Adam-story Bag 11

Pada tahun 1945, bom nuklir meledak di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Bencana yang ditimbulkannya benar-benar tidak dapat dilukiskan oleh bahasa mana pun. Apakah ada hubungan antara bom nuklir di kedua kota tersebut dengan pembahasan tentang Ka’bah ini?

Penutup.

Secara khususnya peristiwa Ka’bah yang menumpas Raja Abrahah dengan Balatentaranya mempunyai makna yang khas. Apa yang membuat Tuhan hanya menumpas Abrahah di depan Ka’bahNya bukan lah karena Abrahah ingin menghancurkan Ka’bah. Sebenarnya ada teori lain mengenai hal itu.

Apa yang diinginkan Abrahah adalah hanya sebatas menggeser hati manusia dari Ka’bah kepada yang lain. Lebih tepatnya, Abrahah ingin menggeser setiap jiwa, setiap hati menjauh dari Ka’bah. Termasuk di dalam hal ini adalah menghalang-halangi manusia yang hendak bergerak ke Ka’bah. Orang – orang yang ingin memalingkan hati manusia menjauh dari Ka’bah akan menghadapi konsekwensi dari Tuhan sang Ka’bah. Dan konsekwensi itu begitu dahsyatnya.

Di tahun 1940 Balatentara Jepang merebut banyak Negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Walau pun pendudukan Jepang itu hanya bersifat politis, namun secara praktek Jepang memaksa semua penduduk di wilayah yang mereka kuasai untuk bersujud ke arah matahari terbit, atau di dalam hal ini kepada kaisar Jepang. Untuk kebanyakan penduduk di Asia Tenggara yang adalah Muslim, sujud ke yang selain Allah adalah jelas haram. Namun Balatentara Jepang tidak memberikan pilihan lain kepada penduduk di Indonesia kala itu kecuali bersujud ke arahh matahari terbit atau mendapatkan hukuman fisik yang begitu keras. Praktis banyak kaum Muslim kala itu yang tidak mempunyai pilihan lain kecuali bersujud ke matahari terbit di bawah paksaan Balatentara Jepang. Kondisi ini berlangsung sudah demikian lama.

Sebagai Muslim, kita tahu bahwa Muslim hanya lah rukuk dan sujud ke arah Ka’bah di Mekah. Namun kekuatan setan yang bernama Jepang  telah melarang Muslim untuk bersujud ke arah sana, dan menggantinya dengan sujud ke arah matahari terbit. Hal ini sudah cukup bagi Tuhan untuk mengambil tindakan penuh atas Balatentara Jepang yang di luar batas tersebut.

Sejarah menulis bahwa dua pesawat pembom Amerika melintas tinggi di atas kota Hiroshima dan Nagasaki: kedua pesawat tempur itu membom kedua kota tersebut dengan bom nuklir. Di lihat dari sudut pandang sejarah kita tahu bahwa Jepang harus dihukum oleh Amerika karena Jepang telah menyerang Pearl Harbor, di Hawaii. Meski berita itu memang benar adanya, namun ada satu pertanyaan: apakah harus bagi Amerika untuk memaksa Jepang menerima hukuman tersebut dengan bom nuklir, membakar seantero dua kota dan membunuh ribuan nyawa yang tidak berdosa sama sekali? Kedua, mengapa Dunia tidak berreaksi negative menentang Amerika atas pembantaian ribuan warga Jepang, mengingat peristiwa itu adalah pembantaian terbesar sepanjang sejarah? Ingat, sejarah ini menyangkut dua kota dan dua Neraka yang amat mengerikan.

Tuhan memang telah mentakdirkan sesuatu atas Jepang karena Negeri ini telah merencanakan untuk memalingkan semua jiwa yang berdiam di Asia Tenggara dari Ka’bah kepada sesuatu yang lain dengan menggunakan paksaan dan penyiksaan. Kalau lah seandainya Jepang hanya memaksa kaun non Muslim untuk bersujud ke arah matahari terbit, mungkin hal itu tidak akan menjadi masalah bagi Tuhan. Namun sungguh mereka semua yang dipaksa oleh tentara Jepang untuk bersujud ke matahari terbit itu adalah kaum Muslim; hati mereka sebenarnya hanya tertambat ke Ka’bah.

Tuhan, dengan ‘ImplementasiNya yang tidak Terlihat’ telah menggerakkan orang orang Amerika untuk menerbangkan pesawat tempurnya untuk membom dua kota di Jepang. Itu akan menjadi harga yang diinginkan Tuhan yang harus dibayar Jepang atas perbuatan negeri itu yang sudah memalingkan ribuan hati Muslim di Asia Tenggara secara paksa dari Ka’bah kepada yang selainnya.

Sekarang kita tinjau persamaan antara apa yang terjadi menimpa Abrahah dan Balatentara Jepang.

  1. Abrahah ingin memalingkan hati manusia yang bernafas di yaman (dan semua hati yang mengalir ke Ka’bah) dari Ka’bah kepada selainnya. Di dalam kasus ini Jepang ingin memalingkan semua hati semua manusia yang diam di Asia Tenggara dari Ka’bah ke matahari terbit, atau kaisar Jepang. Ini merupakan masalah besar bagi Tuhan, Tuhan Surgawi.
  2. Tuhan mengirim balaserangan yang melayang di atas langit. Dia berwarna hitam pekat yaitu Ababil, tidak satu, namun banyak. Di dalam kasus ini Tuhan mengirim balaseranganNya ke Jepang dua (bukan satu) mesin terbang, pesawat pembom, dan mereka berwarna hitam.
  3. Burung Ababil bagi Abrahah menjatuhkan kerikil-kerikil Neraka yang mereka angkut dengan menggunakan paruh dan cakar mereka untuk dijatuhkan atas Abrahah dan Balatentaranya. Kerikil kerikil itu di dalam Alquran disebut dengan Sijiil, yang secara harfiah berarti ‘tanah yang terbakar’ – karena konten ini  terambil dari perut Neraka, dan sungguh di Neraka itu, tanah mau pun lantai nya selalu menjadi api yang abadi. Di dalam kasus ini pesawat pembom menjatuhkan bom nuklir. Nuklir terbuat dari uranium dan plutonium. Substansi ini berasal atau terambil dari dalam tanah. Dan substansi ini mempunyai daya bakar yang luar biasa hebatnya. Singkatnya, Sijjil di dalam Alquran yang dilontarkan Ababil bagi Abrahah, adalah NUKLIR yang dilontarkan pesawat tempur Amerika bagi dua kota di Jepang.
  4. Alquran menegaskan bahwa sesudah pelontaran Sijjil atas Abrahah itu, Abrahah dan pasukannya  tampak bagaikan ‘dedaunan busuk yang hancur dimakan ulat’, yang berarti hanya tinggal tulang belulang yang tampak sebagai sisa. Itulah apa yang terjadi atas semua penduduk di kedua kota di Jepang tersebut.

 

Jepang memang tidak pernah berbuat apa-apa terhadap Ka’bah di Mekah secara langsung, sementara Abrahah memang berbuat sesuatu yang kelewat batas secara langsung terhadap Ka’bah. Namun apa yang dilakukan penguasa Jepang untuk memalingkan hati manusia dari Ka’bah ke matahari terbit secara paksa akan selalu dianggap sebagai suatu tindakan yang ingin menghancurkan Ka’bah. Seharusnya tidak ada satu pun kekuatan yang boleh menghalangi hati manusia dengan Ka’bah. Ka’bah itu bagi Tuhan adalah,

  1. Ka’bah, oleh karena itu, adalah Wajah Tuhan, karena semua hati manusia yang beriman kepadaNya selalu menghadapkan wajahnya ke Ka’bah ini, seolah mereka sedang menghadapkan wajah mereka kepada Tuhan mereka secara langsung.
  2. Apa yang dilakukan Tuhan atas Abrahah benar-benar menjelaskan kepada kita apa arti Ka’bah itu bagi Tuhan.
  3. Tuhan pernah berkata kepada Ka’bah, “wahai Ka’bah, kau akan selalu dikelilingi / dithawafi (sebagai tanda penghormatan) oleh 400.000 manusia…”. Maka Ka’bah pun senang mendengarnya. Kemudian Ka’bah berkata, “wahai Tuhan, bagaimana kalau jumlahnya kurang dari itu?”. Tuhan berkata, “kalau begitu maka akan Aku cukupkan jumlahnya dengan malaikat-malaikatKu untuk mengelilingimu”. Maka Ka’bah pun senang mendengarnya. Catatan, saya lupa jumlahnya, apakah 400.000 atau 700.000 atau yang lain. Harap berkonsultasi dengan Ulama Anda.
  4. Berdasarkan kitabsuci, Ka’bah adalah satu-satunya hal yang tidak akan binasa ketika datang hari kiamat; Tuhan akan mengangkat Ka’bahNya ini ke sisiNya dan menaruhnya di tempat yang aman. Penaikan Ka’bah ini ke langit ketika hari kiamat adalah masuk akal karena Ka’bah adalah Wajah Allah di muka Bumi ini.
  5. Adalah unik untuk mengetahui bagaimana cara jemaah haji masuk ke dalam Surga. Akan ada Tandu Besar di dalam Surga itu. Kemudian ke atas Tandu Besar itu Tuhan akan meletakkan Ka’bahNya. Kemudian semua jemaah haji akan masuk ke dalam Surga sambil mengusung Tandu Besar itu secara bersama-sama yang di atasnya ada Ka’bah. Dan ketika Tandu Besar itu sudah berada di dalam Surga, maka  Tuhan akan meletakkan Ka’bah itu tepat di samping Ka’bah yang asli…..

 

Muslim sadar bahwa Ka’bah telah beberapa kali mengalami penistaan sepanjang sejarah. Beberapa perampok – seperti yang dilaporkan – masuk ke dalam Masjid Haram dan bahkan mereka masuk ke dalam Ka’bah, dan kemudian mereka menjarah semua isi Ka’bah. Kemudian ketua perampok itu memanjat dinding Ka’bah, dan berteriak, “akulah Allah. Saya tantang Allah, Allah bukan lah siapa-siapa”. Sesudah itu ia membantai banyak jemaah haji kala itu, dan seperti yang dilaporkan bahwa lantai Masjid Haram banjir darah manusia karena penjagalan tersebut.

Apakah itu artinya, sementara kita diyakinkan bahwa tidak ada satu manusia yang dapat menghinakan Ka’bah, atau, bahwa Tuhan akan selalu melindungi Ka’bah dari segala penistaan manusia?

Jawabannya adalah, apa yang dilakukan perampok itu tidak ada hubungannya dengan usaha untuk memalingkan hati manusia dari Ka’bah kepada selainnya. Memang jelas apa yang dilakukan perampok itu benar-benar telah menghinakan Ka’bah dengan cara berdiri di atas Ka’bah dan berteriak-teriak tidak karuan, namun mengapa ‘Tuhan harus perduli dengan ulah’ tersebut?

Sesudah pemboman nuklir di Jepang tersebut, semua Muslim dapat lagi dengan bebas sujud ke kiblat seperti biasa, bukan lagi ke matahari terbit …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: