Mengapa Yerusalem


Yerusalem adalah nama kota suci bagi tiga agama samawi yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Khususnya bagi Islam, Yerusalem merupakan kota suci ketiga setelah kota Mekah dan Medinah.

Kata untuk nama kota ini yaitu Yerusalem dapat dirunut ke dalam bahasa Arab, Darussalam yang berarti Kota Tentram, Kota Damai, atau Kota Sempurna. Di luar itu, bahasa Arab memang serumpun dengan bahasa Ibrani, sehingga perunutan ke bahasa Arab ini tidak serta-merta menafikan posisi bahasa Ibrani atas penamaan kota ini.

Memang diakui, kaum sekuler mempunyai pandangan yang lain mengenai asal-usul penamaan kota ini. Mereka berpendapat bahwa kata Yerusalem berasal dari suatu kata yang merupakan nama berhala sembahan suatu kaum / suku yang mula-mula mendiami kota ini pada masa purba. Dengan demikian, di dalam pandangan mereka, Yerusalem bukan berarti ‘kota damai’, melainkan nama berhala yang selalu disembah di Negeri tersebut. Pandangan mereka tidak lah seutuhnya harus benar, karena mereka ‘hanya meneliti, mengira-ngira’, LAIN TIDAK. Kata Yerusalem sebenarnya lah berasal dari kata Darussalam, seperti yang sudah dipaparkan di atas. Dari begitu banyak nama berhala yang pernah disembah di Negeri tersebut, maka mengapa hanya satu nama berhala yang menjadi pangkal penamaan Negeri tersebut?

Dalam sejarahnya, Yerusalem dipenuhi peperangan, tumpah-darah, pembantaian, pembersihan etnis, penaklukan, perbudakan, penindasan, pengusiran, delele yang keseluruhannya berkonotasi kekerasan, jauh dari kata damai dan tentram. Yerusalem tidak lah pernah merasakan kedamaian sama sekali. Sejak sebelum abad masehi, Yerusalem sudah kenyang dengan semua kisah kengerian. Apalagi setelah lahirnya atau datangnya abad masehi, ditambah lagi dengan datangnya masa-masa Islam.

Akhirnya kita bertanya, mengapa kota tersebut dinamakan Yerusalem? Bukankah fakta dan sejarahnya justru kota ini diharamkan atas secuil kedamaian dan ketentraman? Apakah para pendiri dan penguasa kota ini di sepanjang sejarahnya tidak ada yang berinisiatif untuk melarang penggunaan kata Yerusalem sebagai nama kota ini, mengingat damai tidak pernah duduk tenang di kota ini?

Sebenarnya, Thailand lebih tepat dinamakan Yerusalem, karena perang tidak pernah menjamah Negeri ini. Begitu juga dengan Swiss, lebih berhak untuk bernama Yerusalem. Atau mungkin, sebuah dusun di pedalaman Amazon atau pedalaman Papua New Guinea lebih pantas untuk dinamakan Yerusalem, karena tempat-tempat tersebut memang damai, tentram dan menenangkan. Lantas mengapa kota di Tiimur tengah itu tetap bernama Yerusalem? Lantas di mana kedamaian itu, yang merupakan arti dari nama kota tersebut?

Asal-usul nama kota ini hanya dapat dijawab melalui hujjah Islami. Dan kalau tidak ada Islam di muka bumi ini, maka nama kota tersebut sampai sekarang akan  membingungkan, KARENA BERTOLAK BELAKANG ANTARA NAMA DENGAN FAKTA. Hanya Islam lah yang dapat merujukkan antara nama kota tersebut dengan fakta, melalui hujjah yang dimiliki Islam ini.

Back To Adam.

Nama dari kota ini SEUTUHNYA berhubungan dengan apa yang dialami Nabi Adam as, ketika ia mula-mula terdampar di planet bumi ini.

Ketika Adam as jatuh ke Dunia ini, ia menangis terus menerus. Supaya Adam as berhenti dari tangisannya, maka Allah memerintahkan Adam as untuk membangun duplikat Kabah di bumi itu. Allah telah membuat Adam as kembali ingat ketika di Surga, yaitu bahwa kalau Adam as ingin bertemu dengan Allah Swt, maka satu-satunya hal yang dilakukan Adam as untuk itu adalah menghampiri Kabah Surgawi, kemudian mengitarinya sebanyak tujuh kali. Kalau Adam as sudah selesai dengan itu, maka Allah pun akan segera menampakkan diriNya untuk Adam as. Begitulah cara Adam as bertemu dengan Allah di dalam Surga.

Artinya, jika Adam as ingin kembali bertemu dengan Allah di bumi itu, maka Adam as haruslah membangun duplikat Kabah di bumi tersebut. Dan kalau Adam as sudah membangun Kabah duplikat tersebut, dan Adam as mengitarinya sebanyak tujuh kali, maka Allah pun pasti akan menampakkan diriNya untuk Adam as. Demikian lah skenario-nya.

Adam as dengan pengharapan besar, melakukan apa yang diperintahkan Allah tersebut. Ia membangun Kabah dengan batu-batu yang ada di sekitarnya. Setelah bangunan itu rampung, maka Adam as segera mengitari bangunan Kabah itu sebanyak tujuh kali. Namun apa yang ia alami setelah itu? Ia berkeyakinan bahwa Allah akan segera menampakkan diriNya di dekat Kabah tersebut. Adam as melepas pandangannya berkeliling menyapu semua sudut di sekitar Kabah. Namun toh Adam as tidak melihat ada kemunculan Allah di sana.

Akhirnya Allah berfirman, bahwa apapun yang Adam as lakukan di Dunia ini, maka itu tidak akan dapat membuat Adam as bertemu dengan Allah lagi, karena tempat itu adalah Dunia, bukan Surga. Lain Dunia, lain juga Surga.

Adam as merasa terpukul dengan firman Allah tersebut. Dengan merajuk Adam as berkata BAIKLAH KALAU BEGITU, AKU AKAN MELEWATI HIDUPKU DI DUNIA INI DENGAN MENANGIS SAJA TERUS MENERUS TIADA HENTI.

Allah berkata, “tidak perlu engkau mengemis begitu…..”.

Supaya Adam as berhenti dari tangisannya karena tidak dapat berjumpa lagi dengan Allah, seperti biasa yang terjadi di dalam Surga, maka Allah memerintahkan Adam as untuk berjalan jauh meninggalkan Kabah ini, untuk sampai ke suatu Negeri, yang mana di Negeri itu Adam as akan memperoleh tentram dan damai.

Adam as terheran-heran dengan titah Allah tersebut. Adam as berkata, WAHAI ALLAH, APAKAH ADA TEMPAT DI BUMI INI DI MANA AKU DAPAT MERASA DAMAI DAN TENTRAM, TANPA AKU DAPAT MELIHAT ENGKAU???

Allah berkata lagi, JANGAN KAMU SENTIMENTIL. DAN INI ADALAH PERINTAH-KU KEPADAMU SUPAYA KAMU AMALKAN.

Maka Adam as pun berjalan jauh bersama istrinya Siti Hawa meninggalkan Kabah itu. Intinya ……………,

  1. Adam as diperintahkan oleh Allah Swt untuk berjalan kaki meninggalkan Kabah jauh-jauh, karena setiap saat Adam as melihat Kabah, Adam as pasti menangis tak terperikan sama sekali. Tempat di mana Kabah itu berdiri, adalah Negeri / kota  Mekah. Mekkah berasal dari kata ‘bekah’, yang berarti ‘menangis’. Kota tersebut dinamakan Mekkah / bakah karena di kota itu Adam menangis terus menerus.
  2. Dan Adam as diperintahkan Allah untuk berjalan menuju suatu Negeri yang dijanjikan, di mana di Negeri itu Adam as akan dapat hidup dengan damai dan tentram, walau pun Adam as merasa skeptis atas hal yang terakhir ini: apakah mungkin Adam as dapat merasa tentram tanpa kehadiran Allah di sisinya?

Alkisah, Adam as berjalan di muka bumi ini, ke arah mana saja, karena ia yakin Allah lah Yang akan menuntun semua langkah kakinya, dan kaki istrinya.

Hingga suatu saat, terdengarlah suara Allah dari langit, BERHENTI!

Demi mendengar titah Allah tersebut, Adam as menghentikan langkah kakinya, kemudian ia melepaskan pandangannya berkeliling. Ia berguman di dalam hati, bahwa Negeri inilah Negeri Yang Dijanjikan oleh Allah (The Promised Land) untuk dirinya, di mana ia dan istrinya akan beroleh rasa damai dan tentram, walau pun tanpa kemunculan Allah sama sekali. Adam as masih bergumam dalam hatinya, bagaimana Negeri ini dapat memberinya ketentraman?

Adam as bertanya kepada Allah, WAHAI ALLAH, SUDAH BERAPA LAMA AKU BERJALAN SEJAK DARI KABAH ITU? Allah menjawab KAU SUDAH BERJALAN SELAMA 40 TAHUN LAMANYA.

Tugas pertama dari Allah Swt untuk Adam as setibanya di tanah itu adalah membangun Masjid (atau lebih tepat dikatakan kuil) untuk menyembah Allah, sebagai ganti dari Kabah. Dan setelah Adam as selesai membangun kuil tersebut, Adam as segera bersujud dan ruku menyembah Allah di kuil itu, dan berdoa agar Allah tidak pernah meninggalkannya di Negeri yang masih asing ini. Alkisah, kuil yang dibangun Adam as itu adalah kuil yang sekarang dinamakan Masjid Aqsa.

Tentunya Adam as masih bertanya-tanya di dalam hatinya, manakah itu ketentraman dan kedamaian untuk dirinya di tanah yang baru itu? Adam as dan istrinya hanya merasakan kesepian, kehampaan dan tiada menentu arah.

Suatu saat, terjadi hal yang membuat dua manusia itu keheranan. Sang istri, Siti Hawa, merasakan perutnya membesar. Ia begitu takut. Adam as menanyakan perasaan istrinya tentang perutnya itu. Siti Hawa menjawab bahwa ia tidak sedikit pun merasa sakit, justru merasakan sensasi kebahagiaan dengan perut besarnya itu. Adam as sungguh cemas, namun tetap saja merasa heran, bagaimana istrinya tidak merasa kesakitan, malahan ada sensasi bahagia. Adam as menjerit kepada Allah, menanyakan apa yang sedang terjadi atas istrinya. Tiada jawaban dari langit.

Setelah genap jumlah haRi, minggu dan bulan, datanglah hal yang lebih besar lagi. Siti Hawa MELAHIRKAN mahluk-mahluk kecil yang lucu dan molek. Adam as sungguh tidak percaya. Ia melihat Qabil dengan saudari kembarnya, lahir dari perut istrinya itu. Keduanya cantik sekali. Bayi-bayi itu menangis. Namun tangisan bayi itu justru membuat Adam as merasa bahagia.

Demikian lah, hari-hari indah dan bahagia dinikmati Adam as dan Siti Hawa bersama anak-anaknya yang terus lahir Tahun demi tahun. Tiada yang membuat Adam as merasa begitu bahagia, kecuali kehadiran anak-anaknya yang lahir dari rahim Siti Hawa. Tidak ada yang dapat membuat Adam as merasa tentram dan damai, kecuali tangis dan tawa semua anak-anak yang lahir di kota yang baru saja ia tempati itu.

Adam as mengambil si kembar bungsu dari kakak-kakaknya, dan menggendong keduanya dengan penuh bahagia. Kemudian Adam as berlari ke tepi sebuah lembah yang indah. Satu bayi di pelukan tangan kanannya, dan satu bayi lainnya di pangkuan tangan kirinya, Adam as berhenti dan terpaku di sana.

  • Ia arahkan pandangannya ke lembah yang indah itu. Kemudian ia alihkan pandangannya kepada bayi kembar yang dipangkunya. Begitu indah lembah yang terbentang di bawah kakinya, jauh lebih indah wajah kedua bayi kembar bungsunya itu.
  • Ia arahkan pandangannya kepada bintang gemintang di atas kepalanya. Kemudian ia alihkan pandangannya kepada wajah bayi kembarnya itu. Begitu indah bentangan langit dengan bintang gemintang itu, masih jauh lebih indah wajah bayi kembar bungsunya itu.
  • Ia arahkan pandangannya kepada bulan purnama yang menggantung tepat di atas petala bumi. Kemudian ia alihkan pandangannya kepada bayi kembar yang ia pangku itu. Begitu indahnya bulan purnama, masih jauh lebih indah wajah kedua bayi kembarnya itu …..

Pada saat itulah Terdengar suara Allah dari dalam Surga,

  • Hai Adam, bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa kau akan beroleh damai dan tentram di Negeri itu? Adam as hanya tersenyum tersipu-sipu.
  • Hai Adam, bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapan pun? Adam hanya tersenyum tersipu-sipu.
  • Hai Adam, bukankah kau dapati Aku sebagai Yang menepati janji? Adam hanya tersenyum tersipu-sipu.
  • Hai Adam, bukankah kau dapati Aku sebagai pemeliharamu dengan sebaik-baik pemeliharaan? Adam hanya tersenyum tersipu-sipu.
  • Hai Adam, bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa ada tempat di bumi itu di mana kau akan beroleh damai dan tentram walau pun engkau tiada melihat Aku? Adam hanya tersenyum tersipu-sipu.

Adam kembali kepada keluarganya dengan perasaan penuh bahagia.

  • Di kota itu, untuk pertama kalinya Adam merasa damai dan tentram, padahal Adam tiada melihat kemunculan Allah. Di  dalam bahasa Arab, damai dan tentram adalah Salam.
  • Di kota itu, kehidupan Adam (dan Siti Hawa) benar-benar sempurna, karena telah memiliki anak. Di dalam bahasa Arab, sempurna adalah Salam.

Mulai saat itu, Adam dan Siti Hawa menamakan kota yang ia tinggali itu dengan nama Darusalam, yang berarti Negeri Kedamaian, Negeri Ketentraman, Negeri Kesempurnaan, karena di Negeri itulah Adam merasa benar-benar damai dan tentram karena anak-anaknya lahir dan menyempurnakan hidupnya dan hidup istrinya. Darusalam, di dalam logat bahasa Inggris adalah Yerusalem.

Dan dari Yerusalem inilah, muncul Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Alkitab dari kalangan anak-anak Nabi Adam juga. Kebanyakan mereka bertempat tinggal di Yerusalem ini. Dan seperti ayah mereka yaitu Adam, kesemua manusia (yang merupakan anak dan keturunan Adam) shalat, sujud dan ruku kepada Allah dengan menghadap ke kuil yang dibangun Nabi Adam. Kelak, kuil ini runtuh ditelan jaman. Ketika tiba masa Nabi Sulaiman, kuil ini dibangun kembali dengan begitu sempurna mengingat Nabi Sulaiman adalah Nabi Allah yang kayaraya. Karena kuil Adam ini dibangun kembali dari puing-puing oleh Nabi Sulaiman, maka kuil ini dinamakan Kuil Sulaiman, padahal sebenarnya kuil ini adalah Kuil Adam. Beberapa abad kemudian, kuil ini runtuh dan kembali menjadi puing-puing berserakan karena melalui beberapa tahapan sejarah yang kadang begitu dramatis. Bahkan pada masa Isa Almasih, kuil ini tidak mendapat perhatian, alias Nabi Isa tidak berbuat apa-apa atas puing-puing Kuil Adam ov Kuil Sulaiman ini.

Pada masa Nabi Muhammad, situs kuil ini mendapat peran yaitu ketika Nabi Muhammad mikraj ke langit. Kemudian pada masa Khulafaur Rasyidin, Sahabat Umar telah membenahi kembali kuil ini dan memberi nama dengan namanya yang sebenarnya yaitu Masjid Aqsa (nama itu berasal dari Alquran), bukan lagi Kuil Adam atau Kuil Sulaiman atau kuil apa. Kita ingat bahwa kenabian Muhammad telah memindahkan kiblat shalat ini, yaitu dari Kuil Adam ini (atau Kuil Sulaiman; sama saja) kepada Kabah di Mekah, karena memang sebenarnya, pertama kali Adam sujud itu ke arah Kabah yang di Mekah, yaitu ketika Adam masih berada di Mekah.

Kuil Sulaiman Dalam Tradisi Yahudi.

Di dalam kepercayaan Yahudi, Kuil Sulaiman (Solomon Temple) merupakan tempat suci tertinggi karena dibangun oleh Nabi Sulaiman. Mereka percaya bahwa kuil itu dibangun oleh Sulaiman, Nabi besar di dalam tradisi Yahudi (juga Islam).

Namun sungguh pun demikian, toh kaum Yahudi tidak mempunyai jawaban mengapa Sulaiman membangun kuil suci di tempat tersebut. Atau dengan kata lain, atas dasar apa Sulaiman memilih suatu tempat untuk membangun kuilnya. Kaum Yahudi hanya menyerahkan soal itu kepada autoritas Sulaiman sebagai Nabi Tuhan / Nabi Yahweh, karena secara nalar, pilihan seorang Nabi adalah pasti pilihan / perintah Tuhan. Itu saja jawaban yang dimiliki kaum Yahudi.

Kalau saja kaum Yahudi itu beragama Islam, pastilah pertanyaan itu sudah mempunyai jawaban yang memuaskan, yaitu bahwa Sulaiman BUKAN memilih tempat tersebut, melainkan karena di tempat itulah terdapat reruntuhan Kuil Adam. Intinya, Sulaiman as bukan membangun, melainkan MERENOVASI Kuil Adam, merenovasi kuil yang sebelumnya sudah ada. Intinya, Yahudi mau pun agama Ahlul Kitab lainnya tidak mempunyai babak yang menjelaskan mengapa Sulaiman membangun kuil sucinya di tempat sekarang berdiri itu. Yahudi benar-benar blank mengenai babak kehidupan yang mendahului babak Sulaiman ini. Dan babak yang blank itu, TERSEDIA HANYA DALAM ISLAM. Babak itu adalah babak kehidupan yang dilalui Adam bersama keluarganya setelah kepindahannya dari Mekah. Amat menyedihkan bahwa Alkitab tidak banyak menceritakan kisah kehidupan Nabi Adam. Sebaliknya, Islam memberikan informasi yang melimpah mengenai pengalaman-pengalaman Nabi Adam. Dan dari situlah terungkap bahwa Adam telah membangun kuilnya di Negeri yang kelak bernama Yerusalem, dan kuil itu pada masanya akan direnovasi oleh Sulaiman as.

Kalau lah para Yahudi itu (dan juga para Kristen) itu menerima Islam, maka akan jelas bagi mereka mengapa Nabi Sulaiman membangun kuil sucinya di tempat itu. Dan siapa yang menyuruh mereka untuk menolak Islam?

Penutup.

Kata Yerusalem tidak dapat dihubungkan dengan fakta yang melingkupi kota itu, yang selalu direcoki kekerasan dan pertikaian sepanjang abad. Kalau hal itu tidak dapat diubah lagi, maka merujuk kemanakah arti dari nama kota itu?

Yerusalem hanyalah dapat dihubungkan dengan apa yang dialami dan dilalui Adam dan Siti Hawa, yaitu kedamaian dan ketentraman yang mereka peroleh dari Allah Swt, Tuhan mereka. Adam memperoleh kedamaian dan ketentraman itu setelah berpuluh-puluh tahun sebelumnya ia dan istrinya hidup di dalam situasi yang tidak menentu, penuh sentimentil, dan kesepian.

Dan, jawaban untuk pertanyaan itu hanya ada dalam Islam, tidak ada di dalam agama lainnya. Yang mana itu berarti, agama lain itu adalah agama yang tidak sempurna, dan Islam adalah agama yang sempurna. Sempurna, artinya adalah BENAR. Alhamdulillah.

Wallahu alam bishawab…..

Untuk melengkapi pemahaman artikel ini, silahkan baca juga artikel,

http://islamthis.wordpress.com/2011/08/22/dari-mekkah-ke-masjid-aqsa/

7 Responses

  1. Kota Yerusalem ketika dibawah pemerintahan Islam dlm kondisi damai, skrng ketika dibwh kekuasaan israel malah mjd tmpat genosida.

  2. @ islamthis
    anda dapat reprensi darimana ya ? jangan2 fiksi

    • memangnya, kalo nama yerusalem itu BERDASARKAN versi agama kamu karosetan, maka REFERENSI nya dari mana??

      jangan2 cuma hayalan.

      yeah maklumlah, namanya juga alkitab, penuh dg kebohongan dan dongen sanasini ….

      asip!!!

  3. apakah kisah ini berasal dari bapak ihsan maftuh juga?

  4. hoalahhh………….isinya ga jauh jauh dari mengkriminalkan agama kristen dan yahudi.ckckckck…………..pdhl di agama kristen tidak pernah tuh bahas sejarah islam…………karena sudah jelas, dasar dan paling pertama adalah yahudi, lalu muncullah agama mula mula yaitu kristen. jadi sungguh disesalkan dengan penulisan ini.

  5. Bener apa kata wali wali ( org berilmu dan abid )….. di indonesia ini yg beragama islam banyak tp kebanyakan islam gembel (maksudny org2ny.) Salahsatu contohny website ini………
    ============

    Islamthis,
    anda sendiri juga, kan???? hahahaha ……

  6. Yang membuat cerita ini adalah pembohong, kayak nabinya to muhammad muka mesum..
    ===========

    Islamthis,

    punya bukti???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers

%d bloggers like this: