Toleransi dan Fitnah

by HABIB RIZIEQ FPI

>>on Wednesday, September 22, 2010 at 11:00am.

Hari-hari ini media nasional dengan sangat keras membela HKBP dengan menggunakan idiom kebebasan beragama, pluralisme, dan hak-hak asasi manusia. Media-media yang dikuasai dan dikendalikan golongan Nashrani, dengan menggunakan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yang se-ideologi, berkolaborasi menekan pemerintah agar mencabut SKB. SKB Menag dan Mendagri mereka anggap sebagai belenggu terhadap kebebasan beragama, pluralisme, dan hak-hak asasi manusia.

Mereka-mereka yang berbicara tentang kebebasan beragama, pluralisme, toleransi, dan hak-hak asasi manusia, seharusnya mereka juga sepadan melihat apa yang dialami umat Islam di berbagai belahan bumi, termasuk di tanah air Indonesia.

Kalau berbicara kebebasan beragama, pluralisme, toleransi, dan hak-hak asasi manusia, layakkah pemerintah di negara-negara Eropa melarang wanita-wanita muslim menggunakan hijab dan cadar, yang pakaian itu digunakan dibadan mereka sendiri, dan tidak menganggu orang lain. Hijab dan cadar digunakan di kepala wanita-wanita muslim, bukan dipaksanakan untuk kepala atau anggota badan golongan di luar Islam. Kenyataannya negara-negara Erapa melarang penggunaan hijab dan niqab, di mana hijab dan niqab itu bagian dari aturan dalam Islam, yang tujuannya menjaga aurat, agar tidak nampak oleh orang lain yang bukan muhrimnya.

Di negara-negara Barat mendirikan masjid dan mushala tidak mudah. Ini terjadi di semua negara Barat, yang sudah menganut dan menjunjung adanya kebebasan, demokrasi, pluralisme, hak-hak asasi manusia. Tetap saja semua yang menjadi keyakinan umat Islam, tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan, dan mendapat larangan . Jika memang menjunjung tinggi prinsip kebebasan, demokrasi, pluralisme dan hak-hak asasi, berikan ruang bagi umat Islam di Barat, agar mereka hidup sesuai dengan keyakinanl mereka.

Hak beragama merupakan hak dasar setiap individu. Tetapi, tetap saja negara-negara Barat tidak memberikan toleransi kepada penduduk yang menganut agama Islam. Di negara-negara Barat, bukan hanya larangan pembangunan masjid, tetapi juga masjid-masjid dilarang mengumandangkan azan dengan menggunakan pengeras suara. Bukan hanya itu, faktanya tetap saja terjadi diskriminasi dan segregasi disejumlah negara di Barat, yang membuat masyarakat muslim, tetap menjadi masyarakat kelas dua, dan aktivitas mereka dibatasi. Umat Islam tidak dapat bergerak dengan bebas dan leluasa.

Apalagi, sesudah terjadi peristiwa 11 September, setiap gerak dan aktivitas muslim selalu dicuragai. Padahal sampai hari ini tidak pernah dibuktikan siapa pelaku yang sejatinya. Tuduhan-tuduhan terhadap Islam sebagai pelakunya hanyalah asumsi belaka.

Kemudian, lebih jauh lagi, apa dosa dan kesalahan kaum muslimin di Bosnia, khususnya di Sebrenica dibantai? Ribuan muslim di wilayah itu dibantai secara biadab dan brutal oleh rejim Ortodok di Serbia. Satu-satunya kesalahan yang mereka perbuat, tak lain , karena mereka beragama Islam. Mereka memeluk agama Islam. Tidak memilih beragama Kristen Ortodok seperti orang-orang Serbia.

Apa dosa kaum muslimin rakyat di Iraq, Afghanistan, Pakistan dan Palestina harus dihancurkan, dan tidak mendapatkan kepedulian sedikitpun. Perang yang begitu brutal dan sangat mengerikan, hanya dipicu Afghanistan dipimpin oleh Mullah Omar, dan ingin melaksanakan syariah Islam. Karena, setiap muslim pasti dituntut menegakkan agama Islam. Lalu, rakyat Iraq, Afghanistan, Pakistan dan Palestina dihukum secara kolektif, dan kehidupan mereka dihancurkan secara sistematis. Tidak ada belas kasihan sedikit pun terhadap mereka yang sudah dihancurkan itu.

Lalu, mengapa mereka masih berbicara tentang kebebasan beragama, pluralisme, toleransi, dan hak-hak asasi manusia. Mengapa rakyat di negeri-negeri Muslim tidak dibiarkan mereka melaksanakan agamanya sesuai dengan keyakinan yang mereka miliki? Mereka harus dihancurkan, diperangi dengan senjata, di sebut sebagai teroris.

Anak-anak kehilangan orang tua, isteri kehilangan suami, semua keluarga tercerai-beraikan, dan menjadi hancur masa depan mereka. Inilah sebuah tragedi kemanusiaan diabad 21 ini, yang semuanya didalangi rejim-rejim Barat, yang didukung kaum Ortodok, yang secara sadar harus bertanggungjawab atas situasi yang ada sekarang ini .

Memang tidak mungkin menyatukan dalam sebuah kehidupan antara golongan Islam dan Nashrani. Karena mereka memiliki prinsip dan karakter yang berbeda. Ibaratnya seperti minyak dan air. Di wilayah muslim minoritas di Indonesia, yang dialami kaum muslimin juga sama. Apakah umat Islam di Bali bebas mendirikan masjid? Azan menggunakan pengeras suara dilarang. Kaum muslimin harus dipaksa mengikuti hari ‘nyepi’.

Sudah sejak awal Orde Baru, ketika Soeharto mulai berkuasa, sudah diupayakan membuat kode etik penyebaran agama. Tujuan agar tidak terjadi konflik atau ‘perang’ antar agama. Karena, dampaknya akan pecahnya Republik ini. Tetapi, setiap kali usaha-usaha membuat formula kode etik penyebaran, ujungnya selalu ditolak oleh golongan Nashrani.

Mereka tidak ingin diatur dan dibatasi dalam gerak mereka, khususnya dalam menyebarkan agama mereka. Mereka menganggap bahwa mayoritas bangsa Indonesia masih belum beragama, atau ‘abangan’. Maka golongan Nashrani menggiatkan penyebaran agama mereka, karena ini bagian dari misi ‘Penginjilan’, dan menganggap umat sebagai ‘domba-domba’ yang harus diselamatkan.

Jika terjadi ketegangan sepanjang pemerintahan Soeharto antara golongan Islam dengan Nashrani, tak lain, akibat terjadinya ketidak adilan. Apalagi, sesudah sejumlah pejabat militer yang beragama Nasrani, seperti Jendral Panggabean, Laksamana Soedomo, Jendral Beny Murdani, dan sejumlah pejabat lainnya, kala itu dengan adanya berbagai isu, seperti dibuat kisah-kisah yang ‘menyeramkan’ antara lain Komando Jihad, Teror Warman, dan kasus Talangsari (Lampung), Priok, dan sejumlah kasus lainnya, semakin membuat golongan tersudut, dan terpinggirkan.

Apalagi, ketika muncul adanya dokumen Pater Beek, yang membuat skenario, di mana ada dua ‘iblis’ (two devils), yaitu ‘dua hijau’, tentara dan umat Islam. Keduanya jangan sampai bersatu dan harus dipisahkan. Maka, melalui para jendral ‘abangan’ yang menjadi Aspri Soeharto, seperti Ali Moertopo dan Soedjono Humardani, golongan Islam dihancurkan dan dilumpuhkan secara politik dan ekonomi, dan konsep ideologis-politik dimasukkan oleh Pater Beek melalui lembaga CSIS, yang dipimpin oleh Ali Moertopo dan Soedjono Humardani yang melahirkan adanya ‘tirani minoritas’, di mana golongan Nashrani sangat menentukan segala aspek kebijakan negara.

Sekarang mereka melalui media seperti koran dan majalan di tingkat nasional serta telivisi, yang sudah menjadi bagian dari jaringan kalangan Nashrani ini, melakukan pressure yang kuat, agar SKB Menteri Agama dan Mendagri itu dicabut. Karena golongan Nashrani menganggap adanya SKB itu melanggar hak asasi dan prinsip pluralisme. Melaksanakan ibadah merupakan hak setiap warga negara. Pressure itu juga dilakukan LSM, yang menjadi pendukung HKBP, yang terus menyuarakan pencabutan SKB. Mereka membuat gerakan dalam bentuk aksi, tulisan, opini, dan lobi-lobi politik.

Karena kerasnya tekanan dari golongan Nashrani, tak kurang pemerintah melalui Menko Polhukam Joko Suyanto sudah menegaskan akan merevisi SKB. Sejatinya isi SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 8/2006 dan No 9/2006, memuat pedoman pelaksanaan tugas kepala daerah atau wakil kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pendirian rumah ibadah, yang ketentuannya antara lain :

  • Pendirian rumah ibadah dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketentaraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundangan-undangan.
  • Pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung.
  •  Pendirian rumah ibadah juga hrus memenuhi persyaratan khusus meliputi:

 

  1. Daftar nama dan KTP pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disyahkan pejabat setempat sesuai tingkat batas wilayah.
  2. Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa.
  3. Rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota, dan @dRekomendasi tertulis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten/kota. FKUB terdiri atas pemuka-pemuka agama setempat.
  • Permohonan pendirian rumah ibadah diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadah kepada bupati/walikota untuk memperoleh IMB rumah ibadah. Keputusannya paling lambat 90 hari sejak permohonan diajukan.

Menurut Slamet Effendy Yusuf Ketua MUIBidang Kerukunan Umat Beragama, “Konsensus saat ini, 90/60, adalah jalan tengah”, ucapnya. Slamet meminta semua fihak memahami bahwa kesulitan pendirian rumah ibadah bukan monopoli non-Mulsim. Umat Islam di wilayah minoritas Muslim, seperti di Papua, Sulawesi Utara, Bali, dan wilayah lainnya juga mengalami.

Selanjutnya, angka 90/60 itu, adalah kesepakatan majelis-majelis agama yang disepakati pemerintah. Jadi kalau hendak direvisi mutlak harus melibatkan semua fihak. Mencapai konsensus baru perkara yang mudah, tambah Slamet.

( Moderator dari Berbagai Sumber )

|P|e|n|u|t|u|p|

Hayoo …!

Hayooo orang karoSetan!

Buktikan bahwa agama dan umat karoSetan adalah umat yang cinta damai dan penuh dengan toleransi kepada umat lain!! Mengapa di artikel ini dijelaskan secara gamblang bahwa umat dan agama karoSetan sangat bengis terhadap umat Muslim ketika umat Muslim itu menjadi minoritas di negeri mereka sendiri??

Mengapa orang karoSetan sering menuduh kaum Muslim sebagai elemen yang selalu melarang kebebasan kaum karoSetan untuk beribadah, sementara mereka sendiri sebagai mayoritas tidak pernah memberikan penghormatan yang semestinya kepada kaum Muslim yang minoritas??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: