Adam-story Bag 03

Setelah Ka’bah selesai dibangun maka Adam pun memulai mengitari Ka’bah itu sebanyak tujuh kali, seperti yang ia lakukan di dalam Surga. Setelah selesai mengitari Ka’bah (thawaf) itu Adam berharap Tuhan akan muncul untuknya. Ia memandang ke sekelilingnya. Namun yang dia lihat hanya kesunyian belaka. Adam bertanya-tanya di dalam hatinya, mengapa Tuhan tidak muncul menampakkan diriNya? Adam mengulangi mengitari Ka’bah tersebut. Kemudian ia pandangi lagi ke sekelilingnya dengan penuh keyakinan, bahwa Tuhan sudah menampakkan diriNya untuk nya. Namun Adam tidak melihat apa pun kecuali pelataran yang sepi dan kosong. Adam mengulangi lagi mengitari Ka’bah itu, mengulanginya beberapa kali, namun setiap ia telah selesai kemudian ia pandang ke sekililingnya, Tuhan tidak pernah muncul untuk nya. Dia berdoa kepada Tuhan nya semoga Tuhan menerima thawafnya dan memberinya pahala yang berlipat ganda, dan menampakkan diriNya untuk nya. Menyadari apa yang telah ia perbuat yang telah membuatnya teraniaya, maka Adam pun mulai menangis, menginsyafi betapa berdosanya dia selama ini.

Adam tumbang ke tanah di dalam tangisannya, tanpa daya dan tanpa harapan sama sekali, berputus asa. Ia pandangi Ka’bah di dalam kesedihan yang amat hitam, suatu bangunan yang biasanya mempertemukannya dengan Tuhan nya. Namun sekarang?

Tiba-tiba ia mendengar suara Tuhan lagi: Adam, apakah yang sedang kau lakukan itu?

Adam as berkata: Tuhan, telah aku lakukan apa yang Engkau perintahkan kepada aku, membangun Ka’bah itu dan mengitarinya sebanyak tujuh kali seperti yang biasa aku lakukan di dalam Surga supaya aku dapat berjumpa dengan Engkau. Mengapa Engkau tidak juga menampakkan diriMu untuk ku setelah aku selesai mengelilingi Ka’bah Mu?

Tuhan pun tersenyum. Ia berkata: Adam, bumi tempat engkau berpijak sekarang itu adalah Dunia, dan Dunia tidak lah sama dengan Surga, biar bagaimana pun. Surga itu disucikan, namun Dunia tidak. Tidak ada seorang pun yang dapat melihatKu selama dia berada di Dunia ini. Adalah mustahil bagimu untuk dapat melihat dan bertemu dengan Aku.

Adam: kalau memang demikian titahMu, maka aku akan mengisi kehidupan ku di Dunia ini dengan menangis, tidak akan ada hal lain yang aku kerjakan kecuali menangis, menangisi perjumpaan dengan Engkau yang tidak mungkin lagi dapat aku raih dari tempat ini. Tidak ada yang aku cari di dalam kehidupan ini kecuali dapat berjumpa dengan Engkau, bukan Siti Hawa, bukan Surga, bukan Dunia. Karena aku tidak akan dapat lagi berjumpa dengan Engkau, maka biarlah aku menangis di Dunia ini buat selama-lamanya…

Tuhan berfirman: wahai Adam. Tidak ada gunanya bagimu untuk terus menangis sepanjang hidupmu menangisi pertemuanmu dengan Aku yang tidak mungkin lagi dapat kau raih. Mengapa berpisahnya engkau dari perjumpaan dengan Aku membuatmu bersedih dan menangis? Bukan kah Aku akan selalu besertamu, dan engkau akan selalu besertaKu??

Penutup.

Dari babak ini ada beberapa hal yang dapat kita telaah. Di atas bumi ini Adam selalu menangis,dan tidak ada yang dapat menghentikan Adam dari menangis itu. Menangis ketika ia merasa sedih ketika terpisah dari Siti hawa, dan menangis ketika ia bersedih karena berpisah dari Tuhannya yang ada di Surga. Menangis, di dalam bahasa Arab adalah Bakkah, dan kata bakkah ini adalah akar kata bagi kata Mekkah. Mekkah berarti menangis, atau air mata. Itulah mengapa kota tempat Adam membangun Ka’bah disebut dengan Mekkah.

Di kota Mekkah, selain berarti menangis karena asalnya Adam selalu menangis, juga siapa pun dapat melihat bahwa semua manusia (jemaah haji) akan menangis di kota Mekkah tersebut. Mekkah adalah satu satu nya tempat di muka bumi ini di mana air mata manusia banyak berjatuhan ke tanah karena penyesalan dari dosa dosa yang mereka perbuat, mau pun karena rinud akibat terpisahnya mereka dari Tuhan mereka.

Di babak ini dijelaskan sejarah thawaf di Mekkah. Thawaf atau berjalan mengelilingi Ka’bah selalu berarti bahwa seseorang sedang berusaha untuk hadir di sisi Tuhan Semesta Alam. Thawaf itu sendiri berasal dari thawaf yang selalu terjadi di dalam Surga. Ketika seorang anak manusia sedang thawaf di Ka’bah, maka itu ada hubungannya dengan usaha manusia untuk mendekatkan dirinya kepada sang Tuhan.

Adalah benar bahwa semua ritual maupun bentuk ibadah, apa pun itu, yang ada di semua agama, akan membawa manusia lebih dekat kepada sang Tuhan untuk menjadi begitu suci. Namun thawaf atau naik haji ke Mekkah merupakan ibadah puncaknya dari semua bentuk peribadatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itulah mengapa di dalam Islam disebutkan bahwa naik haji ke Mekkah merupakan puncak ibadah tertinggi.

Babak ini menunjukkan kepada kita bahwa bencana paling besar di dalam kehidupan ini adalah perpisahan dari Tuhan, bukan karena kehilangan keluarga, harta, nyawa atau apa pun. Pertama ditunjukkan kepada kita betapa Adam begitu terpukul dengan kehilangan sang istri. Namun kemudian tangisannya menjadi begitu lebih dahsyat padahal Tuhan sudah mempertemukan antara Adam dengan sang Siti Hawa. Begitu juga di dalam kenyataan kita. Kesedihan yang paling memilukan adalah Perpisahan dari Tuhan, bukan kekasih manusia. Kalau ada seseorang yang berfikir bahwa bencana yang paling menyedihkan baginya adalah perpisahan dengan istrinya, maka orang itu sungguh telah kehilangan orientasi berfikir. Inilah inti dari ajaran Islam.

Lebih dari itu, suatu hal yang dapat memisahkan manusia dari Tuhan adalah dosa, dan hanya dosa. Karena berdosa, Adam harus pergi meninggalkan Tuhan. Untuk itu, harta yang paling pentuing adalah dapat bertemu kembali dengan Tuhan. Semua manusia akan melakukan apa saja untuk kembali bertemu dengan Tuhan. Itulah haji di dalam Islam.

Jauh di dasar lubuk hati manusia, jiwa manusia, kesadaran manusia, terdapat kehendak dan keinginan dan takdir untuk selalu mencari jalan untuk dapat mencapai Tuhan, dan hal itu tidak dapat diingkari dengan kekuatan apa pun. Semua Muslim tidak dapat mengingkari keinginan mereka untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Mungkin seseorang dapat berkata bahwa Tuhan itu ada di mana mana sehingga kita dapat bertemu denganNya ketika kita sedang beribadah denganNya, baik yang dilakukan di dalam Gereja, tanpa harus melakukan haji ke Mekkah. Yang benar adalah, ini bukan masalah ibadah. Ini adalah tentang Ka’bah itu sendiri. Dan hanya ada satu Ka’bah di muka Bumi ini. Seluruh Muslim tidak dapat membangun Ka’bah yang lain sesuka hati mereka. Ka’bah adalah apa yang dibangun oleh Nabi Adam, Ka’bah adalah sejarah Nabi Adam di dalam pencariannya untuk dapat bertemu dengan Tuhan.

Adakah rumah ibadah / kuil lain di muka bumi ini yang kisahnya menyerupai Kabah ini??  Tidak ada sama sekali!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: