Bukti Muhammad Tidak Gila-gilaan

Islamthis,

Terdapat kisah yang amat menarik yang terjadi antara Muhammad Saw dengan kaum kafir Mekah kala itu.

Kaum kafir Mekah mendatangi Muhammad Saw, dan mereka berkata,

Wahai Muhammad, kalau kau ingin kekayaan yang melimpah, katakanlah. Maka kami akan memberikan semua kekayaan yang ada di Negeri ini untukmu.

Wahai Nabi, kalau kau ingin kekuasaan yang amat besar maka katakanlah. Maka kami akan mengangkat engkau menjadi Raja / penguasa di Negeri ini.

Wahai Muhammad. Kalau kau ingin mempunyai istri-istri perawan yang cantik yang ada di Negeri ini sebanyak yang kau inginkan, maka katakanlah. Maka kami akan menyerahkan semua gadis-gadis cantik yang banyak yang ada di Negeri ini untuk mu. Asalkah engkau bersedia meninggalkan dakwahmu untuk menyebarkan Islam itu di Negeri ini.

Muhammad Saw pun menjawab,

Kalau pun seandainya matahari itu ada di tangan kananku …Kalau pun seandainya rembulan ada di tangan kiriku …. Niscaya aku tidak akan meninggalkan dakwah Islam ini, sampai kalimat Allah tegak di muka Bumi ini, atau AKU BINASA KARENANYA ….

Kisah ini menunjukkan kepada kita, kalau lah memang Muhammad seorang yang amat menyukai kehidupan yang “GILA-GILAAN”, pastilah itu semua sudah Muhammad dapatkan tanpa ada kesulitan sedikit pun. Namun kenyataannya berbeda. Muhammad Saw menolak mentah-mentah semua tawaran hidup yang amat menggiurkan tersebut.

Kita harus sampai pada kesimpulan, fakta bahwa Muhammad menikahi banyak wanita tua, dan menikahi gadis kecil yang bau kencur, dan menikahi istri dari anaknya sendiri, ternyata adalah bagian dari TINDAKAN Allah Swt supaya Muhammad Saw tidak meninggalkan keturunan di Bumi ini. Itu semua demi keamanan tauhid umat manusia. Dan sekaligus itu menandakan bahwa Muhammad Saw adalah Nabi terakhir. Kalau masih ada Nabi lagi sesudah Muhammad, maka sudah pastilah Allah membiarkan semua keturunan Muhammad hidup aman dan panjang umur di Dunia ini……generasi ke generasi ….

Baca, http://islamthis.wordpress.com/2010/12/13/tindakan-allah-terhadap-anak-dan-keturunan-muhammad/

Wallahu Alam Bishawab

Semoga Allah swt melimpahkan Taufik dan HidayahNya kepada kita semua

Amin

Kapirit,

ni cerpen copas darimana sih? Benar2 tanpa ada referensi, kalau bikin cerita itu harus ada dasar Quran, Hadist atau minimal sirah, jadi mudah ditelusuri keshahihan sebuah riwayat.Bikin tafsir dan kesimpulan ngawur sendiri.

Kerjaan Muhammad adalah menjarah dan merampok pedagang2, karena Muhammad butuh duit besar untuk menghidupi puluhan istri.

Berapa kah bagian dari Muhammad dari hasil merampok?

20%!

Quran 8:41

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Quran 48:20

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.

Muhammad dijanjikan Allah harta rampokan.

Quran 8:69

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jadi cerita anda bahwa Muhammad tidak butuh harta adalah palsu dan tidak benar.

Islamthis,

Ini referensi-nya:

-=-

Setelah Nabi Muhammad berdakwah secara terang­terangan, kepada kerabat dan kaum Quraisy, meskipun ada penentangan dari Abu Lahab, Abu Jahal, dan beberapa pemuka kafir Quraisy yang lain, tetapi banyak juga yang mulai mengikuti seruan beliau, sehingga tampak keberhasilan beliau pada tahun­tahun awal misinya. sampai pada tahap ini, Rasulullah belum melakukan penyebutan resmi atas dewa-dewa Arab Quraisy, mungkin mereka menduga bahwa mereka dapat terus memuliakan al Lata, al Uzza dan Manat. Sampai pada akhirnya wahyu yang secara tegas menekankan unsure monoteisme disampaikan oleh beliau. Ketika beliau melarang pengikutnya untuk memuja banat Allah, beliau kehilangan banyak pendukungnya dalam semalam, dan kaum Quraisy menjadi terpecah belah karenanya.

Atas dasar itulah kemudian pemuka-pemuka bangsawan Quraisy pergi menemui Abu Thalib. “Abu Talib” kata mereka, “Kemenakanmu itu sudah memaki berhala-berhala kita, mencela agama kita, tidak menghargai harapan-harapan kita dan menganggap sesat nenek moyang kita. Sekarang, harus kau hentikan dia; atau biarlah kami sendiri yang menghadapinya. Oleh karena engkau juga seperti kami tidak sejalan, maka cukuplah engkau dari pihak kami menghadapi mereka.” Sampai tiga kali mereka mendatangi Abu Talib, dan mendesaknya untuk menghentikan dakwah Muhammad.

Meskipun dengan berat hati, akan bermusuhan atau berpisah dengan masyarakatnya, juga tidak sampai hati ia menyerahkan atau membuat kemenakannya itu kecewa. Akhirnya dimintanya kemenakannya datang dan diceritakannya maksud dari pemuka Quraisy. Lalu katanya: ‘Jagalah aku, begitu juga dirimu. Jangan aku dibebani hal-hal yang tak dapat kupikul.

Terdiam sejenak Rasulullah mendengar pernyataan pamannya. Kemudian, dengan jiwa yang penuh kekuatan dan kemauan, ia menoleh kepada pamannya seraya berkata:

“Wahai paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, sampai Allah Yang akan membuktikan kemenangan itu ditanganku, atau aku binasa karenanya. “

Demikian besarnya kebenaran itu, demikian dahsyatnya iman itu! Gemetar oran.g tua ini mendengar jawaban Muhammad, tertegun ia. Rasulullah berdiri, air matanya tersumbat karena sikap pamannya yang tiba-tiba itu, sekalipun tak terlintas kesangsian dalam hatinya sedikitpun akan jalan yang ditempuhnya itu. Setelah lama terpesona akan sikap keponakannya tersebut, kemudian dimintanya Rasulullah datang lagi, seraya berkata: Anakku, katakanlah sekehendakmu. Aku tidak akan menyerahkan engkau bagaimanapun juga!.”

Setelah hal ini, kaum Quraisy semakin menjadi-jadi mengganggu Rasulullah dan menyiksa para pengikut-pengikut beliau. Periode ini adalah periode yang paling dahsyat yang pernah dialami sejarah umat Islam. Baik Rasulullah atau mereka yang menjadi pengikutnya, bukanlah orang-orang yang menuntut harta kekayaan, kedudukan atau kekuasaan; melainkan orang-orang yang menuntut kebenaran serta keyakinannya akan kebenaran itu.

Access from,

http://answering.wordpress.com/category/karya-mualaf/page/3/

-=-

Lihatlah Rasulullah SAW, teladan kita. Rasulullah SAW pernah ditawari kerajaan, kehormatan, harta, dan semua kemewahan dunia agar beliau meninggalkan dakwah, tapi semua tawaran itu ditolak, dan dijawab tegas oleh Rasulullah SAW, “Sekalipun mereka meletakkan matahari di sebelah kananku, dan bulan di sebelah kiriku agar aku meninggalkan dakwahku ini, aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa membelanya.” Subhanallah…!

Access from,

http://www.eramuslim.com/oase-iman/silvani-dahsyatnya-ikhlas.htm

Kapirit,

Kerjaan Muhammad adalah menjarah dan merampok pedagang2, karena Muhammad butuh duit besar untuk menghidupi puluhan istri.

Berapa kah bagian dari Muhammad dari hasil merampok?

20%!

Jadi cerita anda bahwa Muhammad tidak butuh harta adalah palsu dan tidak benar.

Islamthis,

Kaciyan deh kamu pir!

Makanya jangan mau jadi jidat kapirit yang tiap ari kerjaannya cumma nyembah anak Tuhan molok! Tuh keliatan banget bhegokkkknya!

Saya beri perumpamaan deh biar jidat kapitit ini jadi ngerti situasi dari dialog Nabi tersebut, antara iming2 yang ditawarkan kafirin Mekkah, dengan rampasan perang yang dikonsesikan untukMuhammad.

Begini perumpamaannya.

Sudirman, gatot subroto, pattimura, imam bonjol, dipenogoro adalah pentolan2 perjuangan bangsaIndonesia melawan belanda. Belanda sudah keteteran menghadapi sepak terjang orang orang hebat ini. Belanda takut sekali posisinya akan tergeser dan dihancurkan oleh para pejuang ini.

Untuk menanggapi hal itu semua bos tentara belanda menyambangi para pejuang tersebut. Mereka bilang WAHAI PARA PEJUANG NKRI, KALAU KAMU MAU UANG YANG BANYAK, SEBUT SAJA, PASTI KAMI BERI. KALAU KAMU INGIN RUMAH BAGUS, SEBUT SAJA, PASTI KAMI BERI. ASALKAN KAMU URUNGKAN NIAT KAMU UNTUK USIR BANGSA KAMI DARI INDONESIA INI ..

Mereka bilang apa? Mereka para pejuang tangguh itu bilang, WALAU PUN KAMU2 TARUH MATAHARI DI TANGAN KANAN KAMI, DAN BULAN DI TANGAN KIRI KAMI, TETAP HAL ITU TIDAK AKAN MEMBUAT KAMI MEMBATALKAN PERLAWANAN KAMI TERHADAP PENJAJAHAN BANGSA DIKAU.

Singkat kata, para pejuang tersebut terus melanjutkan perjuangannya melawan penjajah belanda. Di dalam waktu 5 tahun saja, sudah banyak tangsi belanda yang mulai kedodoran dan dikuasai / DIRAMPAS para pejuang NKRI yang hebat tersebut. Dan di dalam waktu 8 tahun sudah banyak tangsi2 belanda di Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi itu yang sudah dikuasai oleh tentara di bawah komando para pejuang hebat tersebut …..

Apa yang berhasil mereka rebut? Senjata. Amunisi. Logistik. Uang. Dana. Emas.

Parapejuang itu dapat “banyak” dari perjuangan itu.

Perumpamaan selesai.

Coba kita periksa perumpamaan ini.

Pertama para pejuang tersebut katakan kpd kaum penjajah, bahwa para pejuang tersebut TIDAK MAU TERIMA TAWARAN UANG ATAU KEUNTUNGAN MATERI DI DALAM BENTUK APA PUN dari belanda. Namun toh kemudian setelah para pejuang tersebut terus berjuang, PARA PEJUANG TERSEBUT MENDAPATKAN (MEMANEN) RAMPASAN PERANG ATAU KEUNTUNGAN FINANSIAL YANG LUAR BIASA BESSSSOARRRRdari belanda …

Maka dengan demikian di mana letak keseriusan para pejuang tersebut ketika mereka bilang kpd kaum penjajah tersebut bahwa para pejuang tersebut TIDAK BUTUH uang atau materi di dalam bentuk apa pun?

Apakah sampai di sini jidat ini masih kagak ngetrik juga? Sedemikian bohhdohkah jidat2 kapirit yang tiap ari kerjaannya hanya nyembah2 anak Tuhan, sehingga tidak dapat menangkap makna dari perumpamann ini?

Apakah para pejuang tersebut DOYAN HARTA RAMPASAN PERANG? Apakah para pejuang tersebut DOYAN RAMPOK-SANA RAMPOK-SINI?

Apakah Jidat ini tidak bisa melihat bahwa bukan para pejuang tersebutlah yang doyan merampok dan perangsana perangsini. Namun kita harus melihat bahwa para pejuang tersebut DIPAKSA UNTUK BERPERANG MELINDUNGI APA YANG MENJADI HAK MEREKA….

Faham kah jidat ini?

Huruf X yang menyeret jidat ini ke ffi untuk menghujat Islam, ternyata bukanlah intelektualitas yang luhur. Bukan! Ternyata hanya nafsu emosi sesaat yang menyesatkan. Faham dikau!!!

Kapirit,

Kerjaan Muhammad adalah menjarah dan merampok pedagang2, karena Muhammad butuh duit besar untuk menghidupi puluhan istri

Islamthis,

Bacha lagi yang eneh!

Mikha 4:13

Bangkitlah dan iriklah, hai puteri Sion, sebab tandukmu akan Kubuat seperti besi, dan kukumu akan Kubuat seperti tembaga,

sehingga engkau menumbuk hancur banyak bangsa; engkau akan mengkhususkan RAMPASAN mereka bagi TUHAN dan kekayaan mereka bagi Tuhan seluruh bumi

Bilangan 31:12

Dan dibawalah orang-orang tawanan, RAMPASAN DAN JARAHAN itu kepada Musa dan imam Eleazar dan kepada umatIsrael, ke tempat perkemahan di dataranMoabyang di tepi sungai Yordan dekat Yerikho

1Tarawikh 26:26-27

Selomit ini beserta sanak saudaranya mengawasi perbendaharaan barang-barang kudus yang telah dikuduskan oleh raja Daud dan oleh para kepala puak dan para pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan para panglima.

Namun ini jidat mau tulis apa setelah saya excuse seperti ini?

Ah paling dia tulis, HEH NGEPAIN BAWA2 KITAP ORANG LAIN? BEGINILAH KALAU Muslim SUDAH TERPOJOK, MAKA AGAMA ORANG LAIN YANG DIA SERET2… HAA HAA HAA HAA ….

Pantesssslah jidat ini tulis dan berpendirian seperti itu. Lha wong dia itu otaknya sakiiitt!

Sejarah dan Jenis Hadits

A. Pendahuluan

Hadits Nabi yang telah ada sejak awal perkembangan Islam adalah sebuah kenyataan yang tak dapat diragukan lagi. Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam, di samping al-Qur’an.

“Hadits atau disebut juga dengan Sunnah, adalah segala sesuatu yang bersumber atau didasarkan kepada Nabi SAW., baik berupa perketaan, perbuatan, atau taqrir-nya. Hadits, sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an, sejarah perjalanan hadits tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu sendiri. Akan tetepi, dalam beberapa hal terdapat ciri-ciri tertentu yang spesipik, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan khusus”.

Pada zaman Nabi, hadits diterima dengan mengandalkan hafalan para sahabat Nabi, dan hanya sebagian hadits yang ditulis oleh para sahabat Nabi. Hal ini disebabkan, “Nabi pernah melarang para sahabat untuk menulis hadits beliau. Dalam pada itu, Nabi juga pernah menyuruh para sahabat untuk menulis hadits beliau.

Dalam sejarah, pada zaman Nabi telah terjadi penulisan hadits, misalnya berupa surat-surat Nabi tentang ajakan memeluk Islam kepada sejumlah pejabat dan kepala negara yang belum memeluk Islam. Sejumlah sahabat Nabi telah menulis hadits Nabi, misalnya Abdullah bin ‘Amr bin al-’As (w.65 H/685 M), Abdullah bin ‘Abbas (w.68 H/687 M), ‘Ali bin Abi Thalib (w. 40 H/661 M), Sumrah (Samurah) bin Jundab (w. 60 H), Jabir bin Abdullah (w. 78 H/697 M), dan Abdullah bin Abi Aufa’ (w.86 H). Walaupun demikian tidaklah berarti bahwa seluruh hadits telah terhimpun dalam catatan para sahabat tersebut.

Menurut H.Said Agil Husain al-Munawar, penulisan hadits bersifat dan untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, hadits-hadits yang ada pada para sahabat, yang kemudian diterima oleh para tabi’in memungkinkan ditemukan adanya redaksi yang berbeda-beda. Sebab, ada yang meriwayatkannya sesuai atau sama benar dengan lafazh yang diterima dari Nabi (yang disebut dengan periwayatan bi al-lafzhi), dan ada yang hanya sesuai makna atau maksudnya saja (yang disebut dengan periwayatan bi al-ma’na), sedang redaksinya tidak sama. Lebih lanjut H.Said Agil Husain al-Munawar, mengatakan bahwa di antara para sahabat yang sangat ketat berpegang kepada periwayatan bi al-lafzhi, ialah Abdullah bin Umar. Menurutnya, tidak boleh ada satu kata atau huruf yang dikurangi atau ditambah dari yang disabdakan Rasul SAW.

Dengan demikian, hadits Nabi yang berkembang pada zaman Nabi (sumber aslinya), lebih banyak berlangsung secara hafalan dari pada secara tulisan. Penyebabnya adalah Nabi sendiri melarang para sahabat untuk menulis hadits-nya, dan menurut penulis karakter orang-orang Arab sangat kuat hafalannya dan suka menghafal, dan ada kehawatiran bercampur dengan al-Qur’an. Dengan kenyataan ini, sangat logis sekali bahwa tidak seluruh hadits Nabi terdokumentasi pada zaman Nabi secara keseluruhan.

Pada realitas kehidupan masyarakat muslim, perkembangan hadits Nabi secara kuantitatif cukup banyak sekali, walaupun Fazlur Rahman mengatakan “hadits-hadits Nabi memang sedikit jumlahnya”. Selain perkembangan hadits yang cukup banyak, juga banyak istilah-istilah yang digunakan. Pada masyarakat umum yang dikenal adalah Hadits dan as-Sunnah, sedangkan pada kelompok tertentu, dikenal istilah Khabar dan Atsar. Untuk itu, pada pembahasan makalah ini, pemakalah akan menyoroti : (1) pengertian Ilmu Hadits, dan (2) Sejarah Perkembangan Ilmu Hadits (penghimpunan dan Pentadwinannya) (3) Macam-macam hadits ditinjau dari Kuantitasnya.

B. Pengertian Ilmu Hadits

Ulumul Hadis adalah istilah  ilmu  hadis  di  dalam tradisi  ulama  hadits.  (Arab nya: ‘ulumul al-hadist). ‘ulum al -hadist  terdiri  dari  atas  2 kata, yaitu  ‘ulum  dan Al-hadist. Kata ‘ulum  dalam  bahasa  arab  adalah  bentuk  jamak dari ‘ilm,  jadi berarti “ilmu-ilmu”; sedangkan al- hadist di kalangan Ulama Hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan, perkataan, taqir, atau sifat.” (Mahmud al-thahhan, Tatsir Mushthalah al-hadist (Beirut: Dar Al-qur’an al-karim, 1979), h.14). Dengan demikian, gabungan kata ‘ulumul-hadist mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadis Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam”. Ilmu hadits adalah ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan, apakah diterima atau ditolak.  Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, ilmu hadits, yakni illmu yang berpautan dengan hadits, banyak ragam macamnya.

Sebagai diketahui, banyak istilah untuk menyebut nama-nama hadits sesuai dengan fungsinya dalam menetapkan syariat Islam. Ada hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhoif. Masing-masing memiliki persyaratannya sendiri-sendiri. Persyaratan itu ada yang berkaitan dengan persambungan sanad, kualitas para periwayat yang dilalui hadits, dan ada pula yang berkaitan dengan kandungan hadits itu sendiri. Maka persoalan yang ada dalam ilmu hadits ada dua. Pertama berkaitan dengan sanad, kedua berkaitan dengan matan.

Ilmu yang berkaitan dengan sanad akan mengantar kita menelusuri apakah sebuah hadits itu bersambung sanadnya atau tidak, dan apakah para periwayat hadits yang dicantumkan di dalam sanad hadits itu orang-orang terpercaya atau tidak. Adapun ilmu yang berkaitan denga matan akan membantu kita mempersoalkan dan akhirnya mengetahui apakah informasi yang terkandung di dalamnya berasal dari Nabi atau tidak. Misalnya, apakah kandungan hadits bertentangan dengan dalil lain atau tidak.

Menurut istilah para muhadditsin, ilmu hadits ialah ilmu pengetahuan tentang sabda, perbuatan, pengakuan, gerak-gerik dan bentuk jasmaniah Rasulullah saw. beserta sanad-sanad dan ilmu pengetahuan untuk membedakan keshahihannya dan kedlaifannya daripada lainnya, baik matan atau sanadnya.

Disamping ilmu hadits, dalam ilmu mustholahul hadits juga dikenal dengan ilmu ushulil hadits. Secara istilah ilmu ushulil hadits ialah suatu ilmu pengetahuan yang menjadi sarana untuk mengenal keshahihan, kehasanan, dan kedho’ifan, matan maupun sanad dan untuk membedakannya dengan yang lainnya.

C. Sejarah Hadits

Masa Penghimpunan

Musibah besar menimpa umat Islam pada masa awal Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Musibah itu berupa permusuhan di antara sebagian umat Islam yang meminta korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Pihak-pihak yang bermusuhan itu semula hanya memperebutkan kedudukan kekhalifahan kemudian bergeser kepada bidang Syari’at dan Aqidah dengan membuat Al Hadist Maudlu’ (palsu) yang jumlah dan macamnya tidak tanggung-tanggung guna mengesahkan atau membenarkan dan menguatkan keinginan / perjuangan mereka yang saling bermusuhan itu. Untungnya mereka tidak mungkin memalsukan Al Quran, karena selain sudah didiwankan (dibukukan) tidak sedikit yang telah hafal. Hanya saja mereka yang bermusuhan itu memberikan tafsir-tafsir Al Quran belaka untuk memenuhi keinginan atau pahamnya.

Keadaan menjadi semakin memprihatinkan dengan terbunuhnya Khalifah Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala (tahun 61 H / 681 M). Para sahabat kecil yang masih hidup dan terutama para tabi’in mengingat kondisi demikian itu lantas mengambil sikap tidak mau lagi menerima Al Hadist baru, yaitu yang sebelumnya tidak mereka miliki. Kalaupun menerima, para shabat kecil dan tabi’in ini sangat berhati-hati sekali. Diteliti dengan secermat-cermatnya mengenai siapa yang menjadi sumber dan siapa yang membawakannya. Sebab mereka ini tahu benar siapa-siapa yang melibatkan diri atau terlibat dalam persengketaan dan permusuhan masa itu. Mereka tahu benar keadaan pribadi-pribadi sumber / pemberita Al Hadist. Misal apakah seorang yang pelupa atau tidak, masih kanak-kanak atau telah udzur, benar atau tidaknya sumber dan pemberitaan suatu Al Hadist dan sebagainya. Pengetahuan yang demikian itu diwariskan kepada murid-muridnya ialah para tabi’ut tabi’in.

Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah dari Bani Umayah (tahun 99 – 101 H / 717 – 720 M) termasuk angkatan tabi’in yang memiliki jasa yang besar dalam penghimpunan Al Hadist. Para kepala daerah diperintahkannya untuk menghimpun Al Hadist dari para tabi’in yang terkenal memiliki banyak Al Hadist. Seorang tabi’in yang terkemuka saat itu yakni Muhammad bin Muslim bin ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin Syihab Az Zuhri (tahun 51 – 124 H / 671 – 742 M) diperintahkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Untuk itu beliau Az Zuhri menggunakan semboyannya yang terkenal yaitu al isnaadu minad diin, lau lal isnadu la qaala man syaa-a maa syaa-a (artinya : Sanad itu bagian dari agama, sekiranya tidak ada sanad maka berkatalah siapa saja tentang apa saja).

Az Zuhri melaksanakan perintah itu dengan kecermatan yang setinggi-tingginya, ditentukannya mana yang Maqbul dan mana yang Mardud. Para ahli Al Hadits menyatakan bahwa Az Zuhri telah menyelamatkan 90 Al Hadits yang tidak sempat diriwayatkan oleh rawi-rawi yang lain.

Di tempat lain pada masa ini muncul juga penghimpun Al Hadist yang antara lain :

  • di Mekkah – Ibnu Juraid (tahun 80 – 150 H / 699 – 767 M)
  • di Madinah – Ibnu Ishaq (wafat tahun 150 H / 767 M)
  • di Madinah – Sa’id bin ‘Arubah (wafat tahun 156 H / 773 M)
  • di Madinah – Malik bin Anas (tahun 93 – 179 H / 712 – 798 M)
  • di Madinah – Rabi’in bin Shabih (wafat tahun 160 H / 777 M)
  • di Yaman – Ma’mar Al Ardi (wafat tahun 152 H / 768 M)
  • di Syam – Abu ‘Amar Al Auzai (tahun 88 – 157 H / 707 – 773 M)
  • di Kufah – Sufyan Ats Tsauri (wafat tahun 161 H / 778 M)
  • di Bashrah – Hammad bin Salamah (wafat tahun 167 H / 773 M)
  • di Khurasan – ‘Abdullah bin Mubarrak (tahun 117 – 181 H / 735 – 798 M)
  • di Wasith (Irak) – Hasyim (tahun 95 – 153 H / 713 – 770 M)
  • Jarir bin ‘Abdullah Hamid (tahun 110 – 188 H / 728 – 804 M)

Yang perlu menjadi catatan atas keberhasilan masa penghimpunan Al Hadist dalam kitab-kitab di masa Abad II Hijriyah ini, adalah bahwa Al Hadist tersebut belum dipisahkan mana yang Marfu’, mana yang Mauquf dan mana yang Maqthu’.

2. Masa Pendiwanan dan Penyusunan

Usaha pendiwanan (yaitu pembukuan, pelakunya ialah pembuku Al Hadits disebut pendiwan) dan penyusunan Al Hadits dilaksanakan pada masa abad ke 3 H. Langkah utama dalam masa ini diawali dengan pengelompokan Al Hadits. Pengelompokan dilakukan dengan memisahkan mana Al Hadits yang marfu’, mauquf dan maqtu’.

  • Hadits marfu’ adalah Hadits yang berisi perilaku Nabi Muhammad,
  • Hadits mauquf adalah Hadits yang berisi perilaku sahabat dan,
  • Hadits maqthu’ adalah Hadits yang berisi perilaku tabi’in.

Pengelompokan tersebut di antaranya dilakukan oleh :

  • Ahmad bin Hambal
  • ‘Abdullan bin Musa Al ‘Abasi Al Kufi
  • Musaddad Al Bashri
  • Nu’am bin Hammad Al Khuza’i
  • ‘Utsman bin Abi Syu’bah

Yang paling mendapat perhatian paling besar dari ulama-ulama sesudahnya adalah Musnadul Kabir karya Ahmad bin Hambal (164-241 H / 780-855 M) yang berisi 40.000 Al Hadits, 10.000 di antaranya berulang-ulang. Menurut ahlinya sekiranya Musnadul Kabir ini tetap sebanyak yang disusun Ahmad sendiri maka tidak ada hadist yang mardud (tertolak). Mengingat musnad ini selanjutnya ditambah-tambah oleh anak Ahmad sendiri yang bernama ‘Abdullah dan Abu Bakr Qathi’i sehingga tidak sedikit termuat dengan yang dla’if dan 4 hadist maudlu’.

Adapun pendiwanan Hadits dilaksanakan dengan penelitian sanad dan rawi-rawinya. Ulama terkenal yang mempelopori usaha ini adalah :

Ishaq bin Rahawaih bin Mukhlad Al Handhali At Tamimi Al Marwazi (161-238 H / 780-855 M). Ia adalah salah satu guru Ahmad bin Hambal, Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasai.

Usaha Ishaq ini selain dilanjutkan juga ditingkatkan oleh Bukhari, kemudian diteruskan oleh muridnya yaitu Muslim. Akhirnya ulama-ulama sesudahnya meneruskan usaha tersebut sehingga pendiwanan kitab Al Hadits terwujud dalam kitab Al Jami’ush Shahih Bukhari, Al Jamush Shahih Muslim As Sunan Ibnu Majah dan seterusnya sebagaimana terdapat dalam daftar kitab masa abad 3 hijriyah.

Yang perlu menjadi catatan pada masa ini (abad 3 H) ialah telah diusahakannya untuk memisahkan Hadits yang shahih dari Hadits yang tidak shahih sehingga tersusun 3 macam Hadits, yaitu :

  1. Kitab Shahih – (Shahih Bukhari, Shahih Muslim) – berisi Al Hadits yang shahih saja
  2. Kitab Sunan – (Ibnu Majah, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, Ad Damiri) – menurut sebagian ulama selain Sunan Ibnu Majah berisi Al Hadit shahih dan Al Hadits dla’if yang tidak munkar.
  3. Kitab Musnad – (Abu Ya’la, Al Hmaidi, Ali Madaini, Al Bazar, Baqi bin Mukhlad, Ibnu Rahawaih) – berisi berbagai macam Al Hadits tanpa penelitian dan penyaringan. Oleh seab itu hanya berguna bagi para ahli Al Hadits untuk bahan perbandingan.

Apa yang telah dilakukan oleh para ahli Hadits abad 3 Hijriyah tidak banyak yang mengeluarkan atau menggali Hadits dari sumbernya seperti halnya ahli Hadits pada adab 2 Hijriyah. Ahli Hadits abad 3 umumnya melakukan tashhih (koreksi atau verifikasi) saja atas Hadits yang telah ada disamping juga menghafalkannya. Sedangkan pada masa abad 4 hijriyah dapat dikatakan masa penyelesaian pembinaan Hadist. Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Hadits, menghimpun yang berserakan dan memudahkan mempelajarinya.

D. Hadits Ditinjau Dari Segi Kuantitas

Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.

1. Hadits Mutawatir

a. Ta’rif Hadits Mutawatir

Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain.

Sedangkan menurut istilah ialah:

“Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.”

Artinya:

“Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.”

Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.

Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar, ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu.

Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.

b. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir

Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.
  2. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.
  3. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.
  4. Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
  5. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).

Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah:

“Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).

Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya hanya sedikit.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits, kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir, seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah, susunan Imam As-Suyuti(911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir, susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H).

c. Faedah Hadits Mutawatir.

Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits mutawatir. Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera).

d. Pembagian Hadits Mutawatir

Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam :

1. Hadits Mutawatir Lafzi

Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain :

“Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya.”

Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah

“Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi.”

Contoh Hadits Mutawatir Lafzi :

“Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka.”

Silsilah / urutan rawi hadits di atas ialah sebagai berikut :

Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits tersebut di atas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, kemudian Imam Nawawi dalam kitaB Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.

2. Hadits mutawatir maknawi

Hadits mutawatir maknawi adalah :

Artinya :

“Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya, tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum.”

Artinya:

“Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz.”

Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut, namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya.

Contoh :

Artinya :

“Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa’ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad, Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi :

Artinya :

“Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau.”

3. Hadis Mutawatir Amali

Hadis Mutawatir Amali adalah :

Artinya :

“Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu.”

Contoh :

Kita melihat dimana saja bahwa salat Zuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian.

Di samping pembagian hadis mutawatir sebagimana tersebut di atas, juga ulama yang membagi hadis mutawatir menjadi 2 (dua) macam saja. Mereka memasukkan hadis mutawatir amali ke dalam mutawatir maknawi. Oleh karenanya hadis mutawatir hanya dibagi menjadi mutawatir lafzi dan mutawatir maknawi.

2. Hadis Ahad

a. Pengertian hadis ahad

Menurut Istilah ahli hadis, tarif hadis ahad antara laian adalah:

Artinya:

“Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir; baik pemberita itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: ”

Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut:

Artinya:

“Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syarat-syarat mutawatir.”

b. Faedah hadis ahad

Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat’i, sebagaimana hadis mutawatir. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan, oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Dan kalau ternyata telah diketahui bahwa, hadis tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis, ialah memeriksa “Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud”. Kalau maqbul, boleh kita berhujjah dengannya. Kalau mardud, kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya.

Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih, atau hasan), hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Jika ada, kita kumpulkan antara keduanya, atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Kalau tak mungkin dikumpulkan, tapi diketahui mana yang terkemudian, maka yang terdahulu kita tinggalkan, kita pandang mansukh, yang terkemudian kita ambil, kita pandang nasikh.

Jika kita tidak mengetahui sejarahnya, kita usahakan menarjihkan salah satunya. Kita ambil yang rajih, kita tinggalkan yang marjuh. Jika tak dapat ditarjihkan salah satunya, bertawaqquflah kita dahulu.

Walhasil, barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis, sesudah nyata sahih atau hasannya, baik ia muhkam, atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh.

c. Pembagian Hadits Ahad

a. Hadis Masyhur.

Masyhur menurut bahasa adalah populer, adapun menurut istilah hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan dari sahabat, tetapi bilangannya tidak mencapai ukuran bilangan mutawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan demikian pula setelah mereka. Hadis masyhur juga diartikan hadis yang diriwayatkan oleh tiga perawi .

b. Hadis Aziz.

Aziz secara bahasa berarti yang sedikit, yang gagah, yang kuat. Sedangkan aziz menurut istilah ahli hadis adalah suatu hadis yang diriwayatkan dengan dua sanad yang berlainan rawi-rawinya. Dalam definisi lain disebutkan oleh At-Tahham bahwa hadis aziz adalah hadis yang perawinya kurang dari dua orang dalam semua thabaqat sanad.

c. Hadis gharib.

Gharib dalam pengertian bahasa berarti yang jauh dari negerinya, yang asing, yang ajaib, yang luar biasa, yang jauh dari paham . Ulama’ hadis mendefinisikan bahwa hadis gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya .

DAFTAR KEPUSTAKAAN

  1. Al-Khattib, M. ’Ajaj, 1998, Ushul Al-Hadits, Terj. H.M. Qadirun Nur dan Ahmad              Musyafiq, Jakarta: Gaya Media Pratama
  2. Aziz, H.. Mahmud dan Mahmud Yunus. 1984. Ilmu Mustholah Hadits. Jakarta : PT              Hidakarya Agung
  3. Ash-Shiddieqy, Teungku M. Hasbi, 1999, Sejarah dan pengantar Ilmu Hadits, Semarang:PT. Pustaka Rizki Putra.
  4. _________,1998, Sejarah Perkembangan Hadits, Jakarta: PT Bulan Bintang
  5. Dhani Permana, ulumul hadits, http//: http://www.syiarislam.com/
  6. Dewan Redaksi. Ulumul hadits: pembagian hadits secara umum. http//:              http://www.cybermq.com/
  7. Media bil Hikmah, antara sunnah, hadits, khabar, dan atsar, http//:              http://www.mediabilhikmah.com/
  8. Rahman, Fatchur. 1974. Ikhtishar Mushthalahu’l hadits. Bandung: PT Alma’arif,.
  9. Yusron, M. Pohon Ilmu Hadits. http//: http://www.darussholah.com/

____________

Access from,

http://Mufdil.wordpress.com/2009/08/03/sejarah-dan-jenis-jenis-hadis.mht

Access date | 23 Mei 2011.

Mari Sembah Kabah

Banyak kaum kapirit tuduh bahwa Muslim adalah kaum sembah berhala, mengingat kaum Muslim sujud ke arah Ka’bah, yang mana ini berarti bahwa Muslim sembah Ka’bah. Apakah ada bukti bahwa Muslim tidak sembah Ka’bah?

  1. Berhala harus lah di dalam bentuk mahluk hidup, baik ia di dalam bentuk manusia, atau hewan, atau jin atau dewa. Sementara Ka’bah hadir di dalam bentuk rumah, rumah belaka. Dan rumah bukan lah mahluk hidup. Ini berarti Muslim tidak sembah berhala, karena Ka’bah tidak dapat disamakan dengan berhala.
  2. Di dalam penyembahan berhala, maka di dalam upacara penyembahan berhala itu, sang berhala harus lah ada di depan manusia sang penyembah tersebut. Di dalam kasus Ka’bah, tidak lah demikian. Kerap terjadi di mana pemelihara Masjid Alharam akan merenovasi Ka’bah di mana Ka’bah yang lama harus diruntuhkan seluruhnya untuk dibangun Ka’bah yang baru. Ketika Ka’bah yang lama itu diruntuhkan seluruh nya, maka sang Ka’bah itu TIDAKADA(karena sedang dipugar untuk dibangun yang baru). Toh jemaah manusia di sekitar tempat Ka’bah itu berdiri tetap bersujud ke arah tempat di mana Ka’bah itu berdiri. Artinya, Muslim tidak sembah Ka’bah, karena sang Ka’bah toh sedang tidak ada. Jadinya, Muslim itu sujud KE ARAH TEMPAT KABAH ITU BERDIRI, bukan Ka’bah nya sendiri. Dari point ini, jelaslah bahwa Muslim sujud ke arah Ka’bah hanya sebagai PERSATUAN ARAH. Bukan Ka’bah nya yang dicari, namun tempat di maka Ka’bah itu berdiri lah yang dicari.
  3. Muslim bisa masuk ke dalam Ka’bah dan salat / sujud di dalam Ka’bah tersebut ke arah mana pun yang dia suka. Hal ini mengindikasikan bahwa Muslim tidak sujud ke Ka’bah. Kalau lah memang benar bahwa Muslim sujud ke Ka’bah, maka mengapa Muslim diberi ijin untuk masuk ke dalam Ka’bah dan salat di dalam Ka’bah tersebut?
  4. Berhalaisme pastilah mempunyai banyak replica dari berhala, atau dengan kata lain kaum sembah berhala pasti akan mempunyai patung berhala di dalam jumlah yang banyak, untuk mereka letakkan di tempat-tempat yang mereka sukai. Ka’bah tidak lah demikian. Di muka Bumi ini hanya ada satu Ka’bah, yaitu yang ada di Mekah. Kalau lah Ka’bah adalah berhala, maka pastilah banyak replica Ka’bah di muka Bumi ini. Pun kalau seandainya diJakartaini ada Ka’bah yang benar-benar sama dengan yang ada di Mekah, pastilah seluruh Muslim tidak akan sujud ke arah Ka’bah Jakarta tersebut. Lebih dari itu, pastilah Ka’bah Jakarta itu akan diruntuhkan oleh kaum Muslim karena dianggap bathil! Ini artinya Ka’bah bukan lah berhala, dan Muslim tidak lah sembah berhala.
  5. Di dalam berhalaisme, penyembah berhala teramat mensakralkan patung berhala tersebut. Tidak lah demikian hal nya dengan Ka’bah. Ajaran Islam bahwa Ka’bah boleh diruntuhkan, adalah salah satu bukti bahwa Muslim tidak sakralkan Ka’bah. Di dalam sejarahkotaMekah, pernah ada seorang pemberontak yang bersembunyi di dalam Ka’bah. Aparat keamanan diberi hak untuk membombardir Ka’bah tersebut (sehingga runtuh) demi melumpuhkan sang penjahat. Sesudah Ka’bah itu runtuh dan sang penjahat sudah dilumpuhkan, maka Ka’bah yang baru pun dibangun. Note, Muslim memang tidak mensakralkan Ka’bah (seperti halnya kaum pagan). Namun bukan berarti Muslim diajarkan untuk mudahnya menghina Ka’bah.
  6. Sebenarnya di sepanjang masa Ka’bah tidak pernah dianggap / diperlakukan sebagai berhala. Pada masa pra Islam pun, kaum pagan Mekah tidak pernah menganggap / memperlakukan Ka’bah sebagai berhala. Yang benar adalah, kaum pagan pra Islam MELETAKKAN patung-patung berhala mereka di dalam Ka’bah. Jadi, bukan Ka’bahnya yang mereka berhalakan, namun patung-patung berhala mereka lah yang mereka letakkan di dalam Ka’bah, sehingga seolah Ka’bah adalah rumah kramat bagi mereka. Nah apakah dasarnya bagi kaum kapirit untuk menuduh bahwa Muslim sembah Ka’bah sebagai berhala di dalam Islam?
  7. Di dalam berhalaisme, suatu berhala dianggap sebagai perwujudan Tuhan, atau dengan kata lain, berhala adalah TUHAN YANG DIPATUNGKAN. Ka’bah tidak lah demikian. Ka’bah bukanlah ALLAH YANG DIPATUNGKAN. Sampai detik ini saja semua Muslim tidak pernah mengetahui rupa Allah. Nah apalagi mematungkanNya?
  8. Tuah Ka’bah memang empiris, faktual. Sementara itu, tuah suatu berhala hanya lah isapan jempol belaka.
  9. Di dalam berhalaisme, sembah mereka ke arah berhala adalah MUTLAK. Sementara di dalam Islam, sujud / arah sembah mereka kepada Allah ke arah Ka’bah hanyalah suatu idealisme. Dengan kata lain, kalau mereka sujud ke arah Ka’bah, maka hal itu TIDAK MUTLAK. Kaum Muslim dapat sujud kepada Allah ke arah mana saja yang mereka sukai. Namun sungguhpun demikian, sujud ke arah Ka’bah hanya merupakan PERSATUAN ARAH saja.
  10. Muslim ketika berada di Masjid Haram dan melihat Kabah, disunnahkan untuk berdoa “Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kehebatan pada Baitullah ini. Dan tambahkanlah pada orang-orang yang memuliakannya dan mengagungkannya dari orang-orang yang berhaji dan umroh, kemuliaan, kebesaran, kehormatan dan kebaikan”. Maksudnya, Muslim dianjurkan untuk mendoakan Kabah. Kalau lah Kabah adalah berhala (yang mana itu berarti Kabah adalah Tuhan) maka mengapa Muslim diajarkan untuk mendoakan Kabah? Apakah mungkin umat diajarkan untuk mendoakan Tuhan? Jadinya, ajaran sunnah Rasul untuk mendoakan Kabah, adalah bukti bahwa Kabah bukanlah berhala, dan sekaligus bukti bahwa Muslim tidak sembah berhala.

Penutup

Kaum kapirit tidak dapat membuktikan bahwa Ka’bah adalah berhala milik kaum Muslim. Kebalikannya justru kaum kapirit lah yang sembah begitu banyak berhala di dalam kehidupan mereka. Kalau lah kemudian mereka dapat mengenali dan mengkarakteristikkan berhala mereka sendiri, maka pastilah mereka akan menemukan perbedaan yang amat kentara antara berhala mereka dengan Ka’bah. Jika sudah demikian maka itulah saatnya mereka insaf bahwa Ka’bah bukan lah berhala, dan bahwa mereka harus tinggalkan praktek sembah berhala mereka yang sesat, dan beralih menjadi Muslim yang hanya sujud kepada Allah, di mana pun mereka berada.

Mazmur 5:8 Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah KE ARAH BAIT-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

Mazmur 138:2 Aku hendak sujud KE ARAH BAIT-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.

Yehezkiel 44:4. Lalu dibawanya aku melalui pintu gerbang utara ke depan Bait Suci; aku melihat, sungguh, rumah TUHAN penuh kemuliaan TUHAN, maka aku sujud menyembah.

Daniel 6:10 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka KE ARAH YERUSALEM; TIGA KALI SEHARI ia berlutut, BERDOA SERTA MEMUJI ALLAHNYA, seperti yang biasa dilakukannya.

Alkitab mengukuhkan Kenabian Muhammad

Wahai kaum kapirit karosetan …….

Jika kamu meragukan kenabian Muhammad karena poligami..maka  ketahuilah bahwa:

  • Yakub pun berpoligami (Kitab Kejadian 29 -30)..
  • Abraham pun berpoligami (Kitab Kejadian 16)..
  • Musa pun berpoligami (Bilangan 12:1)…
  • Daud pun berpoligami (Kitab I dan II Semuel)..
  • SALOMO pun berpoligami (1 Raja-Raja 11)..

 

Apakah kenabian Abraham dan Yakub juga anda ragukan karena POLIGAMI?

Apakah anda juga menganggap Abraham dan Yakub NABI PALSU karena gara-gara BERPOLIGAMI?

Suka atau tidak suka, POLIGAMI dijalankan oleh para manusia2 KUDUS dalam ALKITAB…. Tidak pernah DIHARAMKAN, baik dalam TAURAT maupun INJIL..

Empat Ibunda 12 Suku Israel adalah dari HASIL POLIGAMI: YAKUB, LEA, RAHEL, BILHA dan ZILPA adalah  istri dan budak Yakub.

Yakub pun mengumpuli dua budaknya yaitu Bila dan Zilpa.

Jika anda melecehkan bangsa Arab, sebagai keturunan budak, Ishmail, maka ketahuilah bahwa 2 dari 4 nya adalah budak dari istri Yakub..

Setengah suku-suku Bani Israel bangsa pilihan TUHAN pun lahir dari budak..

Jika anda menolak kenabian Muhammad karena meninggal dengan wajar tidak diangkat ke langit…., maka ketahuilah bahwa Musa pun meninggal dengan  wajar di tanah Moab (Ulangan 34)…

Jika anda menolak kenabian Muhammad karena perang dan jihadnya, maka ketahuilah bahwa Musa,Yosua dan Daud pun berperang dan berjihad memperluas daerah kekuasaan..

Apakah kamu menganggap Musa adalah Nabi palsu karena mengajarkan peperangan kepada  MOAB dan AMON?

Apakah Daud adalah Nabi palsu karena mengajarkan pembunuhan terhadap Goliat?

Jika anda menolak kenabian Muhammad karena meragukan mukzizatnya maka tunjukkan pada saya apa mukzizat Abraham,Yakub dan Yusuf..

Jika anda menolak kenabian Muhammad karena mengumpuli Aisyah umur 9 tahun, maka

ketahuilah bahwa Maria berumur 12 tahun ketika dinikahi Yusuf yang kala itu sudah berumur 90 tahun..(sumber:Ensiklopedia of Catholic http://www.newadvent.org/cathen/08504a.htm )

Ketahuilah bahwa nikah dini tidaklah terlarangan dalam Perjanjian Lama atau Baru..

Dari sisi mana lagi anda meragukan KENABIAN MUHAMMAD sholallahu’alaih wassallam?

—-

Access from,

http://beritamuslims [dot] wordpress [dot] com/2009/12/14/menjawab-keraguan-anda/

Access date, 8 April 2011

—-

Muhammad vs Aisha, Debat Elaborated

Kapirit ffi,

Saya kutipkan lagi pengertian pedofilia:

wikipedia wrote:

The International Classification of Diseases (ICD) defines pedophilia as a “disorder of adult personality and behaviour” in which there is a sexual preference for children of prepubertal or early pubertal age. The term has a range of definitions as found in psychiatry, psychology, the vernacular, and law enforcement.

According to the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), pedophilia is a paraphilia in which a person has intense and recurrent sexual urges towards and fantasies about prepubescent children and on which feelings they have either acted or which cause distress or interpersonal difficulty.

In popular usage, pedophilia means any sexual interest in children or the act of child sexual abuse, often termed “pedophilic behavior”. For example, The American Heritage Stedman’s Medical Dictionary states, “Pedophilia is the act or fantasy on the part of an adult of engaging in sexual activity with a child or children.”

The ICD-10 defines pedophilia as “a sexual preference for children, boys or girls or both, usually of prepubertal or early pubertal age.

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 4th edition Text Revision (DSM-IV-TR) outlines specific criteria for use in the diagnosis of this disorder. These include the presence of sexually arousing fantasies, behaviors or urges that involve some kind of sexual activity with a prepubescent child (age 13 or younger, though puberty may vary) for six months or more, and that the subject has acted on these urges or suffers from distress as a result of having these feelings. A diagnosis is further specified by the sex of the children the person is attracted to, if the impulses or acts are limited to incest, and if the attraction is “exclusive” or “nonexclusive”

Exclusive pedophiles are sometimes referred to as “true pedophiles.” They are attracted to children, and children only. They show little erotic interest in adults their own age and in some cases, can only become aroused while fantasizing or being in the presence of prepubescent children. Non-exclusive pedophiles are attracted to both children and adults, and can be sexually aroused by both, though a sexual preference for one over the other in this case may also exist.

Neither the ICD nor the DSM diagnostic criteria require actual sexual activity with a prepubescent youth. The diagnosis can therefore be made based on the presence of fantasies or sexual urges even if they have never been acted upon. On the other hand, a person who acts upon these urges yet experiences no distress about their fantasies or urges can also qualify for the diagnosis.

Berikutnya kita lihat catatan sejarah mengenai kehidupan seks Muhammad khususnya berkaitan dengan istri ciliknya, Aisha.

SAHIH AL-BUKHARI

Narrated Aisha:

The Prophet engaged me when I was a girl of six (years). We went to Medina and stayed at the home of Bani-al-Harith bin Khazraj. Then I got ill and my hair fell down. Later on my hair grew (again) and my mother, Um Ruman, came to me while I was playing in a swing with some of my girl friends. She called me, and I went to her, not knowing what she wanted to do to me. She caught me by the hand and made me stand at the door of the house. I was breathless then, and when my breathing became all right, she took some water and rubbed my face and head with it. Then she took me into the house. There in the house I saw some Ansari women who said, “Best wishes and Allah’s Blessing and a good luck.” Then she entrusted me to them and they prepared me (for the marriage). Unexpectedly Allah’s Apostle came to me in the forenoon and my mother handed me over to him, and at that time I was a girl of nine years of age. (Sahih Al-Bukhari, Volume 5, Book 58, Number 234)

Narrated Hisham’s father:

Khadija died three years before the Prophet departed to Medina. He stayed there for two years or so and then he married ‘Aisha when she was a girl of six years of age, and he consumed that marriage when she was nine years old. (Sahih Al-Bukhari, Volume 5, Book 58, Number 236)

Narrated ‘Aisha:

That the Prophet married her when she was six years old and he consummated his marriage when she was nine years old, and then she remained with him for nine years (i.e., till his death). (Sahih Al-Bukhari, Volume 7, Book 62, Number 64; see also Numbers 65 and 88

SAHIH MUSLIM

‘A’isha (Allah be pleased with her) reported: Allah’s Messenger (may peace be upon him) married me when I was six years old, and I was admitted to his house at the age of nine. She further said: We went to Medina and I had an attack of fever for a month, and my hair had come down to the earlobes. Umm Ruman (my mother) came to me and I was at that time on a swing along with my playmates. She called me loudly and I went to her and I did not know what she had wanted of me. She took hold of my hand and took me to the door, and I was saying: Ha, ha (as if I was gasping), until the agitation of my heart was over. She took me to a house, where had gathered the women of the Ansar. They all blessed me and wished me good luck and said: May you have share in good. She (my mother) entrusted me to them. They washed my head and embellished me and nothing frightened me. Allah’s Messenger (may peace be upon him) came there in the morning, and I was entrusted to him. (Sahih Muslim, Book 008, Number 3309; see also 3310)

‘A’isha (Allah be pleased with her) reported that Allah’s Apostle (may peace be upon him) married her when she was seven years old, and he was taken to his house as a bride when she was nine, and her dolls were with her; and when he (the Holy Prophet) died she was eighteen years old. (Sahih Muslim, Book 008, Number 3311)

SUNAN ABU DAWUD

Aisha said: The Apostle of Allah (may peace be upon him) married me when I was seven years old. The narrator Sulaiman said: Or six years. He had intercourse with me when I was nine years old. (Sunan Abu Dawud, Number 2116)

Narrated Aisha, Ummul Mu’minin:

The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) married me when I was seven or six. When we came to Medina, some women came. According to Bishr’s version: Umm Ruman came to me when I was swinging. They took me, made me prepared and decorated me. I was then brought to the Apostle of Allah (peace_be_upon_him), and he took up cohabitation with me when I was nine. She halted me at the door, and I burst into laughter. (Sunan Abu Dawud, Book 41, Number 4915)

Berdasar pemahaman pedofilia dan juga catatan kehidupan Muhammad dengan Aisha, terbukti Muhammad sudah jelas tergolong pedofilia.

# Bahkan ketika cara berpikirmu yang konyol tersebut dicoba untuk diikuti, tetap tidak mengubah fakta bahwa Muhammad memang pedofil.

wikipedia wrote:

As a medical diagnosis, pedophilia (or paedophilia) is typically defined as a psychiatric disorder in adults or late adolescents (persons age 16 and older) characterized by a primary or exclusive sexual interest in prepubescent children (generally age 13 years or younger, though onset of puberty may vary. The child must be at least five years younger in the case of adolescent pedophiles.

Primary –> first or highest in rank or importance

Sama sekali bukan berdasar jumlah, seperti argumen anda yang mengatakan “lebih banyak istri Muhammad yang dewasa”.

Baca ini untuk membuktikan yang mana yang merupakan primary untuk Muhammad:

# Keunggulan Aisha dibanding perempuan lain:

Tabaqat Ibn Sa’ad 8:67

Amr Ibn al-As menanyakan padanya, “Oh Rasulullah, siapa yang paling favorit di antara orang-orang?” Dia menjawab, “Aisha.” Amr berkata, “Saya maksud dari yang laki-laki.” Dia menjawab, “Ayahnya”.

Sahih Bukhari. Volume 4, Book 55, Number 623:

Narrated Abu Musa:

Allah’s Apostle said, “Many amongst men reached (the level of) perfection but none amongst the women reached this level except Asia, Pharaoh’s wife, and Mary, the daughter of ‘Imran. And no doubt, the superiority of ‘Aisha to other women is like the superiority of Tharid (i.e. a meat and bread dish) to other meals.”

# Aisha adalah kesayangan Muhammad

Aisha berkata, “Aku punya kedudukan lebih tinggi diantara istri² Nabi karena sepuluh hal.” Dia ditanyai, “Apakah sepuluh hal itu, wahai ibu umat?” Aisha menjawab, “Nabi tidak menikahi perawan lain selain aku, dia tidak menikahi siapapun yang orangtuanya hijrah (dari Mekah ke Medinah), selain aku. Allâh menunjukkan kesucianku dari surga, dan Jibril menunjukkan gambar diriku pada Nabi di sebuah kain sutra sambil berkata, ‘Nikahi dia; dialah istrimu.’ Aku dan Nabi sering mandi bersama di satu baskom. Dia tidak pernah melakukan hal itu dengan istri lain selain diriku. Dia sering sholat ketika aku berbaring di atas tangannya, dan dia tidak pernah mengijinkan istri lain melakukan hal itu. Wahyu sering datang padanya ketika dia bersamaku. Dia wafat ketika dia bersandar di dadaku di malam hari gilirannya bersetubuh denganku, dan dia dikubur di rumahku.”

Berdasar pemahaman pedofilia dan juga catatan kehidupan Muhammad dengan Aisha, terbukti Muhammad sudah jelas tergolong pedofilia.

Di situ jelas Muhammad ditanya, siapakah manusia yang paling fave untuk dia. Dan jawaban spontan Muhammad adalah: “Aisha”.

Dan justru karena Amr Ibn al-As tidak menyebutkan detil kefavoritan dalam hal apa, berarti anda (mau ngotot sampe urat leher putus, sampe nangis2, sampe jungkir balik) pun tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada konteks seksual dari jawaban Muhammad mengenai Aisha. Sangat mungkin jawaban Muhammad tersebut termasuk konteks seksual.

Baru berikutnya ketika Amr Ibn al-As mempersempit konteks yaitu favorit manusia laki2, Muhammad menjawab “Ayahnya”. Maka baru di bagian ini anda boleh berasumsi jawaban Muhammad tidak berkonteks seksual.

Dan justru karena Amr Ibn al-As tidak menyebutkan detil kefavoritan dalam hal apa (perhatiin ya: hanya menyebutkan manusia fave), berarti anda (mau ngotot sampe urat leher putus, sampe nangis2, sampe jungkir balik) pun tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada konteks seksual dari jawaban Muhammad mengenai Aisha. Sangat mungkin jawaban Muhammad yang menyebut “Aisha” tersebut termasuk konteks seksual. Sebab Muhammad disini tidak mengerti bahwa maksud pertanyaan si Amr adalah manusia fave laki2!

Baru berikutnya ketika Amr Ibn al-As mempersempit konteks yaitu favorit manusia laki2, Muhammad menjawab “Ayahnya”. Maka baru di bagian ini anda boleh berasumsi jawaban Muhammad tidak berkonteks seksual.

Bagaimana bisa anda bilang tidak mungkin ada konteks seksual dalam jawaban pertama Muhammad sedangkan pada pertama kalinya tersebut Muhammad tidak mengerti maksud pertanyaan si Amr adalah mengenai fave manusia laki2, makanya itu Muhammad sampai menjawab “Aisha”.

Saya ulangi lagi, Jems…. menuver2mu yang saya layani sampai page 5 tersebut yang sampai sekarang anda ngotot soal konteks (anda mau bilang mudeng kek, tidak mudeng kek, konteks kek, subkonteks kek, batasan kek, keseluruhan kek)…. SAMA SEKALI TIDAK MERUBAH KENYATAAN bahwa Aisha adalah primary untuk Muhammad. Primary dalam hal apa, seks, yang mana anda sendiri sudah menulis mengenai tharid.

 

Muslim ffi,

Dua argumen kuat yang membantah dialog diatas dalam konteks seksual :

1. Jawaban muhammad yang pertama dan kedua masih tetap dalam konteks yg sama. Konteks manusia favorit menurut Muhammad.

2. Amr sewaktu meralat pertanyaanya, tidak meralat konteks, tapi meralat “sub konteks”, karena itulah si Amr berkata “yang saya maksud dari pihak laki2″ bukan meralat dengan  mengatakan “yang saya maksud bukan dalam hal sexual”.

Kapirit ffi,

Padahal udah saya bilangin tuh, mau dijungkir balikkan konteks kek, subkonteks kek, mau digabung kek, mau dipisah kek, tetap tidak mengubah fakta bahwa jawaban spontan dari muncung si Muhammad mengenai manusia fave nya adalah Aisha.

Saking kalapnya membabi buta membela pedofilnya Muhammad, sampe2 si Jems ini nggak nyadar bahwa justru dengan dia bilang “dalam konteks umum jawaban Muhammad bener” itu sendiri sudah menunjukkan bahwa Muhammad memang bener menyatakan Aisha sebagai manusia fave-nya… terutamanya… primarynya…

Primary dalam hal apa Jems? Seks?

Sudah saya post di page awal tuh….

Sahih Bukhari. Volume 4, Book 55, Number 623:

Narrated Abu Musa:

Allah’s Apostle said, “Many amongst men reached (the level of) perfection but none amongst the women reached this level except Asia, Pharaoh’s wife, and Mary, the daughter of ‘Imran. And no doubt, the superiority of ‘Aisha to other women is like the superiority of Tharid (i.e. a meat and bread dish) to other meals.”

Islamthis,

so what, mos?

Ngepain seeh kapirit-kapirit  ini mengorek-ngorek semua hal tentang betapa Muhammad Saw sangat sayang kepada Aisha?

Ingat, apa pun perasaan Muhammad Saw atas Aisha mau pun istri-istri lainnya, maka itu semua adalah KEHENDAK ALLAH SEMATA, tidak lain.

Perkara bahwa Muhammad amat sayang terhadap Aisha, sampai jidat ini berbusa-busa berbicara ke sana ke mari, maka ingatlah saya tekankan di sini, bahwa BETAPA SAYANGNYA MUHAMMAD ITU KEPADA SITI AISHA MEMANG sudah DITAKDIRKAN OLEH Allah.  FAHAM?

TOH Yang jelas ‘program’ Allah sudah berhasil untuk memastikan bahwa di muka Bumi ini tidak ada manusia-manusia yang berpredikat sebagai keturunan Muhammad, yang salah satu program itu adalah Muhammad menikahi gadis di bawah umur yang tidak mungkin hamil dan memberikan keturunan. Faham?

Buat apa kamu nyeh-nyeh-nyeh-nyeh segala macam yang intinya menghujat bahwa Muhammad itu pedopil lah, favorit ke Aisha lah – buat apa? Toh yang jelas Muhammad haruslah menjadi Nabi yang tidak akan meninggalkan keturunan nya di Bumi ini – karena Muhammad ditakdirkan Allah untuk menjadi Nabi yang terakhir di Bumi ini.

Dengan menikahi Siti Aisha, maka jelaslah Muhammad tidak akan dapat mempunyai keturunan dari rahim Aisha.  Dengan menikahi Aisha, maka Muhammad akan mendapatkan Keperawanan seorang wanita, PLUS kepastian bahwa Muhammad tidak akan memperoleh keturunan YANG MEMANG BENAR-BENAR DIJAUHKAN OLEH ALLAH, karena itu amat berbahaya bagi kehidupanTauhid umat.

Keadaan terpaksalah yang membuat Muhammad menikahi gadis kecil. Dikatakan terpaksa, karena Muhammad Saw ditakdirkan untuk menjadi Nabi dan Rasul terakhir. Seharusnya Muhammad – seperti pria lain – menikahi gadis perawan pada usia produktif, yang mana dari pernikahan itu Muhammad Saw akan memperoleh anak / keturunan dari rahim sang istri yang perawan dan usia produktif tersebut. Namun Allah tidak lah berpendirian demikian. Allah sudah wafatkan semua anak Muhammad Saw dari Siti Hadija (kecuali Fatima). Allah sudah nikahkan Muhammad dengan janda-janda menopause – yang mana itu membuat Muhammad tidak dapat memiliki anak untuk menemani masa tuanya. Nah apakah dengan demikian Muhammad harus menikahi wanita perawan pada usia produktif?

Misalnya,

Saya adalah Muslim. Sebagai Muslim, saya haram makan babi.

Suatu saat saya dipenjara di penjara Mexico. Dan semua tahanan tidak mendapat hak istimewa apa pun.

Mau tidak mau saya makan babi di sana kendati saya faham bahwa babi itu haram buat saya. Namun toh otoritas penjara TIDAK MAU TAHU bahwa saya Muslim. Buat apa?

Perkara bahwa saya TERNYATA AMAT SUKA DENGAN DAGING BABI ITU, apakah itu otomatis pengaruh ke mutu iman saya sebagai Muslim? Tidak kan? Ya habis, saya mau makan apa lagi selain daging babi itu?

Biar bagaimana pun BABI ITU ENAK, iyatoh? Kalau daging babi tidak enak, so mengapa babi itu haram di dalam Islam? So mengapa peternak-peternak babi laris manis di Dunia ini? Opo seeh yang tidak enak di Dunia ini? Bangke buaya saja enak!

Namun kan ini masalah TERPAKSA! Faham????

Begitu juga dengan menikahnya Muhammad Saw dengan Siti Aisha. Kalau Muhammad menikah dengan gadis perawan pada usia produktif (usia dewasa, bukan kanak-kanak), maka akibatnya adalah BAHWA MUHAMMAD PASTI AKAN PUNYA ANAK. Faham?

Atau, Allah mempunyai kebijakan, demi Muhammad tidak mempunyai keturunan, maka Muhammad tidak diberi hak untuk menikmati keperawanan seorang gadis sama sekali? Ah apa sekejam itu Allah Tuhan semesta Alam? Semua pria dewasa Allah beri hak untuk menikmati keperawanan seorang gadis, tanpa kecuali sama sekali!

Allah pilih jalan tengah.

Muhammad akan menikmati kegadisan. Oke!

Namun Muhammad tidak akan punya anak dari gadis itu. Oke!

Solusinya adalah, Muhammad menikah dengan gadis di bawah umur.

Punya Masalah dengan solusi dari Allah itu?

Sekarang kapirit ini harap jawab dengan baik dan anggun!

Benarkah dengan menikahnya Muhammad Saw dengan gadis cilik namely Aisha ini, maka Muhammad Saw tidak mempunyai PELUANG SEDIKIT PUN UNTUK BEROLEH ANAK DARI RAHIM SANG AISHA?

Benarkah bahwa hanya Aisha lah yang (menurut cara pikir jidat ini) yang menjadi korban pedopil nya Muhammad?

Kalaulah memang benar bahwa Muhammad itu pedopil, lantas mengapa hanya Aisha yang jadi korban? Apakah tidak ada gadis-gadis kencur lainnya di Mekah ov Madinah kala itu???

Muhammad teramat sayang kepada Aisha. So what?

Kamu pikir Muhammad itu laki-lakilaki sejati atau bokan?

Saya punya teman. Dia menikah dengan janda, itu adalah istri pertamanya. Lama-lama dia tidak tahan, ingin menikmati gadis perawan. Akhirnya dia menikah dengan gadis perawan.

Wajarkah temen saya itu penasaran seperti orang mati demi dapat menikmati keperawanan seorang gadis? Nah kamu pikir Muhammad Saw itu opo? Gagang sapu?

Opo seeh yang mau jidat ini korek-korek dari kehidupan Muhammad yang agung itu???

Dijamin tidak akan bisa!!! Justru jidat ini akan melihat keagungan Allah Swt! Allah sudah merencanakan bahwa Muhammad akan menjadi Nabi dan Rasul terakhir, KENDATI itu resikonya adalah bahwa Muhammad TIDAK AKAN DAPAT MENIKMATI KEPERAWANAN SEORANG GADIS PADA USIA PRODUKTIF.

So sekarang, ada masalah dengan kehendak dan kebenaran Allah Swt itu???

Kalaulah memang benar bahwa Muhammad adalah pedopil, maka jelaskan harap jelaskan hal-hal seperti ….

  • Mengapa semua keturunan Muhammad itu wafat (kecuali Fatimah) sehingga Muhammad tidak mempunyai anak / keturunan?
  • Mengapa semua istri Muhammad itu adalah wanita wanita meno sehingga tidak dapat hamil?
  • Mengapa justru Muhammad menikahi gadis kecil yang jelas-jelas tidak dapat hamil?
  • Mengapa hanya Aisha lah istri Muhammad yang bocah kecil, tidak ada yang selainnya?

Kapirit ini membuat argumentasi demikian,

# Keunggulan Aisha dibanding perempuan lain:

Tabaqat Ibn Sa’ad 8:67

Amr Ibn al-As menanyakan padanya, “Oh Rasulullah, siapa yang paling favorit di antara orang-orang?” Dia menjawab, “Aisha.” Amr berkata, “Saya maksud dari yang laki-laki.” Dia menjawab, “Ayahnya”.

Kemudian lanjut dengan,

Saya lanjutkan contoh kasusnya, Jems…

Misalkan duren…. (maaf ya Om Duren, saya pinjam id nya )

Dia punya ketertarikan kepada laki2. Dia punya satu orang pacar laki2, dan disamping itu dia punya 5 pacar perempuan.

Om Duren berkata bahwa kenikmatan pacarnya yang laki2 adalah lebih nikmat dibanding dengan pasangannya yang manapun juga. Om Duren berkata, diantara semua pacar2nya, dia paling cinta sama pacarnya yang laki2 itu.

Menurut anda, Om Duren itu tergolong homoseks atau tidak?

Jidat ini memang benar-benar- triumphalist! Jidat ini menolak penjelasan orang lain, demi dia harus selalu merasa benar dan menang atas semua orang yang dia benci!!!!

Saya uwes beri penjelasan, demikian,

Misalnya,

Saya adalah Muslim. Sebagai Muslim, saya haram makan babi.

Suatu saat saya dipenjara di penjara Mexico. Dan semua tahanan tidak mendapat hak istimewa apa pun.

Mau tidak mau saya makan babi di sana kendati saya tehe bahwa babi itu haram buat saya. Namun toh otoritas penjara TIDAK MAU TAHU bahwa saya Muslim. Buat apa?

Perkara bahwa saya TERNYATA AMAT SUKA DENGAN DAGING BABI ITU, apakah itu otomatis pengaruh ke mutu iman saya sebagai Muslim? Tidak kan? Ya habis, saya mau makan apa lagi selain daging babi itu?

Biar bagaimana pun BABI ITU ENAK, iyatoh? Kalau daging babi tidak enak, lantas mengapa babi haram di dalam Islam? So mengapa peternak-peternak babi laris manis di Dunia ini? Opo seeh yang tidak enak di Dunia ini? Bangke buaya saja enak!

Namun kan ini masalah TERPAKSA! Faham????

Begitu juga dengan menikahnya Muhammad Saw dengan Siti Aisha. Kalau Muhammad menikah dengan gadis perawan pada usia produktif, maka akibatnya adalah BAHWA MUHAMMAD PASTI AKAN PUNYA ANAK. Faham?

Jidaat ini tidak mengerti sama sekali opo maksud dari penjelasan ini. Namun yang jelas, kapirit ini MENOLAK untuk mengerti penjelasan ini, karena penjelasan inilah yang akan membuat kapirit ini JADI SALAH, dan yang jelas, SALAH TINGKAHHH.

Kan di paragraph saya itu, sudah saya beri penjelasan, bahwa SAYA AKUI BAHWA SAYA SUKA DAGING BABI – KENDATI SAYA TAHU BAHWA BABI ITU HARAM – KARENA SAYA ADALAH MUSLIM. NAMUN APAKAH SUKA-NYA SAYA ATAS BABI BERARTI INTEGRITAS DAN IMAN SAYA SBG Muslim DIPERTANYAKAN?

Kapirit ini tidak fahamkah?? Siapa seeh di sini yang tidak faham? Kalau kapirit ini tidak faham juga, maka justru seluruh postingan kapirit inilah yang sebenarnya sampah pah pah pah pah …!!!!

Tidak kah kapirit ini sadar?

Kapirit ffi,

by mikimos » Wed Mar 09, 2011 11:33 am

Hai kamu penyembah Iblis,

Saya sudah bilang bahwa saya tidak akan lagi mengikuti aturan mainmu yang tolol.

Saya sama sekali tidak peduli dengan apapun perkataan dari makhluk hina sepertimu. Kamu mau bilang menang, mau bilang Muhammad bukan pedofil, mau bilang saya pere’, mau bilang apapun itu semua memang sudah fitrahmu sebagai penyembah Heylel ben Shachar, mau bilang apapun itu tidak akan dapat mengubah bukti2 tercatat yang sudah disaksikan pembaca FFI bahwa kamu cuma sebuah mahkluk yang rela menghinakan dirimu demi sesembahanmu. Dan tidak ada manusia yang perlu menghiraukan omongan makhluk seperti kamu.

Islamthis,

mahm — phuss dia sekarang!!

Sejak saya masuk ke thread ini, dia jadi kepanasan seperti iblis masuk kulkas! Make  teriak-teriak iblis segala!

Memangnya  siapa yang iblis di sini??

Apalagi  kalau saya kumandangkan adzan ya??

Tambah kebakaran deh tuh….

Kapirit ffi,

miki wrote:

Setelah ini, jika anda memiliki sanggahan bermutu, silakan tunjukkan disini.

Jika sanggahan anda lagi2 hanya mengulang keidiotan cara berpikirmu begitu dan hanya sekedar triumphalist, tidak akan saya tanggapi lagi. Saya tidak mau buang2 waktu hanya untuk melayani omong kosong tak bermutu.

Biarlah tulisan2 anda sebelum dan sesudah post saya ini menjadi saksi bagi pembaca FFI, bagaimana manusia2 pemuja Muhammad ini memilih dan mencintai kebodohan.

Islamthis,

Katakan saja kamu menyerah!

Gampang kan???

Pas!

Penutup.

Sekali lagi kaum kapirit sangat bernafsu ingin menggugat keagungan Nabi Muhammad Saw dengan cara mengekspos secara keji Alhadits yang menyebutkan bahwa Siti Aisyah adalah manusia yang paling favorit di sisi sang Muhammad Saw,

Tabaqat Ibn Sa’ad 8:67

Amr Ibn al-As menanyakan padanya, “Oh Rasulullah, siapa yang paling favorit di antara orang-orang?” Dia menjawab, “Aisha.” Amr berkata, “Saya maksud dari yang laki-laki.” Dia menjawab, “Ayahnya”.

(dan juga Alhadits lainnya yang sudah dipaparkan di bagian atas).

Dengan adanya Alhadits ini kaum kapirit merasa mendapat angin untuk kembali memaksakan gugatan mereka bahwa Muhammad Saw adalah seorang paedofil hina yang menumpahkan nafsu birahinya kepada Siti Aisyah.

Sebenarnya mereka sudah salah SEJAK PERUMPAMAAN yang mereka buat / ajukan di dalam mendiskusikan Alhadits tersebut. Demikian perumpamaan mereka,

STATUS01 –

Saya lanjutkan contoh kasusnya, Jems…

Misalkan duren…. (maaf ya Om Duren, saya pinjam id nya )

Dia punya ketertarikan kepada laki2. Dia punya satu orang pacar laki2, dan disamping itu dia punya 5 pacar perempuan.

Om Duren berkata bahwa kenikmatan pacarnya yang laki2 adalah lebih nikmat dibanding dengan pasangannya yang manapun juga. Om Duren berkata, diantara semua pacar2nya, dia paling cinta sama pacarnya yang laki2 itu.

Menurut anda, Om Duren itu tergolong homoseks atau tidak?

Perumpamaan inilah yang membuat semua argumentasi kaum kapirit ini menjadi salah total, dan akibatnya mereka kembali menemui kegagalan untuk menjungkalkan keagungan Muhammad Saw.

Ada pun perumpaman yang seharusnya mereka cerna adalah yang sebagai berikut, yang saya ajukan,

STATUS02 –

Saya adalah Muslim. Sebagai Muslim, saya haram makan babi.

Suatu saat saya dipenjara di penjara Mexico. Dan semua tahanan tidak mendapat hak istimewa apa pun.

Mau tidak mau saya makan babi di sana kendati saya faham bahwa babi itu haram buat saya. Namun toh otoritas penjara TIDAK MAU TAHU bahwa saya Muslim. Buat apa?

Perkara bahwa saya TERNYATA AMAT SUKA DENGAN DAGING BABI ITU, apakah itu otomatis pengaruh ke mutu iman saya sebagai Muslim? Tidak kan? Ya habis, saya mau makan apa lagi selain daging babi itu?

Biar bagaimana pun BABI ITU ENAK, iyatoh? Kalau daging babi tidak enak, so mengapa babi itu haram di dalam Islam? So mengapa peternak-peternak babi laris manis di Dunia ini? Opo seeh yang tidak enak di Dunia ini? Bangke buaya saja enak!

Namun kan ini masalah TERPAKSA! Faham????

Di sinilah letak kesalahan kaum kapirit karena mereka menggunakan perumpamaan STATUS01 – bukan STATUS02.

STATUS01 adalah perumpamaan yang menekankan pada selera, sementara STATUS02 adalah perumpamaan yang menekankan pada suatu keadaan terpaksa.

Keadaan yang melingkupi kehidupan Muhammad Saw adalah keadaan terpaksa, yang mana itu mengakibatkan Muhammad Saw TERPAKSA menikahi gadis kecil, karena Allah Swt tidak memberi ijin kepada Muhammad Saw untuk menikahi wanita pada usia produktif – karena menikahi wanita usia produktif berarti akan ada anak / keturunan yang lahir dari pernikahan tersebut – itu tentu saja amat dihindari oleh Allah Swt dan seluruh umat Tauhid.

Selera atas gadis kecil bukanlah keadaan yang melingkupi kehidupan Muhammad Saw – yang mana itu dicoba untuk dipaksakan oleh kaum kapirit melalui perumpamaan STATUS01. itulah letak kesalahan mereka di dalam mencerna Alhadits tersebut.

Fakta bahwa Muhammad toh amat mencintai istri ciliknya, maka itu hanyalah EFEK IKUTAN alias EFEK SEKUNDER. Kalau Muhammad (terpaksa) menikahi gadis cilik, MAU TIDAK MAU akhirnya Muhammad amat mencintai istri ciliknya itu, lebih dari apa pun di dalam hidupnya.

Akhir kata, Muhammad Saw tetap terlalu kukuh untuk digugat oleh kaum penentangnya, karena memang demikianlah kehendak Allah, Tuhan Yang mengutus Muhammad Saw.

Alhamdulillah!

Alkitab Porno dan Anak-anak

Matius 19:13. Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.

Matius 19:14 Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Matius 19:15 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

Indah sekali ayat Alkitab Perjanjian Baru yang tiga penggal ini. Ayat ini melukiskan betapa Tuhan (melalui ucapan dan pengajaran Jesus) amat menyayangi anak-anak, sehingga di ayat itu dikatakan bahwa seluruh Kerajaan Allah adalah milik anak-anak. Melalui tiga ayat di atas, Allah menegaskan bahwa Kerajaan Allah bukanlah milik para Rasul, bukanlah milik para Malaikat, bukanlah milik para pahlawan suci, bukanlah milik siapa-siapa. Ketiga ayat tersebut melukiskan bahwa Allah menciptakan Kerajaan-Nya HANYA UNTUK DIMILIKI ANAK-ANAK. Demikian lah cara Tuhan menunjukkan rasa sayang-Nya kepada ana-anak.

Sekaligus ayat ini menegaskan bahwa seluruh Surga, seluruh ayat, seluruh Alkitab, seluruh kehidupan para Nabi dan Rasul, seluruh sejarah Tuhan, seluruh mukjizat Allah, adalah didedikasikan untuk anak-anak ini. Itu artinya bahwa semua hal itu haruslah disajikan dan dipaparkan di dalam cara yang dapat dimengerti oleh anak-anak, menurut cara berfikir mereka, menurut cita rasa mereka, dan menurut sukahati mereka. Itulah makna dari ayat Matius 19 ini.

Lebih dari itu, Tuhan akan murka kepada mereka yang mencelakakan anak-anak. Tuhan akan melontarkan amarahNya kepada mereka yang telah berbuat tidak pantas terhadap kepentingan anak-anak, seperti yang tertulis di ayat Alkitab ini,

Matius 18:6 “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.

Masalah.

Sekarang timbul masalah. Masalah itu terdapat di dalam agama karosetan dan Alkitab sendiri.

Alkitab Perjanjian Lama mempunyai ayat-ayat porno alias pornbible, suatu paragrap di dalam Alkitab yang menyemburatkan kata-kata keji dan menjijikkan yang tidak pantas untuk dibaca oleh anak-anak. Maka bagaimana mungkin Jesus pernah berkata bahwa semua yang ada di dalam kekristenan adalah milik dan untuk anak-anak, sementara Alkitab Perjanjian Lama saja mempunyai banyak ayat yang tidak mungkin dapat diperlihatkan kepada anak-anak? Sepertinya ini adalah suatu pertentangan yang amat fundamental. Di satu pihak dikatakan bahwa seluruh Kerajaan Surga adalah milik anak-anak, namun di pihak lain BAGIAN DARI KERAJAAN SURGA itu sendiri yaitu Alkitab Perjanjian Lama mengandung banyak ayat yang tidak pantas untuk dibaca anak-anak?

Nah itu baru pornbible-nya. Belum lagi ayat-ayat Alkitab yang mengandung kekerasan dan kesadisan. Pada satu bagian Alkitab mempunyai ayat yang melukiskan bahwa Tuhan memerintahkan orang-orangNya untuk menghancurkan kepala anak-anak atau bayi dengan cara yang amat keji. Bagaimana ini?

Hosea 13:16 (14-1) Samaria harus mendapat hukuman, sebab ia memberontak terhadap Allahnya. Mereka akan tewas oleh pedang, BAYI-BAYINYA AKAN DIREMUKKAN, dan perempuan-perempuannya yang mengandung akan dibelah perutnya.

Di dalam kekristenan, terdapat pendirian bahwa anak-anak kecil dari kalangan mereka tidak diberi ijin oleh komunitas Gereja untuk buka-buka dan baca-baca Alkitab. Lalu masyarakat Alkitab pun telah menyusun dan menerbitkan SATU VERSI ALKITAB di mana semua AYAT-AYAT TIDAK LAYAK UNTUK DIBACA ANAK-ANAK itu telah diperhalus dan didatarkan.

Bukankah ini suatu keanehan? Jika Jesus mengajarkan bahwa anak-anak adalah empunya Kerajaan Surga lantas mengapa untuk membaca Alkitab saja mereka dilarang? Kalaulah memang benar bahwa anak-anak merupakan empunya Kerajaan Surga MAKA SEHARUSNYA Tuhan telah menyiapkan dan menyajikan semua bagian Alkitab – Nya dalam citarasa yang disukai anak-anak dan pantas dibaca oleh mereka. Namun faktanya Alkitab itu diketengahkan kepada mereka di dalam bentuk yang amat menjijikkan. Dan tidak perlu ada beberapa badan di dalam masyarakat pembaca Alkitab itu yang harus menulis ulang Alkitab itu ke dalam bentuk yang berbeda demi dapat dibaca anak-anak.

Penutup.

Terdapat pertentangan dan keanehan – entah apa itu namanya! – mengenai hal ini. Mengapa Jesus sampai berkata bahwa anak-anaklah yang empunya Kerajaan Surga, sementara Jesus sendiri mengetahui bahwa Taurat yang ada di tangah Jesus sendiri mempunyai ayat-ayat yang tidak pantas untuk dibaca oleh mereka?

Ataukah kita harus berfikir bahwa anak-anak memang empunya Kerajaan Surga, namun itu bukan berarti anak-anak itu berhak untuk memegang dan membaca Alkitab? Tidakkah ini menjadi lebih aneh?

Kita secara moral akan dengan mudah sepakat bahwa perkataan Jesus itu benar ketika ia berkata bahwa anak-anak merupakan empunya Kerajaan Surga, ASALKAN Alkitab yang ada di depan mereka merupakan kitabsuci yang tidak mengandung ayat-ayat yang menjijikkan tersebut.

Namun faktanya?

Kita hanya mempunyai tindakan mengenai hal ini berupa,

  1. Jika kita ingin tetap berpegang bahwa apa yang Jesus katakan itu adalah benar (bahwa anak-anak adalah empunya Kerajaan Surga) maka kita harus sepakat bahwa SEMUA AYAT Alkitab YANG PORNO adalah bukan merupakan ayat Tuhan. Dengan kata lain semua ayat itu adalah produk dari campurtangan manusia-manusia jahil yang telah menodai Alkitab. Artinya, semua ayat porno itu harus dihilangkan dari tubuh Alkitab secara menyeluruh. Ini artinya Alkitab TIDAK LAGI SUCI, TIDAK LAGI SAMAWI. Alhasil, Alkitab harus disingkirkan dari kehidupan seluruh umat manusia.
  2. Atau, kalau kita tetap berpegang bahwa semua ayat porno (dan juga ayat keji) yang ada di dalam Alkitab itu memang benar ayat Tuhan, maka pengajaran Jesus mengenai kemuliaan anak-anak yang empunya Kerajaan Surga HARUS dihapus dan dibuang, dengan mengatakan bahwa apa yang Jesus katakan itu adalah SALAH DAN TIDAK PADA TEMPATNYA.

 

Pilih yang mana?

Tuhan Alkitab Menghukum Poligami

Di bawah ini adalah debat saya dengan kapirit karosetan di FFI mengenai fakta sejarah bahwa Muhammad telah meniduri budak mau pun telah beristri banyak, dan termasuk mempunyai istri yang berusia 6 tahun saat dinikahi.

Artikel ini saya tayangkan di sini dalam kolom REPLY, mengingat kolom ini mempunyai fasilitas blok paragraf multi-takik untuk memudahkan pembacaan, tidak seperti kolom artikel itu sendiri yang hanya mempunyai blok paragraf sebanyak satu takik saja.

Selamat  mengikuti.

Apostle Biography Brief Death

Bagian I

1. Peter

A fisherman whom Jesus called the rock. 95First Bishop of Rome Martyr  Crucified at Rome under Nero. Crucified up-side-down at his request because he did consider himself worthy to be crucified like Jesus.

2. Andrew [brother of Peter]

Introduced Peter to Jesus Brought the lad with five loaves and fishes to Jesus. Martyr Crucified at Patr E6, Achaia [southern Greece]. Hung alive on the cross two days, exhorting spectators all the while.

3. James

A fisherman,With Jesus in Gethsamane. Martyr Killed 10 years after the first martyr, Stephen. His accuser was converted by James courage and the two were beheaded together.

4. John [brother of James]

Known as the “beloved disciple.”James and John “sons of thunder” At foot of cross with Jesus Mother.  Natural Death The only apostle who did not meet a martyrs death. Banished by Roman Emperor Domitian to Isle of Patmos where he received The Revelation of Jesus Christ.,the last book in the Bible.

5. Phillip

The name Phillip is a Greek name Brought Bartholomew [Nathaniel] to Jesus Martyr Crucified about 54AD. Preached the Gospel in Phrygia which was in the Roman Province of Asia near Ephesus [Turkey].

6. Bartholomew [Nathaniel]

Jesus saw him under a fig tree. Martyr Crucified by the idolaters of India. Preached the Gospel in Mesopotamia [Iraq], Persia [Iran] and India.

7. Thomas [Didymus]

A fisherman on the same crew as Peter and Andrew. Called the “doubter.” Martyr Thrust through with spear in India. Preached the Gospel in Parthia [Iran] and in Kerala, [southern India] where yet today the Mar Thoma Church exists.

8. Matthew.

Also called Levi. Tax collector for the Romans. Martyr Killed with a sword about 60AD. Preached the Gospel in Ethiopia.

9. James [son of Alphaeus]

Called James, the less [younger] First Bishop of Jerusalem. Martyr Stoned by Jews at his age 90, and ended up with his brains bashed out with a fuller’s club [used in dyeing clothes].

10. Jude [Thaddeus]

Writer of Book of Jude. Martyr Crucified 72AD at city of Edessa [Turkey].

11. Simon [The Canaanite]

Called “The Zealot” because he was associated with that sect. Martyr Crucified in Britain in 74AD. Also preached in Africa.

12. Judas Iscariot

Treasurer of the apostolic group. The Devil entered into Judas and he betrayed Jesus for 30 pieces of silver. [John 13:2]. Suicide and Judas cast down the 30 pieces of silver in the temple and departed, and went out and hanged himself. [Matthew 27:5].

Ulangan 18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati oleh Hukum Dunia

—————–

Bagian II

Berikut adalah postingan saya di forum answering-ff yang menjelaskan tentang makna ayat Ulangan 18:20.

Note, @paramato dan @wisdombasic yang disebut di dalam forum tersebut adalah saya sendiri, Islamthis.

—————-

by paramato » 2010 02 04, 10:36

Tolong dibaca postingan sdr wisdombasic di FFI http://indonesia.faithfreedom.orang/forum/keluhan-netter-kristen-telah-kalah-t34135/page140.html tentang  nubuat Ulangan 18 ini.

Ulangan 18:20

Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati KARENA HUKUMNYA.

 

Anda lihat, bahwa ramalan / nubuati itu JATUH TEPAT ke atas Paulus dan Petrus. Mereka berdua lah Nabi palsu.

Petrus = mati disalib terbalik.

Paulus = mati dipenggal.

Keduanya mati dibunuh oleh hukum dunia (oleh pemerintah dunia tempat kedua cecunguk itu hidup).

Petrus mengatakan apa yang Jesus tidak pernah katakan, menghalalkan apa yang diharamkan, menyangkal Jesus, dan mengaku2 menerima “sighting” (sehingga seolah dia menerima “wahyu” extra ketika Jesus sudah RAIB) tanpa ada saksi orang lain untuk membenarkan. Ia berkata dusta, dengan mengklaim bahwa Jesus memberinya komando untuk membangun Gereja.

Inilah ayat yang membuktikan bahwa petrus telah mengarang2 mendapatkan wahyu:

Kisah 10

10:11 Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah.

10:12 Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.

10:13 Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”

Saya ingin bertanya kepada anda yang orang kristen:

  1. Dalam ayat ini, Petrus menerima wahyu. Pertanyaan saya adalah, apakah wahyu ini juga di dapat apostle lain?
  2. Apakah Jesus tahu ada wahyu yang datang kepada petrus ini? dengan kata lain, apakah turunnya wahyu ini, SEPENGETAHUAN Jesus (yang saat kejadian, sudah di “surga”)?
  3. Kalau lah memang ada wahyu untuk umat manusia, maka bukankah itu tugas dan hak Jesus saja dari tuhan (untuk diturunkan melalui Jesus), bukan orang lain? Mengapa Petrus mendapatkan kan ini??

 

Kira2, apa jawaban anda??

Fakta bahwa Petrus mati karena hukum dunia (yaitu disalib terbalik), benar2 menunjukkan bahwa Petrus adalah nabi palsu itu.

Sekarang  tentang  Paulus.

Paulus, sebelumnya bernama Saul. Dia adalah pembunuh pengikut Jesus tanpa ampun. Dia menggunakan segala cara untuk menumpas habis semua pengikut Isa Almasih.

E-eh suatu saat, dia mengaku2 menerima wahyu yaitu penampakan Jesus di langit, dan dia kata Jesus berkata kepada dirinya bahwa Jesus sudah mengangkatnya sebagai rasul. Dia bilang, penampakan / wahyu itu terjadi dalam perjalanannya menuju Damaskus. Sejak saat itu, he served as an apostle, and he declared many laws that contradict to the mainstream / common verses.

Pertanyaan saya adalah,

  1. Apakah dapat dibuktikan bahwa Jesus memang benar2 bertemu secara roh dengan Saul ini kala Saul seorang diri?
  2. Mengapa kita (tiba2 100%) percaya kepada Saul yang jelas2 adalah seorang pembunuh dan pembantai, dan anti Tuhan?
  3. Kalau Jesus dapat membuat pertemuan secara roh untuk Saul ini, maka mengapa Jesus tengik ini tidak dapat membuat hal serupa untuk Osama bin Laden? Muhammad? mengapa hanya kepada Saul???
  4. Saul – Paulus ini mjd rasul setelah kematian Jesus. apakah ketika Jesus mati, semua ajarannya blm sempurna shg harus ada rasul tambahan / extra spt si petrus dan paulus ini???
  5. Kalau lah memang saul adalah Rasul pilihan, lantas mengapa Jesus tidak memilihnya ketika Jesus masih hidup?

Anda harus menjawab ini…. kalau anda memang orang christen yang taat…………

Yang dimaksud dengan frase NABI ITU HARUS MATI adalah, bahwa orang / nabi palsu itu PASTI mati karena dibunuh karena eksekusi pengadilan dunia. kalau hanya SEBATAS MATI, maka, siapa yang tidak mati???

Kemudian, Muhammad tidak mati karena hukum eksekusi pengadilan dunia. Berarti, benar bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Kebalikannya, Petrus dan Paulus adalah si nabi palsu itu…..

Sebenarnya, benarlah claim Alquran yang bilang bahwa yang mati disalib itu bukan lah Nabi Isa. Mengapa demikian?

Versi kristen bilang bahwa Jesus mati disalib, yang artinya adalah bahwa Jesus mati karena eksekusi pengadilan dunia yang diketuai oleh Pilatus. Kalau begitu, maka Isa adalah Nabi palsu – berdasarkan ramalan ulangan 18 tersebut.

Itulah mengapa, Alquraan menceritakan bahwa yang mati disalib itu bukanlah Isa, melainkan orang lain yang diserupakan dengan Isa (yaitu judas iskhariot). Lihat saja, Yahya (Johanes Pembaptis) pun juga mati dibunuh, tapi bukan karena pengadian dunia, kan???

Kemudian, mungkin anda yang kristen akan berkilah, bahwa yang dimaksud NABI ITU HARUS MATI, merujuk pada kepercayaan orang kristen bahwa Jesus tidak pernah mati (karena ia tuhan).

Saya bilang, wah jawaban anda itu kan hanya BAHASA IMAN. Maksudnya, orang Buddha pun pasti bilang bahwa sang Buddha tidak pernah mati. Orang Hindu pun bilang bahwa dewa Hindu tidak pernah mati. Orang Shinto pun pasti bilang bahwa dewa Shinto tidak pernah mati. Anda harus ingat, demi iman, maka seseorang BERHAK untuk berkata APA SAJA YANG DIA MAU. Tapi jangan harap bahwa apa yang dia katakan itu PARALEL DENGAN LOGIKA.

Oleh karena itu, yang paling baik adalah mengatakan SESUATU YANG BERMUATAN IMAN, TAPI DAPAT DILIHAT OLEH SIAPA PUN, TERMASUK OLEH MEREKA YANG TIDAK MENGAKUI IMAN TERSEBUT.

“MEREKA YANG TIDAK MENGAKUI IMAN TERSEBUT”, artinya adalah KHALAYAK. karena apa yang dapat dilihat khalayak (yang tidak memiliki iman tersebut), pastilah OBJEKTIF.

Coba anda perhatikan,

Ul.18:21 Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? –

18:22 apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.”

Pada ayat 21-22, dijelaskan tanda2 nabi palsu itu secara “VISUAL”, yaitu atas pertanyaan (pada ayat 21) “bagaimana kami mengetahui….”.

Nah kata “bagaimana kami mengetahui….”, menunjuk sesuatu yang bersifat NETRAL, karena kata KAMI dapat berarti SIAPA PUN, DI LUAR ORANG YANG MEMPUNYAI IMAN KRISTEN.

Khalayak dapat melihat, bahwa Petrus dan Paulus mati karena eksekusi pengadilan dunia. khalayak pun melihat, bahwa kenyatannya JESUS MATI KARENA EKSEKUSI PENGADILAN DUNIA. Khalayak tidak melihat bahwa JESUS TIDAK MATI.

Yang penting, yang menjadi pegangan kita di sini adalah frase “bagaimana kami mengetahui….”, yang berarti, bahwa sesuatu tanda itu harus dapat diliat oleh khalayak (KAMI berarti khalayak ramai, tanpa pandang apa pun iman mrk), bukan dilihat secara klaim iman belaka. Nah khalayak pun melihat, bahwa Jesus mati karena eksekusi dunia, petrus dan paulus pun mati karena eksekusi pengadilan dunia. Perkara bahwa injil bilang bahwa Jesus bangkit di hari ketiga dan menjalani hidup yang abadi, wah itu kan KATA INJIL DOANG, selebihnya khalayak tidak melihat hal itu. Dan yang jelas, khalayak / dunia tidak melihat bahwa muhammad mati karena eksekusi pengadilan dunia.

Faham???

Penutup

Ulangan 18:20

Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati KARENA HUKUMNYA.

 

Jelaslah sudah, bahwa ayat Ulangan 18:20 ini telah memastikan kepada kita bahwa semua Rasul atau apostle atau sahabat Jesus itu sebenarnya adalah Nabi-Nabi palsu, mengingat semua mereka mati karena Hukum Dunia. Tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan bahwa mereka semua mati secara wajar atau mati karena penyakit.

Dengan kejelasan ini yang kesemuanya bersumber dari Perjanjian Lama ini, maka sudah dapat dipastikan bahwa agama karosetan adalah agama yang penuh kebatilan, dan sesat di mata Allah, mengingat semua tokoh / Rasul yang bekerja di dalamnya adalah Rasul palsu.

Dengan demikian hanya Islamlah akhirnya yang menjadi agama pilihan yang paling masuk akal.

Alhamdulillah.

Melacak Nabi Muhammad dalam Alkitab


 
DIKUTIP.COM – Nabi Daniel, dia seorang nabi, juga meninggalkan nubuat seorang nabi, tertulis dalam Kitab Daniel yang juga merupakan nilai-nilai tertulis dari seorang Nabi Daniel untuk umatnya, memperingatkan akan hadirnya nabi masa depan. Mari kita simak, sejauh mana kebenaran yang tertuang dalam Kitab Nabi-Nabi itu.

Sebab saya menggunakan referensi dari peninggalan perjalanan Nabi masa lalu, itu tentu karena ada hubungan erat antara Islam dan Kristen, yang tidak bisa didustakan oleh siapa saja. Bahkan kedekatan Islam dan Kristen ini pernah diungkap oleh Allah di dalam Alquran dengan sebutan Nashrani.

Dan sesungguhnya kamu dapati YANG PALING DEKAT PERSAHABATANNYA dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “SESUNGGUHNYA KAMI INI ORANG NASRANI”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. (al-Maidah 82)

.

PARA NABI ITU BERSAUDARA KARENA BERBAGAI SEBAB. IBU MEREKA BERBEDA SEMENTARA AGAMANYA SATU.”( Shahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya (3443))

Inilah dalil yang mendorong saya melacak jejak kenabian Muhammad dalam Alkitab, karena dorongan Quran dan Hadist Nabi, menguatkan saya untuk terus mencari, jika suatu saat kebenaran itu harus dibuktikan. Dalam bagian ini saya mencoba menapak Alkitab yang memberi petunjuk, bahwa nama Muhammad terabadikan dalam Alkitab. Nama Muhammad bukan rekayasa atau dipaksakan untuk membenarkan sebuah tulisan itu benar Muhammad, tetapi paling tidak ini bisa menjadi pijakan berpikir tajam, melacak jejak kenabian dalam Alkitab, peninggalan dari sejarah masa lalu.

Di dalam Injil Kenyataan (wahyu kepada Yahya maksudnya) pasal 19 ayat 11 sampai 12, di sana disebutkan:

Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “YANG SETIA DAN YANG BENAR”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. 19:11

Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri. 19:12

Perhatikan sekali lagi dua dalil alkitab diatas, betul-betul 2 ayat di atas sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yesus, karena:

1. Yesus tak pernah mengendarai kuda putih, tetapi setahu saya, Yesus hanya naik keledai, dan tak pernah terlibat peperangan apapun, karena yesus memang sangat diplomatif atau nabi diplomatik, yang menyelesaikan masalah dengan jalan diplomasi, tidak menempuh bentuk bentuk peperangan, sedangkan gambaran Alkitab, dia adalah penunggang kuda

2. Muhammad saw lah yang memiliki panggilan Yang Amanah dan Benar (Setia dan Benar), ia menjalankan hukum hukum Allah mengadili manusia dengan adil, adalah kebiasaan seorang nabi akhir zaman yang di nubuatkan dalam Alkitab.

3. Di dalam ayat ini, dijelaskan kedudukan Nabi Muhammad di dalam pemerintahan dunia. Seperti lazimnya pada jaman dahulu orang besar-besar selalu berkendaraan kuda putih, karena warna putih berarti kebersihan.
“Banyak mahkota” berarti “banyak kedudukan.” Dalam hal ini menjadi kenyataan pada diri Nabi Muhammad bahwa beliau banyak kedudukannya, di dunia seperti kedudukan atau jabatan Nabi, Panglima Perang, Pemimpin Negara, juga pemutus Hukum. Nabi Muhammad juga digelari orang sebagai “Orang yang Dipercaya dan Benar” atau “Al Amin.”

Matanya seperti bola api, serta-merta menunjukkan sifatnya yang sangat tegas, keras dan kuat. Dengan sitat-sifat inilah ia memutuskan hukum, dengan keadilan dan kebenarannya.

SEDIKIT ULASAN
Kalau Dia disini umpamanya ditafsirkan dengan Kristus Yesus, maka saya kira tidak tepat, sebab:
1.Sepanjang pembacaan saya pada Injil, belum pernah saya jumpai keterangan bahwa Yesus pernah naik kuda. Yang pernah dinaikinya hanyalah keledai, itupun warnanya tidak jelas.

2.Yesus menurut Injil, malahan tidak bermahkota banyak, sebab:

  • Kenabian Yesus tidak diakui bangsa Yahudi, bangsa dimana dia diutus.
  • Kerajaan Yesus juga tidak diakui, mereka bahkan menyalibkan “rajanya” dengan ejekan Isa Nasrani Rex Israel (INRI).
  • Yesus bahkan belum pernah sekalipun mengadakan perang melawan musuh-musuhnya.
  • Di dalam memutuskan hukum, Yesus mengambil jalan diplomatis, bukan tindakan bijaksana. (Yahya 8: 2-11)

Didalam Injil Kenyataan (wahyu kepada Yahya maksudnya) ayat ke-15 dari pasal yang ke-19 tertulis bunyinya:

“Sedang dari mulutnya keluarlah sebilah pedang yang tajam, supaya diparangkannya kepada sekalian bangsa. Maka iapun memerintah dengan tongkat besi, dan ialah yang akan mengirikkan anggur kehangatan murka Allah yang Maha Kuasa.”

Tafsir ayat itu ialah:

  1. Sebilah pedang yang tajam artinya komando-komando perang yang tegas.
  2. Tongkat besi artinya kekuatan dan ketegasan pemerintahannya.
  3. Mengirikkan anggur, artinya memijak-mijak anggur. Seluruh tafsir kemudian bunyinya: Sedang ia akan mengeluarkan komando-komando perang yang tegas, kepada sekalian bangsa kafir, dan para penyembah berhala. Ia, dengan kuat kekuasaan pemerintahannya akan menginjak-injak dan memerangi segala macam kemabukan, yang adalah menjadi kebencian Allah s.w.t.

Hidup Nabi Muhammad kalau diperhatikan, akan nampak, penuh dengan perang dan peperangan melawan orang-orang kafir, ia dengan perkasanya memerangi mereka, dan menghancurkan kejahiliyahan mereka.

Sangat menakjubkan, bila tanda-tanda tersebut di arahkan pada Nabi Muhammad saw, tak seorangpun nabi yang memiliki kekuatan besar yang disaksikan sejarah, hingga meninggalkan jejak jejak sejarah hingga saat ini kecuali sejarah Nabi Muhammad SAW.

Tanda-tanda itulah yang ada pada nabi Muhammad sebagai nubuat Alkitab, bukan sesuatu yang dikarang-karang agar supaya cocok atau ada kemiripan, tetapi adalah suatu bukti pengakuan Alkitab, bahwa Nabi Muhammad itu akan datang sesudah Yesus tiada .

———————–

Access from,

www [dot] dikutip [dot] com/2011/02/melacak-nabi-muhammad-dalam-alkitab.html.

Access date, 16 Mar 2011.

Sejarah Masjid Aqsa

Masjid Al-Aqsha (Arab: المسجد الاقصى , Al-Masjid Al-Aqsa, arti harfiah: “masjid terjauh”) adalah bagian dari kompleks bangunan suci di Yerusalem yang dikenal dengan nama Al-Haram asy-Syarif (tempat suaka kudus (?) Noble Sanctuary) bagi umat Islam dan dengan nama Har Ha-Bayit (Bukit Baitallah (?) Temple Mount) bagi umat Yahudi dan Nasrani.

Literatur Muslim menyatakan bahwa Muhammad melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis lalu ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621, menjadikan masjid ini sebagai tempat suci ketiga, setelah Makkah al Mukarommah dan Madinah al Munawarah.

Masjid Al-Aqsa yang dulunya dikenal sebagai Baitul Maqdis, merupakan kiblat shalat umat Islam yang pertama sebelum dipindahkan ke Ka’bah di dalam Masjidil Haram. Umat Muslim berkiblat ke Baitul Maqdis selama Nabi Muhammad mengajarkan Islam di Makkah (13 tahun) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Medinah. Setelah itu kiblat shalat adalah Ka’bah di dalam Masjidil Haram, Makkah hingga sekarang.

Masjid Al-Aqsa saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H.

Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama “Shalahuddin Al-Ayyubi” terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar buatan Jepara, Indonesia. Keluarga Bani Hasyim, yang masih bertalian darah dengan Nabi Muhammad menurut tradisi merupakan keluarga yang bertanggungjawab memelihara tempat-tempat suci Islam di kawasan tersebut.

Yerusalem mulai menjadi tumpuan setelah Nabi Daud menguasai Yerusalem dari masyarakat yang bernama Yebusit. Nabi Daud kemudian diriwayatkan mulai mengembangkan kota ini dan menjadikannya ibu kota kerajaannya. Yerusalem kemudian diriwayatkan diperintah oleh Nabi Sulaiman. Menurut ahli sejarah Yahudi, Nabi Sulaiman telah membangun sebuah kuil yang diberi nama “Baitallah”.

Tidak lama kemudian, tentara Babilonia mulai merebut Yerusalem dari orang Yahudi. Nebukadnezar, raja Babylon kemudian menguasai Yerusalem dan memusnahkan Baitallah. Dia kemudian menghalangi orang Yahudi masuk ke Yerusalem. Setelah beberapa dasawarsa, tentara Parsi menguasai Babylon. Cyrus II, raja Parsi memperbolehkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Baitallah mereka. Baitallah Kedua dibangun oleh Herodus Yang Agung namun setelah kematiannya, kota ini jatuh ke tangan Roma.

Pemerintahan Romawi
Semasa pemerintahan Roma, masyarakat Yahudi di Yerusalem memberontak. Akibatnya tentara Roma mematahkan pemberontakan tersebut dan memusnahkan Baitallah Kedua orang Yahudi. Yang tinggal hanyalah sebagian gedung itu yang dikenal sebagai Tembok Barat.

Setelah pemberontakan tersebut, orang Yahudi diperbolehkan tinggal di situ tetapi dalam jumlah yang kecil. Pada kurun kedua, Kaisar Roma memerintahkan supaya Yerusalem dibangun kembali dan membangun sebuah kuil orang Roma di situ sambil menghalang kegiatan keagamaan orang Yahudi. Orang Yahudi kembali memberontak tetapi dapat dipatahkan tentara Roma. Yerusalem dinamakan kembali menjadi Aelia Capitolina.

Orang Yahudi dilarang memasuki Yerusalem. Selama 150 tahun setelahnya, kota ini menjadi tidak penting bagi Kekaisaran Romawi. Namun demikian, Kaisar Bizantium yaitu Constantine menjadikan Yerusalem sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy Sepulcher (?) pada tahun 335 M. Orang Yahudi tetap tidak dibenarkan memasuki Yerusalem kecuali semasa pemerintahan singkat Kekaisaran Parsi pada tahun 614M hingga tahun 629M

Walaupun Al Quran tidak menyebut mengenai nama “Yerusalem” atau “Baitulmuqaddis”, tetapi ada hadis yang menyebut mengenainya. Menurut hadis sahih, adalah di Yerusalem Nabi Muhammad s.a.w. naik ke surga semasa peristiwa Isra’ Mi’raj. Kota itu kemudian dikuasai oleh angkatan tentara Islam pada tahun 638M. Umar bin Khattab secara pribadi pergi ke Yerusalem untuk menerima penyerahan Yerusalem kepada kerajaan Islam. Beliau kemudian ditawarkan shalat di dalam Church of the Holy Sepulcher tetapi menolaknya dan sebaliknya meminta supaya dibawa ke Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif. Ia mendapati tempat itu terlalu kotor dan memerintahkan agar dibersihkan. Ia kemudian membangun sebuah masjid kayu di tempat yang sekarang merupakan kompleks bangunan Masjid Al Aqsa.

Enam tahun kemudian, Qubbat As-Sakhrah dibangun. Struktur ini terdiri dari sebuah batu yang dikatakan tempat Nabi Muhammad s.a.w. berdiri sebelum naik ke surga semasa peristiwa Isra’ Mi’raj. Perlu diingatkan bahwa kubah yang berlapis emas dan berbentuk oktagon ini tidak sama seperti Masjid Al Aqsa di sebelahnya yang dibangun tidak lama kemudian. Semasa pemerintahan awal Islam, terutama semasa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan kerajaan Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang berpendapat bahwa Yerusalem pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur di Palestina.

——————-

Access from,

ummufathia [dot] multiply [dot] com/journal/item/33/Sejarah_Masjid_Al_Aqsha_I_
Access date, 16 Mar 2011.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 58 other followers