Muhammad dan Budaknya

Definisi budak,

Perbudakan adalah sebuah kondisi di mana terjadi pengontrolan terhadap seseorang (disebut budak) oleh orang lain. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual.

Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tiada punya hak asasi manusia. “Slave” berasal dari perkataan slav, yang merujuk kepada bangsa Slavia yang tiada berharta dari Eropa Timur, termasuk Kekaisaran Romawi. Namun sistem perbudakan ini telah ada sejak berabad lamanya. Misalnya piramida di Mesir, telah dibangun oleh golongan ini. Selain itu, bukan semua budak tiada hak. Misalnya waktu zaman pemerintahan Islam, kebanyakan budak telah diberi layanan yang sama rata oleh tuannya. Malah salah satu orang pertama yang memeluk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun) ialah Bilal bin Rabah yang merupakan seorang budak.

Access from, http://id.wikipedia.org/wiki/Perbudakan
Access date, 11 Mar 2011

Di dalam kehidupan ini kita mengenal istilah permaisuri, selir dan gundik. Ketiga hal tersebut pastilah mempunyai pengertian yang berbeda satu sama lain.

Permaisuri dan selir sama-sama berasal dari kalangan bangsawan, atau kalangan terhormat. Oleh karena itu mereka dinikahi oleh seorang pria melalui mahar atau maskawin. Sang suami haruslah menghormati orang-orang ini, karena semua orang ini berasal dari kalangan yang terhormat. Menghormati, artinya sang suami harus menafkahi orang-orang ini, status (kehormatan) dan memberi / menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka secara layak. Kalau sang permaisuri atau selir bukan lah berasal dari kalangan bangsawan (jelata, non-budak), maka pernikahan sang pria dengan wanita tersebut haruslah otomatis membuat wanita-wanita ini menjadi bangsawan.

Hal-hal yang membedakan antara permaisuri dan selir adalah bahwa permaisuri jumlahnya hanya satu dan pertama, sementara selir jumlahnya pastilah lebih dari satu, dan bukan wanita pertama yang dinikahi sang pria. Dengan kata lain, selir adalah wanita (dari kalangan bangsawan) yang ketika bertemu dengan sang pria, sang pria itu sudah beristrikan wanita lain  terlebih dahulu.

Di dalam kehidupan sang suami, permaisuri dan selir tentulah mempunyai peran dan hak yang berbeda.

Gundik, adalah wanita (atau wanita-wanita) DARI KALANGAN BUDAK yang dimiliki seorang majikan / tuan pria, yang diajak tidur oleh pria ini, atau dengan kata lain ‘sudah dicampuri’ oleh sang majian pria ini. Karena wanita ini bukan berasal dari kalangan bangsawan, dan karena wanita ini berasal dari kalangan budak, maka gundik ini tidak mempunyai kehormatan sedikit pun. Artinya, sang pria TIDAK PERLU BER TANGGUNGJAWAB apa-apa setelah sang pria mencampuri wanita ini. Pun tidak ada pernikahan. Tidak ada pernikahan, berarti tidak ada maskawin.

Misalnya seorang tuan atau pangeran atau adipati, mempunyai 100 budak. Dari 100 budak itu, 50 orang di antaranya adalah budak wanita. Dari 50 budak wanita ini, 10 di antaranya ditiduri oleh sang tuan. Maka dengan demikian 10 wanita budak yang telah ditiduri sang pria ini lah yang disebut gundik. Sang pria tidak perlu ber-tanggungjawab atas wanita-wanita budak yang sudah ia tiduri ini. Jika wanita-wanita ini hamil, maka itu bukanlah urusan sang pria. Budak wanita yang sudah mempunyai suami pun tetap boleh ditiduri oleh pria majikannya. Dengan kata lain, seorang tuan / majikan pria tetap dapat meniduri budak wanitanya walau pun budak wanita itu telah bersuami dan mempunyai anak. Itu pun sang tuan tersebut tidak mempunyai kewajiban untuk ber-tanggungjawab atas perbuatannya tersebut.

Di dalam hukum universal yang berlaku di seluruh belahan Dunia pada masa purba, meniduri budak wanita bukanlah perzinahan yang berimplikasi kepada dosa. Pun perbuatan seorang pria yang meniduri budak wanitanya itu bukanlah suatu perbuatan kriminal di tengah masyarakat kala itu. Dengan kata lain, meniduri budak wanita (sehingga itu mengakibatkan ia menjadi gundik) adalah suatu kewajaran. Seorang pria BERHAK meniduri budak wanitanya. Pun pria itu juga berhak untuk tidak ber-tanggungjawab atas semua perbuatannya menghamili sang wanita tersebut.

Memang demikianlah takdir budak, khususnya di dalam hal ini budak wanita. Budak biar bagaimanapun dianggap bukan manusia oleh para tuan. Budak adalah manusia yang tidak dianggap manusia. Maka ketika budak itu adalah seorang wanita, wajarlah jika sang budak wanita itu tidak mendapatkan apa-apa dari majikan pria-nya jika sang majikan itu telah meniduri atau menghamilinya.

Di dalam hukum Islam pun, meniduri budak wanita tidaklah dianggap perzinahan. Dan hal itu rata berlaku atas semua manusia, peradaban, raja dan Nabi mana pun. Dengan kata lain, pendirian Islam yang menyatakan bahwa meniduri budak wanita bukanlah tindak perzinahan, adalah sesuai dengan hukum Alam yang universal, bahwa meniduri budak wanita bukanlah tindak perzinahan maupun kriminal, karena biar bagaimana pun mereka adalah budak.

Bagaimana mungkin meniduri budak wanita dianggap sebagai perbuatan zina (apalagi kejahatan / kriminal) di dalam pandangan Tuhan, sementara budak itu sendiri adalah manusia yang tidak dianggap sebagai manusia.

Dengan demikian Islam meneguhkan / mengakomodir tradisi yang rata berlaku secara universal atas seluruh peradaban dan seluruh Nabi dan Rasul, bahwa:

  1. Beristri banyak adalah suatu kewajaran. Dengan demikian beristri banyak adalah suatu ibadah.
  2. Mempunyai selir pun juga diperbolehkan. Hal ini juga berlaku rata secara universal di seluruh Dunia dan di seluruh peradaban.
  3. Meniduri budak wanita pun diperbolehkan. Dengan demikian meniduri budak wanita bukanlah tindakan zina, dan pun bukan tindakan kejahatan. Apalagi dianggap sebagai kedegilan. Tidak sama sekali.

Muhammad Saw dicatat di dalam sejarah meniduri budak yang dia-saw miliki (artinya, mereka bukanlah istri sang Nabi; pun tidak ada pernikahan yang formal antara Muhammad Saw dengan para wanita tersebut). Adalah mustahil dan amat tidak berdasar jika dikatakan bahwa MUHAMMAD TELAH BERZINA dengan wanita-wanita tersebut. Kalaulah Muhammad Saw dikatakan telah berzina (sehingga berdosa), maka dimanakan posisi Nabi-Nabi pada kisah Perjanjian Lama yang juga meniduri budak-budak wanitanya? Lebih dari itu pun, semua Nabi pada Perjanjian Lama itu beristri dan bergundik banyak.

Dari Alkitab Perjanjian Lama, terdapat kisah di mana Allah amat merestui dan meridhai perilaku beristri dan bergudik ini.

2 Samuel 12:

7 – Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: ”Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.

8 – Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.

Ayat di atas – khususnya ayat 8 adalah ayat / titah Tuhan untuk Daud yang berkisar pada restu Tuhan atas Daud untuk beristri dan bergundik banyak. Bahkan ayat itu pun mengindikasikan bahwa Tuhan merestui Daud untuk menjadikan istri-istri dari musuhnya sebagai ‘istri rampasan’ untuk memenuhi ranjang Daud. Dan itu direstui Tuhan: “dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu”. Demikian Alkitab.

Kelebihan Islam.

Walau pun Islam meneguhkan / mengakomodir hukum Alam yang berlaku secara universal (kala itu) yaitu berpermaisuri, beristri dan bergundik banyak, dan meniduri budak wanita – dan  tidak menganggapnya sebagai dosa atau kriminal, namun toh Islam juga memiliki beberapa kelebihan atau keutamaan lain yang merupakan kebijaksanaan Islam itu sendiri atas isu pendamping hidup  ini.

Pertama.

Di dalam hal gundik alias budak wanita yang ditiduri oleh sang majiakan pria, Islam menegaskan bahwa budak wanita yang ditiduri sang majikan pria akan otomatis mendapatkan kemerdekaannya dari status budak ketika sang majikan pria meninggal Dunia.  Di luar Islam budak wanita yang dijadikan gundik akan tetap menjadi budak meski sang majikan sudah wafat.

Kedua.

Di dalam hal adanya permaisuri dan selir, Islam tidak mengenal istilah permaisuri dan selir. Islam menegaskan bahwa dikotomi “permaisuri  vs selir” DITIADAKAN. Dengan tidak adanya permaisuri (yang jumlahnya hanya satu) dan selir (yang jumlahnya bisa tidak terhingga), maka SEMUA WANITA yang menjadi pendamping hidup seorang pria dinamakan ISTRI. Dengan demikian tidak ada lagi istilah permaisuri dan selir.

Di luar Islam, masyarakat manusia menerapkan sistem pembedaan permaisuri dan selir. Dan di dalam pandangan Islam, hal ini adalah suatu bentuk diskriminasi yang amat keji.

Ketiga.

Jika seorang pria menerapkan pembedaan permaisuri dan selir ini, biasanya hanya permaisuri lah yang akan mendampingi suami di dalam acara-acara formal, sementara selir tetap diam di rumah tanpa mempunyai hak untuk diperlihatkan kepada publik sang suami. Itu pun selir tidak mempunyai hak apa-apa, meski secara kerumahtanggaan hak-hak material mereka tetap terpenuhi. Yang jelas permaisuri adalah sang nyonya, sementara selir dianggap ‘tidak ada’ secara publik dan formal.

Islam tidak lah mentolerir konsep yang demikian. Pertama, Islam tidak lagi mengenal permaisuri vs selir ini, dan semua pendamping hidup seorang pria dinamakan istri. Kedua, karena semua wanita pendamping seorang suami dinamakan istri, maka  semua wanita tersebut mempunyai hak yang sama, yang diimplementasikan di dalam format ‘penggiliran’ yang adil.

Misalnya, saat sang suami mempunyai acara formal, istri A yang akan menjadi pendamping sang suami di depan publik sang suami. Pada acara formal berikutnya, sang suami akan mengambil istri B untuk menjadi pendampingnya untuk tampil di depan publik. Dan begitulah seterusnya. Pemilihan / penggiliran di antara istri-istri tersebut, dapat dilakukan secara pengundian maupun penjadwalan. Yang penting terdapat rasa keadilan di antara para istri. Islam menegaskan bahwa istri mempunyai kehormatan. Oleh karena itu seorang istri mempunyai hak yang sama di depan istri yang lain.

Terdapat perbedaan yang amat kontras antara ajaran Islam dan ajaran non Islam di dalam hal beristri banyak ini. Jika non-Islam menerapkan diskriminasi, maka Islam menerapkan non-diskriminasi.

Keempat.

Di luar Islam, seorang pria mempunyai kesempatan untuk mempunyai wanita pendamping hidup SEBANYAK MUNGKIN yang diinginkan sang pria. Oleh karena itu sejarah memperlihatkan betapa Nabi Daud dan Sulaiman mempunyai selir dan gundik yang jumlahnya mencapai ratusan.

Islam tidak mengajarkan hal demikian. Islam mengajarkan bahwa seorang pria HANYA BERHAK untuk mempunyai 4 wanita pendamping hidup. Islam tidak mengajarkan untuk mempunyai wanita pendamping hidup yang lebih dari 4 tersebut.

Di dalam hal ini, Allah memberi pengecualian untuk Nabi Muhammad Saw – di mana Nabi Saw mempunyai 9 istri, sementara Islam mengajarkan bahwa kaum Muslim hanya diperbolehkan mempunyai 4 istri.

00*00

1. Poligami dan Pergundikan (memiliki budak wanita) adalah suatu tradisi lazim yang berlaku di masyarakat Arab, Yahudi, Roma dan Persia kala itu. Perbudakan dan Pergundikan terjadi karena adanya peperangan yang menyebabkan tertawannya pihak yang kalah (dijadikan budak atau gundik). Bible pun menceritakan bahwa ada beberapa Rasul yang melakukan Poligami seperti Nabi Abraham yang menikahi Sarah, Hagar dan Ketura.

Nabi Sulaiman memiliki 700 orang istri dan 300 gundik (Kitab Raja-Raja di Perjanjian Lama)

2. Alquran  surah Almukminun ayat 6,

[23:6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu tanda orang-orang yang beriman adalah siapa yang menjaga kehormatan (kemaluannya) KECUALI terhadap terhadap ISTRI-ISTRI  mereka dan BUDAK-BUDAK wanita yang mereka miliki.

Para Ulama Islam dari berbagai Madhah Hukum Islam telah memfatwakan bahwa BUDAK Wanita yang Halal digauli seperti layaknya Hubungan Intim suami istri adalah Budak Wanita yang didapat dari peperangan antara Dawlah Islam (Negeri yang menerapkan Syariah Islam) dan Negeri2 yang secara Politis bermusuhan atau melakukan peperangan dengan Negeri Muslim dimana dalam peperangan tsb. Terjadi TAWAN MENAWAN (kalau Muslim tertawan oleh pihak musuh maka ia dijadikan Budak, maka atas dasar asas keadilan bahwa Non-Muslim yg tertawan dalam peperangan-pun harus dijadikan Budak).

Dalam konteks sekarang semua Ulama Islam telah memfatwakan bahwa perbudakan dan pergundikan tiada lagi terjadi, maka kasus-kasus perkosaan terhadap TKI di Negeri-negeri Arab tiada dapat dijustifikasi bahwa para Majikan Arab melakukan hal itu untuk mengamalkan kebolehan yang terdapat dalam Al Qur’an.

3. Dalam Hukum Perbudakan Islam, seseorang yang tertawan dalam peperangan dapat menebus dirinya sendiri atau dimerdekakan oleh majikannya. Hukum perbudakan Islam pun menjelaskan bahwa seorang budak wanita secara otomatis BEBAS ketika majikannya wafat dan anak hasil hubungan antara majikan dan budak wanita adalah “Anak Sah” dan merdeka seperti halnya anak yang dihasilkan dalam perkawinan normal.

Dalam kasus Raihanah, Juwairiyah dan Safiyah mereka bertiga tertawan dalam peperangan dan oleh Nabi Muhammad dibebaskan  kemudian dinikahi. Dimerdeka-kan bagi ketiga orang ini berarti adalah adanya maskawin bagi pernikahan mereka bertiga dengan Nabi Muhammad-saw. Sedangkan Mariyah diperoleh Nabi Muhammad-saw sebagai hadiah dari penguasa Mesir (yaitu Muqawqis) dan tetap menjadi budak sahaya sampai Nabi Muhammad wafat sehingga ketika Nabi wafat secara otomatis Mariyah ini merdeka dan anak hasil hubungan beliau dengan Nabi Muhammad (yang bernama Ibrahim) adalah anak sah secara hukum Islam

Akhir kata.

Dari keempat point ini, terlihat sekali keagungan Islam di dalam hal wanita pendamping hidup ini. Pertama Islam menegaskan bahwa konsep permaisuri dan selir (yang diadopsi non Islam) ditiadakan, dan diganti dengan istilah istri. Kemudian Islam mengajarkan bahwa para istri itu mempunyai hak yang sama dan seimbang di antara mereka di depan sang suami, tidak ada diskriminasi dan unggul – mengunggulkan satu istri di atas yang lainnya (sementara non-Islam mengajarkan diskriminasi yang teramat kentara). Kemudian, Islam mengajarkan bahwa setiap pria hanya diberi hak untuk mempunyai 4 wanita sebagai teman tidurnya (sementara non-Islam mengajarkan bahwa setiap pria BOLEH mengambil wanita sebagai pendamping hidup SEBANYAK-BANYAKNYA).

Di luar itu, Islam tetap membolehkan seorang pria untuk mempunyai gundik sebanyak-banyaknya. Mengingat Islam mengajarkan bahwa gundik (wanita budak yang dicampuri oleh majikan pria) akan otomatis memperoleh kemerdekaannya dari status budak jika sang tuan pria wafat, maka ini berarti Islam mempunyai peran dan misi yang amat jelas untuk membebaskan seluruh manusia dari belenggu perbudakan – itulah sebabnya Islam tetap membolehkan seorang pria untuk mempunyai gundik sebanyak mungkin. Makin banyak seorang pria mempunyai gundik, maka itu artinya akan semakin banyak wanita-wanita budak yang akan memperoleh kemerdekaannya dari takdir budak. Dengan cara begini, seorang pria akan diuntungkan karena mempunyai lebih banyak wanita yang akan menghangatkan ranjangnya, dan di lain pihak pun para budak wanita itu diuntungkan juga karena telah memperoleh jaminan dan kepastian bahwa kelak mereka akan terbebas dari perbudakan. Fair.

15 Responses

  1. ah ngaco kamu

  2. Hadeeeh ini sih ajaran manusia, bukan ajaran Tuhan. Manusia kayak anda2 ini yang memang isi otaknya nafsu semua. Paraaah!

    • susah dah kalo nyang ngomong PEYEM … hoihihihihiiii …

      jungkir balik ke mana2 aja, TETeUP AJA ga nyambung ….

      lha wong dia mikirnya make perasaan ….. bukannya logika dan matematika …..

    • ass. wr.wb
      Tina@ saya adalah juga bukanlah orang yang suka dengan poligami walaupun hukum islam membenarkannya,

      tapi percayalah bahwa semua itu benar,dan jika kita mendalaminya secara detail maka kita akan menemui keadilan didalam islam,
      jika anda masih ragu terhadap islam, sbg perbandingan maka tanyalah pada ahli al-kitab sekalipun, apakah benar beristri banyak dan bergundik banyak itu diperbolehkan? jika jawabannya tidak, maka suruh mereka membuka kembali al-kitab yang menyatakan ttg hal tersebut, karena walaupun saya muslim saya cukup memahami al-kitab sebelum saya menetapkan keyakinan saya pada Islam bukan karena saya lahir dari islam lebih karena logika dan nurani dan membuktikan ayat pada quran juga al-kitab

      maafkan saya bila ada perkataan saya yang salah, semoga hidayah-NYA selalu menaungi kita semua

      wass. wr. wb

  3. kalau dimasa sekarang ajaran seperti bisa dianggap sebagai ajaran setan. dimasa sekarang ga ada sautu negarapun di dunia yg boleh mengadakan perbudakan. tapi sayang bagi umad islam yg goblok bin tolol tetap akan menjalankan apa yg ditulis orang abad ke 7. selamat minikmati ajaran islam alias ajaran setan.
    ================

    Islamthis,
    Islam tidak ajarkan demikian …
    bahkan islam ajarkan bhw MEMBEBASKAN BUDAK adl jihad yg pahalanya luar biasa.

    terima kasih.

  4. @ true

    Dasar bego, Amerika berbuat baik terhadap orang kulit hitam baru pada akhir abad 20 ini sebelumnya penuh dengan diskriminasi. Sedangkan Islam sudah berbuat baik kepada budak sejak abad ke-7 sedangkan pada masa itu, perbudakan di negara Kristen masih merajalela. Katanya hukum cinta kasih… omong kosong

  5. dunia modern sudah meninggalkan perbudakan, islam yang kolot dan inferior tetap mempertahankannya.
    ================

    Islamthis,
    Islam tidak ajarkan demikian …
    bahkan islam ajarkan bhw MEMBEBASKAN BUDAK adl jihad yg pahalanya luar biasa.

    terima kasih.

    • Betul kata bung islamthis

      Islam mengajarkan kita umatnya untuk mengawini para budak agar status mereka bisa sedikit terangkat, sehingga mereka bisa bebas!

      subhanallah, sungguh indah ajaran yang islami ini

  6. Mau ajaran Islam ataupun Kristen, kalau lihat dari sejarah jelaslah bahwa itu adalah buatan manusia agar para pengikutnya bisa diatur.
    Gak beda dengan politik. Krn dalam sejarah itu kita bisa lihat ada pergeseran nilai moral. Kalau dulu perbudakan itu halal, dan sekarang tidak. Itu jelas sekali perbedaannya bagai langit dan bumi.

    Adalah baik mempercayai agama, selama kita yg mengikuti ajarannya melakukan hal baik terhadap sesama manusia (bukan hanya sesama pemeluk).

  7. org kristen ga mau baca perjanjian lama tentang budak, kalian baru mendengar tentang budak terasa aneh kedengarannya. sama jg sbelumnya kalian tdk pernah mendengar ayat2 perang dlm PL, ketika belakangan dibuka dan dibahas semua kristener pd kaget dan semua ikut2an komen seolah2 yesus tdk terlibat dan tdk tahu menahu thd perjanjian lama, pertanyaannya kl yesus tdk tahu berarti yesus bukan tuhan dong.

    agar pemahaman tentang agama samawi jd nyambung.
    saran bt kristener sering2 lah bk isi alkitab/PL baca tuntas,

    • Ngomong kek ngerti aja ente .. Cba ente tunjukin ayat PL yg menyebutkan ada nabi setubuhi budak , perkosa tahanan , kawinin anAk kecil kek Muhammad bin Abdullah

    • anda ini aisha malas baca bible ke gereja cuma nyanyi-nyanyi doang, makanya anda jangan hanya ngunyah dogma doang, apakah anda tidak tau di dalam bible itu ada cerita Abraham punya budak ketura, Yakub, Daud, Salomo, dan yang lainnya semua mempunyai banyak istri.

      Dalam 2 Samuel 12:8, Allah, berbicara melalui nabi Natan, berfirman bahwa seandainya istri-istri dan gundik-gundik Daud belum cukup, Dia akan menambah lagi kepada Daud. Salomo mempunyai 700 istri dan 300 gundik

      kami muslim sangat paham dan maklum karosetan model anda ini sangat alergi baca kitab dongeng bible!!!

  8. Deuteronomy
    20:13 Kemudian, apabila TUHAN Allahmu memungkinkan kamu merebut kota itu, kamu harus membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki.

    20:14Tetapi kamu boleh mengambil kaum wanita, anak-anak, ternak dan apa saja yang ada di kota itu. Segala harta benda musuh-musuhmu itu boleh kamu pakai. TUHAN Allahmu menyerahkan itu kepadamu.

    21:10 “Apabila kamu berperang dan TUHAN Allahmu memberi kamu kemenangan, lalu kamu mengambil tawanan perang,

    21:11 “mungkin di antara mereka ada seorang wanita cantik yang kausukai dan ingin kauperistri.

    21:12 “Bawalah wanita itu ke rumahmu. Di situ ia harus menggunting rambutnya, memotong kukunya,

  9. bukti BUDAK HALAL ada di bible: leviticus(Imamat 19:20)

    “Apabila seorang laki-laki berjanji akan menjual budaknya yang perempuan kepada laki-laki lain untuk dijadikan selirnya, dan orang yang mau membeli budak itu belum membayarnya, lalu pemilik yang semula bersetubuh dengan budak itu, mereka harus dihukum, tetapi tidak boleh dihukum mati, sebab bagaimanapun juga perempuan itu masih budaknya.”

    Penjelasannya:
    Disini menunjukkan bahwa Pemilik /Tuan BOLEH bersetubuh dengan budaknya, dan

    DILARANG Pemilik/Tuannya bersetubuh dengan budaknya apabila budaknya itu sudah laku terjual buat selir orang lain walaupun belum lunas pembayarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers

%d bloggers like this: