakan bumi dan langit diciptakan dalam enam masa. Mana yg benar nieh 8 atau 6 masa..?
      2. Quran bersaksi Nabi Nuh beserta keluarganya di selamatkan (QS 21:76), tapi di ayat lain justru bertentangan dan menyatakan anak Nabi Nuh ikut tenggelam (QS 11:43). Jadi mana yg benar, anak Nuh selamat atau ikut tenggelam..??
      3. Keyakinan muslim, nabi Isa tidak mati tetapi yg disalib adalah orang yg diserupakan (QS 4:157), tetapi di ayat-ayat lain dengan jelas dan tegas dikatakan nabi Isa mati dan dibangkitkan (QS 19:33, QS 3:55) . Mana yg benar nieh Isa mati atau tidak mati..??
      4. Quran melarang minum khamar karena itu perbuatan syaitan (QS 5:90, QS 2:219), tetapi diayat lain justru disebutkan pesta khamar di Surga (QS 16:67, QS 83:25, QS 47:15). Mana yg benar bro..??
      5. Semua muslim tau, ketika sembayang harus menghadap Kiblat (QS 2:144), tetapi ada ayat lain yg mengatakan kemanapun menghadap tidak masalah, karena timur dan barat kepunyaan Allah (QS 2:115). Bagaimana penjelasan dari pertentangan ini.?
      6. Quran mengatakan tidak ada paksaan untuk masuk Islam (QS 2:256). Tapi di ayat lain diperintahkan untuk memaksa orang2 masuk islam bila perlu dengan kekerasan /memeranginya (QS 9:5, QS 9:29). Mana yg benar..??
      7. Al’Quran bersaksi janji Allah itu tetap dan tidak berubah, tetapi di ayat lain justru menunjukkan Allah dapat mengganti / menghapuskan (nasakh/mansukh) wahyu Nya (QS 2:106). Persoalan yang sangat prinsip, Allah Yang Maha Tahu tidak berdaya memprediksi apa yang akan terjadi di hari kemudian, sehingga perlu melakukan tambal-sulam pada firman Nya. (masih banyak lagi2 ayat yg saling-bertentangan).
      Agak sulit untuk menerima kitab yang dikatakan kitab penyempurna, jika terdapat banyak ayat-ayat yang bertentangan satu dengan lainnya.
      Seseungguhnya, Allah yang sejati adalah Allah yang teguh pendiriannya dan konsisten dalam menyampaikan wahyunya. Dan ketetapan / hukum Allah kekal adanya. Firman Allah adalah sempurna, karena itu isinya pasti tidak akan bertentangan satu sama lainnya. Jika ada yang saling bertentangan, tentunya itu bukan Firman Allah.
      (QS 4:82) berkata : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.
      Semoga ada saudaraku muslim yg mau menjelaskan dengan bahasa yg lugas (mudah diterima akal), argumentatif (tidak asbun), dan santun tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: