Pewahyuan Alquran: Antara Budaya dan Sejarah

sumber : http://suakahati.wordpress.com/2009/02/12/salahkah-islam/#comment-10184

Assalamu alaikum Wr Wb…

Misi Kang Wedhul……

Kemaren saya menemukan artikel tulisan Sdr. Mohamad Guntur Romli di website kebohongandariislam.wordpress.com. Artikel itu pada dasarnya ingin menafikan kepercayaan dunia Muslim bahwa Alquran adalah kalam Illahi. situs tersebut sengaja menurunkan artikel Romli ini dg tujuan untuk menghancurkan mental Muslim. Pada bagian komentar, Sdr. MG Romli -himself- menulis bahwa dia sangat keberatan jika artikelnya ditayangkan di situs tersebut dan meminta spy pemilik situs tersebut menghapusnya. Saya pribadi sempat menyalinnya ke PC saya untuk saya pelajari sebelum artikel tersebut benar-benar dihapus dari situs tersebut oleh pemiliknya atas permintaan Sdr. MG Romli.

Berkenaan dengan itu, ijinkan saya meng-upload artikel Sdr MG Romli tsb ke situs ini, kemudian saya sertakan jawaban / sanggahan saya atas artikel tersebut. Muhdah-mudahan bermanfaat bagi kita semua…..

Terima kasih.

************************

PEWAHYUAN AL-QURAN : ANTARA BUDAYA DAN SEJARAH

Oleh Mohamad Guntur Romli

Pewahyuan adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya. Ia bukanlah proses yang tunggal. Al-Quran sendiri menegaskan gagasan ini. Ketika Al-Quran berbicara tentang pewahyuan, baik dengan kata “mewahyukan” (awha) maupun “menurunkan” (anzala, nazzala) Al-Quran, digunakan kata nahnu : Berarti kami -sebagai subyek- seperti dalam awhayna (kami telah mewahyukan) ataupun anzalna, nazzalna (kami telah menurunkan). Dalam Al-Mu’jam al-Mufahhras li Alfadzil Qur’an, kata awhaytu (aku mewahyukan) hanya dipakai delapan kali, sedangkan awhayna (kami mewahyukan) digunakan lebih dari 30 kali.

Kata “kami” adalah bentuk plural. Pertanyaannya, siapakah yang disebut “kami” dalam ayat-ayat itu? Para mufasir klasik yang berkeras pada doktrin ketunggalan dalam pewahyuan menolak memahami “kami” sebagai pluralitas dalam pewahyuan. Menurut mereka, meskipun “kami” bentuknya plural, konotasinya pada Dia Yang Tunggal, kata “kami” bertujuan lit ta’dzîm (memuliakan) “si pembicara”.

Namun, pendapat ini, menurut hemat saya, rancu. Kata “kami”, bila digunakan sebagai pengganti “saya” atau “aku” untuk memuliakan “lawan bicara”, bukan “si pembicara”. Misalnya, seorang menteri tidak akan menggunakan kata “aku/saya telah melakukan” di depan presidennya, tapi mengatakan “kami telah melakukan”. Sebab, selain menunjukkan penghormatan terhadap lawan bicara, menandakan pengakuan, karena apa yang telah ia lakukan bukanlah hasil kerjanya sendiri, melainkan kerja kolektif.

Dalam tradisi tafsir klasik, menafsirkan istilah “kami” yang merujuk kepada Allah, Roh Kudus Jibril dan Muhammad lazim kita temukan. Dalam pandangan ini, Al-Quran secara “maknawi” bersumber dari Tuhan, tapi secara “lughawi ” (redaksi bahasa) disusun oleh Malaikat Jibril atau Nabi Muhammad : Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.

Pendapat ini berdasarkan sambungan sebaris ayat yang berbicara tentang turunnya Al-Quran : wa inna lahu lahafidzûn, “dan sesungguhnya kami pula yang akan menjaganya (Al-Quran)”. Di sini proses turunnya Al-Quran, sebagaimana proses penjagaannya, melibatkan “kerja kolektif” antara Tuhan dan manusia. Proses penjagaan (autentisitas) Al-Quran oleh manusia berbentuk hafalan dan tulisan.

Pewahyuan yang plural itu bisa ditegaskan lebih lanjut dengan menggunakan kajian sejarah yang melibatkan konteks sejarah, masyarakat, tradisi dan lingkungan. Pewahyuan dari konteks ini, menurut saya, bisa lebih menegaskan klaim Al-Quran sendiri, yang menggunakan kata “kami” yang plural, bukan “aku” yang tunggal.

Kisah dalam Al-Quran

Saya akan mengambil contoh kisah-kisah yang banyak dimuat Al-Quran. Dua pertiga isi Al-Quran adalah tentang kisah yang bersumber dari konteks tempat wahyu itu turun : kisah-kisah yang diperbincangkan di pasar-pasar, di sela-sela transaksi dan safari perniagaan, ataupun dongeng yang diwariskan secara turun-temurun.

Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya : sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’).

Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan kisah-kisah yang sudah populer pada zaman itu. Al-Quran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang benar-benar baru. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran.

Kisah Nabi Isa

Bukti lain bahwa Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah Nabi Isa dalam Al-Quran berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Quran, Isa (Yesus) hanyalah seorang Rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya.

Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon. Bagi kelompok Kristen mayoritas yang menyatakan Isa (Yesus) mati disalib, sekte Ebyon adalah sekte Kristen yang bidah.

Saya menjumpai adanya sekte Ebyon ini dalam buku Dinasti Yesus (2007) karya James D. Tabor. Menurut Tabor, sekte ini memiliki keyakinan yang mirip dengan keyakinan Islam dan berbeda dari Gereja Roma (lihat di bagian Konklusi di buku Tabor). Malah, menurut Tabor, sekte inilah ahli waris ajaran-ajaran kuno Yesus sebelum bercampur baur dengan ajaran Paulus. Tabor juga berasumsi bahwa Ebyon inilah yang memiliki kontak dengan Islam dan Nabi Muhammad.

Namun, dalam konklusi yang sangat pendek itu, Tabor tidak mengulas secara detail persamaan keyakinan Ebyon dan Islam, khususnya dalam peristiwa yang sangat krusial, yaitu penyaliban Yesus. Bagi para peneliti Yesus Sejarah, penyaliban Yesus adalah fakta sejarah, sedangkan bagi Ebyon -sepanjang pengetahuan saya terhadap akidah sekte ini dari beberapa literatur sejarah Arab dan Kristen- memang mirip dengan akidah Islam serta menolak cerita penyaliban Yesus.

Sejarah dan doktrin sekte Ebyon di Arab ini bisa ditemukan dalam buku Dr. Jawwad Ali, Al-Mufashshal Fi Tarîkh Al-’Arab Qablal Islâm (Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam) dalam empat jilid dan buku Al-Nashrâniyah wa Âdâbuha Bayna ‘Arab al-Jâhiliyah (Sejarah dan Sastra Kristen di Era Arab Jahiliyah) dalam dua jilid, karya Al-Abb Luwis Syaikhu Al-Yasû’i, seorang Romo Katolik Jesuit. Demikian juga dalam Al-Mawsû’ah Tarîkh Aqbâth Mishr (Ensiklopedi Sejarah Koptik Mesir).

Pada zaman Nabi Muhammad tidak hanya sekte Ebyon yang tersebar di Jazirah Arab. Ada dua sekte Kristen lain yang jauh lebih besar : Manofisit dan Nestorian, sebagai kelompok terbesar Gereja Timur yang berlawanan dengan Gereja Roma. Namun, kedua sekte itu (Manofisit dan Nestorian) tetap memiliki pandangan bahwa Yesus mati disalib. Hanya, keyakinan Ebyonlah yang benar-benar berbeda : Isa bukan anak Tuhan, ia hanya Rasul, dan matinya tidak disalib.

Pengaruh Ebyon dan Waraqah Bin Naufal

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Quran lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad-Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar : Bukhari, Muslim, dan lain-lain.

Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhammad. Seorang perempuan kali itu -yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam- tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki. Bisa dibayangkan kedekatan Waraqah dengan Khadijah dan Muhammad. Pun Waraqah orang pertama yang mengakui bahwa Muhammad memiliki tanda-tanda kenabian. Ia juga bernubuat, “nasib Muhammad seperti nabi-nabi sebelumnya, dia akan diusir oleh kaumnya”.

Al-Quran juga mengisahkan mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak, membuat burung-burung dari tanah, kemudian menghidupkannya. Kisah ini memang tidak ada dalam empat Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes), tapi bukan berarti Al-Quran adalah sumber tersendiri. Kisah mukjizat Isa (Yesus) masa kanak-kanak ini ada dalam tradisi Gnostik Kristen : Injil masa kanak-kanak Yesus menurut Tomas.

Kesimpulan saya sementara -yang tentu saja bisa didebat dan dibantah- kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen : Ebyon. Alasan Al-Quran menggunakan kisah Yesus versi ini, seperti yang telah saya kemukakan : akidah sekte ini sesuai dengan tauhid dan misi Islam, pun sepupu mertua Muhammad : Waraqah bin Naufal, adalah seorang rahib dari sekte Ebyon yang pertama kali “meyakini” Muhammad sebagai nabi.

Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural : konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu. Malah “proses kreatif” itu lebih kuat sebelum Muhammad menerima wahyu, hanya periode itu adalah “tahun-tahun yang hilang” ataupun tidak menjadi pusat perhatian dalam studi Islam klasik, yang tujuannya untuk menegaskan pewahyuan yang tunggal dari Tuhan serta menafikan pengaruh konteks dan sejarah.

Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal : ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian kesejarahan tidak bisa dipandang seperti itu. Dalam ranah ini, Al-Quran tetap memiliki banyak sumber dan “proses kreatif” yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Quran adalah “suntingan” dari “kitab-kitab” sebelumnya, yang disesuaikan dengan “kepentingan penyuntingnya”. Al-Quran tidak bisa melintasi “konteks” dan “sejarah”, karena ia adalah “wahyu” budaya dan sejarah.

Pewahyuan Al-Quran : Antara Budaya Dan Sejarah

papahmamah // Februari 14, 2009 pada 5:06 pm

Komentar dari Papahmamah:

Kajian terhadap artikel

“Pewahyuan Al-Quran : Antara Budaya Dan Sejarah

Oleh Mohamad Guntur Romli”

Oleh Papahmamah.

Dari membaca artikel yang ditulis oleh sdr. Mohamad Guntur Romli, saya menangkap isyarat yang ‘tidak pada tempatnya’. Oleh karena itu saya ingin membantu Sdr Romli dan juga lainnya (yang mana itu adalah tanggung-jawab saya sebagai Muslim untuk saling mengingatkan) dalam memahami beberapa hal yang terkandung dalam artikel tersebut.

Yang pertama saya ingin memberikan asistensi kepada Sdr. Romli dalam menjelaskan arti kata ‘KAMI’ dalam Alquran.

Memang, kata / tafsir yang ‘available’ pada saat ini yang disediakan oleh semua para ahli tafsir Alquran adalah, bahwa kata KAMI menyiratkan kebesaran Illahi semata, “saking” besarnya Allah, maka Ia “harus” menggunakan kata Kami untuk memanggil diriNya sendiri. Dan pada paragraph berikutnya, justru sdr. Romli membantah tafsir tersebut dengan menyebutkan, bahwa justru ‘tradisi’ menggunakan kata ‘kami’ adalah untuk memuliakan lawan bicara. Jadi, menurut Romli, Allah ‘terpaksa’ menggunakan kata KAMI karena Ia merasa harus menghormati oknum lain yang ada dalam lingkungan ciptaanNya sendiri. Benarkah demikian?

Untuk membahas mengapa Allah menggunakan kata “kami” dalam AlquranNya, maka mau tidak mau kita harus memulainya dari Bible.

Percayakah Anda, bahwa sejak awal, sejak jaman Bible pun, Allah tetap dan selalu memanggil diriNya dengan kata “KAMI” ketika Dia berbicara dengan Nabi-Nabi? Tidak pernah ada satu detik pun ketika Allah berbicara dengan para Nabi, Allah memanggil diriNya dengan kata AKU.

Masalahnya kemudian adalah, mengapa justru dalam Bible, baik di Perjanjian Lama mau pun Perjanjian Baru, Allah selalu memanggil diriNya dengan kata “Aku”? Dan kemudian, Allah memanggil diriNya dengan kata KAMI dalam Alquran?

Kunci perbedaan antara Bible dan Alquran dalam hal memanggil Tuhan ini terletak pada “siapa” yang bertanggung-jawab dalam me-redaksi-kan kata-kata Tuhan (pembicaraan antara para Nabi itu dengan Tuhan) itu ketika akan disampaikan kepada umat Dunia.

Pada masa pra Muhammad, semua ayat Tuhan (atau dengan kata lain, semua (hasil) pembicaraan antara Tuhan dengan para Nabi) diredaksikan oleh Nabi yang bersangkutan. Jadi, semua “kesan” yang muncul dari pembicaraan seorang Nabi dengan Tuhan, diredaksikan oleh Nabi tersebut ke dalam kata-kata manusia. Oleh karena itu, posisi Tuhan akan tetap dilihat melalui posisi seorang manusia yang dhaif. Maka, jadilah redaksi ayat tersebut seperti ini, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Ingat, phrase “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”., adalah redaksi sang Nabi, entah dia Daniel, Amos, Musa dan lain lain. Dalam phrase ini, Daniel misalnya, melihat Tuhan melalui posisinya sebagai manusia yang lemah; maka ia menulisnya begitu, “Aku Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Daniel menggunakan kata AKU dalam melukiskan Tuhan. Padahal, sebenarnya Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI ketika pembicaraan antara diriNya dengan Daniel berlangsung. Masalahnya adalah, ketika meredaksikan ayat tersebut, tentu saja Daniel ‘tidak berani’ untuk menulis “apa adanya” yaitu “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”.

Sebenarnya, Nabi mana pun tidak akan berani untuk meredaksikan ayat itu “apa adanya”, yaitu dengan bunyi “KAMI Allah Tuhan Israel, berkata begini…..”. Mengapa tidak beani? Seperti yang sudah saya tulis tadi, semua Nabi itu adalah orang orang yang merasa dhaif di depan Tuhan mereka, atau, mereka selalu melihat posisi Tuhan melalui posisi seorang manusia yang dhaif.

Itulah mengapa sebabnya dalam Bible, Tuhan selalu menyebut diriNya dengan kata AKU. Tidak lain adalah karena semua ayat Bible itu DIREDAKSIKAN oleh manusia belaka.

Bagaimana dengan Alquran?

Muhammad adalah satu-satunya Nabi y-a-n-g tidak MEMPUNYAI, DIBERI, MENDAPATKAN tanggung-jawab untuk meredaksikan pembicaraan Tuhan dengan dirinya. Jadi, semua pembicaraan antara Allah dengan Muhammad, yang mana pembicaraan itu akan dijadikan ayat yang akan dimasukkan ke dalam Alquran, adalah Allah sendiri Yang meredaksikannya. Alhasil, semua ‘occurrence’ Allah selalu diganti dengan kata KAMI, apa adanya.

Mari dibalik. Allah berkata kepada Muhammad, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…” (ini adalah bunyi apa adanya).

Kalaulah pembicaraan itu diredaksikan oleh Muhammad ke dalam Alquran (seperti Nabi-Nabi Perjanjian Lama lainnya), pastilah bunyinya begini, “AKU, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”

Namun karena Muhammad ‘tidak kebagian peran untuk meredaksikan ayat tersebut’, dan hanya Allah lah yang meredaksikan ayat tersebut, maka ayat itu lahir ke Dunia sesuai dengan apa adanya, “KAMI, Allah Tuhan Alam, berkata begini…”.

Berikutnya yang harus kita bahas adalah, istilah “apa adanya” yang selalu saya gunakan.

Allah berbicara kepada para Nabi, dan juga Muhammad yang mana pembicaraan itu kelak akan menjadi ayat. Semua Nabi itu mendapatkan hak dari Allah untuk meredaksikan semua pembicaraan itu menurut “suka-suka” sang Nabi. Dengan kata lain, semua Nabi itu diberi hak untuk menggunakan kata-kata mereka sendiri dalam menyusun ulang hasil pembicaraan mereka dengan Tuhan. TAPI, hak itu tidak diberikan kepada Muhammad. Dengan kata lain, seperti apa pembicaraan itu terjadi, maka seperti itu juga lah pembicaraan itu kelak ditulis dalam Alquran. Hal ini seperti Allah MENARUH kata-kataNya di atas lisan Muhammad. Kata MENARUH, tentu saja konotasinya adalah, bahwa yang DITARUH itu tidak akan berubah, tidak boleh diubah-ubah, tidak bisa diubah-ubah, jadi apa adanya saja, dan seterusnya.

Kitab Ulangan menulis demikian,

Ulangan 18:18, seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan MENARUH FIRMAN-KU DALAM MULUTNYA, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Orang Christians mengklaim bahwa “ia” dalam ayat di atas adalah Jesus, sedangkan Muslims mengklaim bahwa “ia” adalah Muhammad.

Kita sudah dapat menebak, “ia” dalam ayat di atas adalah hanya untuk Muhammad, mengingat Muhammad tidak pernah MEREDAKSIKAN pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Muhammad sendiri. Sementara Jesus adalah termasuk para Nabi yang meredaksikan pembicaraan Tuhan menurut kata-kata Jesus sendiri.

Di manakah indikasinya? Indikasinya terlihat dalam penggunaan kata “KAMI” dalam Alquran, sementara Bible selalu memanggil Allah dengan kata “AKU”.

KESIMPULANNYA adalah, bahwa kata KAMI dalam Alquran, hanya memberi SATU PESAN kepada kita semua, baik Muslims mau pun Christians, bahwa itu adalah CARA ALLAH meng-signify-kan betapa firman Allah kepada Muhammad tidak pernah diubah-ubah oleh redaksi Muhammad, seperti janjiNya dalam Ulangan 18.

Mungkin pertanyaan berikutnya adalah, “lantas mengapa Allah selalu memanggil diriNya dengan kata KAMI, ketika Dia berbicara dengan para Nabi pada masa kapan pun?”. Jawabannya adalah, mengapa itu kita permasalahkan? Apakah kita berhak untuk mendikte Allah bagaimana Dia harus memanggil diriNya sendiri? Setidaknya, apakah salah kalau Allah (selalu) memanggil diriNya dengan kata KAMI?

Point berikutnya, Sdr. Romli menyebutkan, bahwa ada keterlibatan Jibril dan Muhammad dalam penulisan wahyu dalam Alquran, seperti kata-kata Anda dalam artikel Anda tersebut, “Al-Quran adalah “karya bersama” Allah, Jibril dan Nabi Muhammad. Kelompok rasional Islam Muktazilah adalah pelopor pemahaman ini.”

Sebenarnya Anda keliru besar. Kalau kita tilik permasalahan “KAMI” menurut apa yang sudah saya jelaskan di atas, maka tidak perlu lagi ada perdebatan mengapa Alquran menggunakan kata KAMI untuk memanggil Allah – tidak perlu lagi kita berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan pluralitas. Dengan kata lain, kelompok Mutalizah BELUM SAMPAI pada pemahaman seperti yang saya jelaskan tersebut. Kita harus dapat memaklumi kekurangan si Muktalizah ini, mengingat pada masa itu belum berkembang ilmu perbandingan antara Alquran dan Bible.

Lebih lanjut lagi, kalau kita tetap berprasangka bahwa kata KAMI menyiratkan adanya pluralitas (Allah – Muhammad – Jibril), maka kita butuh kepastian yang lebih keras lagi, seperti pada ayat ini,

[2:34] Dan (ingatlah) ketika KAMI berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Ayat ini melukiskan saat terciptanya Adam. Pada masa itu tentu saja Muhammad “belum” ada. Jibril kemungkinan besar pun juga belum ada. Lantas, kata KAMI merujuk kepada siapa saja? Kombinasi Allah Muhammad Jibril tentunya akan membuat khalayak Muslims lebih bingung lagi, mengingat, kalau Muhammad dan Jibril tidak ada, maka apakah itu berarti Allah tidak akan KUASA untuk membuat ayat atau Alquran? Apakah ini berarti bahwa Allah membutuhkan makhlukNya ketika Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu yang lain?

Sebenarnya masih banyak ayat lain dalam Alquran yang tetap memanggil Allah dengan kata AKU seperti,

[2:33] Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya AKU mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ”

Lantas mengapa Anda ingin memperjuangkan prasangka Anda bahwa kata KAMI dalam Alquran merujuk kepada pluralitas? Kalau boleh jujur, sebenarnya Allah itu dalam Alquran “agak membingungkan juga”, mengingat, tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata AKU, dan tempo-tempo Dia memanggil diriNya dengan kata KAMI. Maksud saya berkata seperti ini adalah, kalau kata KAMI merujuk kepada PLURALITAS, maka bagaimana dengan kata AKU? Anda jangan melupakan juga peran kata AKU yang benar-benar merujuk kepada SINGULARITAS TULEN.

Kemudian Anda menulis,

“…….Dari kajian sejarah ini, Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya. Dalam ranah ini, pendapat Nashr Hamir Abu-Zayd bahwa al-nash muntaj tsaqafi (Al-Quran merupakan produk budaya) adalah sahih. Al-Quran adalah produk rangkaian proses kreatif-kolektif manusia yang disebut budaya. Wahyu tidak bisa lepas dari dua faktor yang membentuknya : sejarah (al-tarikh) dan konteks (al-waqi’)….”

Pendapat tokoh yang Anda gunakan pada paragraph tersebut memang menarik. Namun tolong perhitungkan saran saya. Orang yang bernama Nashr Hamir Abu Zayd ini dengan “titahnya”, apakah memang diterima secara luas di kalangan intelektual Muslims Dunia? Siapa sajakah pendukungnya? Siapa sajakah kawan seperjuangannya? Siapakah gurunya? Dan siapakah musuh-musuhnya? Jangan – jangan, Anda hanya mengambil / “mencomot” pendapat-pendapat yang berseliweran di Dunia ini yang sesuai dengan fikiran Anda saja, dan pendapat lain yang bertentangan dengan Anda tidak Anda masukkan di artikel Anda. Satu hal yang harus Anda ingat, Nashr Hamir Abu Zayd bukanlah seorang Nabi, bukan pula seseorang yang mengklaim memperoleh cahaya penerangan dari Surga. Ia bisa salah, dan bisa saja sekarang orang yang bersangkutan sudah bertaubat kepada Allah. Pernahkah Anda berfikir demikian?

Terus terang, saya tidak mengenal dengan baik siapa Nashr Hamir Abu Zayd ini. Dan saya rasa saya tidak berkewajiban untuk mempelajari buku-bukunya.

Kemudian Anda menulis,

“…….Kisah-kisah Al-Quran yang dipercaya sebagai mukjizat hakikatnya merupakan KISAH-KISAH YANG SUDAH POPULER PADA ZAMAN ITU. AL-QURAN TIDAK PERNAH MENGHADIRKAN KISAH-KISAH YANG BENAR-BENAR BARU. Misalnya saja kita tidak menemukan kisah tentang masyarakat Cina atau India, yang waktu itu telah memiliki peradaban yang luar biasa. Hal itu terjadi karena kisah-kisah tersebut tidak pernah sampai atau kurang populer ataupun tidak memiliki dampak ideologis dan politis terhadap masyarakat Arab. Berbeda dengan kisah-kisah yang berasal dari kawasan yang disebut “Bulan Sabit Subur”. Kawasan ini menjadi “mata air” yang mengalirkan kisah-kisah yang termaktub dalam Al-Quran…..(capital emphasize mine)”.

Dalam upayanya untuk menjatuhkan Alquran, orang orang Christians sering berkata, “tidak ada yang baru pada Alquran. Semua yang ada dalam Alquran berasal dari kitab sebelumnya yaitu Bible..”

Klaim tersebut memang benar, 100% benar. Sebenarnya klaim tersebut diajukan pihak Christians untuk menimbullkan kesan bahwa Muhammad hanya meniru-niru Bible, namun satu hal yang kaum Christians tidak menyangka. Islam adalah kelanjutan dari agama sebelumnya, oleh karena itu Alquran harus mengemban (lagi) apa yang dikandung Bible. Akhirnya klaim tersebut hanya kembali memperkuat posisi Islam dan Alquran.

Begitu juga dengan paragraph Anda di atas. Klaim Anda memang benar, Alquran tidak pernah menghadirkan kisah-kisah yang baru. Alquran harus mengulang apa yang sudah menjadi isu / wacana masyarakat manusia kala itu, hanya saja lebih benar dan lebih jernih.

Kalau Anda mau jujur, mana ada sih kitab lain yang menghadirkan kisah-kisah baru yang jauh melampaui konteksnya? Apakah kitab Hindu, Buddha, Bible, Konghucu dan seterusnya mempunyai segudang informasi yang jauh melampaui konteks dan masanya? Tolong perkaya pengetahuan saya dari Anda dengan memberi saya jawaban yang enak atas pertanyaan ini. Mudah-mudahan Allah membantu Anda.

Alquran dan Jesus

Dalam artikel Anda, tertulis kesan bahwa kontak antara Muhammad dengan kaum Christians Ebyon MENDAHULUI tertulisnya ayat-ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Jesus bukan anak Tuhan, dan Jesus tidak mati disalib. Anda ingin mengedepankan “maksud” Alquran bahwa Jesus bukan anak Tuhan, karena Muhammad mempunyai kontak yang amat personal dengan kaum Ebyon, dan kemudian karena misi Islam amat berbeda dengan misi Kristen pada umumnya.

Namun Anda belum menjelaskan, kalau Islam tidak ingin dibilang “mengcopy – paste” ajaran-ajaran yang sudah ada lebih dulu (dalam hal ini Ebyon), maka Islam harus bilang apa? Apakah Islam harus menyatakan, Jesus adalah wanita? Apakah Alquran harus menyatakan bahwa Jesus adalah “Malaikat salah bikin”? Apakah itu semua harus dinyatakan Islam demi agar supaya tidak ada orang yang bisa berkata bahwa Alquran mengcopy paste ajaran sebelumnya?

Atau, Islam / Alquran tetap berkata bahwa Jesus bukan anak Tuhan dan dia tidak mati disalib, dan kemudian Islam harus melakukan sesuatu yang kelewat fundamental demi tidak ada orang yang bisa menuduh bahwa Alquran hanya mengcopy paste?

Keadaannya tetap saja RUNYAM kalau kita harus mengikuti cara Anda berfikir. Misalnya Alquran “mengcopy paste” ajaran Kristen Roma di mana Jesus adalah anak Tuhan dan mati disalib, nah nanti Anda akan berkata,

1. Alquran mengcopy paste ajaran Roma ketimbang ajaran Ebyon –

2. karena Ebyon kala itu adalah bidah

3. dan minoritas,

4. dan Muhammad “ambil muka” orang Roma karena Muhammad ingin sekali menjadi paus Roma (namun tidak kesampaian juga sampai sekarang karena Muhammadnya keburu mati).

Jadi, Islam harus pilih yang mana? Bukankah keempat tuduhan di atas amat mengerikan bagi siapa pun? Apakah Anda dapat menjamin bahwa kalau Islam mengambil / “menyadur” ajaran Roma (bukan Ebyon), maka Anda tidak akan mengeluarkan 4 tuduhan tersebut?

Menurut saya Anda harus adil dan bijaksana, jangan sampai Anda hanya mempersulit Islam. Islam kan juga ingin survive, seperti Kristen Roma itu. Anda setuju?

Kemudian Anda menulis,

“……..Kesimpulan saya sementara -YANG TENTU SAJA BISA DIDEBAT DAN DIBANTAH- kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa “hanyalah” seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen : Ebyon…..(capital emphasize mine)”.

Anda benar. Kesimpulan Anda, tentu saja dapat dibantah dan didebat – dengan sendirinya. “Saduran”. “Saduran” dari mana? Kalau dari Roma, Anda akan berkata apa? Kalau saduran dari orang Hindu, Anda akan berkata apa? Kalau saduran dari Talmud, Anda akan bilang apa? Islam harus bilang apa supaya tidak dituduh menyadur pekerjaan orang lain? Apakah demi tidak dituduh menyadur maka Allah harus berdiam diri saja melihat kesalahan berfikir?

Seperti yang Anda katakan,

“…….Kajian-kajian tadi, baik terhadap teks-teks Al-Quran maupun kajian sejarahnya, menyatakan bahwa pewahyuan Al-Quran berasal dari sumber dan konteks yang plural : konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup, baik sebelum maupun setelah ia menerima wahyu…..:”.

Pernyataan itu tentu saja tidak berdasar. Pewahyuan Alquran TIDAK berasal dari sumber dan konteks yang plural. Alquran berasal dari sesuatu Yang Singular, Allah, Laa Syarikalahu, tidak ada serikat bagiNya. Perkataan KAMI dalam Alquran adalah cara Allah meng-signify-kan betapa Muhammad tidak mempunyai peran dalam meredaksikan kalimat Allah – seperti yang sudah saya jelaskan di sini. Kemudian lanjut pada bagian, “….konteks dan sejarah tempat Nabi Muhammad hidup”, ini pun juga merupakan statement Anda yang salah. Tolong tunjukkan kitab lain yang kodratnya amat khas, yaitu jauh melampaui konteks dan sejarah di mana kitab itu ditulis. Bisakah Anda?

Kemudian Anda menulis,

“……Al-Quran sebagai “kitab-keimanan” sah-sah saja bila diyakini memiliki sumber tunggal : ia adalah mukjizat, melalui proses yang menakjubkan, hingga di luar nalar manusia. Namun, Al-Quran dalam kajian….”

Anda keliru besar. Alquran bukan saja kitab keimanan, namun ia juga merupakan kitab yang di dalamnya terkandung bayangan-bayangan Ilmu Pengetahuan yang amat kental. Alquran sudah mengungkap fakta sejarah dan ilmiah di mana kala itu umat manusia belum mempunyai teknologi dan metode berfikir yang handal untuk mencapainya. Lebih lanjut lagi Anda menulis, “namun Alquran dalam ……”, saya tegaskan, tidak ada “namun-namunan” dalam hal Alquran ini. Tidak ada proses kreatif-kolektif atau apa pun itu namanya. Alquran ADALAH KALIMAT ALLAH SEMATA dan semua manusia di Bumi ini dari segala jaman sudah gagal untuk membuktikan sebaliknya. You try you will lose – like others have and had. Sudahkah Anda melihat dan belajar berapa banyak individu di dalam sejarah yang mencoba menjatuhkan Alquran namun pada akhirnya gagal total? Anda bukanlah orang pertama, dan untuk tujuan menghancurkan Alquran ini, saya rasa Anda tidak akan pernah bisa menjadi pahlawan penghancur Alquran yang mereka dambakan.

Tentang Bible

Anda mengkonfrontirkan antara Alquran dan Bible (dan juga Christianity), dan pada banyak waktu sepertinya Anda justru lebih memihak kepada eksistensi / kemuliaan Bible, terlihat dari bagaimana Anda ingin selalu menjatuhkan dan mendeskreditkan Alquran. Ada satu kesan yang saya peroleh dari paragraph Anda di atas. Anda ingin menimbulkan kesan bahwa Alquran “bikinan” manusia semata. Coba renungkan beberapa item di bawah ini.

1. Bible adalah suatu kitab yang di dalamnya terkandung begitu banyak pertentangan. Bahkan semua / kebanyakan orang Christians mengakui hal tersebut.

2. Bible adalah kitab yang di dalamnya terkandung begitu banyak warta pornografi. Semua orang Christians tidak dapat menghindari diskusi tersebut.

3. Bible adalah suatu kitab yang di dalamnya terdapat PERTENTANGAN yang amat radikal terhadap azas – azas keilmuan / Ilmu Pengetahuan. Semua orang Kristen tidak dapat menghindari kenyataan tersebut.

4. Perjanjian Lama sudah menghinakan Nabi – Nabi Tuhan seperti Lut, Daud, Yakub dan lain lain. Benarkah berita-berita itu datang dari Tuhan Surgawi?

5. Banyak ramalan – ramalan dalam Bible tidak terbukti sama sekali HINGGA HARI INI.

6. Semua sarjana Muslims “sudah terlalu lengkap” dalam mengkritik betapa Bible sudah tidak lagi otentik, dan itu sesuai dengan dasar – dasar fakta dan sejarah.

7. Semua sarjana sekuler “sudah terlalu lengkap” dalam mengkritik betapa Bible sudah tidak lagi otentik, dan itu sesuai dengan dasar – dasar fakta dan sejarah.

8. Baru-baru ini sejarah mengungkapkan bahwa Jesus HIDUP BERKAWIN bahkan berpoligami yaitu dengan Magdalena dan Marta dan melahirkan beberapa anak. Ini sudah membuktikan bahwa Christianity harus bubar karena ternyata Jesus bukanlah anak Tuhan. (Namun tentunya gereja menolaknya, yang jelas mereka berdiam diri sama sekali karena kehabisan kata-kata untuk menghindarinya).

9. Banyak Gospel yang ditolak oleh gereja, dan hanya sebagian kecil Gospel yang diterima oleh gereja. Atas dasar apa gereja (yang isinya manusia manusia berdosa belaka seperti kita-kita) menentukan “criteria” diterima atau tidak diterimanya suatu Injil?

10. Semua Injil di Dunia ini bernenek moyang ke Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus yang bertahun 300an M. Sebelum 300M, pengikut Almasih membaca apa?

11. Pada Katakombe di bawah kota Roma yang berasal dari abad pertama Masehi tidak ditemukan adanya satu pun tanda salib. Ini menandakan bahwa pengikut Almasih pada masa itu tidak menggunakan salib sebagai tanda keimanan mereka. Kalau pada masa itu mereka tidak menggunakan tanda salib, maka konsekwensi logisnya adalah, bahwa pada masa itu mereka tidak mengenal istilah “anak Tuhan”, trinitas dan penebusan dosa. Tak ayal lagi, tidak perlu bagi siapa pun (khususnya kaum Muslims) untuk mencoba-coba membela Christianity dan atau Bible.

“…….As a matter of interest, Bamber Gascoigne, of Oxford University, UK, draws one’s attention in his book “The Christians” to the fact that none of the early Christian catacombs / tombs were engraved with the sign of the cross. The engraving of the cross on the tombs was introduced much later on in the history of Christianity…..”

12. Sahadat Bapa – Anak “ditemukan” baru pada tahun 300an M. Jadi, sebelum bilangan tahun tersebut, tidak ada pengikut Almasih yang menyatakan Iman mereka dengan cara meresapi Trinitas.

13. Sahadat Bapa – Anak dirancang oleh manusia, bukan datang dan berasal dari kitab suci mereka. Sahadat ini adalah hasil voting dan perdebatan belaka.

14. Ketika Muhammad Saw membersihkan Ka’bah, banyak dijumpai di dalamnya icon-icon semua agama termasuk Yahudi dan Kristen. Muhammad Saw tidak menemukan satu pun tanda salib di dalam Ka’bah tersebut. Muhammad hanya menemukan “patung” Bunda Maria sedang menggendong anaknya. Berarti pada masa Muhammad Saw pun (yang lahir pada tahun 571M) orang Kristen belum menggunakan salib sebagai tanda / dasar Iman mereka.

“……….[After the conquest of Mecca] “Apart from the icon of the Virgin Mary and the child Jesus, and a painting of an old man, said to be Abraham, the walls inside [Ka'bah] had been covered with pictures of pagan deities. Placing his hand protectively over the icon, the Prophet told `Uthman to see that all other paintings, except that of Abraham, were effaced.”.

(Martin Linggs, “Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources” p.300, ref: al-Waqidi, Kitab al-Maghazi 834, and Azraqi, Akhbar Makkah vol. 1, p. 107. Martin Linggs is a practicing Muslim.) …..”

15. Petrus dan Paulus adalah tokoh penting dalam Bible Perjanjian Baru. Perlu Anda (dan semua orang Christians) ketahui bahwa kedua orang ini adalah “korban” / bukti dari JANJI KUTUKAN Tuhan dalam Kitab Ulangan pasal 18. Petrus membawa pesan yang bukan datang dari Tuhan, dan Paulus mengaku-ngaku sebagai Rasul. Petrus MATI TERHUKUM dengan disalib terbalik, dan Paulus MATI TERHUKUM dipenggal oleh Kaisar Nero (dengan kata lain, keduanya MATI TIDAK WAJAR).

DARI PADA Anda mendeskreditkan agama Islam / Muhammad, mengapa Anda tidak mencoba untuk mempelajari betapa Christianity adalah suatu kesalahan FATAL yang amat besar (ke 15 point di atas adalah beberapa input dari sekian banyak untuk tujuan tersebut) yang hanya mempermalu species Manusia di mata Illahi?

Mungkin Anda justru akan berdalih, bahwa 15 point tersebut hanya akan memperuncing hubungan kedua agama, karena sejatinya Anda hanya menginginkan “MEMBANGUN DIALOG ANTARAGAMA, MELAWAN FANATISME DAN KEBENCIAN….”.

Apakah saya tidak salah baca? Apakah dialog antaragama dan melawan fanatisme kebencian harus dimulai dengan cara mendeskreditkan Islam / Muhammad / Alquran / Jibril begitu rupa? Apakah dengan cara:

1. Mendeskreditkan Islam / Allah / Muhammad / Jibril,

2. Dan TIDAK mendengung – dengungkan ke 15 point tersebut

Maka kita dapat dikatakan ingin membangun dialog antar agama? Dan untuk lebih jelas lagi, kita akan dapat dikatakan ingin membangun dialog antara agama dan menentang fanatisme dan kebencian agamis HANYA KALAU kita mendeskreditkan Islam / Allah / Muhammad / Jibril / Alquran? Mental seperti apa itu?

Setidaknya, Anda harus ingat, bahwa JAUH LEBIH MUDAH mendeskreditkan Christianity dari pada Islam. Namun sekarang Anda justru lebih memilih untuk bersusah payah untuk mendeskreditkan Islam yang sebenarnya sudah tidak dapat lagi untuk dideskreditkan oleh siapa pun.

Dalam surat Anda, Anda mengutarakan misi Anda untuk mencari titik temu antara Islam dan Kristen. Penting untuk Anda ketahui, bahwa Islam dan ajaran Al Masih mempunyai 100% kesamaan, asalkan ajaran itu belum bercampur dengan kehendak tangan keji pada masa-masa lanjut. Saya sudah membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (di luar risalah Paulus). Semua ayat-ayat di sana membuat saya menitiskan air mata karena terharu, betapa Isa Almasih “masih satu perguruan” dengan Muhammad Saw. Tak satu pun dari perkataan Isa yang menjelaskan bahwa ia adalah anak Tuhan dan harus disembah. Islam tentu saja tidak dapat dicarikan titik temunya dengan kekristenan yang sekarang ini.

Kemudian, kalau memang Anda ingin menemukan titik temu antara kedua agama, maka mengapa Anda tidak juga mendeskreditkan Christianity sedemikian rupa, seperti yang baru saja Anda lakukan terhadap Islam dan Alquran? Di mana letak keadilan Anda? Apakah Anda berfikir Islam dan Christianity dapat dipertemukan dengan damai kalau Islam sudah dideskreditkan sedemikian rupa? Jadi, Islam seperti yang Anda inginkan supaya dapat dipertemukan dengan Christianity? Apakah Anda berfikir bahwa Islam dan Christianity dapat dipertemukan kalau Christianity Anda agung-agungkan sedemikian rupa dan Islamnya Anda deskreditkan sedemikian rupa? Tidakkah itu aneh –untuk ukuran orang Indonesia seperti Anda?

Lebih lanjut, Anda menulis dalam surat Anda, “Saya mencintai agama saya (Islam) maka saya mengkritiknya”.

Apakah saya tidak salah baca? Mengapa Anda berfikir bahwa Islam pantas untuk dikritik? Bukankah Islam adalah agama yang sempurna? Dan bukankah Allah sendiri Yang menyatakan demikian dalam surat Al Maidah ayat 3? Kalau Anda berdalih bahwa firman Allah dalam surah Almaidah 3 tersebut tidak dapat dijadikan rujukan, maka berarti Anda bukan Islam dan bukan Islam SEPENUHNYA. Berarti Anda orang di luar Islam. Bukankah salah satu rukun Iman adalah bahwa Anda harus percaya kepada Alquran (beserta semua ayat di dalamnya)? Kalau ada seseorang yang merasa Islam pantas untuk dikritik, maka biasanya orang itulah yang harus dikritik. Anda setuju? Kalau Anda memang benar-benar cinta Islam, tentunya Anda akan memilih untuk membela Islam, bukan untuk mengkritiknya. Kritik akan berarti cinta kalau yang dikritik adalah anak asuh seperti dalam hubungan seorang guru dengan muridnya. Masalahnya Islam bukanlah murid Anda. Islam bukanlah anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Sebuah film pasti akan dikritisi. Namun yang mengkritisi film tersebut pastilah manusia-manusia yang sebelumnya sudah terlibat pada aktivitas pembuatan film seperti produser film, actor, sutradara, wartawan khusus film dan seterusnya. Tidak pernah seorang Jenderal TNI tiba-tiba menjadi kritikus film. Masalahnya, apakah Anda ‘berpengalaman’ dalam penciptaan agama-agama? Apakah Anda termasuk dalam jajaran pada dewa yang memproduksi dan mengatur lalu lintas agama – agama sepanjang masa?

Kemudian kalau Anda berfikir bahwa Islam adalah pantas untuk dikritik, maka bagaimana dengan Kristen? Apakah dari semua agama di Dunia ini, hanya Islam yang dapat dikritik habis-habisan? Apakah Kristen tidak layak untuk dikritik? Kalau Kristen tidak layak untuk dikritik, berarti Anda mulai berfikir bahwa Kristen adalah agama Tuhan yang benar; agama yang sempurna. Kalau sudah begitu, maka berarti Anda MURTAD dari Islam. Pantas, semua perkataan Anda cenderung membela Kristen dan menghina Islam. Kalau Anda juga mengkritik Kristen dan agama lain di samping Islam, ya oke lah. Namun kenyataannya Anda hanya mengkritik Islam. Apakah Anda sadari hal itu?

Kalau Anda mengkritisi adat Minangkabau, ya okelah. Kalau Anda mengkritik kebiasaan orang Badui, masih bisa diterima. Masalahnya Islam bukanlah bikinan manusia seperti yang Anda duga selama ini.

Anda menulis, “Saya menolak fanatisme dan fundamentalisme dalam setiap agama”. Masalahnya Anda terlanjur memberi pengertian negative tentang fanatisme dan fundamentalisme. Banyak Muslims (dan juga di lingkungan agama lainnya) yang sukses besar lantaran mereka mempunyai kedua hal tersebut. Hanya saja Anda tidak menyadarinya. Imam Bonjol dan Pangeran Dipenogoro adalah contoh dari jiwa fanatisme dan fundamentalisme. Kalau tidak ada mereka, tidak akan pernah ada yang namanya NKRI. Mahatma Gandhi tidak akan muncul dalam sejarah kalau ia tidak berjiwa fanatisme dan fundamentalisme tersebut. Mereka yang sangat kejawaan, pastilah kejawaannya itu dilandasi oleh fanatisme dan fundamentalisme. Mereka yang kesundaan, pastilah demikian juga keadaannya. Mengapa Anda tidak pernah mengutuki mereka? Bukankah mereka yang menjadi pilar pelestarian budaya? Ya okelah kita harus memberangus fanatisme dan fundamentalisme. Namun apakah dengan cara mendeskreditkan Islam dan memuliakan Kristen?

Yang harus Anda berangus adalah rasa kebencian. Dan mereka yang mempunyai kebencian terhadap agama lain belum tentu didasari oleh fanatisme dan fundamentalisme. Banyak sekali unaware Muslims (Muslim yang kurang pemahamannya terhadap Islam) justru mempunyai kebencian yang luar biasa terhadap agama lain. Begitu juga dengan di lingkungan Kristen, Hindu dan seterusnya. Anda harus pahami itu.

Kemudian, dari 10 Muslims Jakarta, apakah kesepuluhnya mempunyai rasa kebencian terhadap agama lain? Apakah dari 100 Muslims Jakarta, kesemuanya mempunyai kebencian terhadap Kristen misalnya? Begitu juga di lingkungan Kristen. Tanyakan pada santriwan dan santriwati. Apakah mereka didoktrin untuk membenci Kristen? Lantas mengapa hanya kalangan Muslims saja yang Anda kritisi? Sedikit, sedikit sekali dari kalangan penganut agama tertentu yang mempunyai rasa kebencian terhadap agama lain. Namun satu hal yang harus Anda ingat. Yang harus Anda tangani bukan Islamnya, namun ORANGnya. Yang harus Anda kritik (dan kutuk) adalah ORANG yang mempunyai jiwa kebencian terhadap agama lain. Islam tidak mempunyai hubungan apa pun dengan individu individu seperti itu. Saya rasa Anda salah dalam memilih bidang pekerjaan yang pas untuk latar belakang pendidikan Anda. Nah apalagi sekarang Anda berusaha untuk mencari titik temu antara Islam dan Kristen sambil menghinakan agama Islam di depan jemaat Kristen. Saya pastikan, Anda tidak akan berhasil dengan tanggung-jawab tersebut.

Sebelum terlambat, ingin saya tegaskan bahwa Islam TIDAK PERNAH BERHUTANG BESAR kepada Kristen dan Yahudi. Pernyataan Anda memang benar-benar bernada bahwa Kristen dan Yahudi amat mulia. Islam datang dari Allah Swt, bukan dari kedua agama tersebut. Anda hanya ingin menegaskan bahwa tidak ada yang diperbuat Muhammad kecuali mendompleng kemasyhuran Kristen dan Yahudi (oleh karena itu Islam harus berhutang besar kepada 2 agama tersebut). Bagaimana saya harus menyikapi pernyataan Anda tersebut secara proporsional?

Anda berkata tentang permusuhan antara pemeluk agama, dengan kata lain Anda ingin mempromosikan toleransi yang indah dan harmonis antara penganut agama, khususnya di Indonesia ini. Mungkin pemahaman Anda masih kurang, maka saya ingin membantu Anda dalam menyelesaikan masalah ini.

Sejak jaman pembangunan Borobudur, kerukunan antar umat beragama sudah tercipta. Sejak berakhirnya masa pra-sejarah Indonesia yaitu tahun 400M dengan ditemukannya prasasti Kerajaan Kutai di Kalimantan, kerukunan multi agama sudah terbukti dengan indahnya. Pada masa colonial Belanda, si pribumi yang Muslims dengan si Belanda yang Kristen tidak pernah terjadi kerusuhan agamis. Tidak pernah ada berita dari masa itu di mana si Belanda yang Kristen dilanda kepanikan luar biasa karena Natal mereka diobrak-abrik oleh pribumi yang Muslims. Begitu juga sebaliknya, tidak pernah Masjid Masjid dibakar Belanda ketika berlangsungnya shalat Idul Fitri. Tidak pernah terjadi pejabat colonial Belanda menyiksa pribumi supaya si pribumi itu murtad. Nenek moyang “Belanda Depok” adalah individu individu pribumi yang masuk Kristen secara sukarela, sama sekali Chastellin tidak memaksa mereka.

Tiba-tiba muncul seseorang yang bernama Mohamad Guntur Romli yang mengusahakan untuk pemberangusan kebencian terhadap agama lain sambil ia menghinakan Islam di depan jemaat agama lain – dalam hal ini agama Kristen. Perlu Anda ketahui, tanpa bantuan Anda dan tanpa cara berfikir Anda yang aneh tersebut., toh kerukunan antar umat beragama tetap exist di muka Bumi ini. Singkat kata, kontribusi Anda dalam isu ini benar-benar dapat DITIADAKAN.

Nenek moyang kita, tanpa harus menjelek-jelekkan suatu agama pun, dapat menciptakan kerukunan umat beragama. Dengan kata lain, kerukunan umat beragama dapat tercipta tanpa harus menjelek-jelekkan suatu agama. Maka sekarang di mana posisi Anda? Di mana posisi Anda, di mana Anda berkata, bahwa dari semua agama Dunia ini, hanya Islamlah yang paling dapat dikritik habis-habisan? Di manakah posisi Anda, di mana Anda berkata, bahwa semua agama kecuali Islam tidak dapat dikritik sama sekali alias sempurna? Kalau Anda membantah pernyataan saya ini, maka buktikanlah bahwa Anda pun berminat untuk mengkritik Kristen, buatlah essay yang panjang untuk menjelaskan betapa Kristen memiliki ketimpangan yang amat memalukan. Pernahkah Anda menghasilkan essay seperti itu? Apakah masuk akal, Anda ingin mendamaikan antara si A dan si B dengan cara Anda menjelek-jelekkan si A di depan si B?

Secara garis besar Anda harus ingat. Kerukunan antar umat beragama yang sudah tercipta di Bumi Nusantara selama berabad-abad ini tercipta tanpa bantuan dari orang orang seperti Anda, tanpa buah fikiran seperti Anda.

Pada akhirnya, mengapa Anda berandai-andai Anda dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama dengan cara menghinakan Islam di depan jemaat agama lain? Mengapa Anda berfikir tanpa ‘jerih payah’ Anda maka kerukunan itu tidak akan pernah tercipta? Anda bisa lahir dengan selamat pun karena sudah tercipta kerukunan antar umat beragama tersebut. Ketika ibunda Anda berada di ruang persalinan untuk kelahiran Anda, salah satu perawat yang membantu persalinan Anda adalah non Muslim. Namun semua perawat itu saling bahu membahu, saling membutuhkan, saling memakai tanpa membawa-bawa perbedaan agama. Kerukunan sudah tercipta mengawali kelahiran Anda. Tidakkah Anda sadari hal itu?

Kalau Anda tidak pernah menyadari hal itu, maka apa saja yang Anda sadari di kehidupan Dunia yang singkat ini? Mungkin Anda akan berdalih, bahwa artikel Anda tersebut sama sekali tidak mempunyai tujuan untuk mendeskreditkan / menjelek-jelekkan Islam. Namun bukankah Anda sendiri yang terang-terangan berkata bahwa Anda ingin mengkritik Islam? Kalau bukan mendeskreditkan dan atau menjelek-jelekkan Islam, maka apa lagi definisi dari “mengkritik” itu? Akhirnya kembali saya ingin katakan, “Kalau Anda tidak pernah menyadari hal itu, maka apa saja yang Anda sadari di kehidupan Dunia yang singkat ini?”.

Dalam komentar Anda, tertulis, “Saya ingin terus mencari titik-temu di antara agama-agama, mendekatkan perbedaan, bukan memperluaskannya hingga bisa lahir KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN (-capital emphasize mine).”

Apakah saya tidak salah baca?

Dengan tegas Anda menyatakan bahwa Anda ingin mengkritik Islam (karena alasan cinta, kata Anda). Mengkritik Islam berarti Anda melancarkan kata-kata tidak pantas, menjelek-jelekkan yang diarahkan kepada Islam, mendeskreditkan Islam sedemikian rupa. Bahkan dalam paragraph terakhir Anda menulis, “yang disesuaikan dengan “KEPENTINGAN PENYUNTINGNYA” (-capital emphasize mine)”. Anda dengan terang-terangan menegaskan SESUAI DENGAN KEPENTINGAN PENYUNTINGNYA. Bukankah ini berarti bahwa dalam fikiran Anda Alquran semata-mata adalah karya Muhammad – bukan karya Illahi? Kalau ini tidak dikatakan sebagai serangan, menjelek-jelekkan Alquran, maka disebut apa lagi?

Dan tanpa Anda sadari, mudahnya Anda melancarkan kritikan terhadap Alquran, sebenarnya itu terlahir dari KEBENCIAN Anda terhadap Alquran dan Islam. Anda harus membuka mata Anda, bahwa jika seorang individu mencintai Alquran, maka ia akan selalu membangga-banggakan Alquran, memuja Alquran dan membela Alquran, apa pun ceritanya. Maksudnya, tidak mungkin ada seorang individu yang amat mencintai Islam dan atau Alquran, maka cintanya itu menyebabkan ia mengatakan hal-hal yang menjelek-jelekkan Alquran tersebut. Tiba-tiba Anda mengaku Anda sangat mencintai Islam (dan Alquran) namun dengan cara mengkritik Alquran sedemikian rupa. Tidak ada satu pun individu di Alam ini yang dapat memahami pendirian Anda.

Singkat kata, siapakah di sini sebenarnya yang MENYEBARKAN KEBENCIAN dan permusuhan? Sadarkah Anda bahwa tulisan Anda itu justru menimbulkan “serangan balik” dari kalangan aktivis Masjid, santriwan – santriwati dan semua kalangan Muslims yang lebih luas pada umumnya? Apakah Anda mengharap mereka semua berdiam diri saja melihat Alquran mereka Anda deskreditkan demikian rupa? Apakah Anda mengklaim, dengan artikel Anda tersebut maka Anda sedang menyebarkan damai ke seluruh umat Muslims di Indonesia?

Anda menyatakan cintanya kepada Islam dengan cara mengkritik (dengan demikian, menjelek-jelekkan dan mendeskreditkan) Alquran. Harus Anda ketahui, tanpa cinta Anda terhadap Alquran, Islam akan tetap jaya di Bumi ini. Tanpa orang seperti Anda dengan cinta Anda, Islam tidak akan bangkrut. Masih begitu banyak Muslims yang mencintai Alquran yang justru mengagung-agungkan Alquran dan membangga-banggakan Alquran.

Tolong renungi kembali pertanyaan saya. Siapakah di sini sebenarnya yang menyebakan kebencian terhadap Islam dan Muhammad dan Alquran? Apakah mungkin ada seseorang yang amat mencintai Islam dan Alquran justru ia mendeskreditkan Alquran tersebut di depan jemaat agama lain? Apalagi sambil mengisyaratkan bahwa Alquran itu sebenarnya bukanlah kalimat Tuhan, namun “hanya sebatas” pekerjaan si penyuntingnya yang tidak lain adalah Muhammad.

PENUTUP

Percayalah, bahwa:

1. Kata KAMI dalam Alquran adalah cara Allah Swt untuk men-signify-kan betapa Muhammad tidak mempunyai peran untuk meredaksikan pembicaraan Tuhan – karena hal itu adalah janji Allah dalam Perjanjian Lama kitab Ulangan pasal 18.

2. Kata KAMI dalam Alquran Anda “USAHAKAN / PAKSAKAN” untuk berarti dan berperan sebagai “Trinitas” dalam Islam: Allah – Muhammad – Jibril. Teman saya yang Muslims akhirnya bersedia murtad ke Christianity karena panggilan jiwanya sangat mendambakan Trinitas, ia justru tidak memaksakan Islam supaya memiliki Trinitas. Saya menilai bahwa teman saya itu sudah menggunakan hak azasinya dengan baik yaitu memilih agama yang sesuai dengan panggilan jiwanya, dan di lain pihak ia tidak memaksakan Islam untuk mempunyai Trinitas seperti Christianity – karena tidak ada seorang pun yang BERHAK untuk memaksa Islam untuk mempunyai Trinitas versinya sendiri. Faham maksud saya?

3. Anda memaksakan Islam untuk mempunyai Trinitas melalui ‘kontroversial’ kata KAMI dalam Alquran. Tanpa sadar Anda sudah menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu AKSIOMA (suatu hal yang kebenarannya tidak lagi perlu diuji). Kalau Anda SUDI dan DAPAT menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu aksioma, mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama terhadap Islam dan Alqurannya?

4. Apakah Anda menempatkan Islam dan Alqurannya sebagai sesuatu yang kebenarannya masih bisa diuji?

5. MENGAPA BISA SAMPAI TERJADI di mana Anda menempatkan Christianity dan Trinitasnya sebagai suatu aksioma, sementara Anda yang Muslims tidak menempatkan Islam dan Alqurannya sebagai aksioma bagi kehidupan Anda? Apakah Anda tidak dapat mengatasi masalah Anda sendiri?

6. Anda dengan tegas ingin mengkritik Alquran karena cinta Anda kepada Islam. Anda harus ingat mengkritik Islam berarti Anda mendeskreditkannya. Islam tidak diturunkan untuk dikritik. Islam diturunkan untuk dipatuhi.

7. Islam tidak butuh cinta Anda. Seluruh manusia di Bumi ini tidak mencintai Islam, Islam tidak akan bangkrut.

8. Anda mengkritik Alquran bahwa Alquran tidak pernah bisa jauh melampaui konteks dan masa ketika Alquran itu ditulis. Tunjukkan kepada saya ada kitab lain di Dunia ini yang content nya jauh melampaui konteks dan masanya.

9. Saya dan Muslims lain melihat dengan kecerdasan rohaniah bahwa Alquran (dan Alhadith) adalah suatu mahakarya yang contentnya jauh melampaui konteks dan masanya. Mengapa Anda tidak melihat hal demikian? Apakah Anda tidak pernah surfing di internet?

10. Kalau Anda berfikir bahwa ISLAM / ALQURAN PANTAS UNTUK DIKRITIK, maka agama lain pun juga pantas untuk dikritik

11. TIDAK MUNGKIN BENAR jika ada seseorang berkata, dari semua agama di Dunia yang fana ini, Islam adalah satu-satunya agama yang pantas dan bisa untuk dikritik habis-habisan.

12. Kalau Anda tidak sadar bahwa agama lain (dalam hal ini Christianity) selain Islam tidak pantas untuk dikritik, maka apa sajakah yang Anda dapatkan / sadari selama Anda hidup di Dunia fana ini?

13. Dan kalau Anda setuju bahwa CHRISTIANITY PUN PANTAS UNTUK DIKRITIK, maka turunkanlah artikel-artikel dari Anda untuk menjelaskan betapa Christianity adalah pantas untuk ditinjau ulang. Anda harus adil.

14. Dan kalau memang Anda setuju bahwa Christianity pantas untuk dikritik, maka sebaiknya Anda FOKUS SAJA untuk mengkritik agama tersebut habis-habisan. Itu LEBIH MASUK AKAL dari pada Anda menjelek-jelekkan agama Anda sendiri.

15. Christianity jauh lebih tepat untuk Anda kritik habis-habisan. Kalau Anda tidak dapat melihat potensi – potensi kebobrokan Christianity, maka Anda sebaiknya tidak usah menulis artikel di sana sini. Kaum awam pun akan dapat menemukan kejanggalan dalam agama Christianity tersebut dengan mudahnya. Mengapa Anda tidak?

16. Kalau memang Anda tidak dapat menemukan kebobrokan Christianity namun Anda justru dapat menemukan “kebobrokan” Islam, maka berarti Anda bukanlah Muslims, dan BERARTI ANDA TIDAK MENCINTAI ISLAM. Logika ini amat mudah bahkan bagi anak TK sekali pun!

17. Kalau Anda memang menemukan kebobrokan Christianity namun Anda tidak bersedia menuliskannya dalam artikel Anda, bahkan Anda lebih suka menulis artikel tentang kebobrokan Islam, maka atas dasar apa Anda memutuskan demikian? Keadilan? Kasih sayang kepada Islam?

18. Anda dengan sadar atau tidak sadar hanya ingin membuat ALQURAN SERBA SALAH. Jika Alquran menyatakan bahwa Jesus adalah anak Tuhan dan mati di kayu salib, maka Anda akan mehnuduh bahwa Muhammad menyadur pekerjaan orang Roma dengan tujuan agar Muhammad bisa menjadi paus di Vatican city. Jika Alquran menyatakan bahwa Jesus bukan anak Tuhan dan tidak mati disalib, maka Anda akan menuduh bahwa Muhammad menyadur pekerjaan orang Ebyon yang minoritas di kalangan Kristen. Jadi, Alquran harus bicara apa supaya tuduhan Anda tidak keluar?

19. Anda mempunyai misi untuk menghilangkan fanatisme dan fundamentalisme. Anda salah, dan usaha Anda itu akan gagal total. Fanatisme dan fundamentalisme adalah sesuatu yang positif.

20. Anda mempunyai misi untuk memberangus kebencian terhadap agama lain, Anda ingin membangun kerukunan antar umat beragama. Saya mendukung. Namun bukan agamanya yang Anda pelintir dan deskreditkan habis-habisan. ORANG nya yang harus Anda tangani. Anda kurang tepat dalam menentukan pekerjaan yang pas dengan latar belakang pendidikan Anda.

21. Anda mempunyai misi untuk menolak kebencian terhadap suatu agama. Justru Anda sendiri TELAH TERMAKAN oleh kebencian tersebut terhadap salah satu agama di Indonesia ini. Bagaimana Anda akan dapat berhasil?

22. Anda mempunyai misi untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Tanpa Anda dengan usaha Anda yang mendeskreditkan Islam itu, TOH kerukunan sudah lama tercipta di Bumi nusantara ini. Anda adalah pahlawan kesiangan. Jangan pernah berfikir bahwa tanpa “bantuan” Anda, tidak akan pernah ada kerukunan beragama di Indonesia ini.

KESIMPULAN

Anda butuh bantuan. Mengapa saya berkata demikian? Saya percaya tidak ada satu pun dari point di atas yang dapat Anda sikapi dengan memuaskan dan gentlemen.

Apakah Anda berdomisili di Jawa Timur? Ketahuilah, di Jawa Timur banyak Ulama yang bersedia memberi Anda asistensi untuk dapat memahami Islam secara lebih baik. Apakah Anda berdomisili di Kalimantan? Di Kalimantan banyak Alim Ulama yang bersedia membantu mengeluarkan Anda dari masalah keislaman. Jangan segan – segan untuk meminta bantuan kepada mereka. Mereka adalah individu – individu yang mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk membantu umat Muslims dari semua masalah. Mereka tidak akan meminta bayaran dari Anda. Perlu Anda ketahui, bahwa Alim Ulama di seluruh Nusantara itu adalah junjungan semua kaum Muslims di Indonesia. Saya harap Anda pun menjunjung mereka juga.

Kalau Anda justru mengambil sikap berseberangan dengan mereka (Alim Ulama, MUI, DDI, LDI, Majlis Taklim seluruh Indonesia, ikatan remaja Muslims, ikatan remaja Masjid, dan seterusnya) maka memang ternyata Andalah yang punya masalah. Harus Anda ketahui, kesemua lembaga tersebut (dan masih banyak lagi yang lain) TIDAK PERNAH MENYEBARKAN KEBENCIAN TERHADAP AGAMA LAIN. Bagaimana dengan Anda? Kalau memang Anda tidak pernah menyebarkan kebencian terhadap suatu agama mana pun, maka seharusnya Anda sudah menganggap kesemua lembaga Muslims tersebut sebagai asisten Anda dalam memahami Islam. Faham maksud saya?

Wassalam.

Papahmamah

nologicology@gmail.com

——————————————————————

Note,

papahmamah adalah saya sendiri yaitu islamthis ketika saya masih aktif ikut koment di blog suakahati dot wordpress dot com.

Pun nologicology@gmail.com juga punya saya.

7 Responses

  1. kamu bilang=
    Di manakah indikasinya?
    Indikasinya terlihat dalam
    penggunaan kata “KAMI” dalam Alquran, sementara Bible selalu
    memanggil Allah dengan kata
    “AKU” ?

    jawabku=lihat dibawah ini, dan baca pelan2…

    -(Kejadian 1:26).
    “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.””
    ===ada kata KITA.

    -(Kejadian 3:22).
    “Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.””
    ====ada kata KITA oke..

    -(Kejadian 11:7).
    “Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.””
    ===ada kata KITA juga ,

    -(Kejadian 17:4).
    “”Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.”
    ===ada kata PIHAK-KU.

    KAMI / PIHAK-KU
    Jadi ini artinya lebih dari pada satu, dan bener-bener tiga pribadi. Artinya satu dalam membimbing manusia,

    sedangkan dalam islam sendiri kata KAMI itu isinya
    -Allah Swt,
    -Tuhan penyedot dosa(Hajar Aswad),
    -Muhammad ,

    jadi muhammad itu pun Tuhan juga, ckakaka :D parah, dasar pemuja muhammad :P

    • Usah bingung pak! Mari nonton FILM arahan Muhammad yg disiarkan langsung dri kantornya Goa Hira untuk buang stresss yaaa…..

      Film ini berdasarkan hadis dan ayat Al Quran berikut:

      Rasulullah pernah ditanya: apakah penghuni surga melakukan persetubuhan? Beliau menjawab, Ya, dengan penyemburan yang keras, dengan kemaluan yang tidak lemas dan dengan syahwat yang tidak terputus, tetapi tidak keluar air mani sedikitpun, baik dari lelaki atau perempuan. Apabila selesai, perempuan kembali bersih dan kembali perawan. (HR. Ibnu Hibban).

      “Ganjaran yang disediakan di sisi Alloh untuk orang yang mati syahid: Diampuni dosa-dosanya sejak tetes pertama darahnya; diperlihatkan tempatnya di surga dan dijauhkan dari siksa kubur; diamankan dari guncangan yang dahsyat; diletakkan di atas kepalanya mahkota dari permata yaqut yang lebih baik dari dunia dan segala yang ada di dalamnya; dinikahkan dengan 72 bidadari; memberikan syafaat bagi 70 orang kerabatnya.” (HR. Ahmad, At Turmudzi – hadis hasan, dan Ibnu Majah).

      QS 52: 17 – 20
      Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka.(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.

      Maka lalu dikisahkan tentang sepasang suami isteri yang amat mencintai satu sama lain di Palestine. Mereka terpanggil untuk mati syahid demi agama Islam dan Allah swt yg mereka sujud sembah.

      Adegan2nya seperti berikut:

      Sang Isteri: Sayang “I love you. See you in heaven”…BOOOMMMMMMMMM

      Sang Suami: “ I love you too…” BOOMMMMMMMMMMMM

      Di Sorga Islam…… dan dikerumuni oleh para syahid muslimin dan syahid muslimah yang lain:

      Sang Isteri : Digilir oleh 72 bidadara dengan dengan orgasme yang tidak pernah putus di depan suami! (Tidak ada perasaan bersalah, malu atau cemburu ya…[betul2 binatang..hee])

      Sang Suami: Bergilir berpesta seks dengan 72 bidadari di depan sang isteri tanpa rasa bersalah, malu mahupun cemburu……[binatang lagi pande malu... Maknanya sorga Islam lebih rendah mertabat nya dr sorga binatang hehehe]

      Loe umat Muhammad, bila kamu semua mau mati syahid?

      Hahahahahahahahahahahaha

  2. manusia ini kasus nya selalu sama dari waktu ke waktu! engga pernah baca artikel dengan benar dan seksama!

    di thread yg lain pun manusia ini juga sering begini, ngomentarin artikel, tapi sebenernya dia engga baca artikelnya dg seksama.

    sanah! baca lagi artikel ini dg baik. baru komen. ada-ada ajah!!!!

  3. hahahaha tulisan diatas terlalu panjang, jadi aku komentari yang mana, bingung,

    trus aku comot perkataan yang seolah2 menyudutkan kekristenan, yaitu kata “Aku” diAlkitab, dan “Kami” diAlquran padahal, di Alkitab ada kata “Kita” dan “pihak-Ku” ,

    entahlah aku bingung maumu apa?

    • Usah bingung..seneng aja!

      Allah Islam yg Maha Penyayang = tukang rebus orang,

      Allah Islam yg Maha Pengasih = tukang siksa orang di neraka dongengannya……..

      A SQUARE = ROUND ……. = BODOH. That’s Islam!

  4. ada2 ajah!
    dia bilang, artikel saya KEPANJANGAN, dan dia jadi bingung komentarin yg mana ..

    ya udah engga usah komentar!! sapasuruh situ komentar??

    pake acara bingung2 segalakk lageeh!
    dia dah ngaku bingung. itu artinya semua argumen dia itu GOYANG, alias engga manteb.

    ya udah cil, diem ajah. cuci kaki, cuci tangan, langsung bobok.

  5. cup cup cup udah ga usah berantem ahh :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers

%d bloggers like this: